Wanita Malam Milik CEO

Wanita Malam Milik CEO
Surat Terakhir


__ADS_3

Karena Elard sedang pulang maka Leo yang menemani Yura disana, namun Leo berjaga di luar ruangan.


Di dalam ruangan itu Yura membuka surat yang di buat oleh Sifa dan membacanya.


"Untuk suamiku... Aku tau kamu tidak mencintaiku dan membenciku, aku tau hatimu hanya untuk Yura, aku tau pernikahan kita hanyalah paksaan. tapi apakah kamu tau jika aku sangat mencintaimu sampai saat ini. Aku bersalah karena meninggalkanmu dan menikah dengan pria lain. dan aku menyesal, aku pikir kamu akan memberiku kesempatan. aku bahagia bisa menikah dan menjadi istrimu sekalipun kita tidak pernah memadu kasih. kamu juga pasti tau jika aku mencintai Nara, aku bisa kehilanganmu tapi aku tidak bisa kehilangan Nara. Aku pergi El maafkan aku yang telah menyusahkanmu selama ini. Namun jika aku pergi jangan pernah lupakan aku, simpanlah namaku di hatimu meski hanya sebesar butiran debu...


Dari istrimu Sifanya"


Setelah membaca surat itu Yura menangis, sebesar itu rasa cinta Sifa untuk Elard.


Sampai ia rela kehilangan nyawanya.


"Jika aku menjadi dirimu, mungkin aku tidak akan setegar dan berani mengambil tindakan sebesar itu Sifa" ucap Yura menyekah air matanya.


Yura menggenggam tangan Sifa.


"Jika kamu benar benar mencintai Elard, segera sadar Sifa. aku yakin kita berdua bisa membahagiakan Elard bersama sama" ucap Yura bibirnya bergetar mengucapkan kalimat itu. sesungguhnya ia tidak ingin membagi suaminya dengan wanita mana pun.


"Dasar wanita bodoh" kata Sifa.


"Sifa kamu sudah sadar" Yura terkejut saat mendengar Sifa berbicara. ia hendak berdiri untuk memanggil dokter namun Sifa menahannya.


"Jangan pergi" ucap Sifa, akhirnya Yura kembali duduk.


"Aku ingin memanggil dokter untuk memeriksamu" kata Yura.


"Tidak perlu, aku hanya ingin berbicara kepadamu sebelum terlambat" kata Sifa dengan terbata, wanita itu berbicara seakan nafasnya terhenti di tenggorokannya. itu membuat Sifa sangat sulit untuk berbicara.


"Jangan paksa dirimu, kamu harus istirahat"


"Yura aku ingin bicara kepadamu. jadi dengarkan aku" kata Sifa. karena memaksa akhirnya Yura membiarkan Sifa menyampaikan apa yang ingin ia katakan.


"Maafkan aku yura karena telah mengambil kebahagiaanmu.. dan terima kasih telah mengijinkan aku menjadi seorang istri dan ibu. aku bahagia memiliki putri seperti Nara, dia sangat manis dan menggemaskan" kata Sifa.


"Berhentilah Sifa, kamu tidak boleh banyak bicara"


"Tidak Yura, a..ku akan te..tap ber..bi..cara" kini Suara Sifa semakin berat, berkali kali wanita itu mencoba mengatur nafasnya.


Yura yang mendengarkan ucapan Sifa bagaikan tersayat hatinya.


Yura merasa menjadi orang yang sudah kejam terhadap Sifa, dia tak seharusnya masuk ke dalam kehidupan Elard.


Namun Yura percaya jika semuanya adalah ke hendak yang kuasa.


"Yura tolong maafkan aku" kata sifa.


"Aku sudah memaafkanmu Sifa, aku telah melupakan semuanya" jawab Yura.

__ADS_1


"Aku tau kamu adalah wanita yang baik Yura... aku mohon jagalah El dan Nara dengan baik. karena aku sudah tidak mampu menjaganya lagi" kata kata Sifa terhenti.


Nafas wanita itu mulai tersenggal ia tidak mampu lagi melanjutkan perkataannya.


"Sifa kamu kenapa!!!" Yura kebingungan ia ingin pergi menemui dokter namun Sifa menahannya disana.


Tiiiittttt........


Detak jantung Sifa berhenti, nafasnya sudah tidak berhembus lagi.


Tangannya yang sedari tadi menggenggam Yura akhirnya terlepas.


