
Mereka berjalan menuju sebuah rumah yang cukup besar dan kokoh, serta tidak lupa penjaga rumah itu selalu membersihkan dan merawat rumah tersebut sekali pun tidak berpenghuni.
Pria paruh baya yang sedang sibuk menyapu halaman langsung terdiam di saat melihat seorang pria yang berjalan mendekatinya.
Pandangan pria tua itu tertuju kepada Rangga.
"Ma...mas Rangga!" Kata bapak tua tersebut.
Nama bapak itu adalah pak Hasan, dia adalah penjaga rumah mendiang orang tua Rangga.
Dengan sangat sabar pak Hasan merawat rumah tersebut.
"Iya ini mas Rangga kan" ucap Pak Hasan memastikan.
"Iya pak ini Rangga" jawab Rangga tersenyum.
Tidak menyangka jika pak Hasan masih terlihat sehat dan baik baik saja.
"Ya ampun mas Rangga, bagaimana kabarnya mas? " Tanya pak Hasan.
Pak Hasan sedikit pangling dengan Rangga yang semakin tampan itu.
"Sehat pak, kenapa bisa tau kalau saya Rangga?"
"Jelas tau mas, senyum mas Rangga itu tidak ada tandingannya cuma mas Rangga yang punya" jawab pak Hasan, membuat mereka semua tertawa.
"Bapak bisa saja, pak Hasan perkenalkan ini Noah dan istrinya mereka keluarga baru saya di kota. Dan yang cantik ini calon istri saya" kata Rangga memperkenalkan mereka semua.
Nara tersipu malu saat Rangga menyebutnya sebagai calon istri.
Mereka semua bersalaman dengan pak Hasan, meskipun pak Hasan hanya seorang tukang kebun sekaligus penjaga namun mereka tidak sungkan untuk bersalaman dengan pak Hasan.
"Mas Rangga memang tidak salah pilih, mbak Nara cantik sekali" puji pak Hasan.
"Terima kasih pak" jawab Nara trrsenyum.
"Silahkan mas mbak masuk, rumah ini sudah rindu sama pemiliknya" ucap pak Hasan.
"Iya pak kami masuk dulu ya" kata Rangga, pria itu pun membawa masuk mereka semua ke dalam rumah tersebut
Sedangkan pak Hasan memanggil istrinya untuk memberitahukan kedatangan Rangga.
Rumah pak Hasan tidak terlalu jauh dari Rumah Rangga, sehingga dengan mudah pak Hasan dan istrinya bisa mengurus rumah tersebut.
"Rumah kamu besar juga Ga" kata Keyla.
"Iya, dulu aku tinggal dirumah ini bersama kedua orang tuaku" kata Rangga.
Pria itu menunjukkan kamar tamu yang akan di tempati Keyla dan Noah serta Nara.
"Kalian bisa beristirahat terlebih dahulu" kata Rangga.
__ADS_1
"Baiklah aku mau menata barang barangku dulu" kata Nara seraya berjalan memasuki kamarnya.
Begitupun dengan Noah dan Keyla.
Ibu Lastri adalah istri pak Hasan, Rangga biasa memanggilnya dengan sebutan Bibi Lastri.
Bi Lastri yang mengetahui Rangga telah kembali ia pun langsung menuju rumah tersebut.
Dan memang benar terlihat Rangga sedang duduk bersantai di teras rumahnya.
"Mas Rangga!!!" teriak Bi Lastri sambil berlari pelan, karena memang sudah faktor umur membuat Bi Lastri tidak sebugar dulu.
"Bibi jangan lari nanti jatuh!" Kata Rangga, karena pasca hujan membuat jalan sekitar rumahnya sedikit licin.
"Mas Rangga bibi kangen, gimana kabar mas Rangga?" Tanya Bi Lastri.
"Sehat Bi, bibi sendiri bagaimama kabarnya?" Rangga bertanya balik.
"Alhamdulillah sehat mas, katanya mas Rangga tidak datang sendirian. Mana yang lainnya?"
"Mereka sedang istirahat bi, kebetulan Rangga tidak bisa tidur" jawab Rangga.
"Iya sudah, kalau begitu bibi masak dulu ya. Nanti biar mas Rangga sama yang lain bisa langsung makan" kata bi Lastri.
"Iya bi" jawab Rangga.
Kemudian Bi Lastri langsung masuk ke dalam rumah tersebut dan pergi ke dapur untuk memasak.
