Wanita Malam Milik CEO

Wanita Malam Milik CEO
Arkam


__ADS_3

Keesokan harinya...


Pagi ini tiba saatnya Elard akan berangkat ke Amerika, barang barangnya sudah dikemas dan di masukkan ke dalam mobil.


Yura dan Ibu El turut serta mengantarnya sampai ke Bandara.


"Apa semua sudah siap Le?" tanya Elard kepada Leo.


"Sudah tuan" jawab Leo.


Mereka segera masuk ke dalam mobil, ibu El duduk di bangku depan bersama Leo.


Sedangkan Yura di belakang bersama Elard.


Nampak Elard memeluk tubuh Yura, dan wanita itu menyandarkan kepalanya di pundak Elard.


1 jam akhirnya mereka sudah sampai di bandara, disana sudah ada beberapa bodyguard Elard yang akan menemaninya selama berada di Amerika.


Kini tiba saatnya pesawat Elard akan lepas landas.


"Jaga dirimu baik baik, ibuku akan menemanimu sampai aku kembali" ucap Elard yang memegang sebelah pipi Yura.


"Iya kamu juga jagalah dirimu disana, jangan sampai kamu sakit. kabari aku setelah kamu tiba" kata Yura yang sudah mulai berkaca kaca.


Kini keduanya saling berpelukan, tak lupa Elard juga mencium bibir istrinya. Ia berganti berpamitan dengan sang ibu.


"Jaga diri ibu baik baik, dan aku titipkan istri serta anak anakku kepada ibu" ucap Elard.


"Tentu nak" jawab ibu El.


"Sayang ayah pergi dulu ya, jagalah bundamu" ucap Elard mencium perut Yura.


Suasana haru menyelimuti keluarga kecil itu, yura yang sudah mulai menangis mencoba menguatkan dirinya sendiri.


"Tuan mari kita berangkat" kaya salah satu Bodyguard.


"Iya.. Leo jaga perusahan dan keluargaku, aku percaya kepadamu" titah Elard kepada Leo.


"Siap tuan" jawab Leo.


Elard pun berjalan masuk meninggalkan mereka, Elard membalikkan tubuhnya dan melambaikan tangannya kepada Yura dan ibunya.


Setelah Elard tak lagi terlihat tangisan Yura semakin pecah.


"Nak jangan bersedih ya, ada ibu yang akan menjagamu disini" ucap ibu El mengelus punggung Yura.


"Iya bu" jawab yura dan menyekah air matanya.


Ibu El membawa Yura masuk ke dalam mobil karena mereka harus segera pulang.


Sepanjang perjalan pulang Yura hanya terdiam dan menatap ke arah jendela.


Ibu El yang melihat Yura nampak tidak tega, memang sekarang ibu El sudah mulai menerima Yura sebagai menantunya.


Hingga tidak terasa 1jam perjalanan kini mereka sudah sampai di rumah Elard.


Ibu El membantu Yura untuk turun dari mobil.


"Kamu istirahat ya nak" ucap ibu El kepada Yura.

__ADS_1


"Iya ibu" jawab Yura.


Yura pun berjalan menuju kamarnya, dibuka pintu kamar itu dan Yura mulai terdiam.


Ia melihat setiap sudut kamarnya.


Dimana biasanya ia duduk berdua dengan elard, bertengkar kecil dan kadang bertingkah layaknya orang yang sedang berpacaran.


Yura melangkahkan kakinya mendekati ranjang, dimana biasanya ia menghabiskan waktu istirahatnya bersama Elard.


Lagi lagi air matanya menetes, Yura terduduk di lantai ia tidak mampu menjalani hari harinya tanpa suaminya itu.


"Kuatkan bunda ya sayang" ucap Yura kepada anak anaknya yang masih berada di dalam kandungan.


"Kenapa aku sesedih sepeti ini? apa sebenarnya yang akan terjadi" gumam Yura.


Entah kenapa dirinya merasa sangat sedih, ia takut jika akan terjadi sesuatu setelah kepergian suaminya.


Karena merasa lelah Yura memilih merebahkan tubuhnya dan tak lama ia tertidur.


Di bawah ibu El sibuk menyiapkan makan siang untuk dirinya dan Yura dengan di bantu para pelayan.


"Siapkan makanan kesukaan menantuku" ucap ibu El kepada Nita.


