Wanita Malam Milik CEO

Wanita Malam Milik CEO
Kedatangan Teman Lama


__ADS_3

Mereka pun menikmati makanan yang sudah di hidangkan.


Yura elard dan axel duduk di satu meja yang sama, karena bagaimana pun axel dan elard adalah teman baik dan mereka tidak ingin terlalu lama bermusuhan.


"Yura....." panggil seorang wanita yang baru saja datang ke acara tersebut, yura mencoba mencari sumber suara itu.


"Jeny" ucap yura saat melihat temannya berlari ke arahnya.


"Beby...." jeny berhamburan memeluk tubuh yura.


Mereka berpelukan seperti anak kecil yang lama tidak bertemu.


Sedangkan kedua pria itu hanya mamperhatikan mereka.


"Beb aku merindukanmu" ucap jeny.


"Aku juga jeny" balas yura.


"Maafkan aku ya baru bisa datang sekarang" kata jeny.


5 bulan yang lalu sebenarnya jeny ingin datang menemui yura.


Namun karena ia memiliki masalah yang sangat rumit membuat wanita itu batal menemui yura, dan baru hari ini mereka bertemu setelah sekian lama.


Yura membawa jeny untuk di perkenalkan kepada elard dan axel.


"Perkenalkan ini jeny temanku saat bekerja dulu" ucap yura kepada dua pria itu.


"Elard.. suami yura" kata elard.


"Jeny kak" jawab jeny menyalami tangan elard.


Dan kini beralih kepada axel.


"Axel ini jeny" kata yura memperkenalkan temannya itu.


"Axel" sahut axel tanpa mengulurkan tangannya, sedangkan jeny hanya terdiam ia tercengang melihat pria yang ada di depannya.


"Tampan sekali" ucap jeny.


"What!!" sahut axel.


Dengan segera jeny tersadar dari lamunnya.


"M..maaf namaku jeny" jeny pun mengulurkan tangannya.


Namun axel tidak memperdulikan itu.


"Aku ambil minum dulu" kata axel dan berlalu meninggalkan mereka.


Sedangkan jeny terus saja menatap axel sampai langkahnya menjauh.


**Ishh.. dingin sekali** batin jeny.


Jeny pun duduk bersama yura, mereka mengobrol dan melepas rindu.


Ternyata jeny sudah tidak lagi bekerja di hiburan malam itu, jeny kini membuka usaha online shop.


"Yura aku sangat tidak sabar menunggu keponakanku ini lahir" ucap jeny sambil mengusap perut yura yang sudah mulai membesar.


"Apa lagi aku jen" kata yura.


"Kamu sangat beruntung, memiliki suami seperti tuan el aku iri tau" ucap jeny sedikit berbisik. namun masih bisa di dengar oleh elard.


Mendengar ucapan jeny, membuat elard bangga akan dirinya sendiri.

__ADS_1


Di sudut yang lain sifa sedang duduk bersama ibu el mereka baru saja selesai makan.


"Tante. kenapa tante berubah seperti ini?" tanya sifanya kepada ibu el.


"Berubah bagaimana?" bukannya menjawab ibu el malah bertanya balik.


"Tante kenapa seperti merestui hubungan el dengan wanita itu? jangan bilang tante mulai menyukai wanita itu" ucap sifanya.


"Sifa.. tante hanya melakukan apa yang harusnya tante lakukan, memang yura bukan menantu idaman tante, tapi kamu tau kan dia mengandung anak el. dan bayinya kembar. apa lagi yang tante cari? kebahagian tante sudah lengkap melihat elard yang sangat bahagia seperti itu" jawab ibu el panjang lebar dan matanya menatap putranya yang sedang tertawa lepas bersama istrinya.


Mengetahui itu membuat sifanya sangat kesal, dulu ibu el yang selalu mendukungnya untuk mendapatkan elard. kini dukungannya mulai luntur.


**Jika tante hera tidak bisa membantuku mendapatkan el, maka aku akan menggunakan caraku sendiri** batin sifanya tersenyum licik.


Acara demi acara pun selesai, banyak tamu undangan yang sudah mulai meninggalkan rumah elard.


"El.. yura aku pulang dulu ya" ucap axel.


"Xel bisakah kamu mengantar jeny pulang?" tanya yura kepada axel.


"Beb kamu apa apaan? itu tidak perlu" sahut jeny.


"Xel kamu tidak mungkin membiarkan seorang wanita pulang sendiri kan?" tanya elard, ini kesempatan elard untuk mendekatkan axel dengan wanita lain. dengan begitu axel akan bisa melupakan istrinya, begitu pikir elard.


"Terserah" jawab axel malas dan segera berlalu menuju mobilnya.


"Yura apa yang kamu dan suamimu lakukan? aku sangat malu" gerutu jeny.


