
"apa kita pergi ke rumah sakit?" Tanya Nara sambil fokus mengemudikan mobil Rangga.
"Tidak perlu Nara, aku langsung pulang saja" jawab Rangga.
Rangga tidak tau jika Nara adalah adik dari sahabatnya sendiri
Rangga memperhatikan penampilan Nara.
Hoodie putih serta rok mini di atas lutut melekat di tubuhnya. Serta satu koper berukuran sedang di letakkan di bangku belakang mobilnya.
"Maaf Nara! Kamu mau pergi kemana?" Tanya Rangga.
"Aku baru pulang dari Amerika" jawab Nara.
"Amerika?" Tanya Rangga, dan Nara mengangguk.
"Kamu pasti lelah, biarkan saja aku yang mengemudi" ucap Rangga.
" No problem Rangga, aku bisa melakukannya kamu tidak perlu khawatir" tolak Nara dan Ia Tetap memutuskan untuk mengemudikan mobil pria yang sedang duduk di sampingnya itu.
"Like an echo in the forest
Haruga doraogetji
Amu ildo eopdan deusi
Yeah life goes on
Like an arrow in the blue sky
Tto haru deo naragaji
On my pillow, on my table
Yeah life goes on
Like this again"
Nara terus saja menyanyi lagu favoritnya, sedangkan Rangga memperhatikan Nara yang sedang asik sendiri menyanyi, bahkan Rangga tidak mengerti gadis itu menyanyikan lagu apa.
"Rangga masih jauh?" Tanya Nara.
"Ehh tidak! Setelah ini belok kiri dan kita sampai" jawab Rangga.
"Oke"
Beberapa menit kemudian mereka sudah sampai di parkiran apartemen Rangga.
"Sini aku bantu" ucap Nara.
"Maaf merepotkanmu" kata Rangga.
"Tidak masalah" Nara meletakkan tangan Rangga di pundaknya, kemudian gadis itu membawa Rangga masuk ke dalam apartemen tersebut.
Keduanya berada di sebuah lift yang akan membawa mereka menuju lantai 10 apartemen itu.
Ting!
Pintu lift terbuka, mereka berdua sudah sampai di lantai 10.
"Kamarku nomer 87" kata Rangga.
__ADS_1
"Oke" balas singkat Nara.
Setelah pintu terbuka Nara membantu pria itu masuk ke dalam apartemennya dan di letakkan tubuh Rangga di sebuah sofa.
"Duduklah dulu, dapurmu dimana?" Tanya Nara.
"Di sudut sana, kamu jangan repot repot lagi" jawab Rangga.
"Aku hanya mengambilkan mu air minum" kata Nara.
Sebelum kedapur, Nara membuka Hoodie tebalnya yang sedari tadi membungkus tubuhnya itu.
Rangga terbelalak saat melihat Nara membuka hoodienya dan hanya menyisakan tengtop berwarna putih.
Rambut coklat panjangnya itu ia gulung sampai ke atas sehingga memperlihatkan leher jenjang yang putih dan mulus.
**Astaga anak siapa ini? Wajahnya blasteran surga, benar benar cantiknya tidak manusiawi** batin Rangga memuji gadis yang masih berdiri di hadapannya.
Nara pergi menuju dapur dan ia mengambilkan air minum untuk Rangga.
"Minumlah" ucap Nara sambil menyerahkan air kepada Rangga.
"Terima kasih" balas Rangga.
"Hmm... Rangga boleh aku lihat kakimu? Maksudku siapa tau kakimu terluka sehingga aku bisa mengobatinya" ucap Nara.
"Tidak perlu Nara, aku akan mengobatinya nanti" ucap Rangga menolak.
Tidak mungkin ia membiarkan gadis cantik seperti Nara menyentuh kakinya.
Sangat tida sopan menurut Rangga.
"Kamu yakin bisa mengobatinya sendiri? Untuk berjalan saja kamu kesusahan apa lagi mengobati lukamu" ucap Nara.
"Tidak masalah Nara, aku bisa mengobatinya nanti. Terima kasih kamu sudah membantuku" Rangga tetap menolaknya.
"Nara tunggu!" Panggil Rangga.
"Iya ada apa?"
"Bolehkah kita bertukar nomer ponsel?" Tanya Rangga ragu ragu.
"Tentu" balas Nara, dan mereka berdua pun bertukar nomer ponselnya.
