
Author bingung, untuk cerita Damar dan Freya lanjut di Novel ini atau membuat judul baru.
tinggalkan komentar kalian.
jika harus di Novel baru maka author akan memindahkan cerita ini.
Dan Novel Wanita Malam Milik CEO akan author tamatkan.
________
Hanya menempuh waktu sekitar 10 menit Damar pun telah sampai di Cafe miliknya.
Di parkirkan motor itu di halaman Cafe tersebut.
"Ayo turun, kita masuk" ucap Damar.
Tanpa menjawab Freya turun dari motor tersebut, ia memperhatikan Bangunan yang berdiri kokoh di hadapannya.
Cafe klasik itu sungguh menyegarkan mata yang melihatnya.
Letaknya berada di pinggir jalan raya.
Sehingga siapa saja yang melewati Cafe tersebut dapat melihatnya.
Di pagi hari tidak banyak pengunjung, hanya beberapa orang saja yang singgah di tempat itu.
"Kenapa bengong, ayo masuk" Damar meraih tangan Freya dan membawanya masuk.
"Ehhh" Freya terkejut karena Damar langsung menggenggam tangannya.
"Pagi pak" sapa para pegawai Cafe tersebut.
"Iya pagi" balas Damar ramah.
Mereka semua menatap Freya yang berjalan di belakang Damar.
"Siapa gadis itu? Apakah adik pak Damar"
"Lihatlah pak damar memegang tangannya"
Begitulah bisik bisik beberapa pegawai disana.
Freya yang merasa menjadi pusat perhatian akhirnya berjalan dengan menundukkan kepalanya. Iya gadis itu sedikit malu.
"Duduklah disini" mereka berdua duduk di kursi yang berada di bagian samping.
Terdapat kolam ikan dan beberapa pohon kecil disana, benar benar terasa sejuk.
"Kamu sudah sarapan?" Tanya damar.
"Mm belum" jawab Freya.
"Kamu mau makan apa? Aku akan membuatkannya untukmu" tanya Damar lagi.
"Kakak dukun, apakah ini Cafe milikmu?" Bukannya menjawab, Freya malah bertanya balik.
"Iya, ini Cafe milikku" jawab Damar dan Freya hanya mengangguk.
"Kamu belum menjawab pertanyaan ku, mau makan apa?" Damar kembali bertanya.
"Aku tidak terlalu lapar kak, bisakah aku meminta susu cokelat hangat"
"Baiklah, duduk disini aku akan membawakan susu cokelat untukmu" Damar pun beranjak dari duduknya.
Ia berjalan menuju dapur dengan menahan senyum.
"Dia masih meminum susu" gumam Damar sambil tertawa.
__ADS_1
Freya duduk sambil memainkan ponselnya.
Sesekali gadis itu memperhatikan beberapa pegawai yang sudah mulai bekerja.
"Susu cokelat hangatnya sudah siap" Damar layaknya pelayan meletakkan segelas susu tersebut sambil menundukkan kepalanya.
"Terima kasih kakak dukun" jawab Freya.
Terlihat gadis itu tersenyum melihat Damar.
Ini kali pertama Freya tersenyum kepada pria itu.
Freya meminum susu tersebut secara perlahan.
"Permisi pak, ini laporan pemasok minggu lalu, bapak bisa memeriksa lebih dulu" kata seorang wanita berusia 23 tahun.
Wanita itu merupakan admin di cafe tersebut.
Namanya Marfella, sekilas Marfella menatap ke arah Freya.
Sebenarnya Freya sadar jika wanita di sampingnya tengah memperhatikannya, namun Freya bersikap cuek dan seolah tidak tau.
"Oke kamu bisa tunggu di ruangan ku, aku segera kesana" jawab Damar.
"Baik pak" kemudian Marfella pergi.
"Aku mau ke ruanganku sebentar, kamu mau ikut bersamaku atau menunggu disini?" Tanya Damar.
"Aku akan menunggu disini" jawab Freya.
"Baiklah, aku akan segera kembali" kemudian Damar pergi menuju lantai tiga dimana ruangannya berada.
Sedangkan Freya menunggu di bawah.
Damar memeriksa laporan tersebut kemudian menandatanganinya.
Damar pun kembali memeriksa laporan tersebut dengan sangat teliti. Namun sekilas ia memikirkan Freya yang menunggunya di bawah.
