
Keesokan harinya...
Di pagi hari Yura sudah terbangun, semalam ia tidak bisa tidur.
Terlihat kelopak matanya yang menghitam dan cukup bengkak.
Yura melihat ponselnya, dilihat panggilan tidak terjawab dari suaminya dan 1 pesan yang belum ia baca.
Yura pun membuka pesan tersebut.
📨El : Apa kamu sudah tidur sayang? jika kamu sudah bangun hubungi aku, karena aku sangat merindukanmu.
"Aku juga sangat merindukanmu el" ucap Yura, kemudian ia segera menekan nomor Elard dan melakukan panggilan vidio.
"Selamat pagi sayang" ucap Elard di seberang sana yang baru saja mengangkat panggilan dari Yura.
"Pagi El, disana pukul berapa?" tanya yura.
"Disini masih jam 8 malam sayang, ada apa dengan wajahmu? kenapa matamu sembab?" tanya Elard, ia melihat wajah yura yang terlihat berbeda.
"Tidak aku baik baik saja, mungkin terlalu banyak tidur" jawab Yura sekenaknya.
"Apa babyku baik baik saja?" tanya Elard lagi.
Yura pun menghadapkan kamera ponselnya ke arah perutnya yang membuncit dan mengusapnya.
"Dia baik baik saja, dan tidak menyusahkanku" ucap Yura, sambil menahan air matanya.
"Anak ayah memang pintar, jaga bunda sampai ayah pulang ya nak" ucap Elard seolah ia sedang berbicara dengan anaknya.
"Yura apa kamu menangis?" tanya Elard lagi.
"Tidak El, aku hanya merindukanmu cepatlah kembali"
Yura menatap wajah suaminya dengan penuh kerinduan. ia melihat wajah dan senyuman suaminya dari layar ponselnya membuat Yura sangat bahagia, sejenak ia melupakan kesedihannya.
"Iya sayang aku akan secepatnya kembali, sekarang mandi lah dan segera sarapan"
"Iya El kamu juga beristirahatlah"
__ADS_1
Setelah itu Yura mengakhiri panggilannya dan ia masuk ke dalam kamar mandi.
Hampir 15 menit akhirnya Yura sudah selesai dan mengenakan baju santainya.
Yura keluar dari kamarnya karena merasa sangat lapar.
Pada saat menuruni tangga Yura terkejut karena melihat Ibu mertuanya sedang duduk di meja makan bersama seorang wanita yang tak lain adalah Sifanya.
Ibu El yang melihat Yura mematung di tangga segera memanggilnya.
"Yura kemarilah" panggil ibu El.
Yura pun segera menghampiri ibu mertuanya.
"Pagi bu" ucap Yura.
"Pagi juga nak" jawab Ibu El.
"Duduklah kita sarapan bersama" ucap ibu El.
Yura menatap ke arah Sifanya dengan tatapan tidak suka.
"Tunggu Yura" sahut Sifanya.
**Ada apa lagi wanita ini pagi pagi datang kemari** batin Yura.
Sifanya menghampiri Yura dan menuntunnya untuk duduk di meja makan bersamanya.
"Duduk dan sarapan bersama kami, ingat Yura aku tidak ingin membuat calon anakku kelaparan" kata Sifanya dan berusaha menyentuh perut Yura.
Namun dengan cepat Yura menepis tangan Sifanya dengan kasar.
"Jangan sentuh anak anakku, karena sampai kapanpun aku tidak akan memberikannya kepadamu" ucap Yura dengan tegas.
"Jangan bicara seperti itu Yura, Sifanya hanya ingin menjaga kesehatan kamu dan anakmu, lagi pula nanti Sifanya juga yang akan merawatnya" jelas Ibu el.
"Ibu benar benar keterlaluan, sampai kapanpun aku tidak akan pernah menyerahkan anak dan suamiku kepada wanita bermuka dua ini" sahut Yura kemudian pergi meninggalkan mereka dan masuk ke dalam kamarnya.
**Sialan!! jika tidak ada tante hera sudah aku tampar mulutnya itu** batin Sifanya.
__ADS_1
"Tante bagaimana ini Yura tidak ingin melepaskan Elard, aku hanya khawatir dengan nasib mereka tante" kata Sifanya dan menunjukkan raut sedihnya.
"Kamu tunggu sini, tante akan bicara dengan Yura" ucap ibu El dan segera menghampiri Yura.
Sifanya kembali duduk dengan senyuman liciknya, ia hanya perlu menunggu kabar baik dari ibu El.
Tok.. tok.. tokk..
Terdengar pintu kamar Yura di ketuk dari luar, Yura pun membuka pintunya dan melihat ibu mertuanya berada disana.
"Boleh ibu masuk?" tanya ibu El.
"Silahkan bu" jawab Yura kemudian membiarkan ibu mertuanya masuk.
Ibu el duduk di sebuah sofa yang berada di sudut kamar dan ibu El terkejut melihat kamar yang berantakan.
Terutama barang barang yang berceceran di lantai.
"Nanti aku akan meminta Nita membersihkannya" sahut Yura karena sadar ibu mertuanya memperhatikan kamarnya.
"Apa semalam ada sesuatu yang terjadi" tanya ibu El seolah tak bersalah.
"Tidak ada bu" jawab Yura.
"Duduk sini" kata ibu El menepuk sofa yang masih kosong disebelahnya, Yura pun segera duduk di samping ibu mertuanya.
"Nak jangan seperti itu kepada Sifa, ia hanya menunjukkan rasa pedulinya terhadapmu dan keluarga kalian"
Diam, Yura hanya terdiam mendengarkan ucapan ibunya. Karena jika ia menjawab hanya membuat dirinya sakit hati.
"Yura ibu menginginkan Elard dan kamu bahagia, bercerai adalah jalan yang terbaik. dengan begitu tidak ada lagi yang menghujat dirimu, jadi ibu mohon jangan egois" sambung Ibu El.
Yura menatap wajah ibu mertuanya, kini ia tidak bisa lagi diam dan membiarkan ibu mertuanya berbicara serta bertingkah seenaknya.
"Hufhh... ibu tau kan aku akan melakukan apapun demi kebahagian Elard dan anak anakku, tapi bisakah ibu menghargai aku selagi aku masih menjadi istri sahnya El? bisakah ibu tidak membawa wanita itu masuk ke dalam rumah suamiku? bagaimana pun sifa bukan siapa siapa, dan aku masih memiliki hak atas suami dan rumah ini" kata Yura.
Kemudian Yura meminta agar ibu mertuanya segera keluar dari kamarnya, karena tidak ingin membuat Yura berubah pikiran akhirnya wanita paruh baya itu memilih untuk keluar dan memberikan waktu untuk Yura.
*****
__ADS_1
happy reading🥰