
Selesai acara tiup lilin Sifa memotong kue ulang tahunnya, kemudian ia memberikan suapan pertama kepada putrinya dilanjutkan dengan potongan kedua ia letakkan di atas piring kecil.
"Ini untukmu El" gumam Sifa.
Meskipun ia tau Elard tidak akan mau memakannya.
Beberapa menit telah berlalu, Nara dan Sifa sudah menikmati makanan yang sudah mereka sediakan.
"Mommy Nala main ayunan disana ya" Nara menunjuk sebuah ayunan yang berada di bawah ayunan.
Di puncak tersebut memang terdapat ayunan dan beberapa permainan yang lainnya diperuntukkan untuk keluarga yang sedang menjalani liburannya.
Dan Sifa mengangguk tanda ia setuju.
Kemudian Sifa membuka tasnya, ia mengambil secarik kertas dan sebuah pena.
Sifa menuliskan sesuatu di atas kertas putih itu, Entah apa yang ia curahkan.
Perasaannya terasa sangat hancur.
Air matanya kembali berlinang, Sifa memejamkan matanya sejenak mengingat kejadian bertahun tahun yang lalu.
Dimana ia dan Elard yang saling mencintai bahagia dan merancang sebuah masa depan yang indah bersama.
Tepat di tempat ini Elard dan Sifa menghabiskan waktunya, tempat itu tidak banyak berubah. sebulum akhinya Sifa pergi ke Amerika dan akhirnya hubungan mereka berakhir.
Setelah menulis itu, Sifa melipat kertasnya dan meletakkan di atas sebuah keranjang kecil.
Sifa pun menghampiri Nara.
"Sudah selesai bermainnya?" tanya Sifa.
"Sudah mommy" jawab Nara yang kemudian beranjak dari ayunan tersebut.
"Ikut mommy kesana yuk"
Sifa berjalan menggandeng lengan Nara, ia menuju ke tepi Jurang.
Sifa berjongkok agar bisa bersejajar dengan Nara.
"Nara coba lihat ke bawah sana" pinta Sifa, ia menunjuk dasar jurang yang tepat berada di depannya.
Nara melihat Jurang tersebut.
"Apa itu sangat mengerikan nak?" tanya Sifa.
dan Nara mengangguk.
__ADS_1
"Apa kamu takut?" tanya Sifa lagi.
dan Nara kembali mengangguk.
"Sekarang peluk mommy" Sifa merentangkan tangannya, dan Nara masuk ke dalam pelukan Sifa.
"Apa sekarang Nara masih takut?" tanya Sifa untuk yang ke tiga kalinya.
"Tidak mom, selama belsama mommy Nala tidak takut" jawab anak itu.
"Terima kasih nak, maafkan mommy yang belum bisa membahagiakanmu. setelah ini tidak akan ada yang memisahkan kita lagi" ucap Sifa yang masih memeluk Nara.
Memang Sifa bukanlah ibu kandung Nara, namun Wanita itu sangat menyayangi Nara seperti anaknya sendiri, awalnya bagi Siga sangat sulit menerima Nara dalam hidupnya. namun semakin lama dijalani Sifa semakin menyayangi anak itu.
"Sifa!!!!?" Tiba tiba terdengar seorang pria berteriak memanggil namanya.
Sifa mengedarkan pandangannya, dan ia melihat Suaminya bersama dengan Yura dan beberapa orang berdiri di belakangnya.
Sifa melepas pelukannya dan beranjak berdiri.
"Hai sayang kamu sudah datang" sapa Sifa, ia dan Nara masih di posisi yang sama.
Sifa menggenggam tangan Nara dengan kuat.
"Apa yang kamu lakukan Sifa, menjauhlah atau kalian akan terjatuh" ucap Yura yang terlihat sangat khawatir.
Pandangannya sangat menyedihkan, ia terlihat marah dan putus asa.
"Sifa menjauhlah, apa yang dikatakan Yura benar. jika tidak maka kalian akan terjatuh" sambung Elard.
Sifa semakin mengeratkan tangan Nara, Sifa memundurkan langkahnya sedikit demi sedikit.
"Sifa hentikan" Elard berusaha mendekatinya.
"Berhenti El!! jika kamu terus mendekatiku maka aku akan langsung melompat" sungut Sifa.
Yura menahan Elard agar berhenti dan berhati hati, saat ini Sifa sangat kalut apapun bisa saja terjadi.
"Nara sayang kemarilah nak" Elard memanggil putrinya.
Nara menatap ke arah Elard, kemudian ia kembali manatap Sifa.
"Mommy, ayah memanggilku" kata Nara.
"Nara akan tetap bersama mommy, Nara sayang kan sama mommy?" tanya Sifa.
"Hmm" Nara mengangguk.
__ADS_1
"Sifa aku mohon jangan lakukan hal gila, Nara masih sangat kecil. ia tidak tau apapun" ucap Yura.
Kini Yura mulai manangis, ini pertama kalinya ia bertemu dengan putrinya.
Tentu Yura tidak ingin kehilan Nara lagi.
**ya Tuhan jangan biarkan Sifa menyakiti putriku, sadarkan sifa yang sedang kalu** batin Yura.
"Semua keputusan ada di tanganmu El. kamu pilih Aku atau wanita ****** itu" Sifa memberikan pilihan kepada Elard.
Tentu Elard akan memilih Yura, karena ia sama sekali tidak mencintai Sifa.
Namun putrinya juga dalam bahaya.
"Sifa aku tidak mencintaimu, aku mohon mengertilah. berhentilah menyakiti dirimu sendiri" Elard mencoba memberikan pengertian kepada Sifa.
"Cukup!!" teriak Sifa.
"Aku sudah tau jawabannya, bertahun tahun aku berusaha sekuat apapun agar kamu mencintaiku lagi, namun semua itu sia sia. hingga aku bisa dengan tulus mencintai Nara seperti putriku sendiri. Namun itu tidak mampu membuka hatimu untukku. aku menyesal karena mencintaimu El" jelas Sifanya.
Sudah sirna harapan wanita itu, setelah 5 tahun menjadi istrinya. tidak mampu membuat pria itu mencintainya.
Sifa yang begitu tergila gila kepada Elard kini tidak lagi memperdulikan ucapan pria itu.
Di pikiran dan hatinya hanya ada rasa marah dan kebencian.
Rasa bencinya kepada Yura tidak akan pernah hilang.
"Baiklah El ucapkan selamat berpisah untukku dan Putrimu" Sifa melambaikan tangannya.
"Ayo nak lambaikan tanganmu kepada ayahmu" pinta Sifa.
Nara benar benar polos, ia tidak tau dengan apa yang terjadi. akhirnya Nara melambaikan tangannya kepada Ayahnya.
"Tidak Sifa hentikan" teriak Elard.
"Bye ayah" ucap Nara.
"Tidak!!!!" Teriak meraka semua saat Sifa semakin memundurkan langkahnya.
DORR....!!!
Terdengar suara tembakan mengelegar di atas puncak tersebut.
*****
happy reading🥰🥰
__ADS_1