
" Maaf uncle, tapi bunda pernah bilang untuk berhati hati kepada orang yang sama sekali tidak kita kenal" jawab Noah jujur.
Elard tersenyum dan mengusap rambut Noah.
" Bundamu benar, tapi paman bukan orang jahat. apa kamu lupa kemarin paman yang telah menolongmu" ucap Elard.
" Siapa namamu?" sambung Elard lagi.
Elard mengulurkan tangannya, berharap anak laki laki yang ada di hadapannya juga akan membalas uluran tangannya.
Setelah Noah memperhatikan Elard dengan seksama, akhirnya anak laki-laki itu bersedia untuk berkenalan dengan Elard. ia pun membalas uluran tangannya.
Elard pun tersenyum senang akhirnya ia bisa meluluhkan hati seorang anak laki-laki yang menurutnya berbeda dari anak-anak yang lain.
" Good boy, kalau begitu Siapa namamu?" tanya Elard.
" Namaku Noah" jawab Noah namun suaranya tidak begitu jelas di telinga Elard.
" Siapa?" tanya Elard lagi.
" Noah.. Noah Desmon" jelas Noah.
" Apa!!!" Elard terkejut saat mendengar nama yang baru saja di ucapkan oleh anak laki laki itu.
** Apa ini suatu kebutulan? bagaimana bisa ia memiliki marga yang sama sepertiku..** batin Elard.
" Ada apa uncle?" tanya Noah.
" Tidak.. tidak ada apa-apa nak" jawab Elard.
Elard berniat untuk menanyakan sekilas tentang kehidupan Noah, namun pria itu mengurungkan niatnya karena saat ini ia baru saja kenal dengan Noah.
Tidak mungkin Elard membuat Noah menjadi tidak nyaman terhadap dirinya akhirnya Elard membawa Noah untuk bertemu dengan Nara di rumah sakit.
Sebelumnya Elard sudah menghubungi Leo dia mengatakan bahwa hari ini ia tidak bisa ke kantor karena ada urusan penting maka dari itu Leo akan meng-handle pekerjaan Elard.
Elard dan Noah berjalan memasuki lorong rumah sakit itu.
" Masuklah nak, disini putri paman dirawat" ucap Elard seraya membuka pintu untuk Noah.
Noah pun masuk ke dalam ruangan itu secara perlahan. ia melihat Nara yang sedang di suapi oleh seorang wanita yang tak lain adalah Sifa.
Kini Noah berdiri tepat di belakang Elard.
" Ayah kembali lagi?" tanya Nara yang melihat ayahnya berada diruangannya.
Sifa pun melihat ke arah suaminya.
" Apa ada yang tertinggal El?" tanya Sifa.
Elard memalingkan wajahnya ia tidak menjawab pertanyaan dari Sifa.
" Nara sayang, ada yang ingin bertemu denganmu" kata Elard kepada Nara.
__ADS_1
" Siapa ayah?" tanya Nara penasaran.
Elard memberi kode kepada Noah agar ia segera muncul dari belakang.
" Hai" ucap Noah sambil melambaikan tangannya kepada Nara.
Nara pun terkejut melihat Siapa yang datang menemuinya.
" Hai kamu disini?" tanya Nara ia pun membalas lambaian tangan Noah.
Berbeda halnya dengan mereka, Sifa benar-benar dibuat terkejut oleh kedatangan Noah, pasalnya Sifa langsung fokus kepada wajah anak laki-laki itu, Sifa sempat tercengang saat menatap Noah.
Kemudian ia sadar jika ternyata Noah sangat mirip dengan suaminya yaitu Elard, tak sengaja Sifa menjatuhkan sendok yang ia pegang karena saking terkejutnya melihat anak laki-laki yang sedang berdiri di hadapannya.
" Ada apa Kenapa kamu seperti terkejut begitu?" tanya Elard kepada Sifa.
" Tidak El aku baik-baik saja, siapa anak itu sepertinya aku tidak pernah melihat dia sebelumnya?" tanya Sifa kepada Elard.
" Tidak penting siapa dia bagimu, kedatangannya ke sini untuk menemui Nara" jawab Elard.
Noah terus saja menatap ke arah Sifa, ia memperhatikan Sifa.
Ntah kenapa Noah merasa marah dan tidak suka saat melihat sifa.
Sifa pun sampai salah tingkah karena Noah terus saja memperhatikan dirinya.
" Baiklah kalau begitu aku akan kekantin sebentar" ucap Sifa kemudian segera keluar dari ruangan itu terburu buru.
Saat sudah berada di kantin Sifa terdiam.
Pikiran Sifa benar benar tidak tenang memikirkan anak laki laki yang baru saja ia jumpai.
