
"Rangga apa yang kamu lakukan!" Teriak Nara saat Rangga menarik tangannya.
Rangga membawa istrinya itu masuk ke dalam kamar mandi.
"Ra...Rangga kamu mau apa?" Tanya Nara terbata.
"Kenapa kamu bersikap dingin kepadaku?" Tanya Rangga dengan pandangan sensitifnya, sudah pasti tangan nakal itu mulai bergrilya membuat Nara sampai salah tingkah.
"Rangga hentikan! Aku... Aku baik baik saja" jawab Nara.
"Jelas jelas terlihat jika kamu sedang marah, katakan kenapa kamu seperti itu. Jika tidak mengatakannya maka aku akan..."
"Akan apa?"
"Akan melucuti semua bajumu, dan kita akan melakukannya disini" jawab Rangga, dia hanya ingin membuat sang istri mengatakan apa yang sebenarnya di rasakan nya.
"Rangga lepaskan! Aku tidak mau" sahut Nara.
"Katakan sayang kamu kenapa! Bukankah kamu tahu jika aku tidak bisa melihatmu marah seperti ini kepadaku"
"Rangga lepaskan, aku merasa mual" ucap Nara tiba tiba.
Mual? Apakah itu hanya alasan Nara agar sang suami melepaskannya.
Namun Rangga tidak menghiraukan itu, Rangga sekilas mencium bibir Nara meskipun gadis itu terus saja mengelak tidak mau.
"Rangga lepaskan! Kepalaku pusing apa kamu tidak mendengarnya?" Nara semakin kesal karena suaminya itu terus saja menjalankan aksinya.
"Aku tidak akan melepaskan mu, sampai kamu mengatakan kamu kenapa" sahut Rangga.
Saat Rangga akan mencium Nara ternyata yang terjadi Nara memuntahkan isi perutnya tepat di tubuh Rangga.
"Sayang kamu kenapa?" Tanya Rangga.
"Bukankah aku sudah bilang aku pusing dan mual, tapi kamu memaksanya! Lihatlah sekarang tubuhmu kotor" jawab Nara.
Rangga segera melepaskan pakaian yang sudah kotor akibat Nara.
Kemudian pria itu segera menggendong tubuh Nara untuk keluar dari dalam kamar mandi.
Di letakkan tubuh Nara di atas tempat tidur.
"Sayang apakah kamu sakit?" Tanya Rangga khawatir.
"Ntahlah, kepalaku pusing dan merasa mual" jawab Nara lemas.
"Sayang maafkan aku, aku tidak bermaksud menyakitimu. Aku hanya ingin membuatmu mengatakan yang sebenarnya" Rangga merasa bersalah karena sudah memaksa sang istri, lagi lagi idenya membawa dampak yang buruk.
"Sudahlah Rangga, aku tidak marah kepadamu. Aku hanya kesal dengan gadis berkaca mata itu" kata Nara.
Gadis itu memijit kepalanya yang terasa sangat pusing, kepalanya terasa pusing secara tiba tiba.
Rangga bergegas mengambil baju dan memakainya kemudian ia keluar dari kamar tersebut.
__ADS_1
Rangga menuruni tangga dengan terburu buru.
"Nak ada apa? Kenapa kamu berlari seperti itu?" Tanya Yura yang sedang duduk santai bersama Elard.
"Nara sakit bunda, aku ingin mengambilkan obat untuknya" jawab Rangga.
"Kenapa Nara tiba tiba sakit, bukankah saat ia pulang kuliah masih baik baik saja?" Tanya Elard.
"Aku tidak tau ayah, Nara pusing dan mual. Baru saja dia memuntahkan isi perutnya" jawab Rangga.
Mendengarkan penjelasan menantunya itu membuat Yura dan Elard langsung bergegas menuju kamar Nara.
"Bunda ayah beri tahu aku dimana kotak obatnya!" Teriak Rangga, namun Yura tidak menghiraukan Rangga.
"Astaga bunda kenapa meninggalkan aku sendirian" gumam Rangga.
***
"Nak apa yang terjadi?" Tanya Yura saat baru saja masuk ke dalam kamar tersebut.
Nara heran kenapa tiba tiba kedua orang tuanya masuk ke dalam kamarnya dengan wajah yang cemas.
Yura mengusap kening Nara, namun suhu tubuh Nara normal.
"Bunda aku baik baik saja, kenapa kalian panik?" Tanya Nara.
"Bagaimana ayah dan bunda tidak panik, Rangga berlari menuruni tangga dan mengatakan kamu sakit" jawab Elard.
"Astaga ayah, aku baik baik saja ini hanya pusing biasa dan sepertinya aku masuk angin" kata Nara berusaha baik baik saja agar ke dua orang tuanya tidak panik.
