
Cukup lama mereka saling berdiam diri, sampai akhirnya ibu Rahma menyuguhkan teh hangat dan beberapa cemilan.
Ibu Rahma menatanya di atas meja, kemudian ia duduk kembali di dekat Noah.
"Anda mau sampai kapan diam seperti ini?" Tanya Noah dengan melipat tangannya di dada.
Bukan bermaksud tidak sopan, hanya saja Noah merasa jika pasangan yang sedang duduk di hadapannya terlalu bertele tele.
"Saya dan istri saya hanya ingin bertemu dengan putri kami" ucap Tomi sambil menyeruput teh hangat yang ada di hadapannya.
"Putri! Putri! Putri! Dan putri. Putri mana yang anda maksud?" Tanya Noah geram.
"Tuan dan Nyonya, lebih baik anda ceritakan semuanya kepada nak Noah." Kata ibu Rahma.
Ibu Rahma tidak ingin Vivian beserta suaminya semakin lama berada di panti tersebut.
"Baiklah, saya akan menceritakan semuanya kejadian 18 tahun yang lalu" Vivian memulai untuk menceritakannya, sedangkan Noah hanya diam dan menunggu.
Vivian pun menceritakan semuanya tanpa ada yang ia tutupi.
"Karena pertengkaran itu akhirnya saya mengambil keputusan untuk meninggalkan putri saya di panti asuhan ini. Saya tidak punya pilihan, jika terus di pertahankan maka akan banyak yang menghina dia sebagai anak haram" jelas Vivian.
"Sebenarnya saya sudah memberi nama anak itu dengan nama Citra" sambungnya.
Noah menarik nafasnya panjang setelah mendengar cerita tersebut.
Rasa kesal dan marahnya semakin bertambah, namun Noah mencoba untuk menahan emosinya.
"Lalu sekarang apa yang anda mau?" Tanya Noah lagi.
"Saya ingin bertemu dengan anakku Citra, saya sangat merindukannya dan meminta maaf kepadanya karena sudah meninggalkan dia 18 tahun yang lalu" jawab Vivian.
"Baiklah nanti saya akan sampai kepada Citra jika anda datang untuk meminta maaf. Dan satu lagi, anda bukan meninggalkannya di panti ini tetapi lebih tepatnya membuangnya" kata Noah.
"Semua sudah selesai, silahkan anda pergi dari panti ini dan jangan kembali lagi. Permintaan maafan anda akan saya sampaikan kepada Citra" lanjut Noah.
"Kamu benar benar anak yang tidak punya sopan santun! Beraninya kamu mengusir kami seperti ini. Siapa kamu sampai harus mengatur kami hah!!" Kata Tomi dengan penuh emosi.
"Saya suami Citra! Jelas saya memiliki hak atas istri saya" jawab Noah penuh dengan penekanan. Sengaja Noah tidak menyebutkan nama Keyla sedari tadi, biarlah mereka menganggap jika putrinya bernama Citra bukan Keyla.
Vivian dan Tomi terkejut saat mengetahui pria yang ada di hadapannya adalah suami dari putrinya.
Bukankah masih terlalu muda untuk putrinya itu menyandang status sebagai istri.
"Apa benar bu, dia adalah suami putriku?" Tanya Vivian kepada ibu Rahma.
"Iya nyonya itu benar" jawab ibu Rahma membenarkan.
Vivian dan Tomi seketika diam saat mengetahui Noah adalah suami dari anak yang ia buang.
Wanita itu bingung harus merayu bagaimana lagi, karena terlihat dari wajahnya jika Noah sangat sulit untuk di rayu bahkan di bodohi. Pasti Noah tidak akan mengijinkan dirinya untuk bertemu dengan anaknya.
"Maaf saya tidak tau jika kamu suami Citra, tapi saya mohon ijinkan saya bertemu dengannya. Saya sangat sangat ingin bertemu dan meminta maaf secara langsung, saya menyesal karena telah meninggalkannya di panti ini" ucap Vivian memelas, wanita itu hingga meneteskan air mata saat memohon kepada Noah.
