Wanita Malam Milik CEO

Wanita Malam Milik CEO
Di Rumah Sakit


__ADS_3

DORR....!!!


Terdengar suara tembakan mengelegar di atas puncak tersebut.


Semua orang yang berada disana berteriak histeris.


Sifa ambruk, tubuhnya terjatuh di tanah dengan linangan darah yang keluar dari dadanya.


"Sifa.....!!!" Elard berteriak dan segera berlari menghampiri Sifa.


"Mommy..." tak luput Nara yang terkejut melihat Sifa yang tertembak.


Entah dari mana munculnya peluru yang menembus dada Sifa.


"Sifa... Sifa bangunlah" Elard meletakkan kepala Sifa di pangkuannya.


"Sifa bertahanlah kita akan membawamu ke rumah sakit" ucap Yura yang terlihat sangat khawatir.


"El... biarkan aku mati dengan cara seperti ini, akhirnya aku bisa tidur di pangkuanmu dan melihatmu menangisi diriku" ucap Sifa terbata bata, wanita itu mulai kehilangan kesadarannya.


Disaat itu juga Yura langsung memeluk Nara, ia membawa putrinya masuk ke dalam mobil guna menenangkan anak itu.


"Mommy..." tangis Nara.


"Sabar nak, mommy akan baik baik saja" Yura mencoba menenangkan Nara yang terus saja menangis.


"Leo. cepat cari tau siapa yang berani beraninya melakukan ini!! aku akan membawa Sifa ke rumah sakit" Perintah Elard.


Leo dan anak buah Elard yang lain langsung berpencar ke setiap penjuru puncak tersebut, mencari tau siapakah pelaku penembakan itu.


Elard membawa tubuh Sifa ke dalam mobil, dan segera melaju ke rumah sakit.


Sifa di letakkan di bangku depan tepat di samping Elard.


Sedangkan Yura di belakang bersama Nara.


Yura terus memeluk anak perempuan itu, ia sadar jika putrinya sangat sayang kepada Sifa.


**bertahanlah Sifa, aku yakin kamu pasti kuat** batin Yura.


Elard menuju ke rumah sakit terdekat yang berada disana, 30 menit akhirnya mereka sampai.


Elard kembali menggendong tubuh Sifa, dan wanita itu segera di masukkan ke ruang IGD.


Terlihat baju Elard terkena bercak darah Sifa.


Elard pun melepas kemejanya.


"Ayah mommy baik baik saja kan?" tanya Nara.


"Iya nak, kita berdoa untuk mommy ya" Elard memeluk tubuh putrinya.


Mereka semua tidak tau siapa yang sudah melakukannya, dan apa motif orang tersebut menembak Sifa.

__ADS_1


tembakan itu tepat di dadanya, dan mungkin saja dengan mudah Sifa akan kehilangan nyawanya.


Hampir satu jam dokter menangani Sifa, kemudian dokter itu keluar dari ruangan dan menemui Elard.


"Tuan apakah anda suaminya?" tanya dokter tersebut.


"Iya aku suaminya" jawab Elard.


"Saya sudah mengeluarkan peluru yang bersarang di dada nyonya, namun keadaannya sangat kritis tuan. saya tidak tahu apakah nyonya Sifa bisa bertahan atau tidak" jelas dokter yang menangani Sifa.


Mereka semua terkejut, terutama Elard pria itu mulai lemas terduduk di kursi. untung saja Yura menahannya agar pria itu tidak terjatuh.


memang benar Elard sudah tidak memiliki perasaan apapun kepada Sifa.


Namun pria itu tidak ingin jika wanita yang pernah mengisi hatinya meninggal dengan cara seperti ini.


Ia ingin Sifa hidup bahagia dan berubah menjadi wanita yang lebih baik.


"Elard bersabarlah" ucap Yura.


Elard menyandarkan kepalanya di dada Yura, pria itu menangis di pelukan istri tercintanya.


"Bagaimana jika dia tidak selamat?" gumam Elard namun masih bisa di dengar oleh Yura.


"Tugas kita adalah bersabar dan berdoa sayang" kata Yura.


kini wanita itu harus menenangkan dua orang sekaligus yaitu Elard dan Nara.


"Dokter bolehkah kami melihat Sifa?" tanya Yura kepada dokter.


