
Elard Leo dan beberapa anak buahnya langsung bergerak, mereka melacak keberadaan Noah melalui nomer ponsel yang aktif di ponsel Noah.
Mereka semua sedang berkumpul di apartemen Elard.
"Tuan, kami sudah menemukan petunjukknya" ucap Leo.
"Bagus le, kita akan langsung pergi kesana" ucap Elard.
"Baik tuan"
Setelah mengetahui dimana keberadaan Noah mereka semua langsung masuk ke dalam mobil.
Elard membawa mobilnya sendiri, sedangkan Leo dan beberapa anak buah yang lain menaiki mobil yang berbeda.
Karena letaknya sangat terpencil, mereka cukup kesulitan untuk sampai ke tujuan.
Di tambah sinyal yang tidak setabil.
Citttt.....
Mobil mereka berhenti, Elard keluar dari mobilnya diikuti oleh seluruh anak buahnya.
"Tuan mengapa berhenti disini?" Tanya Leo.
"Kita tinggalkan mobil disini" ucap Elard.
Kemudian pria itu mengambil teropong dari dalam mobilnya.
Elard pun mengamati sekitar.
"Itu dia" ucap Elard, ia melihat sebuah gubuk yang tidak terlalu jauh.
"Dengarkan aku" Elard menyusun rencananya.
Setelah siap mereka segera mengambil posisinya masing masing.
Di dalam gubuk tua itu tenyata bukan hanya ada 2 orang, melainkan 5 orang sebagian berjaga di luar dan sebagian lagi menjaga Noah.
"Hei anak kecil! Apa kamu tidak takut?" Tanya penculik itu.
"Takut? Untuk apa takut ayahku pasti akan menolongku" ucap Noah.
Ntah mengapa anak itu mengucapkan kalimat itu, ia hanya asal bicara.
"Hahaha... Ayahmu tidak akan tau tempat ini, aku akan menelpon orang tuamu untuk meminta tebusan" jawabnya lagi.
"Ayahku adalah pria yang hebat!! Kalian semua pasti akan menyesal karena telah menculikku" ucap Noah, anak itu sama sekali tidak memiliki rasa takut sedikitpun.
Ia yakin jika sebentar lagi akan ada seseorang yang menolongnya.
Penculik itu kembali menghubungi nomer Yura, namun berkali kali Yura tidak mengangkat panggilannya. Karena ponsel Yura ada pada Elard.
"Sial!! Dia tidak mengangkatnya" ucap salah satu dari mereka.
"Hai anak kecil, berapa nomer ayahmu!!"
"Tidak tau" jawab Noah.
"Masih kecil sudah pandai berbohong ya" pria itu menarik rambut Noah, membuat Noah mengernyit dan berteriak kesakitan.
Disaat itulah para penculik itu merekamnya dan mengirimkan rekaman itu kepada Yura.
Ting!!!
Satu pesan masuk di ponsel Yura, dimana ponsel itu berada di tangan Elard.
__ADS_1
Elard pun membuka pesan tersebut
"Aaaaa... Sakit lepaskan aku!!!"
Ia mendengar suara putranya yang berteriak kesakitan.
"Brengsek!! Beraninya mereka menyentuh anakku" umpat Elard.
Elard memerintahkan Leo dan anak buahnya untuk segera mengurus para penjaga yang berjaga di luar gubuk tersebut.
Brakk!!!!
Elard mendobrak pintu itu, membuat orang orang yang berada di dalam sana terkejut.
"Hei siapa kamu" ucap salah satu dari mereka.
"Lepaskan putraku sebelum kalian menyesal!!" Ucap Elard dingin.
"Uncle" gumam Noah.
"Berikan kami 500juta, kemudian akan ku kembalikan anak ini. Jika tidak... Bersiaplah melihat anak ini mati" ucap penculik itu.
Tentu Elard tidak akan memberikan sepeser uang kepada mereka, Elard juga tidak akan membiarkan anaknya terluka sedikit pun.
Akhirnya pertarungan diantara mereka pun terjadi Elard dengan tangan kosongnya menghajar para penculik itu mereka semua tersungkur karena tidak sanggup melawan Elard.
Di saat hendak mendekati Noah dan berusaha membuka tali yang mengikat tubuh anaknya, tiba-tiba salah satu dari penculik itu mengeluarkan sebilah pisau karena Elard sedang lengah akhirnya penculik itu menancapkan pisau tersebut di bagian punggung Elard.
"Aaghhhh!!!!" Pekik Elard.
Darah segar pun mengalir deras di punggung pria tampan itu, namun serangan kecil seperti itu tidak akan membuat Elard lemah.
