Tetangga Kamar

Tetangga Kamar
Bukan Rayuan


__ADS_3

"Eh?"


Nayra mengerutkan kening saat menatap wajah Rainer. Entah apa maksudnya ucapan Rainer tersebut. Kedua pasang netra mereka saling bertemu. Rainer masih menatap wajah Nayra lekat-lekat.


"Aku tidak tau apa ada kata cinta diantara kita. Tapi yang aku tau, aku merasa kehilangan jika kamu tidak ada. Entah itu karena rasa ketergantungan ku kepadamu, atau karena rasa yang lain, entahlah, aku tidak tau."


"Tapi yang jelas, aku benar-benar serius ingin menikah denganmu. Tidak ada secuil pun niat ku untuk mempermainkan pernikahan ini. Sama sekali tidak ada. Aku juga bukan orang tidak tahu aturan pernikahan. Bagiku, aku ingin menikah sekali seumur hidup. Dan, pilihan dengan siapa pasanganku, jatuh kepadamu."


"Selama beberapa tahun ini, kita sudah saling mengenal satu sama lain. Aku rasa, tidak ada salahnya jika mulai berlajar menerima kehadiran kita masing-masing. Hal itu sudah bisa menjadi modal kita untuk memulai lembaran baru di kehidupan kita, kan?"


Nayra langsung membulatkan kedua bola mata dan mulutnya. Dia benar-benar tidak menyangka jika Rainer akan mengatakan hal seperti itu.


"A-anda sedang merayu saya, Pak?" Nayra masih menatap wajah Rainer dengan tatapan tidak percaya.

__ADS_1


Mendengar ucapan Nayra, sontak saja Rainer langsung mendengus kesal. Dia menyentil kening Nayra sambil menggeser tubuhnya.


"Itu bukan rayuan!" Rainer langsung memakai seatbelt dan mulai menyalakan mobilnya.


Nayra mengusap-usap keningnya sambil mengerucutkan bibir. Jelas dia tidak terima dengan apa yang diucapkan oleh Rainer.


"Cckkk. Lalu, jika bukan rayuan apa, Pak? Jika Pak Rain ingin mengajakku menikah, setidaknya lakukan dengan benar. Lamar dengan cara romantis gitu, kek. Kasih bunga, makan malam romantis, kasih cincin, atau apa gitu. Lha ini, ngajak nikah seperti presentasi proposal. Mana ekspresinya nggak ada senyum-senyumnya lagi." Nayra langsung mengkritik Rainer.


Mendengar hal itu, Nayra hanya bisa mengerucutkan bibir kesal. Bukan apa-apa. Nayra hanya ingin merasakan jika dia memang harus menikah dengan Rainer, setidaknya dia punya kenangan yang cukup indah yang bisa dibawanya seumur hidup. Nayra juga hanya ingin menikah sekali seumur hidup.


Sebenarnya, benar apa yang dikatakan Rainer. Selama ini, Nayra dan Rainer memang sudah cukup mengenal dengan baik. Bahkan, Nayra juga sudah mengetahui apa yang biasa dilakukan dan tidak suka dilakukan oleh Rainer. Bahan, alergi dan barang-barang yang tidak disukai oleh Rainer pun, Nayra sudah tahu.


Kalau boleh jujur, Nayra pun sebenarnya juga merasakan hal yang sama. Dia cukup merasa nyaman saat bersama dengan Rainer. Ya, meskipun jiwa penguasanya sedikit menyebalkan. Namun, tidak ada salahnya mencoba untuk saling membuka hati, kan? Apalagi, Nayra juga cukup dekat dengan orang tua Rainer.

__ADS_1


Tak ada obrolan lagi yang terjadi setelah mobil Rainer keluar dari area parkir taman kota. Saat ini, mobil Rainer sudah memasuki area parkir sebuah apartemen. Dan, Nayra tahu jika itu adalah gedung milik perusahaan Rainer. 


"Ngapain kita kesini, Pak? Saya belum mau diapa-apain lho ya? Saya belum menerima Anda." Nayra langsung menyilangkan kedua tangannya di depan dada.


"Cckkk. Apa sih yang ada di otak kamu. Walaupun kita menikah nanti, aku juga tidak mau langsung ngapa-ngapain kamu. Butuh waktu bertahun-tahun untuk bisa melakukan itu dengan kamu," ucap Rainer dengan ketus.


Eh, yakin Rain? 


Nayra hanya bisa mencebikkan bibir. Dia terlihat kesal setelah mendengar jawaban Rainer. Setelah itu, Nayra terpaksa mengikuti langkah kaki Rainer menuju lantai lima belas. Entah apa yang akan ada di sana. Nayra sendiri pun tidak mengetahui hal itu.


Hingga beberapa saat kemudian, Nayra dan Rainer sudah berada di depan sebuah pintu unit apartemen. Rainer membuka kode pintu tersebut. Awalnya Nayra tidak terlalu tertarik dengan apa yang ada di dalamnya. Namun, setelah Rainer membuka lebar pintu tersebut, Nayra langsung memekik tertahan.


"Aaarghhh!"

__ADS_1


__ADS_2