Wanita Malam Milik CEO

Wanita Malam Milik CEO
DF 04


__ADS_3

Malam hari tepat pukul 20.00, Freya berdiam diri di kamarnya dengan beberapa buku pelajaran.


Sudah berkali kali ponselnya berdering, Lila dan Cindy menghubungi Freya. Mereka khawatir dengan kondisi gadis itu, Karena setelah meninggalkan sekolahnya tadi pagi Freya sama sekali tidak ada kabar.


Bahkan ada ratusan pesan yang masuk ke dalam ponselnya, namun Freya sama sekali tidak memperdulikan itu.


Ia hanya terdiam sambil memegang buku sekolahnya.


Beberapa menit kemudian.


"Freya sayang..." Jeny mengetuk pintu kamar putrinya.


Tidak butuh waktu lama, Freya bergegas membuka pintu tersebut.


"Ada apa mom?" Tanya Freya.


"Daddy ingin bicara denganmu, keluar kamar sebentar ya" kata Jeny.


"Oke mom" Freya mengikuti Jeny dari belakang dan menemui Axel yang menunggunya di ruang tamu.


Tanpa bertanya Freya langsung duduk di dekat Axel.


"Baru saja Cindy menghubungi Daddy" kata Axel memulai pembicaraan.


"Kenapa Cindy menghubungi Daddy?" Tanya Freya.


"Dia sudah puluhan kali menghubungimu, tetapi kamu tidak menjawabnya" jawab Axel.


"Benarkah?" Freya cengengesan sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Nak sebenarnya kamu kenapa? Cindy bilang kamu tadi tidak sekolah" sambung Jeny.


Freya langsung membulatkan matanya, ia lupa memberitahukan hal itu kepada orang tuanya.


Kini pasti Daddy nya akan memarahinya.


"Maaf mom, aku lupa mengatakan kepada Daddy dan Mommy. Sebenarnya aku tidak berniat bolos, tadi..."


"Daddy sudah tau, Cindy menceritakan semuanya kepada Daddy" kata Axel memotong penjelasan Freya.


"Dad...." Suara Freya nampak merajuk.


"Tidak masalah nak, Daddy akan bicara langsung kepada kepala sekolah" Axel tau jika putrinya terlambat sekolah.


Namun Axel merasa tidak terima jika penjaga sekolah itu tidak mengijinkan Freya masuk untuk mengikuti pelajaran yang tersisa.


"Apa karena masalah itu kamu berdiam diri di kamar?" Tanya Jeny.


"Ehhh itu, sebenarnya..." Freya sama sekali tidak memikirkan hal itu.


Sebenarnya gadis itu tengah memikirkan Damar.


Setelah mengetahui jika Damar bersahabat dengan Noah entah mengapa itu membuat Freya sangat terganggu.


"Iya mom, aku sangat kesal dengan penjaga sekolah itu" kilah Freya.


"Jangan khawatir nak, Daddy akan menyelesaikan semuanya. Sekarang pergilah bersama teman temanmu, bukankah besok hari libur" ucap Axel.

__ADS_1


"Tidak Dad, aku merasa lelah. Aku akan kembali ke kamarku" jawab Freya kemudian gadis itu kembali ke kamarnya.


Axel masih ingin bertanya, kemana putrinya pergi seharian ini.


Namun nampak jika Freya sedang tidak membaik, oleh sebab itu Axel mengurungkannya.


***


Keesokan harinya.


Freya masih tertidur pulas di dalam selimut tebalnya.


Ia malas untuk beranjak dari tempat tidurnya yang empuk.


Sedangkan Jeny dan Axel berencana untuk pergi sarapan di luar.


"Freya bangun nak" panggil Jeny dari balik pintu kamar Freya.


Karena pintu tidak terkunci Jeny memutuskan untuk langsung masuk.


Terlihat Freya masih tidur pulas.


"Nak bangun, cepat mandi kita akan sarapan di luar" kata Jeny membangunkan putrinya.


"Oke Mommy!" jawab Freya dengan suara khas bangun tidur.


Freya langsung beranjak dari tempat tidurnya dan berlari menuju kamar mandi dengan sedikit sempoyongan.


