Wanita Malam Milik CEO

Wanita Malam Milik CEO
DF 22


__ADS_3

Dua hari telah berlalu, semenjak kejadian itu Damar tidak lagi bertemu dengan gadisnya. Ia tidak tau bagaimana kabar terbaru mengenai Freya.


Namun Noah sempat memberi kabar kepada Damar jika Axel saat sini tengah mempersiapkan keberangkatannya.


Axel juga mengurus mengenai sekolah Freya, untung saja Freya hanya sisa menunggu kelulusannya.


Sehingga ia sudah dapat meninggalkan sekolah tersebut.


Pagi ini di sebuah cafe, Marfella tengah mondar mandir kebingungan. Pasalnya Damar belum juga datang.


"Pak boss belum datang?" Tanya Jojo.


"Belum Jo, 10 menit lagi kita akan rapat" jawab Marfella bingung.


Beberapa kali wanita itu mencoba menghubungi Damar namun sama sekali pria itu tidak menjawabnya.


Terdengar suara mobil yang berhenti di depan cafe tersebut.


"Itu pak Damar" kata Jojo.


"Syukurlah pak Damar sudah sampai" Marfella segera berjalan menghampiri Damar dengan beberapa dokumen di tangannya.


"Selamat pagi pak" sapa Marfella.


Damar tidak menjawab, pria itu menerobos masuk kedalam cafe.


Marfella menghembuskan nafasnya pelan.


"Sabar sabar" ucapnya, karena ia tau kondisi Damar sedang tidak baik baik saja.


"Apa semua sudah siap?" Tanya Damar dingin.


"Ss...sudah pak" Marfella menyerahkan dokumen tersebut kepada Marfella.


Damar membuka dan membaca dokumen tersebut dengan cermat.


Kemudian pandangan Damar tertuju kepada lantai yang kotor tepat di hadapannya.


"Panggil Jojo" perintah Damar kepada Marfella.


"Baik pak".


"Bapak memanggil saya?" Tanya Jojo yang baru saja menemuinya.


"Apa yang kamu lakukan sedari tadi?" Tanya Damar.


"Saya sedang menyiapkan beberapa perabotan pak" jawab Jojo sedikit tegang.

__ADS_1


"Bukankah kamu sudah tau, sebelum mengerjakan tugas dapur. Kamu harus memastikan area customer sudah bersih. Coba lihat!" Damar mengarahkan pandangannya pada lantai yang kotor.


"Bahkan lantainya belum di pel! Apa kamu tidak bisa mengarahkan yang lain untuk membersihkannya? Atau kamu mau meninggalkan jabatan sebagai capten di sini??" Jelas Damar nada yang cukup tinggi Jojo menelan salivanya tidak Biasanya bosnya itu memarahi dirinya.


Biasanya Damar hanya akan menegur jujur secara pribadi dengan lembut.


"Maaf pak, saya pastikan ini tidak akan terjadi lagi" ucap Jojo.


"5 menit lantai ini sudah harus bersih, dan kamu Fella! Segera bersiap!" Titah Damar, kemudian pria itu berjalan menuju ruangannya.


"Bu. Sebenarnya apa yang telah terjadi dengan pak Damar? Mengapa dia berubah?" Tanya Jojo.


"Entahlah Jo, aku rasa ini ada hubungannya dengan Freya... Ini bukanlah pak Damar yang kita kenal, sepertinya keadaan pak Damar sedang tidak baik" jelas Marfella.


"Fella!!!" Panggil Damar dengan berteriak.


"Apa kamu akan terus berdiri disana tanpa bersiap?".


"I..iya baik pak!" Marfella berlari menuju ruangannya untuk menyiapkan semuanya.


Damar dan Marfella hendak keluar dari cafe tersebut untuk menemui rekan kerjanya.


"Bapak mau naik motor saya?" Tawar Jojo sambil mengulurkan kunci motor.


"Tidak! Aku membawa mobilku sendiri" tolak Damar.