" Siapa namamu?" tanya Noah kepada Nara.
" Nala" jawab Nara.
" Namanya Nara, ia tidak bisa berbicara dengan jelas sepertimu" jelas Elard.
" Hai Nara, aku Noah" ucap Noah.
tidak membutuhkan waktu lama mereka berdua langsung terlihat sangat dekat, Elard membiarkan mereka berdua bermain bersama.
Elard duduk disofa memperhatikan Noah dan Nara yang asik bermain.
" Mungkinkah jika putraku masih hidup akan seusia Noah? pasti ia juga sangat tampan" kata Elard, ia memegang ponselnya dan membuka galeri dimana terdapat foto dirinya bersama Yura.
Dalam Foto itu terlihat perut Yura yang membesar dikala hamil 7 bulan.
" Aku merindukanmu sayang, dimana kamu sekarang? kenapa tidak menemuiku? apa kamu tidak merindukan Putri kita?" ucap Elard yang tanpa ia sadari air matanya menetes.
***
Tidak terasa Jam sudah menunjukkan pukul 14.00.
__ADS_1
Karena pekerjaannya sudah selesai maka dari itu Yura dan Axel tidak harus menunggu sampai sore hari.
karena sangat merindukan putranya Yura langsung pulang ke apartemennya.
Saat sudah sampai ia melihat Jeny yang terduduk di sofa sambil menangis.
Melihat sahabatnya menangis tiba tiba Yura menghampirinya.
" Jenny ada apa? kenapa kamu menangis?" tanya Yura kepada Jeny.
" Yura" ucap Jeny ia seolah tidak mampu melanjutkan kata-katanya.
" Iya ada apa jen katakan saja?" terlihat Yura yang sudah mulai khawatir karena kini sahabatnya terus saja menangis tanpa henti.
" Yura.. Noah hilang" kata jeny sontak itu membuat Yura dan Axel sangat terkejut.
" Apa maksudmu? Noah hilang bagaimana?" tanya Yura lagi yang masih belum mengerti dengan kata-kata Jenny.
Jenny pun menjelaskan bahwa sebelumnya ia pergi ke taman bersama Noah. kemudian ia berpamitan untuk pergi ke supermarket membeli minuman, Jenny juga menjelaskan bahwa dirinya sudah mengatakan kepada Noah untuk tidak pergi kemana-mana dan tetap menunggunya di sana namun Betapa terkejutnya Jenny pada saat dia kembali Noah sudah tidak berada di taman itu.
Jenny berusaha mencarinya dan bertanya kepada orang-orang yang berada di sana, namun tetap saja mereka tidak tahu keberadaan Noah.
Akhirnya Jeny memilih untuk kembali ke apartemen dan menghubungi Yura, namun ternyata ponsel Yura tidak aktif.
Yura sengaja mematikan ponselnya karena ia tidak ingin ada seseorang yang mengganggunya pada saat meeting dilaksanakan.
" Astaga Jeny bagaimana bisa kamu meninggalkan Noah sendirian" kata Axel yang mulai kesal.
" Maaf Xel, aku tidak bermaksud meninggalkannya" jawab Jeny terisak.
" Axel sabarlah kita tidak bisa menyalahkan Jeny begitu saja" jelas Yura mencoba menenangkan suasana.
sebenarnya ia juga sangat khawatir dengan keadaan putranya namun dia juga tidak ingin membuat Axel semakin marah terhadap Jeny.
" Tapi tidak seharusnya Jenny meninggalkan Noah sendirian di taman bagaimana jika terjadi apa-apa kepada Noah?" sahut Axel.
"Yura maafkan aku" ucap Jeny ia benar benar merasa bersalah.
" Jeny kenapa kamu selalu ceroboh hah?? apa kamu tidak tau sangat bahaya jika membiarkan Noah sendirian di luar. itu berbahaya untuk dirinya" kata Axel lagi.
Pria itu sangat marah kepada Jeny karena ia takut seseorang berniat jahat kepada Noah saat menyadari jika Noah adalah putra Elard. karena wajahnya yang sangat mirip.
" Lebih baik kita langsung mencarinya saja Xel, aku yakin Noah tidak jauh dari taman itu" kata Yura.
" Iya kamu benar, lebih baik kita mencarinya sekarang" jawab Axel.
" Aku akan membantu kalian" kata Jeny.
"Tidak!! tetap diam disini atau semua semakin sulit" cela Axel.
"Jeny lebih baik kamu tunggu disini ya, jika Noah kembali kamu hubungi aku" ucap Yura dan Jeny pun mengangguk pasrah.
tanpa mengganti pakaiannya Yura dan Axel langsung bergegas mencari Noah.
__ADS_1
*****
happy readingš„°