
Axel berlari menuju ke ruangan Jeny.
"Jeny" kata Axel saat baru masuk ke ruangan itu, terlihat Marcella disana menyerahkan baju ganti untuk Jeny.
"Saya permisi" ucap Marcella.
"Jeny maafkan aku, aku lupa.."
"Tidak masalah Xel, sudah terbiasa" Jeny memutus perkataan Axel.
"Maaf aku benar benar lupa" kata Axel yang sedikit menyesal.
"Ini salahku yang sudah memaksamu" kata Jeny.
"Hacuuhh" Jeny bersin beberapa kali.
"Kamu baik baik saja?" Tanya Axel.
"Hmm.. keluarlah aku akan mengganti bajuku" usir Jeny.
Dan beberapa kali Jeny bersin, dan juga tubuhnya menggigil.
Tanpa berfikir Axel langsung memeluk tubuh Jeny.
"Maafkan aku" kata Axel.
Ia berharap tubuh istrinya akan segera menghangat.
Bagaimana dengan Jeny? Tentu wanita itu merasa terkejut karena suaminya memeluk tubuhnya dengan sangat erat.
"Segera ganti bajumu, aku akan memesan makanan untuk kita" kata Axel.
"Tapi bagaimana dengan rapatnya?" Tanya Jeny.
"Aku akan menemuinya, untuk menunda sekarang lekas ganti bajumu aku akan kembali" ucap Axel kemudian pria itu keluar dari ruangan Jeny.
"Dia sangat suka membuat jantungku loncat, semoga ini awal yang baik" gumam Jeny. Kemudian ia segera mengganti pakaiannya.
***
Pukul 2 dini hari Yura terbangun dari tidurnya, lagi lagi wanita itu merasakan pusing dan tubuhnya terasa tidak nyaman.
"Kenapa lagi ini" kata Yura sambil memegang kepalanya.
Yura pergi ke kamar mandi untuk membasuh wajahnya.
Saat keluar dari kamar mandi ia tidak mampu menopang tubuhnya lagi, tiba tiba Yura pingsan.
Itu membuat Elard yang mendengarnya langsung terbangun.
"Sayang" kata Elard yang melihat istrinya sudah tergeletak di lantai.
Elard menepuk pelan pipi Yura, namun wanita itu tak kunjung sadar.
"Sayang kamu kenapa?" Elard segera mengangkat tubuh Yura, dan diletakkan di atas tempat tidur tidak lupa Elard menyelimuti tubuh istrinya.
Elard menghubungi dokter pribadi untuk datang kerumahnya.
Memang ini waktunya orang masih beristirahat namun jika Elard sudah memerintah maka siapapun tidak bisa menolaknya.
__ADS_1
Tidak berapa lama dokter Hendra datang ditemani Nita.
"Tuan Dokternya sudah datang" kata Nita.
"Bawa dia masuk" perintah Elard.
Nita pun membawa dokter itu masuk ke dalam kamar Elard.
"Permisi tuan" sapa dokter Hendra.
"Iya dok, tolong periksa istriku tiba tiba dia pingsan" kata Elard.
Dokter segera memeriksa keadaan Yura dengan sangat teliti.
"Tuan bisakah kita bicara di luar?" Kata dokter itu setelah memeriksa Yura.
"Iya tentu" Elard membawa dokter Hendra duduk di ruang tamu.
Karena sepertinya akan ada sesuatu yang penting.
"Katakan ada apa?" Tanya Elard tidak sabar.
"Tuan selamat nyonya Yura sedang hamil" jawab Dokter tersebut.
"Hamil?" Elard memastikan.
"Iya benar tuan"
"Terima kasih tuhan akhirnya istriku hamil" binar binar bahagia nampak di wajah pria yang sudah memiliki dua anak itu.
Ia tidak menyangka akan secepat ini mendapatkan keturunan lagi.
"Tapi kenapa?" Tanya Elard.
"Keadaan nyonya sangat lemah, dia harus benar benar istirahat guna menjaga kandungannya. Karena bayi anda mampu bertahan 50%. Maka saya sarankan nyonya harus benar benar istirahat" jelas dokter tersebut.
Elard benar benar seperti tersayat hatinya, setelah mengetahui kondisi kehamilan Yura yang sangat lemah.
Elard menanyakan apa saja yang bisa membantu agar istri dan anaknya selamat.
Terlihat dokter memberikan saran kepada Elard.
"Ingat tuan jangan sampai nyonya tertekan apa lagi stress" imbuh dokter Hendra.
"Iya baiklah aku mengerti" jawab Elard.
Sebelum pergi dokter memberikan beberapa vitamin untuk Yura.
Elard sudah berada di dalam kamar, ia melihat istrinya yang sudah mulai sadar tengah menunggu kedatangannya.
"El.." panggil Yura.
"Iya sayang" Elard segera menghampiri Yura dan memeluknya.
"Ada apa El?" Tanya Yura.
"Kenapa kamu bersedih?" Sambung wanita itu.
"Sayang baru saja dokter memeriksamu, dia mengatakan jika saat ini kamu tengah mengandung. Maka dari itu aku sangat bahagia" jawab Elard.
__ADS_1
"Benarkah?" Tanya Yura memastikan.
"Iya benar sayang" ucap Elard.
Kembali Elard memeluk tubuh istrinya.
Elard tidak berniat memberitahukan kondisi kehamilannya kepada Yura.
Elard hanya berpesan jika Yura harus benar benar istirahat.
Mulai hari ini yang akan mengantar Noah dan Nara ke sekolah adalah Nita.
Awalnya Yura menolak ia sangat ingin menemani anak anaknya, namun ia tidak mampu membantah perkataan Elard.
Begitupun dengan Elard, ia akan bekerja di rumah.
Elard benar benar ingin fokus menjaga istri serta calon anaknya.
Pagi hari menjelang Elard masih nyenyak tidur di samping Yura.
"El bangun.. kamu harus pergi kekantor" kata Yura membangunkan Suaminya.
Elard membuka matanya dan mengusap dengan telapak tangannya.
"Aku tidak kekantor" kata Elard dengan suara beratnya.
"Kenapa? Apa kamu sakit?" Tanya Yura.
"Tidak sayang, aku bekerja dirumah karena ingin selalu menjagamu" jawab Elard yang kemudian memejamkan matanya kembali.
"Untuk apa El. Kamu berlebihan sekali" ucap Yura.
Yura segera keluar dari kamarnya, dan menemui kedua anaknya yang sudah siap untuk berangkat sekolah.
"Sayang maaf bunda tidak bisa mengantar kalian" kata Yura.
"Tidak masalah bunda, karena ada bibi Nita yang menemani kami" jawab Noah.
"Nita jaga anak anak dengan baik ya" nasihat Yura.
"Baik Nyonya"
Sebelum berangkat Noah dan Nara berpamitan kepada Ayahnya yang masih tidur.
setelah itu mereka segera berangkat ke sekolah.
Yura sebenarnya sangat khawatir jika meninggalkan Noah dan Nara.
pasalnya akhir akhir ini Mike sering sekali menganggu fikirannya.
_____
happy reading🥰
para readers tercinta, jangan lupa tinggalkan like dan bintang 5 kalian yaa😘
jika berkenan bisa bantu vote author🙏
maaf jika masih ada typo..
__ADS_1
salam manis author -Nafa- 💜