Wanita Malam Milik CEO

Wanita Malam Milik CEO
S2~ Penyesalan Vivian


__ADS_3

Tomi dan Vivian turut masuk ke dalam ruangan itu, mereka berdiri di samping kakek Sultan dan berhadapan langsung dengan Noah.


"Saya tidak berbohong kan! Sekarang hubungi Citra minta dia kemari" kata Tomi.


"Sabar paman, kenapa harus terburu buru... Masih ada seseorang yang ingin bertemu dengan paman" kata Noah menaikkan satu alisnya.


Tomi dan Vivian saling bertatapan orang siapa yang Noah maksud.


"Siapa?" Tanya Tomi.


"Ayah masuklah!!" Panggil Noah.


Pintu ruangan itu kembali terbuka, pria bertubuh tegap dan karisma tampan tidak pernah pudar dari wajahnya.


Pria itu masuk ke dalam ruangan dan itu adalah Elard.


Elard memberikan tatapan langsung kepada Tomi yang masih belum sadar dengan kehadirannya.


Tomi kemudian menatap Elard, Tomi terbelalak saat melihat siapa yang baru saja masuk ke dalam ruangan itu.


Bagaimana bisa ia bertemu lagi dengan Elard, sekian lama Tomi berlari dan terus berlari menghindari Elard, namun rupanya ia harus bertemu kembali.


"Selamat pagi tuan Tomi" sapa Elard tersenyum licik.


"Kau..." Ucap Tomi.


Tubuh pria itu menegang, Tomi ingin melangkah mundur namun rasanya begitu sulit.


Ia seperti melihat hantu di pagi hari, Tomi berusaha meyakinkan dirinya jika semua ini hanyalah mimpi.


Namun setelah berkedip berkali kali Tomi baru menyadari jika ini adalah sebuah kenyataan.


"Lama kita tidak bertemu, bagaimana kabarmu?" Tanya Elard.


"Mas kamu kenapa? Kamu mengenal pria ini?" Tanya Vivian.


"Tentu! Tentu tuan Tomi mengenal saya, tidak mungkin dia melupakan saya" kata Elard.


Ingin rasanya Elard mendekati pria itu dan menghajarnya, namun Elard harus tetap menahan dirinya.


Tomi membisu, ia tidak dapat berkata apa apa lagi. Kesalahan di masa lalu tiba tiba melintas di fikirannya.


"Tu..tuan kenapa anda bisa kemari?" Tanya Tomi gelagapan.


"Tentu paman, pria ini adalah ayah saya itu berarti ayah mertua dari Citra. Anak tiri anda" jelas Noah.


Kenyataan itu sekali lagi berhasil membuat Tomi terkejut bukan main.

__ADS_1


Tomi menelan salivanya dengan sangat susah, keringat dingin bercucuran.


Terlihat Tomi juga meremas remas tangannya karena panik sekaligus takut.


"Maaf tapi sebenarnya ada apa ini?" Tanya Kakek Sultan yang sedari tadi diam saja.


"Silahkan tuan Tomi anda jelaskan kepada istri dan mertua anda, apa yang sudah terjadi di antara kita berdua!" Perintah Elard.


Ucapan Elard terdengar santai namun itu semakin membuat Tomi ketakutan.


"Mas ceritakan ada apa?" Tanya Vivian yang tak kalah bingungnya.


Diam. Hanya itulah yang Tomi lakukan berdiam diri tanpa menjelaskan apa pun.


Mereka semua menunggu Tomi menjelaskan apa yang sudah terjadi.


"Baiklah sudah cukup anda berdiam diri tanpa menjalaskan apa pun, saya tidak punya waktu cukup lama" kata Elard.


Elard mengangkat tangannya dan ia memberi isyarat dengan jari telunjuknya.


Seketika itu beberapa polisi masuk ke dalam ruangan kakek Sultan.


"Ada apa ini!! Kenapa ada polisi??" Tanya Vivian panik.


"Tangkap dia!" Perintah Elard.


Polisi itu langsung menghampiri Tomi dan memborgol tangannya.


Namun tidak ada satupun di antara mereka yang menghiraukan Tomi.


"Tuan El maafkan saya, bukankah itu kejadian lama mengapa anda tidak melupakannya!" ucap Tomi.


namun Elard tidak memperdulikannya, hukuman ini lebih pantas untuk pria itu dapatkan.


Tomi langsung di seret keluar dari ruangan tersebut.


