
Genap 2 hari sudah Elard dan Yura berada di Pulau Dewata mereka menghabiskan bulan madunya dengan sangat menyenangkan, hari ini mereka akan kembali ke kota asalnya.
tidak lupa sebelum ia kembali Elard dan Yura berbelanja oleh-oleh untuk keluarganya.
Tepat pukul 14.00 Elard dan Yura akan segera lepas landas.
***
Dirumah mewah itu semua orang tengah menyiapkan sambutan untuk kedatangan tuan rumahnya. sebelumnya Elard memberitahukan kepada Leo bahwa dirinya pulang ke kotanya hari ini.
Seluruh pelayan tengah sibuk menyiapkan berbagai macam makanan.
"Paman apakah ayah dan bunda pulang hari ini?" tanya Noah kepada Leo.
"Benar, Mereka sedang dalam perjalanan" jawab Leo.
"Ye.. ye.. yee ayah dan bunda kembali" sorak kedua anak tersebut kegirangan.
Mereka mengadakan pesta kecil untuk menyambut kedatangan Elard dan Yura, Axel dan Jeny juga nampak di sana mereka ikut membantu menyiapkan acara tersebut.
Leo lah yang mengundang Axel beserta Jeny untuk datang ke rumah tuannya itu.
Semua persiapan sudah selesai, mereka sisa menunggu kedatangan pasangan yang baru saja berbulan madu.
"Leo ada yang ingin aku tanyakan kepadamu" kata Axel.
"Silahkan tuan"
"Bolehkah aku tau penyebab kematian Sifa?" tanya Axel.
memang setelah kematian Sifa, baik Axel maupun Jeny tidak mengetahui penyebab kematian wanita itu.
"Maaf tuan saya tidak bisa menceritakan keseluruhannya, karena itu merupakan masalah pribadi tuan Elard. intinya seseorang telah menembak nona Sifa sampai ia meninggal" jawab Leo.
Sifa tertembak? Axel terkejut saat mengetahui jika Sifa meninggal karena ada seseorang yang menembak nya, selama ini yang Axel tahu saat Sifa berpacaran dengan Elard, Sifa tidak memiliki musuh.
Axel mulai berpikir jika sebenarnya orang tersebut memiliki motif lain.
"Kalau begitu boleh aku tahu dimana kejadiannya?" tanya Axel lagi.
"Di puncak tuan" Leo memberitahu tempat kejadian tersebut.
"Tapi kami sudah berusaha mencari tahu, namun kami tidak menemukan apapun" sambung Leo.
"Oke, terima kasih atas info yang kamu berikan" ucap Leo.
saat mereka tengah asyik berbincang, tiba-tiba terdengar suara mobil yang berhenti di halaman rumah tersebut, mereka semua segera berjalan keluar rumah.
Ternyata Elard baru saja sampai bersama Yura mereka berdua turun dari mobil mewah tersebut.
__ADS_1
"Selamat datang Ayah Bunda...." teriak Noah dan Nara.
"Terima kasih sayang" Yura segera berlari menghampiri ke dua buah hatinya dan memeluknya.
"Bunda sangat merindukan kalian" ucap Yura.
"Selamat datang El" kata Axel.
"Thank you" jawab Elard.
mereka semua pun kembali masuk ke dalam rumah itu, Yura sedikit terharu karena Ia tidak menyangka kepulangannya akan disambut seantusias ini.
"Aku hanya berbulan madu, tapi kalian menyiapkan ini semua" kata Yura.
"Iya Ra, ini bentuk rasa bahagia kami. dan kami berharap kamu segera mendapatkan momongan lagi" jawab Jeny membuat semua orang yang mendengarnya tertawa.
Setelah melepas rindu mereka semua pergi ke ruang makan untuk menikmati hidangan yang sudah di sediakan.
"Bagai mana persiapan pernikahan kalian?" tanya Yura kepada Axel dan Jeny di sela sela makannya.