Nara Yura dan Elard menatap ke arah Rangga, terlihat wajah Rangga yang sangat panik.
"B..bunda bisa membantuku mencari obat apa yang bisa di minum Nara agar sakitnya cepat sembuh?" Tanya Rangga.
"Nak istrimu tidak butuh obat" kata Yura.
"Bagaimana bisa dia tidak butuh, Nara saja pusing dan tadi muntah"
"Lebih baik bawa Nara kerumah sakit, dengan begitu kamu akan tau Nara kenapa" kata Yura.
"Rumah sakit?" Tanya Rangga dan Yura mengangguk.
"Iya baik bunda" Rangga meletakkan kotak obat tersebut, pria itu segera menghampiri Nara dan langsung menggendong tubuhnya.
"Aku bisa berjalan sendiri sayang" kata Nara.
Namun Rangga tidak memperdulikan ucapan istrinya, Rangga terus saja menggendong tubuh Nara sampai ke dalam mobil.
Sedangkan Yura segera menghubungi Noah untuk menemani adiknya di rumah sakit karena tidak mungkin Yura meninggalkan Elena di rumah.
***
Mendapat telepon dari sang bunda membuat Noah dan Keyla segera pergi ke rumah sakit setelah menyelesaikan tugas tugasnya di kantor.
__ADS_1
Beberapa menit kemudian mereka berdua sudah sampai di rumah sakit tersebut.
Dilihatnya Rangga sedang mondar mandir sendirian di depan ruangan di mana Nara di periksa.
"Ga apa yang terjadi dengan Nara?" Tanya Noah.
"Dokter masih memeriksanya, tapi sampai sekarang belum selesai" jawab Rangga.
"Sepertinya tadi di kampus dia masih baik baik saja" kata Keyla.
"Aku juga tidak tau, tiba tiba ia jatuh sakit dan bunda memintaku untuk membawanya ke rumah sakit" jelas Rangga.
Sampai akhirnya seorang suster keluar dari ruangan tersebut, dan meminta Rangga untuk masuk menemui dokter yang masih memeriksa Nara.
Karena penasaran Noah dan Keyla turut masuk ke dalam ruangan tersebut.
"Maaf dok, bagaimana keadaan istri saya?" Tanya Rangga kepada dokter tersebut.
"Istri anda baik baik saja tuan, tidak ada yang perlu di khawatirkan" jawab dokter tersebut. Membuat Rangga semakin cemas.
"Lalu apa penyebab dengan sakit kepala yang ia rasakan tadi?" Tanya pria itu lagi.
"Menurut pemeriksaan istri anda positif hamil, dan usia kandungannya sudah memasuki lima minggu" jelas dokter sambil tersenyum.
"Apa!" Seru mereka ber empat yang terkejut.
"Iya tuan, saat ini nona Nara sedang hamil, dan usia kehamilannya memasuki lima minggu. Pusing dan mual itu sudah wajar" jelas dokter itu lagi.
Rangga yang tidak percaya seketika mematung, pria itu tidak menyangka jika istrinya sedang hamil.
"Bagaimana bisa hamil?" Tanya Nara.
"Maksudku kenapa aku bisa hamil?"
"Jelas saja, bukankah kamu sudah memiliki suami" jawab Noah.
Menurutnya pertanyaan Nara benar benar konyol.
"Bukan itu kak, maksudku kenapa aku bisa hamil secepat ini bukankah aku dan Rangga baru menikah 3 bulan" Nara masih tidak menyangka dirinya akan di berikan hadiah terbesar dalam hidupnya secepat ini.
"Tentu saja sayang, bukankah setiap malam aku..." Rangga langsung menutup mulutnya, hampir saja ia menceritakan jika setiap malam dirinya meminta haknya.
"Iya benar! Setiap malam Rangga selalu menjalankan misinya, bener begitu kan sayang" kata Nara, membuat Rangga salah tingkah.
Pria itu mengusap wajahnya, bagaimana bisa Nara menceritakan semuanya saat ada kakak ipar beserta dokter disana.
"Hahahaha... Misi apa Ra?" Tanya Keyla.
"Misi yang di berikan kakak kepada Rangga, itu sebabnya Rangga menjalankan misinya setiap malam. Dan sekarang berhasil" jelas Nara sambil tertawa tanpa dosa.
Mereka yang mendengarkan penjelasan Nara langsung tertawa, namun tidak dengan Rangga.
Wajah Rangga memerah, ia merasa malu karena kakak iparnya mengetahui itu semua.
__ADS_1
**Astaga kenapa dia menceritakan itu semua, sabar Rangga dia adalah istrimu** batin Rangga gemas dengan tingkah sang istri.
_____