"Lepaskan jangan bawa suami saya!! Apa salah suami saya tolong lepaskan!!" Teriak Vivian histeris.


Wanita itu berusaha menahan suaminya agar tidak di bawa oleh polisi polisi itu.


Namun usahanya gagal, Vivian tersungkur dan akhirnya polisi itu membawa Tomi.


Vivian menangis melihat suaminya yang di seret polisi tanpa tau apa salahnya.


"Mas apa salahmu..." Gumam Vivian yang masih menangis.


"Bibi bangunlah" Noah membantu wanita itu untuk segera bangun.

__ADS_1


Mau bagaimana pun Noah tidak tega jika melihat wanita sampai harus menangis dan tersungkur seperti itu.


"Jelaskan kepada saya apa yang terjadi?" Tanya Vivian.


"Iya bi, saya aka menjelaskannya silahkan bibi minum air ini dulu" kata Noah seraya memberikan sebotol air mineral kepada Vivian.


Vivian pun meminum air tersebut.


"Jadi sebenarnya ayah saya dan paman Tomi dulu adalah teman, mereka adalah rekan bisnis yang baik. Sampai akhirnya ayah saya mempercayai paman Tomi dengan sepenuh hati, ayah menginfestasikan uangnya dalam jumlah banyak kepada paman Tomi. Namun paman Tomi menghianati ayah" jelas Noah.


"Apa suami saya menipu anda? Apa dia membawa kabur uang anda?" Tanya Vivian kepada Elard.


Dan Elard menjawabnya hanya dengan anggukan.


Vivian semakin bersedih, bagaimana kehidupannya saat ini setelah suaminya di tahan.


Putrinya masih terbaring di rumah sakit, ia juga belum mendapatkan donor ginjal.


Perasaan Vivian semakin kacau.


Kakek Sultan mengelus dadanya tidak percaya, ternyata selama ini menantunya adalah seorang penipu. Menyesal kakek Sultan menikahkan putrinya dengan duda anak satu itu.


Bukannya bahagia, Vivian malah harus mendapatkan penderitaan bertubi tubi.


"Bibi... Sebentar lagi saya akan membawa istri saya kemari untuk menemui kakek, saya harap urungkan niat bibi untuk memintanya menjadi pendonor putri anda" kata Noah.


"Tidakkah anda menyesal dengan semua perbuatan yang bibi lakukan? Apa yang bibi dapatkan? Tidak ada! Semua akan pergi meninggalkan bibi termasuk Citra, jika anda tidak bisa merawat dan menyayangi Citra setidaknya biarkan dia hidup bahagia dengan keluarga barunya" sambung Noah lagi.


Vivian tertunduk, sebagai seorang wanita yang telah melahirkan anaknya tidaklah pantas Vivian di panggil seorang ibu.


Anak yang ia lahirkan dibuang begitu saja, dan kini mencarinya hanya untuk kebahagian anak tiri serta suaminya.


"Saya menyesal, selama bertahun tahun saya hidup dengan penuh rasa bersalah. Namun berada di dekat mas Tomi membuat saya melupakan rasa bersalah itu" ucap Vivian lirih.


"Jangan sakiti dia Vi, biarkan dia bahagia" ucap kakek Sultan.


Vivian menghapus air matanya, perlahan ia mulai sadar selama ini yang di lakukan adalah kesalahan.


Tugasnya saat ini hanya perlu meminta maaf kepada anak kandungnya, terlepas dari dia memaafkan atau tidak Vivian akan menerimanya.


"Iya ayah, Vivian tidak akan memaksanya untuk mendonorkan ginjalnya. Vivian tidak akan menyiksanya lagi" kata Vivian dengan penuh penyesalan.


**Sekarang aku yakin jika Noah putraku sudah dewasa, kemarahannya sudah bisa ia redam, dan bersikap tenang. Ayah bangga kepadamu nak banyak cobaan yang kamu lalui** batin Elard yang sedari tadi hanya melihat putranya.


Satu lagi kebenaran yang Elard tahu, yaitu kematian kekasih Vivian atau ayah kandung Keyla itu adalah ulah Tomi. jika kebenaran itu di ungkap mungkin Vivian akan merasa semakin hancur, ternyata suami yang ia cintai telah berbuat kejahatan..


_____

__ADS_1


happy reading.


para readers jangan lupa terus dukung author yaa🥰🥰💜


__ADS_2