Mereka masuk ke dalam ruangan dimana Sifa di rawat.


Wanita itu terbaring tidak sadarkan diri, wajahnya pucat dan matanya masih terlihat sangat sembab.


Beberapa alat terpasang di tubuhnya.


Elard duduk di dekat Sifa, pria itu memandangi wajah Sifa dengan kesedihan.


"Nara istirahat disini ya nak" ucap Yura dan Nara mengangguk.


Yura merebahkan tubuh Nara di sebuah sofa yang berada di sana.


Kemudian Yura menghampiri Elard.


"Jangan bersedih El, berikan Sifa kekuatan agar dia bisa segera sadar dan pulih" nasihat Yura sambil menepuk pundak Elard pelan.


"Yura apa kamu tidak membencinya? dia sudah menyakitimu berkali kali, kenapa kamu masih berbaik hati kepadanya?" tanya Elard.


"El, aku tau bagaimana perasaan Sifa. itu semua dia lakukan karena sangat mencintaimu. sampai sampai Sifa tidak bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah. aku telah memaafkannya dia juga sudah menjaga putriku dengan sangat baik" jelas Yura.


Awalnya Yura sangat marah dan sakit hati kepada Sifa, karena ia telah membuat dirinya berpisah dengan suami dan putrinya serta membuat Noah tidak mendapatkan kasih sayang seorang ayah selama 5 tahun.


Namun semua itu sirna saat ia melihat putrinya Nara tumbuh dengan sehat dan sempurna. itu berarti Sifa menjaganya dengan penuh kasih sayang dan tidak membeda-bedakan bahwa Nara bukanlah Putri kandungnya.

__ADS_1


"Dia menyayangi putriku seperti anaknya sendiri El, itu membuatku lupa bahwa Sifa pernah menyakitiku" sambung Yura lagi.


"Aku bangga memiliki istri sepertimu maafkan aku yang sudah menyakimu juga" kata Elard.


"Sudahlah El, kita lupakan semua yang telah terjadi" pada saat berbicara tiba tiba Yura melihat punggung Elard mengeluarkan darah.


"El punggungmu berdarah, biar aku melihatnya" Yura pun membuka baju Elard, dan benar saja luka di punggung Elard kembali berdarah.


Elard lupa jika punggungnya masih terluka.


"Mungkin karena aku menggendong Sifa tadi, membuat lukaku terbuka" kata Elard.


"Kamu tunggu sini aku kan meminta perban untuk menggantinya" kemudian Yura pergi menemui suster untuk meminta perban dan beberapa obat.


Yura pun kembali membersihkan luka Elard dengan sangat hati hati, dan menutupnya dengan perban yang baru.


"Terima kasih sayang" ucap Elard sambil mencium kening Yura.


***


Jam sudah menunjukkan pukul 7 malam, namun Sifa belum juga sadar.


"Yura aku dan Nara akan pulang dulu untuk berganti pakaian" ucap Elard.


"Iya El, biarkan Nara beristirahat di rumah bersama Noah. aku akan menjaga Sifa disini" kata Yura.


"Baiklah aku pulang dulu, aku juga akan membawakan baju ganti untukmu" ucap Elard.


Pria itu pun pergi bersama Nara meninggalkan Yura disana.


Yura terus menemani Sifa, ia berharap wanita itu akan segera sadar.


Yura mengambil sapu tangan yang berada di tasnya. ia membasahi sapu tangan itu dengan air hangat kemudian Yura membersihkan wajah Sifa.


Dengan sangat sabar Yura merawat Sifa.


Tok.. tok.. tok..


Terdengar seseorang mengetuk pintu ruangan Sifa.


"Masuk" ucap Yura dari dalam.


"Permisi Nona" sapa Leo yang baru saja masuk ke ruangan itu.


"Iya Le, bagaimana apa kamu menemukan sesuatu?" tanya Yura.


"Sampai saat ini kami belum menemukan pelakunya atau petunjuk apapun nona. tapi saya menemukan surat ini berada di lokasi kejadian" Leo menyerahkan sepucuk surat kepada Yura.


Surat itu adalah surat yang di buat oleh Sifa sebelum kejadian.


"Terima kasih Le" ucap Yura seraya mengambil surat tersebut.


*****

__ADS_1


happy reading🄰


__ADS_2