
Di Apartment Freya baru saja selesai mandi, ia pun segera mengeringkan rambutnya yang setengah basah itu.
Freya mengambil handuk kecil dan segera menggosok gosok rambutnya pelan.
"Kenapa tidak menggunakan pengering rambut?" tanya Damar yang tiba tiba masuk ke dalam kamar Freya, membuat gadis itu setengah terkejut.
"Kakak kenapa tidak mengetuk pintu?".
"Pintunya terbuka, jadi aku langsung saja masuk" jawab Damar berjalan mendekati Freya.
"Kenapa tidak menggunakan pengering?" tanya Damar lagi.
"Aku lebih suka memakai handuk" jawab Freya seraya terus mengeringkan rambutnya.
"Biar aku bantu" Damar mengambil handuk kecil tersebut dan ia berdiri tepat di belakang Freya.
"Ahh tidak perlu kak, aku bisa sendiri".
"Sttt diam" tidak ada penolakan, Damar pun mengeringkan rambut Freya dengan telaten, pria itu menggosok rambut gadis itu pelan.
Sedangkan Freya hanya bisa menatap Damar dari cermin yang ada di hadapannya.
Pipinya merah merona bak kepiting rebus, manis sekali saat melihat pria yang kini bersarang di hatinya tengah membantu mengeringkan rambutnya.
"Kak" panggil Freya.
"Hmmm" jawab Damar singkat.
"Emm... kakak tidak lelah?" tanya Freya.
"Lelah untuk apa?" bukannya menjawab, Damar malah menjawab dengan pertanyaan.
**stupid!!! apa yang aku tanyakan, kenapa aku tiba tiba bertanya hal yang konyol** batin Freya mengutuk dirinya sendiri.
Ia sendiri tidak sadar kenapa tiba tiba memanggil Damar.
"Itu... setelah perjalanan sangat jauh, kakak langsung menemui ku" kilah Freya.
"Tidak ada kata lelah untuk menemui mu" jawab Damar.
Ahh Damar sangat pintar membuat gadisnya salting.
Freya mengigit bibir bawahnya, ia berharap tidak lagi keceplosan mengajukan pertanyaan pertanyaan yang tidak penting.
Damar melihat wajah Freya dari cermin ia segera meletakkan handuk kecil tersebut dan membungkuk di samping Freya.
"Jangan mengigit bibir mu seperti itu" ucapnya sambil menyentuh bibir ranum Freya.
Tanpa bisa menjawab Freya hanya mampu menatap wajah Damar dan merasakan kelembutan jari pria itu yang menempel di bibirnya.
"Kenapa melihat ku seperti itu, hmm?" tanya Damar, seketika membuat Freya memundurkan badannya.
"Kakak keluarlah, aku harus segera bersiap" berhasil, gadis itu sudah benar benar salah tingkah.
Damar tersenyum lebar saat melihat kepanikan pada gadisnya.
"Oke, aku akan menunggumu di luar" Damar pun keluar dari kamar Freya.
Freya menepuk nepuk pipinya.
"Sadar Freya sadar... kenapa wajahku memerah" ucapnya.
Beberapa menit kemudian Freya keluar dari kamarnya, ia sudah siap untuk pergi menemui Orang tuanya.
"Cantik" celetuk Damar.
__ADS_1
"Kakak.... jangan membuatku malu, ayo cepat berangkat!" Freya menarik tangan Damar agar pria itu segera bangun.
"Siap sayang...."
"Kakak!!!" Freya mencubit lengan Damar.
Axel sudah menyiapkan supir yang akan mengantar mereka berdua menuju rumah Clara.
Mereka pun segera berangkat, butuh waktu kurang lebih 15 menit untuk sampai di rumah Clara.
Namun Damar dan Freya berhenti di sebuah toko kue, Freya ingin membeli Cake untuk Oma dan Opa nya.
"Kakak tunggu di sini, aku ingin membeli sesuatu" kata Freya.
"Baiklah" jawab Damar.
Di dalam mobil Damar memainkan ponselnya sambil menunggu Freya membeli Cake.
Namun hingga beberapa menit Freya tak kunjung kembali.
"Kenapa lama sekali" kata Damar.
Damar pun turun dari mobil tersebut, Damar melihat Freya sudah memegang paper bag dan hendak membayar Cake tersebut.
Damar membulatkan pandangannya saat ia melihat beberapa pria yang berdiri di belakang Freya.
Sangat jelas jika para pria itu memandangi gadisnya, Damar bergegas menghampiri Freya.
Damar memberikan sejumlah uang kepada sang penjual kemudian membawa gadis itu keluar dari toko tersebut.