"Saya akan memikirkannya kembali" sahut Noah.
"Terima kasih, jika kamu berubah fikiran ini kartu nama suami saya. Kamu bisa menghubungi kami sesuai dengan nomer yang tertera disana" kata Vivian seraya memberikan sebuah kartu kecil kepada Noah.
Noah pun mengambil kartu itu dan meletakkannya di atas meja dengan malas.
Ia pun tak berniat untuk menghubunginya.
"Baik bu kalau begitu saya pamit terlebih dahulu, namun jika tidak ada kabar mengenai Citra maka saya akan kembali lagi" ucap Vivian berpamitan.
"Silahkan Nyonya" balas ibu Rahma.
__ADS_1
Baru dua langka Vivian melangkah wanita itu menetap Noah yang hanya diam saja tidak memberikan respon sama sekali.
"Saya harap kamu bisa menghubungi kami segera" ucap Vivian.
Noah sekilas balik menatap Vivian dan suaminya, namun pria itu langsung mengalihkan pandangannya ke sudut yang lain.
Karena tidak mendapat jawaban dari Noah akhirnya Vivian dan Tomi pun segera keluar dari panti tersebut.
"Nak... Ibu mohon jangan pertemukan Key dengan mereka, entah kenapa firasat ibu mengatakan jika meraka ada maksud buruk" ucap ibu Rahma setelah kepergian mereka.
"Ibu jangan khawatir, mereka tidak akan melakukan apa pun kepada Key" jawab Noah meyakinkan ibu Rahma yang sudah kelewat cemas.
"Apa mereka datang lagi?" Tanya ibu Rahma setelah terdengar sebuah mobil yang berhenti di pekarang panti tersebut.
Ibu Rahma dan Noah segera berjalan keluar ruangan tersebut.
Noah dan ibu Rahma memperhatikan mobil putih yang baru saja berhenti di depan panti.
Terlihat seorang supir membukakan pintu bagian belakang.
Kemudian turun pria paruh baya yang menggunakan tongkat lengkap dengan kaca matanya.
"Bapak Sultan" ucap ibu Rahma.
"Ibu kenal dengan orang itu?" Tanya Noah.
"Iya nak, itu bapak Sultan kakek kandungnya Keyla" jawab ibu Rahma.
"Permisi... Maaf jika kedatangan saya menggangu" ucap kakek Sultan.
"Ehh... Tidak Tuan, tetapi untuk apa tuan datang kemari? Anak dan menantu anda baru saja pulang" tanya ibu Rahma.
"Iya... Saya tahu jika mereka baru saja datang kemari, boleh saya masuk?"
"I..iya tuan silahkan" ibu Rahma pun mempersilahkan kakek Sultan masuk, diikuti Noah dari belakang.
"Saya siapkan minuman dulu" kata ibu Rahma.
"Tidak perlu repot repot, saya hanya perlu bicara dengan anda. Tetapi siapakah pria ini?" Tanya kakek Sultan seraya menunjuk Noah yang duduk di sebelah ibu Rahma.
"Dia Noah tuan, suami dari cucu anda" jawab ibu Rahma.
Seketika kakek Sultan melepas kaca matanya dan mengeluarkan sapu tangan dari kantung celananya, entah kenapa tiba tiba kakek Sultan meneteskan air mata, buliran bening itu lolos begitu saja. Membasahi wajahnya yang sudah mulai keriput.
"Maaf. Tuan kenapa menangis?" Tanya ibu Rahma lagi.
"Nak kemarilah!!" Bukannya menjawab, kakek Sultan malah memanggil Noah untuk mendekatinya, tanpa ragu ragu Noah pun berjalan menghampiri kakek Sultan.
Noah merasa jika kakek sultan berbeda dengan orang tua Keyla yang baru saja ia temui.
Kakek sultan merentangkan tangannya dan ia langsung memeluk Noah.
Noah yang terkejut hanya bisa diam didalam pelukan kakek Sultan.
"Maaf kakek kenapa?" Tanya Noah.
