Wanita Malam Milik CEO

Wanita Malam Milik CEO
Kabar Duka


__ADS_3

Haii semua.... Terima kasih untuk dukungannya🥰, terus komen like n vote author🙏


Happy reading🥰🥰


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


"Kenapa Yura tidak bisa di hubungi?" tanya Jeny pada dirinya sendiri.


Rencananya tepat hari ini Yura akan pergi ke rumah sakit untuk memeriksa kandungannya.


Jeny sama sekali tidak mengetahui jika sahabatnya itu sudah lebih dulu berada di rumah sakit dari kemarin.


"Kemana dia? apa lupa dengan jadwalnya?" guman Jeny lagi sambil mondar mandir di halaman rumahnya.


Tiba tiba Jeny teringat akan nomer telpon Axel yang sempat diberikan Yura.


"Hufh terpaksa aku menghubunginya" ucap Jeny, kemudian ia membuka kontak di ponselnya dan mencari nomer Axel.


📞Axel : Hallo


Mendengar suara di seberang sana membuat Jeny sedikit gugup.


📞Axel : Hallo siapa ini!


📞Jeny : I..iya hallo, ini aku Jeny


📞Axel : Iya ada apa? aku sedang sibuk.


** haih sombong sekali pria ini** batin Jeny.


📞Jeny : Aku hanya ingin bertanya, apa kamu tau dimana Yura? karena sedari tadi aku menghubunginya. Tapi tidak ada jawaban.


📞Axel : Yura sedang berada di rumah sakit.


📞Jeny : Apa!!


Jeny cukup terkejut setelah mengetahui jika sahabatnya itu berada di rumah sakit.


Dengan malas, akhirnya Axel menjelaskan jika Yura tengah menjalani operasi.


Tidak lupa Axel memberikan alamat rumah sakit tersebut kepada Jeny.


Dengan segera Jeny mengakhiri panggilannya, dan bersiap untuk pergi ke rumah sakit dengan menggunakan taxi online.


**


Nampak Axel mondar mandir di depan Ruang operasi, ia berharap agar operasinya lancar. Yura beserta anaknya dapat di selamatkan.


"Axel" panggil Jeny yang baru saja tiba, kemudian berlari mendekati Axel.


"Bagaimana Yura?" tanya Jeny.


"Masih berada di dalam" jawab Axel.


"Semoga mereka baik baik saja" ucap Jeny yang terlihat cemas.


Tanpa di sadari Axel menepuk pundak Jeny dengan pelan.


"Aamiin... kita doakan mereka" ucap Axel.


**Apa dia salah makan? kenapa sedikit berbeda** batin Jeny.


Setelah satu jam menunggu akhirnya operasi pun selesai.


Dokter Pram keluar dari ruang operasi tersebut di ikuti oleh dokter Tasya.


"Bagaimana?" tanya mereka semua bersamaan.


"Ada yang perlu saya bicarakan dengan pihak keluarga nona" ucap Pram.

__ADS_1


"Iya saya ibu mertuanya" sahut ibu El.


"Kalau begitu nyonya dan tuan Axel selaku penanggung jawab bisa ikut bersama saya" kata Pram.


Kemudian mereka bertiga berjalan menuju ruangan Pram.


"Ada sesuatu yang aneh" gumam Jeny setelah melihat ekspresi dokter Pram.


Sesampainya di ruangan itu Pram mempersilahkan mereka untuk duduk.


"Ada apa?" tanya Axel.


"Baiklah, sebelumnya saya minta maaf tapi bagaimana pun juga saya harus memberitahukan berita ini" ucap Pram dengan wajah khawatir.


"Iya dokter katakan" sahut ibu El.


Nampak Pram menarik nafasnya panjang, kemudian menghembuskannya dengan perlahan.


"Nyonya operasinya berjalan lancar" Kata Pram, tersirat raut bahagian di wajah Axel dan Ibu El.


"Tapi maafkan saya nyonya, salah satu cucu anda tidak bisa kami selamatkan" Sambung Pram.


Deg..!!!


Seketika jantung ibu El berdetak sangat kencang sehingga membuatnya sesak.


"Apa!!!" ujar ibu El tidak percaya.


"Pram apa yang kamu katakan?" tanya Axel memastikan.


"Saya harap kalian bisa bersabar, saya hanya bisa menyelamatkan salah satu dari bayi itu" kata Pram.


Ia pun menjelaskan jika bayi berjenis kelamain laki laki itu terlilit tali pusarnya, sehingga membuatnya tidak bisa di selamatkan.


"Pram jangan bercanda!!!" sahut Axel.


Pram dan beberapa perawat segera mengangkat tubuh ibu El, dan meletakkan di sebuah ruangan.


