
Malam itu andai ia tidak pergi ke acara ulang tahun temannya, mungkin semua ini tidak akan terjadi.
Ia masih bisa melanjutkan pendidikannya di Indonesia, bermain bersama sahabat sahabatnya. Bahkan masih bisa memandangi pria yang kini sudah mulai memenuhi hati dan fikirannya.
Jalan yang ia ambil benar benar sudah bulat, ini keputusan akhir dari semuanya.
pergi jauh meninggalkan banyak kenangan.
berharap akan mendapatkan kehidupan dan kebahagiaan yang baru.
"BRUK!!!"
"Maaf tuan, apa anda baik baik saja?" tanya wanita cantik berseragam rapi.
"Iya tidak masalah, aku baik baik saja" jawab pria yang menggunakan pakaian serba hitam itu.
Karena terburu buru pria itu menabrak pramugari yang sedang bertugas di dalam pesawat.
Pria itu segera mengambil beberapa barangnya yang terjatuh.
Kemudian pria itu melihat ke arah bangku kosong yang merupakan tempat duduknya.
Pria itu tersenyum setelah melihat siapa yang duduk di samping bangkunya.
Tanpa mengatakan apapun pria itu langsung duduk di bangkunya dengan bersemangat.
"Ishh" celetuk Freya setelah ia menyadari ada seorang pria duduk di sampingnya tanpa permisi.
"Hufhh aku pikir aku akan duduk sendirian" ucap Freya pelan.
Kebetulan kedua orang tua gadis itu duduk di bangku yang terpisah dengannya.
***
Beberapa hari kemudian...
Jam sudah menunjukkan pukul 06.00 waktu Amerika, Freya masih belum terbangun dari tidurnya. Setelah melakukan penerbangan selama hampir satu hari penuh.
Gadis itu masih tertidur pulas di atas tempat tidur empuknya.
"Nak, bangun" ucap Jenny membangunkan putrinya.
"Aku masih mengantuk mom" jawab Freya dengan mata tertutup.
"Kamu masih ingin terus tidur atau ikut bersama Mommy dan Daddy? Kita akan pergi ke rumah Oma" tanya Jenny.
Orang tua Axel mengetahui jika anak dan menantunya telah kembali ke Amerika.
Itu sebabnya Jenny dan Axel berniat untuk mengunjunginya.
"Aku akan menyusul Mom" ucap Freya.
"Hmm baiklah, kalau begitu Mommy pergi dulu" kata Jenny seraya mengecup kening putrinya kemudian pergi meninggalkan apartment tersebut.
Satu jam kemudian setelah kepergian Jenny, Freya terbangun.
"Siapa yang berisik sepagi ini" ucapnya sedikit kesal.
Freya mendengar keributan di dapurnya, seperti orang sedang memasak.
__ADS_1
"Apa Mommy sudah kembali? kenapa cepat sekali" ucapnya lagi.
Dengan langkah malas, gadis itu turun dari tempat tidurnya ia berjalan menuju dapur dimana keributan itu berasal.
"Mom.... apa yang Mommy lakukan?" tanya Freya sambil terus berjalan.
Matanya yang masih buram membuat gadis itu tidak bisa melihat dengan jelas siapa seseorang yang sedang berdiri di dapurnya.
Freya duduk di meja makan kemudian ia menuang air lalu meminumnya.
"Uhukk.... uhukkk...." gadis itu tersedak setelah menyadari jika seseorang yang berdiri di hadapannya bukanlah Mommy nya.
"Siapa kamu?!!!" tanya Freya yang langsung berdiri dari duduknya.
Pria tinggi dengan setelan hitam itu membalikkan tubuhnya dan menatap ke arah Freya.
Freya mengernyitkan dahinya, ia memperhatikan wajah pria di balik masker hitam tersebut.
"Si...siapa kamu?" tanya Freya lagi.
"Good morning" ucap Pria itu.
Suaranya sangat tidak asing di telinga Freya, namun ia masih belum menyadari siapa pria tersebut.
"Siapa kamu? kenapa kamu ada di sini?.... kamu...." ucapan Freya terhenti saat ia menyadari sesuatu.
**Tunggu... bukankah ini pria yang ada di pesawat, yang duduk di sampingku** batin Freya, gadis itu memperhatikan penampilan seseorang yang ada di hadapannya.
jaket hitam itu sangat persis dengan pria yang duduk di sampingnya kemarin.
"Kamu!!! bukankah kamu yang kemarin ada di pesawat bersamaku? kenapa kamu bisa kesini?? oh tidak! kamu pasti penjahat yang mengikuti ku" Freya berkata dengan kepanikan, ia hendak berlari masuk ke dalam kamarnya.
**Aku harus menghubungi Daddy** batin Freya.
"Hei!!! apa yang kamu lakukan, lepaskan!!!" teriak Freya.
"Ssstttt..... Jangan pergi sebelum kamu menghabiskan sarapan mu" ucap pria itu pelan berbisik.
