
Jam sudah menunjukkan pukul 16.00, di sore hari ini Elard, Yura beserta Noah sedang bersantai di taman yang berada di belakang rumahnya.
Menikmati sore hari dengan teh hangat dan beberapa cemilan.
"Nak, panggil Keyla bawa kemari untuk berkumpul bersama kita" perintah Yura kepada Noah.
"Mungkin dia masih tidur bunda, biarkan saja" jawab Noah.
"Di coba dulu nak, kasihan jika dia terus berada di kamarnya" ucap Yura.
Dan akhirnya mau tidak mau, Noah pun masuk kedalam rumahnya untuk menemui Keyla.
Saat menaiki tangga, Noah seperti mendengar suara seseorang sedang menangis, semakin dekat suaranya semakin jelas.
Noah telah sampai didepan kamar Keyla, ia sedikit menempelkan telinganya kepada pintu dan ia pun mendengar jika seseorang ada yang menangis dari dalam kamar.
Tok.. tok.. tok...
Noah mengetuk pintu kamar Keyla berkali-kali, namun Keyla tak kunjung membuka pintu tersebut Noah hanya mendengar suara tangisan dari dalam sana Mungkinkah Keyla menangis pikir Noah.
Karena pintu tidak dikunci akhirnya Noah langsung masuk ke dalam kamar Keyla dan ia melihat Keyla sedang duduk di lantai sambil memegang ponselnya.
"Cepat turun bunda memanggilmu" ucap Noah.
"Hmmm iya" Keyla yang menyadari kedatangan Noah langsung menghapus air matanya, namun rupanya Noah sangat penasaran kenapa gadis itu sampai menangis.
"Kenapa?" Tanya Noah.
"Tidak ada apa apa" jawab Keyla dengan suaranya yang masih serak.
"Turun! Bunda menunggumu ditaman" Noah langsung keluar dari kamar Keyla, dan tak lama Keyla mengikuti dari belakang.
Kini keduanya sudah berada di taman berkumpul bersama Yura dan Elard.
Yura meminta agar Keyla duduk di sebelahnya pada saat sudah berada di dekatnya Yura memperhatikan wajah Keyla yang seperti habis menangis.
"Kenapa nak? Apa kamu merindukan ibu Rahma?" Tanya Yura.
"Tidak bibi, bukan itu" jawab Keyla sambil menggelengkan kepalanya.
"Lalu kenapa? Wajahmu nampak sembab" tanya Yura lagi.
Kayla bingung harus menjelaskan dari mana akhirnya ia pun memberikan ponselnya kepada Yura, dan memperlihatkan suatu email yang masuk ke dalam ponselnya Yura pun langsung membaca email tersebut.
"Benarkah kamu tidak lulus di Universitas ini?" Tanya Yura dan Keyla mangangguk sambil menundukkan kepalanya.
Sebelumnya Keyla mendaftarkan dirinya secara online di Universitas sama seperti Noah.
Di tahap pertama Keyla sudah gugur karena nilai bahasa inggrisnya yang di bawah rata rata.
Sedangkan Noah ia langsung di terima di kampus tersebut.
Sengaja Keyla mendaftarkan dirinya disana agar bisa dekat dengan Noah, dan tidak kerepotan saat akan berangkat kuliah.
"Bukankah sudah aku katakan kamu sangat payah, seharusnya kamu belajar lebih giat supaya nilai ujianmu bagus" ucap Noah.
__ADS_1
"Noah, jangan bicara seperti itu nak" sahut Yura.
Yura menepuk pundak Keyla dengan lembut.
"Bagaimana bibi aku tidak bisa kuliah di sana" kaya Keyla, buliran bening sudah menggenang di pelupuk matanya.
Memang dari dulu Keyla sangat tidak menyukai pelajaran bahasa inggris.
"Jangan khawatir Keyla, masih banyak Universitas yang bagus di kota ini. Kamu bisa mendaftar di tempat yang lain" kata Elard.
Jika dia mendaftar di tempat lain itu artinya dia tidak akan satu kampus dengan Noah.
Rupanya diam diam Keyla menyukai pria yang ia juluki Beruang Kutub itu.
"Jangan hanya menangis, cepat cari Universitas yang mau menerima nilai nilai burukmu itu" imbuh Noah.
"Nilaiku tidak semuanya buruk, tega sekali kamu!!" Sahut Keyla tidak terima jika Noah mengatakan nilai nilainya buruk.
"Benarkah? Coba sebutkan di mata pelajaran apa nilaimu yang bagus?" Tanya Noah mengejeknya.
"Banyak! Ada bahasa Indonesia, seni budaya, kewarganegaraan, olahraga kemudian...." Belum selesai berbicara Noah langsung memotong ucapannya.