Elard berbalik dan langsung menendang wajah penculik yang tadi menusuknya.
"Tuan anda baik baik saja?" Tanya Leo.
Leo dan semua anak buahnya segera mengurus para penculik itu, mereka semua terkapar tidak saradkan diri.
Sedangkan Elard membuka ikatan tangan Noah dan langsung menggendongnya.
"Uncle" Noah menangis di pelukan Elard.
"Semuanya baik baik saja nak, jangan menangis" ucap Elard.
Bagaimana pun Noah hanyalah anak kecil, yang sedari tadi menahan rasa takutnya.
"Uncle terluka" ucap Noah.
"Paman baik baik saja nak, sekarang kita pulang ya. Bunda sudah menunggumu" kata Elard.
Ia segera berjalan menuju mobilnya, Elard meletakkan Noah di bangku depan disamping dirinya.
Elard pun melajukan mobilnya menuju apartemen Yura.
"Apa tubuhmu terluka?" Tanya Elard yang membelai rambut Noah.
"Tidak Uncle" jawab Noah.
Anak itu terus saja memperhatikan punggung Elard yang tidak henti hentinya mengeluarkan darah.
"Aku ingin menjadi seperti uncle, tidak takut dengan apapun dan selalu berani" ucap Noah.
"Tentu nak, uncle akan membuatmu menjadi laki laki yang tangguh" kata Elard.
"Benarkah uncle??"
__ADS_1
"Iya sayang" jawab Elard kemudian ia fokus kembali mengemudikan mobilnya.
Hampir 20 menit mobilpun sampai di apartemen Yura.
Selama itu juga Elard menahan rasa sakitnya, wajah Elard mulai pucat karena ia kehilangan banyak darah.
Elard kembali menggendong tubuh Noah, dan anak itu memeluk tubuh Elard dengan sangat erat.
Sepanjang jalan menuju ruangan Yura, banyak pasang mata yang menyaksikan Elard.
Yura terus saja mondar mandi di dalam apartemennya, ia tidak bisa menghubungi siapapun karena ponselnya ada pada Elard.
Tiba tiba bell apartemennya berbunyi, Yura langsung membuka pintunya.
Ia terkejut saat melihat Noah yang berada di gendongan Elard.
"Noah..." Yura langsung mengambil dan memeluk putranya.
"Nak apa kamu baik baik saja? Bunda sangat khawatir sayang" Yura memutar tubuh Noah, memperhatikan apakah putranya tengah terluka.
"Aku baik baik saja bunda, semua berkat uncle" kata Noah.
Yura pun menatap ke arah Elard.
Ia beranjak dari duduknya dan menghampiri Elard yang berdiri di dekat sofa.
"El terima kasih kamu sudah menyelamatkan anak kita, kamu menepati janjimu" ucap Yura sambil meneteskan airmatanya.
"Apa pun aku lakukan untuk kamu dan anak anak kita" ucap Elard.
Sangking bahagiannya, Yura langsung memeluk tubuh Elard. Pria itu membalas pelukan dari istrinya.
"Darah..." Ucap Yura saat ia melihat tangannya terkena bercak darah.
Mata Yura beralih pada punggung Elard.
"Astaga" Yura melepas pelukannya.
"El mengapa punggungmu berdarah?" Tanya Yura panik.
"Aku tidak...." Belum selesai menjawab tubuh Elard langsung ambruk, Yura mencoba menahan tubuh pria itu agar tidak terjatuh ke lantai.
"El kamu kenapa, El bangunlah" ucap Yura menepuk pelan pipi Elard.
Yura merogoh kantong celana Elard, dan mengambil ponselnya.
Yura segera menghubungi rumah sakit untuk segera membawakan ambulance ke apartemennya.
Tak berapa lama, ambulance pun tiba mereka segera membawa Elard menuju rumah sakit.
Yura dan Noah pun turut serta masuk ke dalam mobil ambulance.
"El bertahanlah aku mohon" ucap Yura sambil menggenggam tangan Elard.
"Bunda apa uncle akan baik baik saja?" Tanya Noah.
"Iya nak, paman akan baik baik saja. Kita doakan saja ya" jawab Yura.
Mobil ambulance pun sudah tiba di rumah sakit, mereka segera membawa Elard ke ruangan ICU.
"Nyonya anda tidak boleh masuk, silahkan tunggu di sini" ucap dokter.
Akhirnya Yura pun duduk di kursi bersama putranya, ia memeluk tubuh Noah dan terus berdoa agar pria yang masih menjadi suaminya itu bisa di selamatkan.
*****
__ADS_1
happy reading🥰🥰