Wanita Malam Milik CEO

Wanita Malam Milik CEO
SEASON 3 ~ 12


__ADS_3

Dua hari telah berlalu, sekalipun dokter menyatakan jika operasi Rangga berhasil.


Namun sampai dua hari lamanya Rangga belum juga sadarkan diri.


Dengan setia Nara menemani dan merawat Rangga.


Gadis itu memilih untuk tetap berada di samping Rangga, meskipun orang tuanya memaksa agar Nara pulang terlebih dahulu untuk beristirahat.


Setelah insiden penembakan itu, pernikahan terpaksa di batalkan.


Banyak tamu undangan yang sudah menantikan dan ingin manyaksikan perniakahan anak terakhir dari keluarga Desmon itu.


Namun takdir berkata lain.


"Nak, lebih baik kamu istirahat terlebih dahulu nenek takut jika kamu sakit" ucap Nenek Tina.


Nenek Tina begitu menyayangi Nara, ia bersyukur karena Rangga memilih gadis yang tepat untuk di jadikan teman hidupnya.


"Nara sudah cukup beristirahat nek, seharusnya nenek dan kakek yang kembali ke apartement untuk beristirahat" balas Nara.


"Lalu bagaimana denganmu? Tidak mungkin nenek meninggalkanmu sendirian" tanya nenek Tina lagi.


"Ibu Tina jangan khawatir, kami akan menemani Nara disini" sahut Yura yang baru saja datang dan masuk ke dalam ruangan tersebut.


Usia nenek dan kakek Rangga terbilang sudah sangat tua.


Nara takut jika sampai nenek dan kakek Rangga jatuh sakit.


Itu sebabnya Nara meminta mereka untuk pulang dan beristirahat di apartement.


Awalnya nenek Tina menolak, karena ia ingin terus menjaga cucunya.


Namun bibi Rangga memberikan pengertian, dan akhirnya nenek Tina beserta suaminya bersedia untuk pulang.


"Baiklah nak, segera kabari kami jika Rangga sudah sadar atau terjadi sesuatu" pesan kakek Malik sebelum ia pulang.


"Pasti, bapak janga khawatir kami akan menjaga Rangga" jawab Yura.


Akhirnya keluarga Rangga pun segera pulang.


Tersisalah Nara dan kedua orang tuanya disana.


Nara duduk di samping Rangga, ia memegang tangan Rangga erat erat.


Dalam hatinya gadis itu berdoa agar Rangga segera sadarkan diri.

__ADS_1


Dua hari menunggu Rangga yang tak kunjung sadar, membuat gadis itu hampir saja kehilangan semangatnya.


Gadis itu biasanya selalu ceria dengan segala tingkah aktifnya, namun kini Nara berubah menjadi murung.


Tentu keadaan itu membuau Elard dan Yura menjadi sangat cemas.


"Nara kita makan malam dulu, sedari siang kamu belum makan" kata Yura yang sudah menyiapkan makanan favoritnya.


"Iya bunda" jawab Nara, karena memang ia sudah merasa lapar.


Nara pun hendak beranjak dari duduknya, namun gadis itu mengurungkan niatnya.


Tangan Nara di genggam oleh Rangga.


"Rangga, Rangga apa kamu sudah sadar?" Tanya Nara khawatir.


Mendengar itu, Elard dan Yura segera menghampiri Rangga.


"Ada apa Nara?" Tanya Elard.


"Lihatlah ayah! Rangga menggenggam tanganku" jawab Nara.


Da memang benar, terlihat Rangga menggenggam tangan Nara cukup erat.


"Ayah akan panggilkan dokter" kata Elard, dan pria itu segera bergegas keluar dari ruangan untuk memanggil dokter.


"Syukurlah tuan Rangga sudah melewati masa komanya" ucap Dokter tersebut setelah memeriksa Rangga.


Mereka semua turut bahagia dan bersyukur mendapat berita baik itu.


"Apa itu tandanya Rangga akan segera sadar dan membuka matanya?" Tanya Nara.


"Iya nona, bersabarlah " jawab dokter yang menanganibRangga.


Setelah memeriksa Rangga, dokter itupun segera keluar dari ruangan tersebut.


"Bunda, tetapi kenapa Rangga masih belum membuka matanya?"tanya Nara.


Nara heran, kenapa Rangga belum juga membuka matanya. Namun pria itu masih senantiasa memegang tangan Nara.


"Sabar nak, bukankah dokter mengatakan kita harus menunggunya sedikit lagi" jawab Yura.


"Sayang, apa kamu mau menemaniku ke kantin? Aku ingin membeli kopi" ucap Elard.


"Baiklah El"

__ADS_1


"Nara, bunda dan ayah ke kantin sebentar. Kamu tidak masalahkan jika sendirian disini?" Tanya Yura.


"Iya bunda, ayah dan bunda pergi saja" jawab Nara.


Karena putrinya sudah mengijinkan, akhirnya Yura dan Elard pun segera menuju ke kantin.


Sedangkan Nara hanya bisa duduk di tempatnya, ia tidak bisa pergi kemana mana karena Rangga terus saja memeganginya.


Sebelah tangan Nara merogoh kantung celananya, gadis itu mengambil ponsel miliknya dan hendak menghubungi Noah.


Ia ingin memberitahukan jika Rangga akan segera sadar.


Namun hingga beberapa kali Noah tidak menjawab panggilan darinya.


"Kakak kemana? Kenapa dia tidak menjawab panggilanku" gumam Nara sambil terus mengotak atik ponselnya tersebut.


"Kamu sedang apa My angel" ucap seorang pria yang sedang terbaring tersebut.


Nara langsung mengalihkan pandandangannya kepada Rangga.


"Ra...Rangga kamu sudah sadar?" Tanya Nara bersemangat.


Nara sampai melempar ponselnya di atas meja.


"Rangga katakan!! Apa kamu benar benar sudah sadar?" Tanya Nara lagi, seolah tidak percaya jika pujaan hatinya itu telah tersadar.


"Iya My angel, aku sudah tersadar sedari tadi" jawab Rangga dengan suara lirihnya, mungkin saja pria itu masih merasakan sakit pada tubuhnya.


"Apa!!! Kamu sudah tersadar sedari tadi? Tapi... Tapi kenapa kamu..." Belum selesai berbicara, Rangga langsung menarik tangan Nara dan membawa gadis itu ke dalam pelukannya.


"Aku sangat merindukanmu Nara, berapa lama aku tidak sadar hum? Kenapa aku merasa sangat rindu?" Tanya Rangga.


Sedangkan Nara hanya terpaku dalam pelukan pria itu, Nara masih berusaha mengatur detak jantungnya.


Berada di pelukan Rangga membuat Nara sangat gugup.


"Kenapa kamu diam?" Tanya Rangga tepat di telinga Nara.


"Ehh dua hari" jawab Nara gelagapan.


"Dua hari?" Rangga memastikan, dan Nara mengangguk.


"Pantas saja, ternyata sudah dua hari" ucap Rangga.


Rangga terus saja memeluk Nara, sampai sampai mereka tidak sadar dengan kedatangam dua orang yang baru saja masuk ke dalam ruangan tersebut.

__ADS_1


_____


selamat menunaikan ibadah puasa, untuk para readers yang menjalankannya🙏🙏


__ADS_2