
"Eh?"
Nayra langsung berbalik dan tidak sengaja mematikan panggilan teleponnya dengan sang mama mertua. Dia langsung berdiri dari duduknya dan menatap ke arah Rainer.
"Ma-Mas? Kok sudah pulang?" Nayra mendadak panik. Entah mengapa dia khawatir jika Rainer mendengar obrolannya dengan sang mama.
Bukannya menjawab, Rainer justru masih menatap Nayra dengan kening berkerut. Dia masih penasaran dengan apa yang dilakukan oleh Nayra tadi.
"Tadi telepon siapa?" tanya Rainer.
"Ehm, telepon Mama, Mas."
"Bahas acara resepsi?"
"Iya," jawab Nayra sambil mengangguk-anggukkan kepala.
Hal yang sama pun dilakukan oleh Rainer. Dia menoleh ke arah laptop Nayra yang masih terbuka tersebut.
"Aku lupa tidak bawa laptop. Ada beberapa file yang harus aku kerjakan dengan Felix. Bisa aku pinjam laptop kamu?"
__ADS_1
Nayra segera mengangguk. "Bisa, kok. Aku hanya tinggal memeriksa email dari Resta. Tidak terlalu mendesak kok, Mas. Laptopnya bisa Mas Rain bawa," jawab Nayra sambil segera mematikan laptopnya dan memasukkan ke dalam tas.
Setelah semua siap, Nayra segera memberikan laptop tersebut kepada Rainer.
"Ini, Mas."
"Aku bawa dulu. Jangan kemana-mana," ucap Rainer sambil menerima laptop pemberian Nayra.
"Iya. Ehm, nanti pulang jam berapa?" tanya Nayra sambil masih menatap wajah Rainer.
"Jika cepat selesai, kemungkinan sore. Aku usahakan cepat selesai."
Rainer yang menyadari perubahan ekspresi Nayra, membatalkan niatnya untuk beranjak.
"Ada apa?" tanya Rainer sambil masih mengamati ekspresi wajah Nayra.
"Ehm, tidak apa-apa." Nayra menggelengkan kepala. "Aku hanya mau tahu nanti Mas Rain makan malam di sini atau di luar. Ya, sekalian aku pesankan," lanjut Nayra.
Rainer masih menatap wajah Nayra. Dia tampak masih belum puas dengan jawaban sang istri. Namun, Rainer hanya bisa mengangguk.
__ADS_1
"Aku makan malam di sini."
Sebuah senyuman langsung terbit pada bibir Nayra. Dia cukup lega mendengar jawaban suaminya itu. Setidaknya, Nayra bisa mulai menjalankan rencananya. Untuk masalah berhasil atau tidaknya, Nayra tidak terlalu memikirkannya. Biarlah hal itu mengalir apa adanya. Paling tidak, dia sudah berusaha.
Setelah itu, Rainer segera beranjak pergi karena sudah kembali ditelepon Felix. Rainer tidak mau lagi mendengarkan omelan-omelan sahabat sekaligus asistennya tersebut.
***
Tak berapa lama setelah kepergian Rainer, pesanan makan siang untuk Nayra pun sudah datang. Dia segera menyantap makan siang tersebut sebelum mulai menjalankan rencananya.
Hingga sekitar satu jam kemudian, pesanan baju Nayra sudah tiba. Beruntung saat itu Nayra memesan baju dan segala keperluannya tak jauh dari lokasi hotel.
"Sudah datang. Hhmmm, aku harus bersiap sekarang. Jika harus luluran ke salon, tidak akan mungkin cukup waktunya. Ah, untung saja aku bisa luluran sendiri," ucap Nayra sambil senyum-senyum bahagia.
Nayra segera mengambil perlengkapan perawatan tubuh yang juga baru dipesannya tersebut. Setelahnya, dia segera memulai acara ritual perawatan, mulai dari ujung kaki hingga ujung rambut. Nayra ingin memberikan pelayanan sebaik mungkin untuk aktivitas yang akan dilakukannya nanti.
Hampir memerlukan waktu selama dua jam, Nayra masih berkutat di dalam kamar mandi. Hingga sekitar lima belas menit kemudian, Nayra sudah benar-benar selesai. Setelahnya, dia mulai memesan makan malam karena sudah menjelang petang.
"Malam ini, aku harap kita akan memulai semuanya dari awal, Mas. Jangan ada lagi yang ditutup-tutupi."
__ADS_1
Tinggalkan jejak dulu sebelum scroll ya 🤗