"Tetaplah jaga cucuku, aku sangat merindukan dia. Sangat rindu" jawab kakek Sultan dengan linangan air mata.
Flasback On.
Kurang lebih hampir 19 tahun yang lalu, Vivian di kabarkan tengah mengandung dengan sang kekasih yang sudah tiada.
Diam diam Vivian memiliki kekasih bernama Bima yang merupakan ayah kandung Keyla.
Ia berselingkuh karena Tomi sibuk bekerja di luar negeri, hingga Vivian pun melakukan perselingkuhan tersebut.
__ADS_1
Sampai akhirnya kabar perselingkuhan itu tersengar di telinga Tomi.
Tomi langsung memutuskan untuk pulang ke tanah air, dan ia meminta beberapa anak buahnya untuk mencari keberadaan Bima.
Dan tanpa pikir panjang Tomi meminta anak buahnya untuk menghabisi Bima, dengan motif kecelakaan.
Pada saat itu Vivian sangat shok mendengar kekasihnya meninggal karena kecelakaan.
"Mas maafkan aku, aku tidak tau akan jadi seperti ini" ucap Vivian.
"Baru 2 bulan kita menikah kamu sudah berselingkuh!! Anakku saja masih bayi dan dia butuh sosok seorang ibu, kamu disini asik bercinta dengan kekasih gelapmu itu" ucap Tomi yang sudah mulai marah.
Pertengkaran mereka dilihat langsung oleh kakek Sultan yang menggendong bayi Tomi bersama mendiang istrinya yang hampir 4 bulan meninggal.
"Aku menyesal mas, aku khilaf tolong maafkan aku mas" rengek Vivian.
"Aku akan menceraikanmu!" Kata Tomi.
"Jangan mas, aku tidak ingin menjadi janda. Lagi pula anak kamu butuh aku"
Tomi mulai berfikir, ia sekilas teringat wajah putrinya yang masih mungil itu.
Saat seperti ini sang bayi memang butuh sosok seorang ibu.
Namun harga dirinya sudah di injak injak oleh istrinya sendiri.
Terlebih lagi Vivian hamil dengan selingkuhannya itu.
"Baiklah! Aku akan memaafkanmu, tapi dengan satu syarat" kata Tomi.
"Apa mas?"
"Gugurkan kandunganmu itu, atau buang dia jauh jauh saat sudah lahir".
Kakek Sultan terkejut saat mendengar menantunya mengajukan syarat gila seperti itu. Bagaimana pun itu adalah calon cucu kandung kakek Sultan.
Kakek Sultan melihat bayi mungil yang ia gendong sedari tadi.
**Jika aku bisa merawat dan menyayangi bayi ini, kenapa aku tidak bisa merawat cucu kandungku sendiri** batin Kakek Sultan.
"Aku tidak setuju!!" Sahut kakek Sultan kemudian mendekati mereka.
"Apa maksud ayah?" Tanya Tomi.
"Aku tidak setuju jika Vivian sampai harus mengugurkan apa lagi membuang bayi itu, Vivian akan merawatnya sama seperti kalian merawat anak kalian ini" jawab Kakek Sultan.
"Tidak bisa ayah! Aku tidak mau bayi itu lahir di tengah tengah keluarga ini"
"Cepat kamu ambil keputusan Vi, mempertahankan anak ini dengan resiko kita bercerai atau sepakat dengan syarat yang aku berikan!!" Sambung Tomi lagi.
Vivian menarik nafasnya panjang, ia berat mengugurkan bayi itu namun Vivian tidak ingin menjadi seorang janda.
"Baiklah mas aku setuju dengan syaratmu, setelah bayi ini lagir aku akan menitipkannya di panti asuhan" jawab Vivian.
Seketika kakek Sultan merasa lemas dengan keputusan anaknya.
"Jangan Vi! Kamu akan menyesal!!!" Ucap kakek Sultan.
Namun Vivian tetap akan keputusannya.
**Flasback Off
____
happy readingš„°
__ADS_1
jangan lupa like vote serta komentarnya ya.
maaf jika banyak typo bertebaranš**