"Hampir 11 tahun tidak kembali, ternyata tidak banyak perubahan. Masih tetap sejuk seperti dulu" gumam Rangga mengingat masa kecilnya dulu saat tinggal disana.
Rangga berjalan kaki untuk mengitari jalan setapak yang sedikit becek itu.
Dulu ia sering berjalan jalan dengan kedua orang tuanya saat sore hari.
Masa kecilnya di desa itu sangat menyenangkan, menjadi anak satu satunya membuat Rangga sangat di sanyangi oleh ibu dan ayahnya.
Saat fokus menikmati pemandangan sekitar tiba tiba Rangga bertabrakan dengan seoraang gadis yang usianya tidak terlalu jauh darinya.
"Ma..maaf saya tidak sengaja" ucap gadis itu.
"Iya tidak masalah" jawab Rangga, saat hendak pergi tiba tiba gadis itu memanggilnya.
"Tunggu!" Kata gadis itu.
"Iya?" Tanya Rangga.
"Kamu..." Gadis itu mengamati wajah Rangga baik baik, wajah tampan itu seperti pernah ia lihat sebelumnya.
"Kamu mas Rangga kan?" Tanya Gadis itu.
"Iya, maaf kamu siapa?" Rangga bertanya balik, karena Rangga sama sekali tidak mengingat siapa gadis di hadapannya itu.
__ADS_1
Gadis itu terbelalak seakan tidak percaya jika yang berdiri di hadapannya adalah Rangga.
"Ini Ayu mas, kamu lupa?"
"Ayu... Ayu siapa?"
"Ayu teman masa kecil kamu, keponakan bi Lastri" jelas Ayu.
Seketika Rangga mengingat siapa gadis berwajah polos yang ada di hadapannya itu.
"Jadi kamu Ayu buntet itu?" Tanya Rangga.
"Mas Rangga masih saja manggil Ayu buntet" ucap Ayu sambil mengerucutkan bibirnya.
"Hahaha iya maaf maaf, bagaimana kabar kamu Yu?" Tanya Rangga.
"Alhamdulillah baik mas" jawab Ayu, tiba tiba gadis itu memeluk Rangga. Mendapatkan pelukan secara langsung membuat Rangga hampir saja terjatuh.
"Maaf Ayu lepaskan, tidak baik di lihat orang" tegur Rangga seraya melepaskan pelukan gadis itu.
"Iya mas maaf , Ayu senang sekali bisa bertemu mas Rangga lagi. Sekian lama tidak bertemu, saat mas Rangga pergi ke kota Ayu memeluk mas Rangga dengan sangat erat dan kamu sama sekali tidak marah" ucap gadis itu.
"Iya itu dulu saat kita masih kecil, sekarang sudah berbeda" jelas Rangga.
Seketika Ayu terdiam, gadis itu merasakan jika saat ini Rangga yang ada di hadapannya sedikit berbeda bahkan jauh berbeda.
Ia terlihat dingin kepadanya, tidak seperti dulu yang selalu perduli dan perhatian kepada Ayu.
"Iya mas, sekali lagi Ayu minta maaf" ucap Ayu lagi.
"Tidak masalah, kalau begitu aku pulang dulu ya. Badanku sedikit lelah perjalanan jauh" kata Rangga.
"I..iya mas, tapi Ayu boleh main ke rumah mas Rangga?" Tanya Ayu ragu ragu.
"Silahkan, lagi pula dirumah ada bi Lastri" kata Rangga, dan Ayu mengangguk.
"Hati hati mas" ucap Ayu saat Rangga mulai berjalan meninggalkannya.
Seketika memori masa kecilnya terlintas di fikiran Ayu.
Rangga yang ia kenal dulu selalu bermain bersamanya, menghibur dan menjaganya saat ia kesepian.
"Apa dia tetap seperti mas Rangga yang dulu?" Gumam Ayu.
Kemudian Ayu segera kembali ke rumahnya, jantungnya masih saja berdegub sangat kencang setelah bertemu dengan Rangga.
Ayu memperhatikan wajahnya di cermin, ia mengingat kejadian tadi.
"Mas Rangga semakin tampan, apa mungkin dia suka sama gadis desa sepertiku?" gumam Ayu sambil memandangi wajahnya di depan cermin tersebut.
_____
__ADS_1
happy reading.
jangan lupa like dan komenš„°