"Semuanya sudah siap 99% Ra" jawab Jeny semangat.
"Aku doakan lancar ya" kata Yura.
"Aamiin terima kasih" jawab Jeny.
"Axel apa kalian memiliki rencana bulan madu?" tanya Yura.
Sontak itu membuat Axel tersedak.
"Uhukk.. uhukk.. uhukk.." Jeny segera memberikan segelas air putih untuk calon suaminya itu.
"Kamu baik baik saja Xel?" tanya Elard.
"Iya El" jawab singkat Axel.
"Lalu bagaimana, apa kalian sudah ada rencana bulan madu?" Yura mengulangi pertanyaannya.
Jeny hanya terdiam menunggu jawaban Axel, jangankan membahas bulan madu.
Saat membahas pernikahannya Axel selalu berkata 'Terserah' yang artinya ia menyerahkan semua urusan itu kepada Jeny dan ibunya.
Melihat suaminya tak kunjung memberikan jawaban Jeny pun angkat bicara.
"Aku belum memikirkannya Ra, pekerjaanku sangat padat" jawab Jeny kemudian wanita itu langsung tertunduk melanjutkan makannya.
Axel tercengang dengan jawaban Jeny, biasanya Axel yang akan berbicara seperti itu.
**apa aku terlalu acuh kepadanya?** batin Axel.
__ADS_1
Akhirnya Yura tidak melanjutkan obrolannya setelah melihat sahabatnya itu tertunduk lesu.
Hari sudah malam, Axel dan Jeny berpamitan untuk pulang terlebih dahulu.
Tidak lupa Yura memberikan oleh oleh kepada mereka ber dua.
Didalam mobil nampak sunyi, tidak ada pembicaraan di antara Axel dan Jeny.
"Apa kamu ingin berbulan madu?" tanya Axel memecah keheningan.
Jeny yang sedari tadi menatap jendela mobil dangsung menatap Axel.
"Aku terserah padamu" jawab Jeny kemudian ia kembali menatap jalanan.
"Bisa kah kamu membantuku?" tanya Axel.
"Bantu apa?" tanya Jeny tanpa menatap pria itu.
"Carilah sebuah rekomendasi tempat bulan madu terbaik" jawab Axel.
Bulan madu? Jeny nampak berfikir, benarkah pria di sampingnya merencanakan bulan madu setelah pernikahan mereka nanti.
"Maksudmu kita akan pergi bulan madu?" tanya Jeny memastikan, dan pria itu mengangguk.
Jeny sangat senang, ini kali pertama Axel mau membahas mengenai hal sensitif seperti itu.
"Iya baiklah" jawab Jeny malu.
Jeny akan menanyakan hal itu kepada Yura karena wanita itu sama sekali tidak mengetahui tempat yang cocok untuk berbulan madu.
***
"Sayang kenapa kamu menanyakan hal itu kepada mereka?" tanya Elard saat mereka berdua sudah berada di dalam kamar.
"Aku hanya ingin tau bagaimana tanggapan Axel, lagi pula aku ingin memberikan mereka hadiah tiket berbulan madu" jawab Yura.
"Hai, Axel bukan orang miskin sayang. bahkan dia bisa membeli tiket sendiri untuk berbulan madu. tapi sepertinya pria itu tidak memiliki sisi romantis dalam dirinya" jelas Elard.
Elard seolah tau bagaimana temannya itu, selama mereka sekolah Elard tidak pernah melihat Axel memiliki kekasih atau bersikap manis kepada seorang wanita.
Kecuali saat bersama Yura. Elard semakin kesal saat mengingat jika temannya itu pernah mencintai istrinya.
"El kamu baik baik saja? kenapa wajahmu memerah?" tanya Yura.
"Iya aku baik baik saja sayang" jawab Elard setenang mungkin.
_____
happy readingš„°
__ADS_1