"Sekali lagi terima kasih Nara" ucap Rangga.
"Sama sama, semoga kakimu lekas membaik" kata Nara, kemudian gadis itu segera keluar dari apartemen Rangga.
"Sial!! Dia cantik sekali, astaga baru pertama bertemu dia sudah membuatku gila. Nara gadis yang sangat cantik" ucap Rangga.
***
Tepat pukul 16.30 Noah telah kembali dari kantornya, ia baru saja tiba di rumahnya itu.
"Bunda bagaimana Key?" Tanya Noah.
"Dia sedang tidur nak, bunda harus segera pulang. Karena Nara sudah kembali" ucap Yura.
"Benarkah bunda? Dia sudah kembali?" Tanya Noah.
"Iya nak, Nita bilang Nara baru saja tiba di rumah" jawab Yura.
"Baiklah bunda hati hati, nanti aku bersama Keyla akan pergi kerumah" kata Noah.
__ADS_1
"Baiklah nak, sampai jumpa" Yura segera bergegas kembali pulang ke rumahnya.
Kemudian Noah berjalan menuju lantai dua untuk melihat istrinya.
"Noah kamu sudah pulang?" Tanya Keyla yang tertidur di atas tempat tidurnya.
"Baby kamu sudah bangun, aku pikir kamu masih tidur" Noah meletakkan tas kerjanya kemudian melepaskan jas yang sedari pagi menempel di tubuhnya.
Kemudian Noah menghampiri Keyla.
"Iya aku mendengar suara motormu jadi aku bangun" jawab Keyla seraya mencium punggung tangan suaminya itu.
"Maaf ya sudah membuatmu bangun"
"Tidak masalah Noah, apakah bunda pulang?" Tanya Keyla.
"Iya bunda sudah pulang, Nara sudah kembali By. Apa kamu mau menemuinya?" Tanya Noah.
"Benarkah?" Tanya Keyla memastikan, dan Noah mengangguk.
Noah melihat perubahan ekspresi dari wajah istrinya itu. Terlihat Keyla sangat bersemangat saat mengetahui Nara telah kembali.
"Ehem!! Apa sebahagia itu kamu bertemu Nara?" Tanya Noah.
"Tentu, akhirnya aku bisa bertemu Nara kembali. Kapan kita kerumah bunda? Aku tidak sabar bertemu Nara"
"Nanti malam kita juga bisa kesana Baby, asal kamu sudah membaik"
"Aku baik baik saja Noah, janji ya nanti malam kita pergi menemui Nara" kata Keyla sambil bergelayut manja di lengan sang suami.
"Manja sekali ya kamu kalau ada maunya" ucap Noah gemas melihat tingkah istrinya itu.
"Kita akan pergi kerumah bunda asalkan...." Noah mendekati wajah istrinya itu, dan ia berbisik tepat di telinga Keyla.
"2 ronde" bisik Noah nakal.
"Noah!!!" Keyla melotot ke arah Noah dan mencubitnya pelan.
"Hahahah tidak Baby aku bercanda" kata Noah kemudian memeluk tubuh istrinya.
**Syukurlah dia mulai membaik, namun apa jadinya jika Keyla mengetahui sahabatnya itu yang telah menyebar berita hoax itu** batin Noah.
***
"Kakak!!!!" Nara berlari menghampiri kakaknya yang baru saja masuk ke dalam rumahnya tersebut.
Gadis itu langsung berhambur memeluk tubuh Noah.
"Hai gadis nakal, kenapa kamu tidak bilang jika ingin kembali?" Tanya Noah mencubit hidung adiknya itu.
"Maaf kak, setelah bunda menelpon ku, aku langsung melakukan penerbangan kembali ke Indonesia" jawab Nara.
Nara belum sadar jika di samping kakaknya itu ada Keyla yang menatapnya dengan tersenyum.
"Ehem!!" Suara Keyla berhasil membuat Nara melepaskan pelukan kakaknya.
"Key, aku rindu kamu Key" mereka berdua pun saling berpelukan melepaskan rindunya.
Yura membawa ke tiga anaknya itu untuk duduk di ruang keluarga mengobrol bersama.
Sebelumnya Nara sudah mengetahui insiden di kampus yang menimpa Keyla, karena Yura lah yang memberitahunya.
dan Yura meminta agar Nara tidak membahas apapun mengenai hal tersebut.
__ADS_1
_____
happy readingš„°