Jeny menggelengkan kepalanya melihat tingkah sang anak.


Setelah menyelesaikan aktivitasnya di kamar mandi Freya pun segera memoles wajahnya dengan bedak tipis dan juga memakai lip tint.



Setelah merasa siap ia segera keluar dari kamar tersebut, tanpa merasakan apapun Freya berjalan menemui orang tuanya yang sudah menunggunya di ruang tamu.


"Daddy... Mommy ayo kita..." Langkah Freya terhenti saat ia melihat seorang pria duduk di samping Daddy nya.


"K..kak Damar" ucap Freya.


Ternyata itu adalah Damar, bagaimana bisa pria itu ada di rumahnya.


Flasback On


Pagi pagi sekali Damar mengendarai motor pegawainya yang sempat ia pinjam.


Motor itu menuju ke sebuah Apartemen mewah milik Freya.


Setelah memarkirkan motor tersebut, Damar bergegas masuk ke dalam gedung itu.


Tidak perlu bertanya kepada Receptionis, Damar sudah mengetahui dimana Apartemen Freya berada.


Beberapa kali Damar menekan bel, sampai akhirnya seorang pria membuka pintu tersebut.


Dan itu adalah Axel.


Awalnya Axel tidak mengijinkan Damar masuk, kemudian Damar mencoba menjelaskan siapa dirinya dan apa maksud kedatangan dia.

__ADS_1


Terlebih lagi Damar menyebutkan bahwa dirinya adalah sahabat Noah.


Peluang semakin terlihat, Axel mengijinkan Damar untuk masuk.


Axel mengajukan beberapa pertanyaan tentang dirinya dan Freya.


"Jadi kemarin Freya pergi bersamamu?" Tanya Axel memastikan.


"Iya paman, kebetulan aku bertemu Freya di jalan. Itu adalah pertemuan kita yang kedua" jawab Damar jujur.


"Baru beberapa kali bertemu kamu sudah berani bertemu denganku?" Tanya Axel lagi.


"Bukan masalah berani atau tidak, hanya saja saya merasa bertanggung jawab untuk menjelaskannya kepada paman dan bibi, karena tanpa ijin kemarin saya membawa Freya pergi" jawab Damar.


Padahal sebelumnya pria itu merasa cemas bertemu dengan orang tua Freya.


Berkali kali ia mengirimkan pesan kepada Freya namun tidak ada balasan.


Damar cemas jika Freya akan mendapatkan amarah dari orang tuanya.


Axel memperhatikan penampilan Damar dari atas sampai bawah, kemudian Axel teringat akan sesuatu.


"Tunggu! Bukankah kamu yang pergi ke Amerika untuk melanjutkan pendidikan?" Tanya Axel.


"Iya benar paman, tapi paman kenapa bisa tau?"


"Aku pernah melihatmu saat kelulusan SMA Noah. Orang tua Noah mengirimkan Vidio dan disitu aku melihatmu berdiri tepat di samping Noah" jelas Axel.


Sungguh ingatan Axel sangat baik, kejadian yang sudah lama berlalu ia masih bisa mengingatnya.


Kemudian mereka mulai mengobrol santai sembari menunggu Freya keluar dari kamarnya.


Flasback Off.


"Selamat pagi" sapa Damar tersenyum.


Freya menghela nafasnya panjang, semalaman ia memikirkan Damar. Dan berharap untuk tidak bertemu dengannya.


Namun pagi ini, pria itu dengan sengaja datang menemuinya.



"Kenapa kakak disini?" Tanya Freya.


"Nak kenapa bertanya seperti itu?" Tanya Jeny. Freya mendengus kesal.


"Lebih baik kita berangkat sekarang".


"Damar kamu lebih baik ikut bersama kami untuk sarapan di luar" ajak Axel kepada Damar.


"No Dad" sahut Freya, membuat mereka bertiga menatap ke arahnya.


"Freya sayang, jika Damar ikut pasti akan lebih ramai" kata Jeny membujuk putrinya.


Freya menatap ke arah Damar dengan tajam, sedangkan Damar tersenyum. Setidaknya ia mendapat dukungan dari orang tua Freya.


_____

__ADS_1


__ADS_2