Wanita Malam Milik CEO

Wanita Malam Milik CEO
Axel Kembali


__ADS_3

Sore ini mereka telah tiba di Rumah milik Axel.


"Xel, kenapa mendadak sekali tinggallah lebih lama disini" kata Yura saat mereka sedang berada di ruang tamu rumah Axel.


"Maaf Yura, aku harus kembali ke Amerika karena Ayahku sakit" Jawab Axel.


Sebenarnya Axel sangat ingin tetep tinggal di Indonesia, tapi ia harus menjaga orang tuanya yang sudah mulai tua itu.


Tidak mungkin Axel membiarkan ibunya sendirian merawat sang ayah.


"Biarkan mereka pergi sayang, kita tidak bisa menahannya" ucap Elard.


"Maaf Yura aku harus meninggalkanmu" kata Jeny yang sudah mulai menitihkan air matanya.


Mereka bukan hanya teman pada saat bekerja di hiburan malam, tapi sudah seperti saudara. Tentu berat bagi keduanya untuk berpisah.


Nampak Yura dan Jeny berpelukan.


"Baiklah. Tapi kalian harus janji segera kembali, dan membawa kabar baik untukku" ucap Yura.


Kini Yura menggoda pengantin baru tersebut, Jeny hanya tersenyum masam.


Rasanya itu tidak mungkin, malam pertama saja ia buang dengan tidur tanpa ada percakapan apapun.


"El ada yang ingin aku bicarakan kepadamu" kata Axel.


"Bicara saja Xel" sahut Elard.


"Ikutlah kedepan bersamaku" Axel segera berjalan menuju halaman rumahnya, dan diikuti Elard dari belakang.


Mereka duduk di sebuah kursi yang berada disana.


"Ada apa Xel?" Tanya Elard.


Kemudian Elard merogo kantung celananya dan mengeluarkan sesuatu dari sana.


Dan Axel memberikannya kepada Elard.


"Sapu tangan?" Ucap Elard saat ia mengambilnya dari Axel.


"Iya El, maaf bukan maksudku untuk ikut campur masalahmu. Tapi aku benar benar penasaran dengan kematian Sifanya, aku menemukan sapu tangan itu di lokasi kejadian. Aku rasa penembak itu telah menjatuhkannya" jelas Axel panjang lebar.


Kapan Axel yang melakukannya? Batin Elard.


Selama ini anak buahnya berusaha mencari petunjuk siapakah dalang di balik kematian Sifa, namun rupannya mereka tidak bisa menemukan apapun.


Elard membuka sapu tangan tersebut dan ia terkejut saat terdapat inisial G pada ujung sapu tangan itu.


"G.." sahut Elard.


"Iya El itu petunjuknya, sepertinya itu di desain sendiri. Itu artinya orang tersebut tidak hanya memiliki satu mungkin bisa beberapa" jelas Axel lagi.


"Benar Xel, terima kasih kamu telah benar benar membantuku" kata Elard.


"Sama sama El, coba kamu cium" Axel meminta Elard untuk mencium sapu tangan tersebut.


Ternyata sapu tangan itu memiliki aroma yang cukup dikenal oleh Elard.


"Aku pernah mencium aroma seperti ini, tapi dimana" ucap Elard mengingat.


"Aroma seorang pria tepatnya El"


"Iya kamu benar Xel, aku akan segera mencari tau siapa pelakunya" kata Axel.


Setelah pembicaraan mereka selesai Elard dan Axel kembali menemui istrinya.


Kini sudah waktunya Axel dan Jeny berangkat ke bandara.

__ADS_1


Mereka sudah mempersiapkan semuanya, ayah dan ibu Axel sudah lebih dulu menunggu mereka di bandara.


"Kalian tidak perlu mengantar kami sampai ke bandara" kata Axel pada saat mereka sudah berada di pelataran rumah pria berwajah blasteran itu.


"Iya Yura, kamu sudah datang menemuiku saja aku sudah sangat bahagia. Cukup doakan kami ya" sambung Jeny.


"Baiklah, kalian hati hati. Dan untuk kamu Axel" kini Yura menatap pria yang ada di hadapannya.


"Bahagiakan Jeny, dia adalah sahabatku satu satunya" nasihat Yura.


Axel hanya membalas anggukan dan senyuman kecil yang menghiasi bibirnya.


"El titipkan salamku untuk Noah" ucap Axel sebelum pria itu masuk ke dalam mobilnya.


Sengaja Elard tidak membawa Noah, karena Noah sendiri yang menolaknya.


Noah tidak ingin melihat kepergian pria yang sudah di anggap Daddynya selama 5 tahun itu.


Mobil Axel pun melaju menuju bandara, Yura terus melihat mobil Axel sampai menghilang dari pandangannya.


"Kita pulang sayang" Elard membukakan pintu mobilnya.


Setelah kepergian mereka rasa tak percaya menyelimuti Yura.