Melihat itu membuat yura dan elard tertawa bersamaan.


"Sudah kapan lagi, aku tau kamu terpana dengan axel kan" bisik yura kepada jeny.


Jeny yang mendengar itu langsung menundukkan kepalanya karena malu.


Yura mengantar jeny menuju mobil axel, sedangkan axel sudah menunggunya di dalam.


"Iya. kamu jaga dirimu ingat dengan rencana kita" jawab axel dan yura mengangguk ragu.


Mobil axel pun melaju meninggalkan kediaman elard.


Yura kembali lagi menemui suaminya, ternyata ibu el dan sifanya juga akan pulang.


"Ibu tidak bermalam disini saja?" tanya elard.


"Tidak el ibu harus pulang" jawab ibu el.


"Yura jaga baik baik kondisimu" ucap ibu el kepada yura.


"Iya bu" jawab yura.


Ibu el pun berpamitan kepada mereka berdua.


Saat hendak pulang tiba tiba sifanya memeluk tubuh elard.


"Aku pulang ya el" ucapnya.


Melihat itu lagi lagi yura harus menahan emosinya.


Dengan cepat elard melepaskan pelukan sifanya. ibu el dan sifanya pun pergi.


Setelah kepergian mereka yura langsung meninggalkan elard memasuki kamarnya.


"Kenapa lagi dia?" guman elard, dan segera menyusul yura.


Di dalam kamar yura berusaha membuka kancing bagian belakang bajunya, namun tangannya tak sampai.

__ADS_1


"Biar aku bantu" sahut elard dan mencoba membuka kancing baju yura.


"Tidak perlu" tolak yura dan manjauhkan tubuhnya dari elard.


"Ada apa? kamu marah karena sifa memelukku?" tanya elard.


"Tidak, jangankan memelukmu kamu berciuman dengan dia pun aku tidak marah" jawab yura masih dengan wajah marahnya.


"Kapan aku berciuman dengan sifa?" tanya elard lagi.


Elard melangkahkan kakinya mendekati yura, sedang yura hanya tertunduk.


"Katakan kapan aku mencium sifa?" tanya elard lagi dengan pandangan yang sulit di artikan.


"Itu.. itu dulu saat kamu.... sudahlah lupakan saja!! intinya aku tidak marah apapun yang kamu lakukan" jawab yura dan memalingkan wajahnya.


"Kalau begitu biarkan aku membantumu" ucap elard.


Elard membalikkan tubuh yura membuat elard berhadapan dengan punggung istrinya.


Pelan pelan elard mulai melepaskan kancing baju yura.


Yura hanya mampu memegang dadanya yang berdetak begitu kencang, lagi lagi bulu kuduknya berdiri.


Kini punggung mulus yura terpampang di hadapan elard, membuat pria itu harus menelan salivanya berkali kali.


7 bulan lebih elard tidak pernah menyalurkan hasratnya, selain malu meminta elard juga tidak ingin membuat anaknya menjadi tidak nyaman.


"Apa sudah selesai?" tanya yura, karena merasa tidak ada pergerakan dari suaminya.


"Su..sudah" jawab elard gugup.


Yura pun segera mengambil baju gantinya dan masuk ke dalam kamar mandi.


"Aghh sial kenapa tubuhnya begitu sangat menggoda" umpat elard frustasi.


**


Di tengah jalan axel menghentikan mobilnya.


"Turunlah" ucap axel kepada jeny.


"Apa?" tanya jeny yang kebingungan.


"Turun sekarang" jawab axel.


"Tapi rumahku masih jauh" kata jeny lagi.


"Kamu bisa naik taxi atau angkutan yang lain, kita tidak saling kenal aku tidak ingin mengantar orang yang tidak kukenal" jelas axel penuh penekanan.


Tentu itu membuat jeny sakit hati, bagaimana bisa ada pria yang tega menurunkan seorang wanita di pinggir jalan, terlebih hari sudah mulai sore.


"Ishh!!!" jeny mendengus kesal, ia pun segera turun dari mobil axel dan menutupnya dengan sangat kasar.


Axel pun segera malajukan mobilnya kembali meninggalkan jeny.


"Dasar tidak punya hati pria kulkas, beruang kutub, pria angkuh... Aaaaghhh!!!!" umpat jeny kesal.


Akhirnya jeny terpaksa harus naik taksi kembali menuju tempat tinggalnya.


"Tampan sihh tapi kenapa kejam amat, beda dengan tuan elard yang perhatian banget sama perempuan" gerutu jeny di dalam taksi.


Ia tidak tau jika sebenarnya elard lebih kejam dan menyebalkan dari axel.


*****

__ADS_1


happy reading🥰🥰


__ADS_2