Wanita itu mulai menutup matanya rapat rapat.


Tidak mampu mendengar dan berbicara lagi.


"Sifa!!!!!" teriak Yura.


Yura terus menggoyang tubuh Sifa, berharap wanita itu akan terbangun.


Yura berlari dan memanggil dokter.


Dokter pun masuk ke ruangan dan memeriksa keadaan Sifa.


Nampak dokter menggelengkan kepalanya.


"Dokter katakan apa dia baik baik saja?" tanya Yura kepada Dokter.


Para suster melepas semua alat yang menempel di tubuh Sifa, kemudian menutup tubuh Sifa dengan kain berwarna putih.


"Tidak dok, periksa sekali lagi. lakukan tindakan apapun dok, Sifa pasti bisa di selamatkan dokter" pinta Yura, ia tidak percaya jika Sifa benar benar telah meninggal.


"Nyonya bersabarlah" ucap dokter itu kemudian pergi dari ruangan dimana Sifa dirawat.


Yura berjalan keluar dari ruangan itu, ia terduduk di kursi yang berada disana masih dengan kesedihannya.


Yura tidak sanggup melihat wanita yang sudah terbujur kaku tak bernyawa di dalam sana.


Kini tidak ada lagi Sifa di kehidupannya, wanita yang membencinya, menghinanya, mengambil seluruh kebahagiaannya. karena wanita itu telah pergi untuk selama lamanya.


Benarkah ini jalan yang sudah di tetapkan oleh Tuhan??


Lagi lagi akan ada air mata yang berlinang.


Seorang anak akan kehilangan ibunya dan kembali kepada ibu kandungnya.


"Yura.." panggil seorang pria yang baru saja sampai di rumah sakit itu.

__ADS_1


Elard mendekati Yura.


"Yura, kenapa kamu disini?" tanya Elard namun Yura tidak menjawabnya.


"Ada apa sayang? kenapa kamu menangis?" tanya Elard lagi.


"El...." Yura memeluk tubuh suaminya itu, kini wanita itu yang meluapkan seluruh kesedihannya kepada Elard.


Meski tidak tau kenapa, Elard berusaha menenangkan Yura. saat tangisan Yura mulai mereda Elard pun kembali bertanya.


"Ada apa Yura? katakan kepadaku apa yang membuatmu menangis seperti ini?" tanya Elard.


"El.. Sifa, ia telah tiada" jawab Yura.


"Apa!!" Elard pun terkejut dengan jawaban Yura.


Elard segera beranjak dan berlari menemui Sifa. langkahnya terhenti saat melihat Sifa yang sudah tertutup kain berwarna putih.


"Kamu benar benar meninggalkan aku" ucap Elard.


Elard mendekati Sifa dan membuka sebagian kain yang menutupi wajah Sifa.


Tenang, begitulah yang terlihat di wajah Sifa.


"Maaf kan aku yang belum bisa membahagiakanmu, kamu sekarang sudah tenang bukan. aku berjanji akan mencari siapa pelakunya, dan menghukum dia dengan seberat beratnya" ucap Elard kemudian kembali menutup wajah Sifa.


Tidak seperti tadi, kini Elard lebih tegar.


Ia tidak bisa larut dalam kesedihannya, saat ini dipikirannya hanya ada Nara, bagaimana jika ia tahu mommynya telah tiada.


Elard segera mengurus semuanya dengan bantuan Leo, mulai dari kepulangan dari rumah sakit hingga pemakamannya.


Elard akan memakamkan mendiang istrinya keesokan harinya.


"Yura lebih baik kamu pulang ya, Leo akan mengantarmu. wajahmu sangat pucat" saran Elard, ia tidak ingin Yura juga jatuh sakit.


"Tidak El, aku akan tetap disini sampai Sifa di bawa pulang" kata Yura.


"Baiklah, sekarang kamu istirahat Leo sudah mengurusnya" Akhirnya Yura menyandarkan kepalanya di bahu Elard. dan wanita itupun tertidur.


Elard tidak menyangka jika Sifa akan berakhir seperti ini.


**Bagaimana aku menjelaskan kepada Nara, dia pasti akan sangat sedih jika mengetahui Sifa telah tiada** batin Elard.


*****


happy reading🥰

__ADS_1


maaf jika masih ada typo🙏


jangan lupa like komen dan rate 5nya yaa🥰🙏


__ADS_2