Selama ini mereka berdua yang telah menemani hari harinya, Jeny yang dengan sabar menjaga Noah saat Yura sedang bekerja.


Dan Axel yang selalu menemani putranya saat bermain.


Di dalam mobil Yura hanya terdiam sambil menatap cendela mobilnya.


"Apa kamu masih bersedih?" Tanya Elard.


"Sedikit El" jawab Yura jujur.


Seolah tau perasaan istrinya, Elard menghentikan mobilnya dan memeluk tubuh sang istri agar lebih tenang.


"Terima kasih El" ucap wanita itu.


Dan Elard mencium pucuk kening istrinya.


Mobil Elard pun melaju menuju rumahnya.


***


"Kenapa lama sekali?" Tanya Clara saat melihat anak dan menantunya baru saja tiba dibandara.


"Iya bu tadi kami masih berbincang dengan Elard dan Yura" jawab Axel.


"Lalu dimana mereka?" Tanya Clara lagi.


"Aku melerang mereka untuk ikut bu, kasihan Elard baru saja pulang kerja" jelas Axel.


Setelah itu mereka segera masuk ke dalam pesawat.


Axel duduk bersama Jeny, sedangkan ibu dan Ayah Axel duduk sedikit jauh dari mereka.


Saat akan duduk kaki Jeny terbentur tempat duduknya.


"Aww" Jeny sedikit mengernyit saat merasakan sakit pada kakinya.


"Apa kamu baik baik saja?" Tanya Axel sontak pria itu terjongkok dan melihat kaki Jeny yang sedikit memar.


"Duduklah" Axel meminta Jeny untuk duduk, dan pria itu membuka tas kecilnya untuk mengambil sebuah salep.


Kemudian Axel mengolesi kaki istrinya dengan salep tersebut.


**Apa benar dia Axel suamiku? Astaga rasanya jantungku mau copot** batin Jeny.

__ADS_1


Wanita itu berusaha mengatur detak jantungnya saat sang suami menyentuh kakinya.


Selesai memakai salep Axel pun duduk di tempatnya yang berada disebelah Jeny.


"Lain kali hati hati" ucap Axel dingin


"I..iya terima kasih" sahut Jeny malu malu.


Seperti apa wajah wanita itu? Tentu saja wajahnya sudah mulai memerah, selama bertunangan ini kali pertama Axel melakukan sesuatu yang manis menurut Jeny.


Penerbangan mereka cukup lama, hingga akhirnya Jeny tidak mampu menahan kantuknya, tanpa sengaja Jeny menyandarkan kepalanya di bahu Axel.


Sedari tadi Axel yang sibuk membaca majalah terkejut merasakan sesuatu yang menempel di bahunya.


Di lihat istrinya itu sudah tertidur.


"Apa kepalanya tidak sakit tidur seperti ini" gumam Axel.


Kemudian Axel segera membenarkan posisi istrinya, dan sedikit menurunkan sandaran kursi tersebut.


Axel menyunggingkan sedikit senyumnya saat melihat Jeny tertidur sambil membuka sedikit mulutnya.


**Tidak menyangka kini aku sudah menikah dan menjadi seorang suami, namun bukan dengan orang yang aku cintai. Mungkinkah aku bisa menerima dia dalam hidupku selamanya??** Batin Axel.


***


Malam harinya Elard meminta Asisten Leo untuk datang ke rumahnya, tidak butuh waktu lama Leo sudah sampai di rumah tuannya itu.


Leo segera naik ke lantai dua menemui Elard yang berada di ruang kerjanya.


Tok.. tok.. tokk


"Masuk" jawab Elard dari dalam ruangannya.


"Permisi tuan" sapa Leo.


"Masuk dan duduklah Le" perintah Elard.


Leo segera duduk berhadapan dengan tuannya.


"Kenapa tuan?" tanya Leo.


Elard membuka laci mejanya, dan mengeluarkan sapu tangan yang diberikan Axel kepadanya.


Kemudian Elard menyodorkan sapu tangan tersebut kepada Leo.


"Apa ini tuan?" tanya Leo lagi.


Elard pun menjelaskan kepada Leo jika Axel menemukan sapu tangan itu di lokaso kejadian saat Sifa tertembak.


Dan kemungkinan besar sapu tangan itu milik pelaku penembakan.


"Segera cari tau Le, kamu mulai dari kantor kita" perintah Elard.


"Baik tuan, maafkan saja yang pada saat itu belum bisa menemukan apapun" Leo merasa tidak berguna saat ia tidak bisa menemukan petunjuk apapun.


Padahal Leo sudah berusaha mencarinya berkali kali.


____


happy reading🥰


para readers tercinta, jangan lupa tinggalkan like dan bintang 5 kalian yaa😘


jika berkenan bisa bantu vote author🙏


maaf jika masih ada typo..

__ADS_1


salam manis author -Nafa- 💜


__ADS_2