**Jantungku... ada apa dengan jantungku** Freya menatap mata pria itu, begitu pun sebaliknya.
Kemudian Freya mendorongnya sekuat mungkin, membuat pria itu terhuyung ke meja makan.
"Kamu!!! Kak Damar!" kata Freya lirih, setelah ia menyadari jika pria yang ada di hadapannya adalah Damar.
Pria itu melepas topi dan masker yang ia pakai sedari tadi.
"Masih mengingatku?" tanya Damar tersenyum.
Tidak bisa berkata lagi, kaki gadis itu seolah lemas setelah melihat pria pujaan hatinya berdiri tepat di depannya.
Dan itu benar benar Damar, gadis itu tidak sedang bermimpi.
"Aku pikir kamu sudah melupakanku, sehingga kamu pergi sejauh ini tanpa memberitahuku" Damar berjalan mendekati Freya.
Ia melihat jika gadisnya kebingungan dengan kedatangannya.
"Kenapa? apa kamu tidak suka aku ada disini, atau kamu memang benar benar ingin pergi dan melupakan aku? jika itu benar maka aku akan pergi" Damar hendak memakai maskernya kembali.
"Jangan" Freya memeluk tubuh Damar.
__ADS_1
"Jangan pergi kak... tetaplah bersamaku" ucapnya.
"Apa? katakan sekali lagi, aku tidak bisa mendengarnya" pinta Damar.
"Jangan pergi.... tetaplah disini, aku merindukanmu" ulang Freya, suaranya sedikit bergetar. itu artinya gadis itu benar benar dengan ucapannya.
"Aku tidak bisa mendengarnya, katakan lebih jelas".
"Ishhh!!!" Freya mendorong Damar.
"Aku tidak akan mengatakannya lagi, jika kakak ingin pergi maka pergilah! aku tidak akan mencegah mu!" Freya membalikkan badannya dengan kesal, ia pun menghapus air matanya yang sempat menetes.
Damar hanya tersenyum, akhirnya ia bisa melihat tingkah gemas gadisnya. Damar pun kembali mendekati Freya dan memeluk tubuhnya dari belakang.
"Jangan pergi seperti ini, aku tidak bisa jika kamu meninggalkan aku" bisik Damar.
"Maaf...." kata Freya.
"Jangan pernah berpikir jika aku akan membiarkanmu pergi, sejak malam itu.... aku telah berjanji kepada diriku sendiri. aku akan selalu menjagamu" jelas Damar membuat hati gadis itu sangat tenang.
Sejenak Freya menikmati pelukan hangat dari Damar dan melupakan kesedihannya.
"Tapi kak, kamu masih punya hutang penjelasan kepadaku. kenapa kamu bisa berada disini".
"Iya... aku akan menceritakan itu semua nanti, sekarang duduklah aku sudah menyiapkan sarapan untukmu" Damar melepas pelukannya, dan ia membawa gadis itu untuk duduk.
"Kamu yang membuat roti bakar ini?" tanya Freya.
"Iya... aku tidak melihat bahan yang lain, jadi aku memutuskan untuk membuatkan roti bakar" jawab Damar.
"Ayo makanlah... kenapa kamu terus saja menatapku?" tanya Damar, karena Freya sama sekali tidak menyentuh sarapannya.
"Aku masih tidak percaya jika kakak benar benar ada disini" kata Freya.
"Ahahaha.... aku disini, aku benar benar disini" Damar mengusap kepala Freya pelan.
"Cepat makan rotinya, kemudian bersiap untuk pergi ke rumah Oma" perintah Damar.
"What!!! Oma? kenapa kakak tau tentang Omaku?".
"Aku tau segalanya tentang kamu" jawab Damar sambil mengedipkan satu matanya.
Entah semalam Freya bermimpi apa, paginya benar benar mengejutkan baginya.
Damar tiba tiba ada di hadapannya, sesekali Freya memastikan jika pria di hadapannya benar benar nyata.
***
"Kenapa kalian hanya berdua? dimana cucuku?" tanya Clara.
Masih ingatkah dengan wanita cantik bernama Clara? Ibu dari Axel yang sempat ingin menikahkan putranya dengan Yura belasan tahun yang lalu.
Kini wanita itu sudah semakin tua dengan beberapa kerutan halus di wajahnya, namun paras cantiknya seolah tidak pernah pudar.
"Freya masih di Apartment ma, sepertinya gadis itu akan tidur cukup lama" jawab Freya.
"Tidak sayang, aku yakin saat ini putrimu sudah terbangun dan bersiap untuk kemari" timpa Axel.
"Kenapa kamu bisa seyakin itu? aku yang membangunkannya dan Freya masih terlihat sangat malas untuk bangun" Jenny berkata kepada Axel dengan wajah penasaran.
__ADS_1
Kemudian Axel membisikkan sesuatu kepada istrinya.
"Apa! benarkah?" tanya Jenny dan Axel mengangguk.