Wanita Malam Milik CEO

Wanita Malam Milik CEO
DF 16


__ADS_3

Lila dan Cindy sudah berada di lokasi acara ulang tahun Daniel.


Mereka berada di parkiran untuk menunggu kedatangan Freya.


"Itu Freya" kala Lila.


Freya turun dari mobilnya dan segera menghampiri kedua sabahat nya itu.


"Sorry, pasti kalian lama nunggu" kata Freya.


"Kita baru beberapa menit sampai disini" ucap Cindy.


Freya memperhatikan gedung berlantai dua yang ada di hadapannya itu.


"Serius acaranya di sini?" Tanya Freya.


"Hmm sepertinya begitu, aku juga tidak mengerti kenapa Daniel mengganti tempat seperti ini" jawab Cindy lagi.


Ternyata sebuah Club mewah yang menjadi tempat ulang tahun pemuda tersebut.


"Ya sudah kita masuk yuk, sepertinya yang lain juga sudah masuk" ajak Lila.


Mereka mengeluarkan sebuah kartu kecil, karena dengan menunjukkan kartu kecil itu mereka bisa memasuki Club tersebut.


Dari kejauhan seorang pria yang sedang berboncengan dengan temannya tiba tiba berhenti tepat di seberang club tersebut.


"Kenapa Jo?" Tanya Niko.


"Itu Freya kan? Gadisnya pak Damar" kata Jojo saat melihat gadis yang mirip dengan Freya sedang berjalan hendak masuk ke dalam Club.


"Mana Jo? Aku tidak melihatnya" Niko nampak memperhatikan arah yang di maksud Jojo.


"Itu di dekat pintu masuk".


"Ehh iya, itu kan Gadis yang kemarin di cafe" sahut Niko setelah melibat Freya.


"Bukannya dia masih SMA, kenapa bisa masuk ke tempat seperti ini?".


"Cepat hubungi pak Damar!" Seru Niko.


Jojo langsung merogoh kantung celananya, ia segera menghubungi Damar untuk memberitahukan keberadaan Freya, namun hingga beberapa kali Damar tidak menjawab panggilan tersebut.


Di tempat yang lain, Damar sedang berbincang dengan teman teman seangkatannya.


Maklum saja, mereka sudah lama tidak bertemu.


"Dam ponselmu menyala" kata Noah yang juga berada di sana.


Damar langsung melihat ponselnya.


"Jojo" kata Damar pelan kemudian menjawab panggilan tersebut.


"Hallo Jo, ada apa?" Tanya Damar.


"Maaf mengganggu pak, ada hal penting!" Jawab Jojo.


Damar kesulitan mendengar suara Jojo karena suasana di tempatnya cukup berisik dengan suara suara lagu.


Damar beranjak dan segera keluar dari aula tersebut.


"Ada apa Jo? Aku tadi tidak bisa mendengar suaramu".


"Emm ini pak, anu... Ada hal penting".


"Hal penting apa? Katakan dengan cepat karena aku harus kembali bergabung dengan yang lain!".


"Saya melihat Freya masuk ke dalam Club pak".


"Apa! Club? Sepertinya kamu salah lihat".


"Saya dan Niko melihatnya dengan jelas pak".


"Tidak mungkin, untuk apa Freya pergi ke..." Damar menghentikan ucapannya, tiba tiba pria itu teringat akan sesuatu.


**Sekarang ulang tahun teman sekolahnya, apa mungkin acara itu di adakan di Club? Mereka masih pelajar, mana mungkin!** Batin Damar.


"Jo, share lokasi sekarang!" Perintah Damar sedikit cemas.


"Baik pak".


Kemudian Damar langsung mengakhiri panggilannya.

__ADS_1


Pria itu berusaha menghubungi Freya, namun gadisnya sama sekali tidak memberikan jawaban.


"Aghh sial! Acaranya juga belum selesai" ucap Damar.


Damar berjalan tergesah gesah kembali masuk ke dalam Aula.


"Ada apa Dam?" Tanya Nara.


"Emm ada sedikit masalah di cafe" jawab Damar berkilah.


"Masalah apa?" Tanya Noah.