"Cukup cukup... Jangankan dirimu anak SD juga bisa jika hanya pelajaran itu. Dan itu tidak masuk daftar penilaian, apa sebodoh itu dirimu?" Tanya Noah.
Keyla mendengus kesal mendengar ucapan Noah yang menyudutkan dirinya
**Bodoh dia bilang, setidaknya aku tidak pernah berbicara sampai menyakiti perasaan orang lain** batin Keyla kesal.
"Noah jangan terus menyalahkan Keyla, tugas kamu sekarang membantunya untuk mendaftar di Universitas lain. Cepat bantu Keyla" ucap Yura.
"Noah, bantu Keyla anggap saja dia Nara" sambung Elard.
"Kamu sangat merepotkan" hardik Noah sambil menatap tajam Keyla.
Noah pun berpindah posisi Ia duduk di sebelah Keyla kemudian mengambil ponsel yang dari tadi dipegang oleh Keyla.
Noah membuka beberapa situs pendaftaran mengenai perguruan tinggi di kotanya itu.
Sedangkan Keyla hanya diam dan menatap Noah yang sangat serius mencarikan kampus untuknya.
**Jika seperti ini dia sangat tampan, mungkinkah dia lelaki blasteran surga** batin Keyla memuji Noah.
"Berapa nilai Matematika mu?" Tanya Noah, namun Keyla tak kunjung menjawabnya.
"Kenapa melamun?" Tanya Noah.
"Hah? Iya apa tadi yang kamu tanyakan?" Tanya Keyla yang tersadar dari lamunannya.
Cetak!!!
Noah menyentil kening Keyla dengan jarinya.
"Awww" Keyla meringis kesakitan sambil mengusap keningnya.
"Fokus!! Aku sedang membantumu dan kamu malah tidak fokus" sahut Noah.
__ADS_1
"Iya iya maaf, tadi kamu tanya apa?" Kata Keyla.
"Berapa nilai Matematikamu?" Noah pun mengulang pertanyaannya.
Sedangkan Elard dan Yura tertawa melihat tingkah mereka yang masih seperti anak kecil.
"7.0" jawab Keyla.
"Bahasa inggris?"
"6.5" jawab Keyla jujur.
"Cihh selama 3 tahun apa yang kamu pelajari? Nilaimu sangat buruk, apa guru gurumu tidak memarahimu karena nilai mu sangat buruk?" Tanya Noah, namun terdengar dari pertanyaannya itu seperti mengejek Keyla.
"Noah bisakah kamu fokus dengan pendaftarannya saja? Jangan kamu menanyakan dari mana asal nilai tersebut" bisik Keyla kepada Noah. Karena ia malu jika Yura dan Elard mendengarnya.
Noah pun kembali fokus untuk melanjutkan pendaftarannya setelah melalui beberapa proses akhirnya pendaftaran Kayla pun selesai pengumumannya akan diumumkan besok pagi.
"Sudah. Banyak banyaklah berdoa agar ada mukzizat yang bisa membantumu lulus di kampus itu, jika kamu gagal aku tidak akan membantumu lagi" kata Noah kemudian memberikan ponselnya kepada Keyla.
"Terima kasih" ucap Keyla.
"Bibi dan paman berdoa semoga kamu lulus seleksi ya" ucap Yura.
"Aamiin bibi, terima kasih atas doanya" balas Keyla.
Saat sedang asik mengobrol tiba tiba Noah berpamitan untuk masuk ke kamarnya.
"Bunda, ayah Noah ke kamar dulu sebentar" kata Noah.
Yuda dan Elard pun mengangguk.
Noah masuk ke dalam kamarnya, ia mengambil ponsel dan menghubungi seseorang.
"Bagaimana? Apa bisa dia masuk?" Tanya Noah
"Sebenarnya sedikit susah, tapi kamu tidak perlu khawatir dia akan di terima" jawab seseorang dari seberang sana.
"Baiklah, sekalian cabut berkasku di Universitas Erlangga" perintah Noah.
"Kamu yakin? Itu kampus terbaik dan kamu sudah diterima disana. Kamu yakin ingin mencabutnya kembali? Lalu bagaimana dengan orang tuamu?" Tanya pria itu lagi.
"Iya aku yakin, sudahlah orang tuaku pasti akan mengijinkan. Lakukan apa yang aku minta" ucap Noah.
"Baik Noah, semua akan beres besok pagi"
Dan Noah pun mematikan ponselnya, Noah berjalan ke arah balkon.
Ia melihat ke bawah dimana ada orang tuanya beserta Keyla yang duduk disana.
"Gadis bodoh" ucap Noah sambil melihat Keyla yang tertawa bersama Yura dan Elard.
_____
happ reading🥰
__ADS_1
haii jangan lupa terus dukung author yaa, dengan cara berikan vote kalian untuk karya ini. terima kasih 💜💜