"Kak! lepaskan, kenapa kamu tiba tiba membayar pesanan ku seperti itu. tidak sopan" tanya Freya.
Namun Damar tidak menghiraukannya, ia terus berjalan sambil memegangi tangan Freya menuju mobil.
Freya melepaskan genggaman tangan Damar.
"What's wrong with you?" tanya Freya kesal.
"Jangan memakai rok seperti ini lagi" kata Damar.
"Apa? kenapa?".
"Beberapa pria yang berdiri di belakangmu terus saja memandangi mu sambil tersenyum licik, aku tidak ingin mereka melihat dirimu dengan pandangan seperti itu" jelas Damar.
"Pria?" Freya melihat ke arah toko cake yang baru saja ia kunjungi. memang benar ada segerombol laki laki yang melihat ke arahnya.
"Hmmm tapi tidak seharusnya kakak membayarnya dengan tidak sopan seperti itu" kata Freya.
"Oke sorry" jawab Damar, kemudian Damar lebih dulu masuk ke dalam mobil.
Pria itu sangat khawatir jika gadisnya akan mendapatkan pelecehan lagi.
***
"Omaa....." teriak Freya saat baru saja memasuki rumah Clara.
"Wahh siapa ini, cantik sekali" jawab Clara seraya memeluk Freya.
"Apa Oma lupa dengan cucu sendiri?" tanya Freya mengejek seketika membuat mereka semua tertawa.
pandangan Clara beralih menatap Damar yang berdiri di belakang Freya.
"Ekhm siapa pria tampan ini nak?".
__ADS_1
"Eh... Oma ini kak Damar, dia dari Indonesia" jawab Freya.
"Ini pria yang kamu ceritakan Xel?" tanya Clara kepada Axel, dan Axel mengangguk.
Kemudian Axel bersalaman dengan Clara.
Clara yang sangat rindu dengan cucunya pun akhirnya menghabiskan waktu dengan mengobrol bersama.
Damar yang mudah berbaur membuat ia sangat mudah meluluhkan hati sang Oma.
Clara kini yakin, jika pria yang mulai dekat dengan Freya benar benar pria yang baik.
Di siang hari mereka makan siang bersama.
Keluarga itu berencana untuk makan malam bersama di luar termasuk Damar.
"Dam istirahatlah disini sampai nanti malam, sekalian kamu ikut makan malam" kata Jenny.
"Baik bibi, saya tidak mungkin bisa menolaknya" jawab Damar tersenyum.
Jam sudah menunjukkan pukul 2 siang, Damar di antar pelayan rumah itu menuju kamar tamu di lantai dua.
Sementara Damar akan beristirahat di sana.
"Silahkan tuan" ucap pelayan itu mempersilahkan Damar memasuki kamar.
"Thank you" jawab Damar.
"Astaga... badanku serasa remuk" gerutu Damar. Pria itu terlihat sangat lelah, maklum saja sesampainya di Amerika Damar sama sekali belum istirahat.
Di ruang bawah, Jenny memberikan sebuah paper bag kepada Freya.
"Apa ini Mom?" tanya Freya.
"Ini baju untukmu dan Damar nak, pakailah nanti malam saat kita makan malam bersama" jawab Jenny.
"Antarkan baju ini kepada Damar" sambung Jenny.
"Tapi Mom...."
"Damar meninggalkan semua barangnya di hotel, dia pasti tidak membawa baju ganti saat kemari".
"Biarkan pelayan yang mengantar ke kamarnya".
"Jangan nak, lebih baik kamu saja yang mengantarnya. cepatlah agar Damar bisa mencobanya" jelas Jenny.
"Oke Mom" Freya tidak bisa menolak perintah Mommy nya, akhirnya ia segera menuju ke kamar dimana Damar beristirahat.
tok..tok..tok...
Beberapa kali Freya mengetuk pintu kamar itu, namun sama sekali tidak ada jawaban dari Damar.
"Kak bolehkah aku masuk?" tanya Freya.
"Kenapa tidak ada suara, Mmm apa aku langsung masuk saja" gumam Freya.
Freya membuka pintu tersebut, kebetulan tidak di kunci.
setelah pintu terbuka Freya melihat Damar yang sudah tertidur pulas di atas tempat tidur.
Freya berjalan mendekatinya, di letakkan baju itu di atas meja.
Freya berniat untuk segera keluar dari kamar itu, namun ia mengurungkan niatnya saat melihat wajah damai Damar tertidur pulas.
"Dia pasti sangat lelah" ucap Freya.
__ADS_1
Freya duduk di pinggiran tempat tidur tersebut, ia terus saja memandang wajah Damar, benar benar menenangkan.