Setelah mendengarkan penjelasan dokter Pram, Axel kembali menuju keruangan dimana Yura sudah di pindahkan dari ruang operasi.


Langkah Axel nampak sangat lemas.


"Axel ada apa?" tanya Jeny, yang melihat Axel baru saja kembali.


Axel terduduk di bangku yang berada di sebelah Jeny.


"Xel katakan ada apa?" tanya Jeny lagi.


Namun pria itu sama sekali tidak menjawab pertanyaan Jeny.


Axel hanya tertunduk dan tanpa terasa airmatanya mengalir.


"Axel katakan ada apa? apa yang terjadi" kini Jeny mulai memukul bahu Axel, berharap pria itu akan menjawabnya.


Bukannya menjawab Axel langsung memeluk tubuh Jeny dengan eratnya.


Sontak membuat Jeny terkejut, dan tubuhnya mematung.


Disanalah Axel menangis sejadi jadinya, pria itu tidak lagi bisa menahan kesedihannya.


Jeny memberanikan dirinya untuk membalas pelukan Axel.


"Katakan ada apa?" tanya Jeny lirih.


Axel masih tak bergeming, pria itu masih menangis dan larut dalam kesedihannya.


"Jeny... salah satu bayi Yura meninggal" ucap Axel yang masih terisak.


"Apa?" tanya Jeny memastikan.

__ADS_1


"Bayinya meninggal...." Jawab Axel.


Jeny segera melepas pelukan pria itu dan menatapnya.


"Katakan jika ini tidak benar Xel" ucap jeny sambil mengguncang lengan Axel.


Tanpa meraka sadari di sudut yang lain Sifa mendengarkan obrolan mereka.


Sifa terkejut setelah mendengar jika salah satu dari bayi El tidak bisa di selamatkan.


"Ini tidak mungkin kan" ucap Sifa menggelangkan kepalanya.


Seketika Suasana sedih menyelimuti ruangan itu.


Yura yang masih terbaring tidak sadarkan diri karena efek obat bius.


Sedangkan ibu el yang juga belum sadar dari pingsannya dan dengan setia Sifanya menemani ibu El.


Axel dan Jeny berada di ruangan dimana Yura dirawat, Setelah cukup lama akhirnya Yura pun tersadar.


Setelah membuka matanya, nampak Yura memperhatikan setiap sudut yang berada disana.


Dan pandangannya terhenti kepada dua orang yang ia kenali tengah duduk di sofa.


"Axel.. Jeny"" ucap Yura yang masih lemas.


Mendengar itu mereka semua beranjak dari duduknya.


"Yura" mereka pun segera menghampiri Yura.


"Kenapa kalian bersedih?" tanya Yura setelah melihat wajah kedua temannya itu.


"Xel dimana bayiku? apa aku bisa melihatnya?" tanya Yura.


Axel dan Jeny saling bertatapan, seolah bingung dengan apa yang harus mereka katakan.


"Ada apa? kenapa kalian diam, apa ibu mertuaku sudah membawa meraka? astaga aku mohon Xel hentikan mereka jangan sampai ibu dan Sifa membawa anak anakku" ucap Yura yang hendak bangun dari tidurnya.


"Yura tidak, mereka belum melihat bayimu" ucap Axel menghentikan Yura.


"Syukurlah... lalu mengapa kalian bersedih?" tanya Yura lagi.


Ditengah pembicaraan mereka tiba tiba dokter Pram datang bersama Tasya, terlihat tasya yang menggendong seorang bayi yang tak lain itu adalah bayi yura.


"Bagaimana kondisimu nona?" tanya Pram.


"Dokter apa itu anakku?" bukannya menjawab yura malah balik bertanya. dan dokter pram mengangguk.


"Kemari aku ingin menggendongnya" ucap Yura mengulurkan tangannya.


Tasya pun memberikan bayi perempuan yang masih terlihat merah itu kepada Yura.


"Selamat datang di dunia sayang, bunda sangat bahagia" ucap Yura, wanita itu nampak bahagia setelah melihat bayinya, sampai tak terasa air matanya mengalir.


"Apa mereka sudah di adzankan?" tanya Yura.


"Sudah nona, di wakili oleh dokter Pram" jawab Tasya.


"Syukurlah.. ohh ya dimana putraku?" tanya Yura yang sedikit clingak clinguk mencari satu bayinya lagi.


Sedangkan mereka semua sama sekali tidak menjawab.


"Dokter aku bertanya kepadamu, dimana putraku?" tanya Yura lagi.


"Untuk apa kamu menanyakan cucuku" sahut ibu El yang baru saja masuk ke ruangan Yura, ternyata wanita itu sudah sadar dan dengan segera menemui Yura.


*****


maaf jika masih ada typo bertebaran🙏

__ADS_1


__ADS_2