"Baik pak" Jojo berniat ingin membuat suasana hati Damar membaik. Namun ternyata sia sia.


Jam sudah menunjukkan pukul 10 malam.


"Sayang apa semua sudah siap?" Tanya Jeny kepada suaminya.


"Sudah sayang, besok pagi kita akan berangkat" jawab Axel.


"Lalu bagaimana dengan Damar?" Jeny bertanya dengan berbisik, ia tidak ingin jika Freya mendengarnya.


"Aku sudah menyerahkan semuanya kepada Noah, kita tidak perlu khawatir. Tapi jika semua berjalan di luar rencana, maka kita akan benar benar kehilangan kesempatan ini" jelas Axel.


Mereka berdua berharap rencana yabg sudah di siapkan secara mendadak itu bisa berjalan dengan lancar.


Sedangkan di dalam kamar, Freya tengah mengemasi barang barangnya.


Pandangan gadis itu kosong, dia sendiri bingung dengan keputusannya.


Bahkan kedua sahabatnya tengah bersedih dengan keputusan Freya.


Mereka sudah berkeinginan untuk kuliah bersama.

__ADS_1


"Besok aku sudah akan berangkat, apa aku harus memberi tau kak Damar?".


"Tidak tidak! Lebih baik dia tidak tau jika besok aku berangkat" kata Freya.


Jujur saja gadis itu sangat ingin bertemu dengan Damar.


Kemudian Freya segera membereskan semua pakaian dan barang barangnya, Freya memutuskan untuk beristirahat. Karena besok ia harus berangkat ke Amerika bersama kedua orang tuanya.


Malam ini Jam sudah menunjukkan pukul 23. 00 Jalanan sudah mulai sepi bahkan lampu lampu penerang jalan pun mulai padam, namun tiba-tiba berhenti sebuah mobil di depan Apartemen Freya.


Kaca mobil itu terbuka dan ternyata yang mengemudikan mobil tersebut adalah Damar.


Damar baru saja pulang dari cafenya, dan ia tidak langsung pulang menuju rumahnya. pria itu sengaja datang menemui Freya di malam hari agar tidak ada satupun orang yang melihatnya.


"Apa kamu sudah tidur?".


"Apa tidurmu nyenyak?". Gumam Damar di dalam mobilnya.


Damar begitu merindukan sosok gadisnya itu, karena semenjak kejadian Damar tidak lagi bertemu dengan Freya.


Di depan seluruh pegawainya Damar berusaha untuk tidak mengingat Freya.


Damar memandangi gedung apartemen tersebut pandangannya menyorot pada kamar Freya yang berada di lantai paling atas lampunya sudah padam itu berarti gadisnya sudah tertidur.


"Ahh aku tidak bisa memejamkan mataku" ucap Freya dengan suara paraunya.


Gadis itu sudah mengantuk, namun matanya tidak mau terpejam.


"Kenapa aku merasa kak Damar ada di dekatku." Ucapnya lagi.


Freya turun dari tempat tidurnya, gadis itu mencoba mencari udara segar.


Ia membuka pintu loteng kamarnya dan berdiri di sana.


Pandangannya kosong, ia hanya melihat jalanan yang sudah mulai gelap tanpa menyadari jika ada Damar di sana.


"Apa itu Freya? Kenapa dia belum tidur?" Tanya Damar, pria itu melihat jam di ponselnya.


Sudah pukul 11 malam tapi gadisnya masih terjaga.


"Bagaimana keadaanmu? Apa kamu baik baik saja" Damar sangat ingin menemui gadis itu.


Di lihat dari kejauhan sepertinya Freya baik baik saja.


Setidaknya rasa rindu Damar sudah terobati.


Damar akan tetap di sana menunggu sampai Freya kembali masuk ke dalam kamarnya.

__ADS_1


Beberapa menit kemudian Freya pun kembali masuk, cuaca di luar cukup dingin sehingga dia tidak bisa terlalu lama.


Setelah melihat Freya masuk, Damar memutuskan untuk pergi meninggalkan tempat itu.


__ADS_2