"Aku tidak bisa menjelaskannya sekarang, Noah Nara Rangga dan Key maaf aku harus pergi sekarang" kata Damar, pria itu kembali mengenakan jasnya dan bersiap untuk meninggalkan acara reuni yang belum selesai.


"Oke dam pergilah, tapi jangan terburu buru" pesan Noah.


"Thank Noah" kemudian Damar berpamitan kepada semua teman temannya.


Noah sedikit heran dengan sahabatnya itu, namun Tidak semua masalah Noah harus tau.


Damar berjalan menuju parkiran dan ia berpapasan dengan Anggi.


"Mau kemana Dam?" Tanya Anggi.


"Dam! Acara belum selesai, kamu mau pergi kemana?" Tanya Anggi lagi karena Damar sama sekali tidak menghiraukannya.


"Aku harus pergi, bisakah kamu menyingkir dari hadapanku" kata Damar.


Anggi berdiri tepat di depan motor Damar.


"Dam aku tau acara ini memang tidak menarik bagi kita yang tidak datang dengan pasangan".


"Maka dari itu aku menawarkan mu untuk menjadi pasanganku hanya malam ini saja" kata Anggi tanpa mengetahui kondisi Damar saat ini.


"Selagi aku masih sabar, pergi dari hadapanku sekarang!".


"Dam!".


"Anggi! Pergilah" masih dengan kesabaran Damar meminta gadis itu untuk pergi dari hadapannya.


Anggi menarik nafasnya panjang, Anggi sama sekali tidak tertarik dengan Damar.


Namun setidaknya Anggi memiliki teman yang sama sama datang tanpa pasangan.


Damar yang tadinya sudah berada di atas motornya terpaksa harus turun.


Ia mendekati Anggi, lalu Damar menarik tangan wanita itu agar menjauh dari motor sportnya.


"Jangan paksa aku untuk bertindak kasar" bisik Damar.


Pria itu bergegas naik ke atas motornya dan segera melajukan motor tersebut meninggalkan Anggi yang sudah berkaca kaca.


***


Musik DJ terdengar cukup kencang, pria dan gadis remaja seolah menyatu dengan musik tersebut. Mereka berjoget mengikuti irama.


Kecuali Tiga gadis yang hanya duduk diam tanpa tau apa yang hendak mereka lakukan.


"Ini sebenarnya acara apa sih? Tamu undangan juga banyak yang dari luar sekolah" gumam Lila yang memperhatikan wajah wajah asing disana.


"Maklum lah, Daniel kan memang hobi datang ke tempat seperti ini. Katanya Club ini milik kakaknya" sahut Cindy.


"Iya... Apapun itu, tapi tempat seperti ini tidak pantas di jadikan tempat acara ulang tahun, ishh apa lagi kita masih pelajar" sambung Lila.


Meski kadang suka asal bicara tapi yang di katakan Lila ada benarnya juga.


"Frey kenapa kamu diam saja" tanya Cindy.


"Aku takut, kalau sampai Daddy tau dia pasti marah" jawab Freya.


Freya memang ijin pergi ke acara ulang tahun temannya, namun ia tidak mengatakan tempat seperti apa yang ia datangi.


"Hai kenapa kalian hanya duduk disini?" Tanya Daniel yang tiba tiba datang menghampiri ke tiga gadis tersebut.


"Ehhh..."


"Ayo bergabung dengan yang lain" tiba tiba Daniel memegang tangan Freya dan membawanya untuk berkumpul dengan yang lain. Sedangkan Cindy dan Lila hanya mengikuti dari belakang.


Ternyata bukan hanya ketiga gadis itu yang risih berada di sana, ada beberapa murid yang juga tidak terlalu nyaman dengan pesta tersebut.


"Oke... Thank you karena kalian sudah datang di acara Birthday Party yang aku buat. Sekarang kalian bisa menikmati semua hidangan yang ada disini. Happy Fun!!!" Ucap Daniel kemudian musik kembali terdengar cukup kencang.

__ADS_1


Tempat itu benar benar mempu membuat mereka terhipnotis. Terlihat mereka semua sudah menikmati acara tersebut.


