
"Rangga!" Panggil Noah.
"Tuan, mengapa anda kemari? Ada yang bisa saya bantu?" Tanya Rangga sopan.
"Aku hanya ingin mengatakan jika bunda sekarang berada di ruanganku. Segera siapkan makan siang untuk kita bertiga" jawab Noah.
"Baik tuan, seharusnya anda menghubungi saya jika butuh sesuatu"
"Tidak masalah, aku juga ingin membawa putriku berkeliling. Kalau begitu cepatlah" perintah Noah.
Kemudian Noah segera pergi meninggalkan ruangan Rangga.
Sebelum kembali ke ruangannya, tidak lupa Noah menuju ke ruangan Sisil selaku sekretaris pribadinya. ia meminta Sisil untuk menyiapkan minuman dan beberapa cemilan untuk bundanya.
"Baik tuan, saya akan menyiapkan semuanya" sahut Sisil bergegas menuju pantry kantor tersebut.
Sedangkan Noah kembali menemui Yura.
Sesampainya Noah duduk di sofa bersama sang bunda, dan ia meletakkan Elena yang sudah tertidur.
"Sayang, bagaimana pekerjaan mu?" Tanya Yura.
"Semua berjalan lancar bunda"
"Apa kamu menikmatinya?"
"Aku sudah mulai terbiasa dengan pekerjaanku bunda, kenapa bunda bertanya seperti itu?" Tanya Noah.
"Bunda hanya ingin memastikan, karena bunda tidak ingin kamu terpaksa melakukan semua ini" jawab Yura.
Hampir 20 menit Rangga sudah kembali dengan membawa beberapa makanan di tangannya.
Dan mereka bertiga pun mulai makan siang bersama, sambil mengobrol santai.
***
Saat perjalanan pulang Yura masih memikirkan tentang putranya, ia ingin segera menceritakan semuanya kepada Elard suaminya.
"Nyonya baik baik saja?" Tanya supir yang sedari tadi memperhatikan Yura melalui kaca mobil yang ada di depannya.
"Ehh iya pak, aku hanya ingin segera sampai rumah" jawab Yura.
Sesampainya disana ternyata Keyla dan Nara sudah kembali dari kampusnya.
"Bunda dari mana?" Tanya Nara.
"Dari kantor nak, bunda makan siang bersama Noah dan Rangga. Bunda pikir kalian masih di kampus hingga sore" Jawab Yura.
"Kami pulang lebih awal bunda, sebenarnya ingin menunggu Noah dan Rangga menjemput. Tetapi Nara merasa lelah ia ingin segera pulang" jelas Keyla seraya mengambil putrinya.
"Kalau begitu kalian segera makan siang dan istirahatlah" ujar Yura.
__ADS_1
Jam sudah menunjukkan pukul 14.00.
Keyla tidur bersama Elena di kamarnya, sedangkan di kamar yang lain Yura sedang kebingungan untuk membicarakan mengenai Noah kepada Suaminya.
Pintu terbuka, di lihat Elard yang baru saja masuk ke dalam kamar itu.
"Sayang apa kamu sakit? Sejak pulang dari kantor aku melihat kamu sangat gelisah" tanya Elard memastikan jika istrinya itu baik baik saja.
"Aku baik baik saja sayang, dan aku sedang tidak sakit. Ada yang ingin aku katakan kepadamu" jawab Yura serius.
"Oke tenanglah, sekarang duduk dan katakan pelan pelan sayang" .
Yura menarik nafasnya panjang, dan ia mulai menceritakan saat ia berkunjung ke kantor tadi siang.
Yura menceritakan semuanya secara detail kepada Elard.
Dan pada saat itu juga raut wajah Elard berubah.
"Aku rasa kita sudah salah mengartikan keadaan Noah" sambung Yura.
"Sudah lah sayang, kamu terlalu berlebihan. Noah sudah menikmati pekerjaannya sebagai CEO di kantor. Kinerjanya juga sangat memuaskan itu tandanya Noah menyukai pekerjaannya" Elard membantah apa yang ada di dalam pikiran Yura.
"Kamu salah El, putra kita sangat tertekan! Dia melakukan semua ini karena tanggung jawabnya sebagai anak dan juga pemimpin di perusahaan. Kamu tidak akan pernah tau apa yang dia lakukan di belakang kita"
"Aku tidak ingin berdebat masalah ini lagi, sayang aku mohon keputusanku menjadikan Noah sebagai pemimpin perusahaan sudah benar".