"Baik nyonya" jawab Nita.


"Ingat jangan sampai ada kekurangan dalam masakan kalian" ucap ibu El.


Di saat yang lain tengah sibuk memasak Susi malah sibuk memainkan ponselnya.


Ia mengirimkan pesan kepada seseorang di seberang sana.


Setelah mengirim pesan itu Susi langsung menyimpan ponselnya. sebelum ia mendapatkan teguran lagi dari Nita Susi segera membantu yang lain.


**


"Bagus ini kesempatan aku untuk menghancurkan Yura" kata Sifanya tersenyum licik saat mendapatkan pesan dari Susi.


Sifanya segera bersiap untuk menemui seseorang di sebuah cafe di pusat kota tersebut.


Setelah bersiap Sifanya masuk kedalam mobilnya dan melaju ke tempat dimana ia akan bertemu dengan seseorang.


Setelah beberapa menit akhirnya Sifanya sampai, ia keluar dari mobil dengan menggunakan masker dan kaca mata hitamnya.


Sifanya masuk ke dalam cafe itu, terlihat seorang pria sekitar berusia 50 tahunan.


"Sudah lama menunggu?" tanya Sifanya kepada pria itu.


"Tidak nona duduklah" ucap pria itu.


Sifanya pun duduk berhadapan dengan Pria itu, namanya adalah Arkam.


Tak lupa Sifanya memesan beberapa minuman dan cemilan.


"Nona ada apa anda mencariku? sampai rela membuang uang untuk menyelidiki tentang diriku" tanya Arkam kepada Sifanya.


"Aku tidak akan rugi membuang uangku demi bisa bertemu denganmu" ucap Sifanya.


"Kalau begitu langsung saja" kata Arkam.

__ADS_1


"Sabar pak Arkam kenapa anda terburu buru" ucap Sifanya.


Tak lama pesanan mereka sudah datang, pelayan meletakkan minuman dan cemilan itu di atas meja.


"Silahkan diminum" ucap Sifanya kepada Arkam.


Arkam pun meminum minumannya, dan mengambil beberapa cemilan.


"Cepat katakan ada apa nona?" tanya Arkam lagi.


"Baiklah nampaknya kamu sudah tidak sabar" ucap Sifanya.


Arkam berdecak kesal karena menurutnya Sifanya terlalu bertele tele.


"Aku ingin kamu bekerja sama denganku" ucap Sifanya.


"Bekerja sama untuk apa?" tanya Arkam lagi.


Ternyata Arkam adalah paman Yura yang telah menjual Yura di hiburan malam.


Selama ini Arkam sama sekali tidak perduli dengan keadaan Yura, baginya setelah menjual Yura hubungan keluarga dengannya juga telah berakhir.


"Aku sama sekali tidak berminat membahas anak tidak tau diri itu" ucap Arkam.


"Benarkah? padahal aku akan memberimu 200 juta jika kamu bisa bekerja sama denganku" ucap Sifanya.


Arkam nampak berfikir, 200 juta bukanlah uang yang sedikit baginya.


Terlebih lagi ia memang sedang membutuhkan uang.


"Kalau begitu apa yang perlu aku lakukan?" tanya Arkam.


Sifanya menjelaskan mengenai rencannya untuk menghancurkan Yura.


Akhirnya Arkam setuju dengan tawaran kerja sama itu.


Mereka saling berjabat tangan tanda bahwa kerja sama di antara mereka saling di setujui.


"Kapan beritanya akan muncul?" tanya Sifanya.


"Satu minggu lagi" jawab Arkam.


"Baiklah kalau begitu ini DP nya, sisanya menyusul setelah semua beres" kata Sifanya sambil menyerahkan amplop berwana coklat kepada Arkam.


Arkam pun menerimanya, dan memasukkan uang itu ke dalam tas.


"Kalau begitu aku pergi, aku tunggu kabar selanjutnya" ucap Sifanya dan beranjak dari duduknya.


"Baik nona sampai jumpa" ucap Arkam.


Sifanya pergi dari cafe itu, dan masuk kedalam mobilnya.


"Tunggulah Yura, aku pastikan kalian berdua akan berpisah" gumam Sifanya.


Sifanya pun menjalankan mobilnya untuk kembali ke apartemennya.


*****


happy reading🄰

__ADS_1


__ADS_2