"Ada berapa laporan lagi?" Tanya Damar.
"Ada tiga laporan lagi pak" jawab Marfella.
Damar membuang nafasnya perlahan.
"Letakkan disini aku akan memeriksanya, sekarang pergilah dan temui gadis yang bersamaku tadi, bantu dia jika membutuhkan sesuatu. temani gadis itu sampai aku menyelesaikan semua ini" Damar memberikan perintah kepada Marfella untuk menemui Freya.
"Tapi saya harus menyelesaikan beberapa laporan hari ini pak" jawab Marfella. Secara tidak langsung wanita itu enggan untuk menemui Freya.
"Kamu bisa menyelesaikannya nanti, masih banyak waktu. Sekarang turunlah"
"Mmm baik pak" tidak ada pilihan lain, Marfella pun memenuhi perintah Damar.
Saat sudah berada di bawah, Marfella melihat Freya duduk sambil meminum susu cokelat.
Marfella mengurungkan niatnya untuk menemui Freya.
"Memangnya siapa gadis itu, kenapa aku harus membantunya. Aku masih banyak pekerjaan, biarkan saja dia sendirian" ucap Marfella kemudian ia segera bergegas pergi.
Cukup lama Freya menunggu, dan akhirnya Damar pun sudah selesai dengan pekerjaannya.
"Hai maaf menunggu lama" kata Damar.
"Tidak masalah" jawab Freya.
"Dimana Fella?" Tanya Damar.
"Fella siapa?"
__ADS_1
Damar tidak melihat adanya Marfella disana, bukankah ia meminta agar Adminnya itu menemani Freya.
"Lupakan! Apakah kamu mau jalan jalan bersamaku?"
"Jalan jalan? Apa kita sedekat itu?" Tanya Freya.
"Aku rasa sebentar lagi kita akan semakin dekat" jawab Damar.
Tanpa menunggu jawaban dari Freya, pria itu kembali memegang tangan Freya dan membawanya.
"Kenapa kamu sangat suka memegang tanganku?" Tanya Freya yang berjalan di belakang Damar.
"Kamu terlalu banyak bertanya, sekarang masuklah" Damar membuka pintu mobil miliknya.
"Bukankah kita tadi naik motor, kenapa sekarang naik mobil?"
"Hari semakin panas, mungkin kamu tidak akan betah naik motor di siang hari. Cepat masuklah" jelas Damar, dan Freya pun masuk ke dalam mobil tersebut.
Ternyata motor yang ia kendarai adalah milik pegawainya, tadinya Damar meminjam motor tersebut untuk membeli sesuatu.
Namun di perjalanan Damar bertemu dengan Freya.
***
Di perjalanan...
"Kamu masih ingat pertemuan pertama kita malam itu?" Tiba tiba Damar bertanya memecah keheningan.
"Masih" jawab Freya sekilas menatap Damar.
"Dari malam itu sampai detik ini kita belum berkenalan"
"Sepertinya tidak perlu, karena aku sudah tau namamu. Dan kamu juga sudah tau namaku" kata Freya.
"Tapi aku belum tau nomer ponselmu" ucap Damar dengan santai.
Freya kembali menatap Damar dengan tatapan tajamnya.
Bisa bisanya Damar selalu mengambil kesempatan di setiap ucapannya.
"Untuk apa kamu tau nomerku?" Tanya Freya.
"Agar aku lebih mudah untuk menjemputmu" jawab Damar.
Ini kedua kalinya Freya bertemu dengan Damar.
Namun gadis itu tidak terlalu cuek seperti pertama kali bertemu.
"Kenapa dia bersikap seolah olah kita sangat akrab" gumam Freya pelan.
"Boleh aku meminta nomer ponselmu?"
"Tidak, kakak dukun pasti akan menggangguku" tolak Freya.
"Hahaha... jangan panggil aku seperti itu"
"Lalu aku harus memanggilmu apa?"
"Cukup kakak saja, tanpa embel embel duku. oke" Damar mengedipkan sebelah matanya.
"Hmmm oke" Freya pun setuju.
Gadis itu kembali menatap jalanan melalui kaca mobilnya.
Damar melihat ke arah Freya, tidak menyangka dirinya bisa duduk berdua bersama gadis itu di dalam mobil.
Gadis yang masih duduk di bangku SMA itu benar benar sudah membuat Damar gila.
__ADS_1
______