Mereka berdua pun berdebat, Noah sama sekali tidak bergeming dengan apa yang sudah di ceritakan Yura.
Namun disini Yura harus benar benar bisa meyakinkan Suaminya.
Dengan sabar Yura terus menjelaskan kepada Elard.
Noah adalah putra satu satunya, Elard ingin kelak Noah bisa menggantikan dirinya memimpin perusahan tersebut.
"Pikirkan semua baik baik El, sampingkan rasa egois mu" kata Yura kemudian wanita itu meninggalkan Elard sendirian.
Mungkin dengan begitu Elard bisa berpikir ulang.
Elard memijit pelipisnya, sungguh pilihan yang sulit baginya.
Memang Noah ingin menjadi dokter, namun Elard berpikir jika putranya itu sudah melupakan keinginannya itu.
Pukul empat sore Noah sudah berada di jalan untuk menjemput sang istri yang berada di rumah orang tuanya.
"Baby aku sudah di jalan, sesampainya disana kita langsung pulang karena aku sangat lelah" satu pesan dari Noah masuk ke dalam ponsel Keyla.
"Iya sayang berhati hatilah di jalan" balas Keyla.
Keyla sebenarnya masih mengantuk, ia pun segera mencuci wajahnya agar lebih segar.
Keyla menuruni tangga sambil menggendong Elena yang masih tertidur.
__ADS_1
"Kak Key mau kemana?" Tanya Nara.
"Noah sudah hampir sampai jadi aku harus bersiap untuk pulang" jawab Keyla kemudian duduk bersama Keluarga yang lain.
"Kenapa terburu buru nak?" Tanya Yura.
"Sepertinya Noah sangat lelah bunda, itu sebabnya ia ingin segera pulang" jawab Keyla.
Yura pun menatap ke arah suaminya seolah menegaskan jika apa yang ia katakan adalah benar, jika putranya benar benar sudah lelah dengan keadaan ini.
"Bunda sepertinya Noah sudah datang, kalau begitu..." Belum sempat berpamitan Elard melarang Keyla untuk pulang.
"Duduklah, biarkan Noah masuk! Ada yang ingin ayah bicarakan kepadanya" titah Elard.
Elard meminta Nita untuk membawa Noah masuk ke dalam rumahnya.
Nara dan Keyla nampak bingung karena melihat ayahnya bersikap dingin pada hari ini tidak seperti biasanya, nampak di dalam ruangan itu cukup tegang.
Sampai akhirnya Noah sudah berada di antara mereka, namun Elard masih diam tidak mengatakan sepatah kata pun.
"Sebenarnya ada apa ayah?" Tanya Noah yang melihat ayahnya hanya diam saja.
"Kapan kamu berangkat ke Jerman?" Tanya Elard.
"Besok lusa ayah"
"Ayah minta setelah kamu kembali dari Jerman, kamu tidak perlu lagi bekerja di kantor" ucapan Elard berhasil membuat semua orang yang berada di sana terkejut termasuk Yura.
"Maksud ayah apa?" Tanya Noah meminta penjelasan.
"Sepulang dari Jerman kamu tidak perlu lagi bekerja di kantor. Karena ayah akan melepas posisimu" jelas Elard.
Noah terdiam seolah berpikir. Melepas jabatannya itu berarti dia tidak akan bekerja lagi di perusahaan tersebut.
Keyla hanya bisa diam, ia melihat wajah sang suami. Mata Noah tidak dapat berbohong jika ia merasa sedih.
"Tapi kenapa ayah? Apa aku melakukan kesalahan? Atau... Aku tidak mengerti kenapa ayah mengatakan hal itu" tanya Noah.
Sungguh Keyla tidak tega melihat Noah yang hampir meneteskan air matanya.
Noah terkejut saat sang ayah memecat dirinya.
"Ayah! Kenapa ayah melakukan itu? Kakak sudah bekerja dengan keras, ia sampai tidak fokus dengan kuliahnya. Ayah katakan!!" kini Nara mulai bersuara.
"Sayang tenanglah, kamu sedang hamil" Rangga mencoba menenangkan Nara agar tidak terbawa emosi.
"Keputusan ayah sudah bulat, setelah ini Noah tidak akan lagi bekerja di kantor melainkan di tempat lain".
Tempat lain? itu semakin membuat semua orang yang berada di sana kebingungan.
Akankah Elard menyetujui keinginan Yura yang membiarkan putranya itu untuk melanjutkan cita-citanya.
__ADS_1
_____