Tapi tidak dengan Freya, setelah mengambil segelas minuman gadis itu kembali duduk.


Ia membuka ponselnya, terlihat panggilan dari Damar.


"Kak Damar kenapa menghubungiku?" Ucap Freya bertanya tanya.


"Atau ada sesuatu yang penting?" Freya kembali menekan nomer Damar dan hendak menghubunginya, namun belum sempat tersambung tiba tiba Daniel datang mengejutkan gadis itu.


"Frey kenapa diam sendiri disini hm?" Tanya Daniel yang duduk di samping Freya.


"Sebenarnya aku tidak begitu suka tempat yang ramai dan berisik" jawab Freya seraya memasukkan ponselnya.


"Sorry Frey, aku sebenarnya juga tidak begitu suka tempat ini" kata Daniel.


"Lalu kenapa acaranya kamu buat disini?".


"Karena ini bisnis kakakku, sekalian promosi juga" jawab Daniel dan Freya hanya mengangguk.


"Ehh Frey, aku sudah menyiapkan bingkisan untuk teman teman yang lain. Bisakah kamu membantuku?" Tanya Daniel.


"Aku? Kenapa harus aku?".


"Aku melihat yang lain sepertinya sangat menikmati acara ini, aku sungkan meminta tolong kepada mereka" jawab Daniel.


Freya sejenak terdiam, ia melihat Lila dan Cindy yang asik mengobrol.


"Oke! Dimana bingkisannya?" Tanya Freya.


"Di lantai dua, aku juga akan meminta bantuan kakakku" jawab Daniel.


Kebetulan kakak Daniel seorang wanita berusia sekitar 25 tahun.


Freya merasa bahwa dirinya akan baik baik saja selama ada kakak Daniel yang juga membantunya.


"Frey terima kasih sudah membantu Daniel" kata kakak Daniel.


"Sama sama kak" jawab Freya tersenyum ramah.


"Ehh sepertinya ada yang kurang, bisakah kamu mengambilkan beberapa bingkisan lagi?".


"Mm dimana kak?".


"Di tempat yang sama".


"Oke kak" Freya kembali berjalan ke lantai dua, ia memasuki ruangan di mana pertama kali dirinya membantu Daniel mengambil bingkisan.


Freya mengambil beberapa bingkisan tersebut kemudian bergegas keluar dari ruangan itu.


"Astaga Niel, kamu mengejutkanku" ucap Freya saat ia melihat Daniel berdiri di hadapannya dengan tiba tiba.


"Maaf membuatmu terkejut, apa masih banyak?" Tanya Daniel.


"Tidak, ini yang terakhir" jawab Freya sambil menunjukkan beberapa Bingkisan yang ada di tangannya.


"Kamu pasti lelah" kata Daniel.


"Sama sekali tidak, aku akan segera membawa bingkisan ini kebawah" sahut Freya, namun Daniel memegang lengan gadis itu.


"Kenapa terburu buru Frey" tatapan Daniel menyorot wajah Freya.


Freya melihat tangan Daniel yang memegangnya dengan erat.


"Niel bisa kamu lepaskan tanganmu?".


"Aku akan melepaskannya, tapi tidak disini".


"Apa maksudmu?" Perasaan Freya sudah mulai tidak enak. Ia melihat wajah Daniel yang berbeda dari sebelumnya.


Daniel menarik lengan gadis itu untuk masuk ke dalam ruangan kosong.


"Niel lepas!!" Freya berusaha sekuat mungkin melepaskan tangan pria itu namun usahanya sia-sia, Daniel terus saja menarik paksa Freya hingga beberapa bingkisan jatuh berserakan di luar ruangan tersebut.


BRAK!!!!


Daniel menutup pintu tersebut dan menguncinya tersisa lah mereka berdua di dalam ruangan.


"Daniel lepas!! Kamu jangan macam macam" kata Freya mendorong pria itu.


Freya berlari ke sudut yang lain.

__ADS_1


"Sssttt jangan berisik sayang, tidak akan ada yang mendengar kita" Daniel berjalan mendekati Freya.


_____


__ADS_2