Tetangga Kamar

Tetangga Kamar
Simulasi Pagi


__ADS_3

Malam itu, Nayra dan Rainer langsung terlelap di kamar masing-masing. Tubuh mereka benar-benar lelah. 


Menjelang pukul 04.40 pagi, Nayra sudah terbangun. Dia segera pergi ke kamar mandi dan melaksanakan kewajibannya sebagai seorang muslim. Sekitar lima belas menit kemudian, dia sudah selesai. Nayra bergegas keluar dari kamar hendak pergi ke dapur. Dia merasa kehausan.


Namun, langkah kaki Nayra terhenti saat mendengar suara bel dari arah pintu depan. Kening Nayra berkerut sambil menghentikan langkah kakinya.


"Siapa yang datang jam segini?" gumam Nayra bingung.


Karena penasaran, Nayra bergegas menuju pintu depan. Dia mengintip pada layar monitor. Terlihat disana dua orang perempuan  tengah berdiri sambil membawa sebuah koper besar dan dua buah baju yang ditentengnya.


Nayra yakin mereka adalah MUA yang dikatakan oleh Rainer semalam. Tapi, ini masih terlalu pagi. Masa iya dia harus bersiap sejak sepagi ini? batin Nayra. Meskipun begitu, Nayra segera membuka pintu tersebut.


Begitu pintu terbuka, dua orang perempuan tersebut langsung mengangguk ke arah Nayra.


"Selamat pagi, Mbak. Maaf kami datang sepagi ini," ucap salah seorang dari mereka.


"Selamat pagi. Ehm, kalian MUA yang diminta datang, ya?" tanya Nayra memastikan.

__ADS_1


"Benar. Ini Mbak Nayra?"


"Ah, iya. Saya Nayra." Nayra mengulurkan tangan.


"Saya April. Dan ini, Krista. Kami MUA yang diminta Pak Felix untuk merias Mbak Nayra." 


Nayra menganggukkan kepala. Sekarang, sudah jelas dari mana Rainer bisa dengan cepat menyiapkan semuanya. Sudah pasti sahabat sekaligus bawahannya itu yang ikut turun tangan membantu.


"Tapi, apa ini tidak terlalu pagi, Mbak?" Nayra bertanya.


"Pak Felix bilang, acaranya diajukan, Mbak. Jadi, jam delapan sudah harus berada di KUA."


"Tapi saya belum siap-siap, Mbak," ucap Nayra. Memang dia belum mandi pagi itu.


"Nggak apa-apa, Mbak. Setelah ini Mbak Nayra bisa mandi dulu. Kami akan mempersiapkan semua keperluan untuk merias Mbak Nayra nanti."


Mau tidak mau, Nayra menyetujui apa yang disampaikan oleh Apris dan Krista. Nayra meminta mereka berdua untuk menyiapkan keperluan di kamarnya. Sementara itu, Nayra bergegas menuju kamar Rainer.

__ADS_1


Nayra mencoba membuka pintu kamar Rainer. Dan, benar dugaannya. Pintu kamar tersebut tidak dibuka. Rainer memang jarang mengunci pintu kamarnya saat tidur.


"Cckkk. Selalu tidak dikunci. Bagaimana nanti jika sudah menikah coba. Masa iya kita sedang berduaan dan tiba-tiba ada yang masuk?" gerutu Nayra. Namun, beberapa saat kemudian Nayra langsung tersadar dengan apa yang dipikirkannya. "Astaga, apa yang aku pikirkan?" Nayra menggeleng-gelengkan kepala.


Nayra berjalan mendekati tempat tidur. Terlihat Rainer tengah meringkuk di dalam selimut. Dia hanya memakai kaos dalam. Dan, Nayra yakin jika Rainer juga hanya memakai celana pendek.


"Pak, bangun." Nayra menggoyang-goyangkan tubuh Rainer.


Tidak ada gerakan, Nayra kembali mencoba membangunkan Rainer. Kali ini, dia mengguncangkan tubuh Rainer dengan sedikit lebih kencang.


"Pak Rain, bangun dulu. Sudah siang ini."


Berhasil. Rainer mulai menggeliat. Dia berbalik dan mendapati Nayra tengah berdiri di samping tempat tidurnya. Rainer mengerjap-ngerjapkan kedua matanya untuk memastikan penglihatan.


"Ada apa pagi-pagi sudah ada di sini?" tanya Rainer dengan suara serak khas bangun tidur. "Mau buat simulasi membangunkan suami bangun tidur? Masih kurang. Harusnya disertai morning kiss. Sini," ucap Rainer sambil memonyong-monyongkan bibir.


•••

__ADS_1


Jika jadi Nayra, apa yang mau dilakukan nih?


Jangan lupa ramaikan cerita ini ya.


__ADS_2