
"Pa-pak?" Nayra mendadak gugup.
Tubuhnya yang sudah menempel erat pada tubuh Rainer, benar-benar membuat Nayra tidak bisa berpikir jernih lagi. Kedua netranya menatap takut-takut wajah Rainer yang terlihat marah tersebut.
"Kamu tau bagaimana aku mencarimu sejak kemarin?" tanya Rainer dengan suara sedikit menggeram. Bahkan, Nayra bisa mendengar gertakan gigi Rainer.
"Pa-pak?" Nayra mencengkeram jas Rainer yang tidak dikancingkan tersebut. Kedua netranya bersitatap dengan netra Rainer. Nayra bisa melihat amarah dan kekesalan pada kilatan tatapan atasannya tersebut.
"Setelah ini, aku tidak akan melepaskanmu," ucap Rainer sambil mengeratkan pelukannya. Jangan lupakan tatapan mata Rainer kembali tertuju pada bibir Nayra yang beberapa hari lalu sudah pernah dirasakannya.
Nayra hendak protes. Dia baru mulai membuka bibirnya, namun bibir tersebut sudah kembali diluumat oleh Rainer. Kali ini, Rainer tidak tergesa-gesa seperti beberapa hari yang lalu. Dia menggerakkan bibir tersebut dengan lembut seolah ingin merayu Nayra agar membalas tindakannya.
Dan, benar saja. Awalnya, Nayra memang sempat terkejut. Namun, karena godaan Rainer, dia menjadi ikut terpengaruh. Entah apa yang dipikirkan Nayra, saat itu, dia langsung memejamkan mata. Bahkan, kedua tangan Nayra yang semula mencengkeram jas Rainer, langsung mengalung dengan sempurna pada leher atasannya tersebut.
Pagutan kedua benda kenyal tersebut berlangsung cukup lama. Bahkan, Rainer semakin gencar menggoda Nayra. Kali ini, Rainer tidak seperti beberapa hari yang lalu. Kini, Rainer mulai memainkan lidahnya untuk mendesak, menjelajah, dan mengabsen bibir Nayra.
__ADS_1
Lidah keduanya nyaris bertemu saat terdengar suara pintu lift terbuka. Hal itu membuat Rainer dan Nayra buru-buru melepaskan tubuh mereka. Rainer dengan cepat berbalik. Dan, Nayra langsung bersembunyi di belakang tubuh Rainer.
Ada empat orang yang masuk ke dalam lift tersebut. Tiga orang laki-laki muda, dan seorang wanita paruh baya. Rainer bergeser ke belakang hingga punggung Nayra membentur dinding.
Seorang laki-laki yang baru masuk tersebut, menoleh ke arah Nayra. Rainer yang melihat hal itu, langsung bergeser untuk melindungi Nayra dari pandangan laki-laki tersebut.
Terdengar decakan kesal dari laki-laki tersebut. Namun, Rainer tidak peduli. Dia menggenggam tangan Nayra dengan erat seolah tidak akan melepaskannya begitu saja.
Tak berapa lama kemudian, pintu lift terbuka. Rainer buru-buru menarik Nayra keluar dari lift. Mau tidak mau, Nayra hanya bisa mengikuti langkah kaki Rainer.
"Pa-pak? Kita mau kemana?" Nayra akhirnya memberanikan diri bertanya saat Rainer membawanya ke arah tangga darurat.
Sontak saja jawaban Rainer tersebut membuat Nayra kaget. Otaknya mulai berpikiran yang tidak-tidak.
"Ke-ke kamar saya? Mau apa?"
__ADS_1
Rainer yang sudah diberitahu oleh staf manajer dimana kamar Nayra berada, langsung menarik Nayra untuk menaiki tangga darurat tanpa perlu repot-repot menjawab pertanyaan Nayra. Lokasi kamar Nayra yang berada di dua lantai lagi, membuat Rainer dan Nayra harus bersusah payah menaiki tangga.
Saat mereka sudah berada di lantai tempat kamar Nayra berada, Nayra dengan sekuat tenaga menarik tangannya dari cengkraman Rainer.
"Bapak mau apa? Untuk apa kita pergi ke kamarku?" tanya Nayra dengan napas masih ngos-ngosan.
"Kemasi barang-barangmu dan kita akan pergi dari sini secepatnya." Rainer menatap tajam ke arah Nayra.
"Cckkk. Bapak jangan seenaknya saja memerintah saya, ya. Apa Bapak sudah lupa? Saya bukan lagi sekretaris Bapak. Nyonya sudah memecat saya kemarin. Jadi, saya sudah tidak ada kewajiban untuk menuruti semua perintah Bapak." Nayra balas menatap tajam ke arah Rainer.
Dengan tatapan berkilat-kilat, Rainer berjalan mendekat ke arah Nayra. Melihat hal itu, tentu saja Nayra langsung mundur hingga punggungnya membentur dinding.
"Jika kamu sudah dipecat dari pekerjaan, maka aku akan mengikatmu dengan kontrak lain dengan durasi seumur hidup."
"Eh?"
__ADS_1
\=\=\=
Piye, Rain? Kontrak seumur hidup stempelnya dari kantor apa ini?