
Noah mendekati Keyla dan ia menutup mulut gadis itu dengan telapak tangannya.
"Sttt diamlah jangan banyak bicara" kata Noah berbisik.
Bagaikan di sengat listrik, tubuh Keyla mematung saat tangan kekar Noah menutup mulutnya.
**Apa ini astaga, jantungku seakan mau lompat. Tahan Key tahan** batin Keyla meracau.
Bagaimana jantungnya tidak lompat, jarak ke duanya begitu sangat dekat.
Ini bukan yang pertama kalinya Noah mendekati dirinya.
Setelah gadis itu mulai tenang, Noah membawanya duduk di sebuah sofa yang berada di kamar Keyla.
"Aku ingin bicara kepadamu, dan aku harap kamu bisa bekerja sama denganku" kata Noah.
"Kerja sama apa?" Tanya Keyla.
"Jadi begini, nanti malam saat selesai makan malam kita harus menolak pernikahan ini" jelas Noah.
"La..lalu?" Tanya Keyla lagi.
Gadis itu sedikit gugup berbicara serius dengan Noah.
"Lalu, kamu harus mengatakan jika kamu tidak ingin menikah denganku kamu tidak menyukaiku dan kamu ingin fokus kuliah. Intinya kamu menolak pernikahan ini" sambung Noah lagi.
Keyla sejenak terdiam, ia tidak tau sebenarnya rencana pernikahan itu membuatnya bahagia atau tidak.
Namun setelah mendengar perkataan Noah gadis itu menjadi yakin jika Noah benar benar tidak menginginkan pernikahan itu.
"Keong apa kamu mendengarkanku?" Partanyaan Noah berhasil membuyarkan lamunan Keyla.
"I..iya Noah aku dengar" jawab Keyla.
"Baguslah, setelah makan malam kamu harus melakukannya. Tapi tenang saja aku akan membantumu untuk menolak pernikahan ini" sambung Noah lagi.
"Hmm iya baiklah" angguk Keyla.
Apa lagi yang bisa di harapkan gadis itu, jika Noah benar benar tidak menginginkan pernikahan ini maka Keyla harus bisa bekerja sama dengannya.
"Baiklah kamu istirahat saja, aku akan kembali ke kamarku" Noah kemudian beranjak dan keluar dari kamar gadis itu.
Sedangkan Keyla hanya duduk terdiam memikirkan semua ucapan Noah.
"Bodoh!" Kata Keyla.
"Aku memang bodoh! Apa yang aku harapkan dari hubungan ini, dia sama sekali tidak menyukaiku. Apa yang harus aku lakukan, semakin lama berada di dekatnya perasaanku semakin besar untuk pria itu" gumam Keyla setelah kepergian Noah.
***
Tepat jam 7 malam, seperti biasa keluarga Elard akan melakukan makan malam bersama.
Noah dan Keyla sudah berada di meja makan, begitupun dengan Elard dan Yura.
Mereka menikmati makan malamnya, tidak ada pembicaraan di antara mereka.
Semuanya terdiam hanya terdengar dentingan sendok dan garpu.
Yura memperhatikan Noah dan Keyla yang duduk di hadapannya.
Mereka berdua terlihat acuh satu sama lain.
Yura berharap anaknya Noah bisa menerima keputusannya untuk menikah dengan Keyla.
Hingga beberapa menit makan malam pun selesai, Elard dan Yura hendak beranjak dari duduknya.
"Tunggu ayah" ucap Noah.
"Ada apa nak?" Tanya Yura.
"Aku dan Key ingin berbicara sesuatu kepada Ayah dan Bunda" jawab Noah.
"Oke, kita ke ruang keluarga" sahut Elard kemudian mereka semua menuju ruang keluarga.
__ADS_1
Mereka duduk di sebuah sofa yang cukup besar.
Sebelum berbicara Keyla mulai mengatur nafasnya, di dalam otaknya gadis itu mulai merangkai kata kata sebelum berbicara.
"Ada apa Noah? Apa ini mengenai pernikahan kalian? Apa kalian sudah setuju?" Kata Yura dengan sederet pertanyaan.
"Bu..bukan bunda, Keyla ingin mengatakan sesuatu" jawab Noah dan pria itupun memberikan kode kepada Keyla dengan cara menyikut lengannya, agar wanita itu segera menjelaskan.
"I...iya bibi aku ingin mengatakan sesuatu" kata Keyla gugup.
"Ada apa Key katakan saja?" Tanya Yura.
Terlihat Elard hanya terdiam sambil memperhatikan dua pasangan muda yang duduk di hadapannya.
"Begini bibi, sebelumnya Key meminta maaf. Aku... Mmm aku ingin" Keyla bingung mengatakannya dari mana bibirnya serasa membeku saat hendak mengatakan sesuatu.
"Iya Key bicaralah, kenapa kamu jadi gugup seperti itu" kata Yura.
"Keong cepat katakan" bisik Noah kepada Keyla.
"Aku menolak pernikahan ini bibi, aku mohon paman dan bibi membatalkan rencana pernikahan ini. Maaf tetapi aku tidak menyukai Noah, kami masih terlalu mudah bibi. Aku ingin...." Kata kata Keyla terhenti dengan ucapan Elard yang tiba tiba.
"Cukup!!!" Sahut Elard.
"Paman tidak ingin ada penolakan di antara kalian berdua, termasuk kamu Key. Jika kamu menolak pernikahan ini maka paman akan mencabut semua fasilitas Noah, dan yang lainnya" ancam Elard.
Meski ucapan Elard hanya pura pura dan sebatas akting, namun ucapannya berhasil membuat Noah dan Keyla terkejut ketakutan.
"Ayah, ayah tidak bisa memaksa Key. Ayah dengar sendiri kan dia sama sekali tidak menginginkan pernikahan ini. Jika di paksakan kami tidak akan bahagia ayah" jelas Noah.
"Iya paman, mengertilah foto foto itu tidak benar adanya. Sama sekali tidak terjadi apapun di antara kita" sahut Keyla membenarkan ucapan Noah.
Elard dan Yura saling bertatapan, Yura berfikir jika Keyla pasti menyetujui pernikahan ini. Karena iya yakin jika Keyla sangat menyukai Noah dan sepertinya Keyla mulai mencintai putranya itu.
Namun mendengar penolakan Keyla membuat Yura bingung harus melakukan apa.
"Itu adalah konsekuensi kalian berdua karena sudah ceroboh. Ayah tetap akan menikahkan kalian dan tidak ada lagi yang membantah, dan jika kalian bersikeras ingin membatalkannya maka ucapan ayah tidak pernah main main untuk mencabut semua fasilitas Noah" jelas Elard panjang lebar untuk yang terakhir kalinya.
Setelah mengucapkan itu Elard langsung berlalu menuju kamarnya meninggalkan mereka.
Namun Elard tidak memperdulikannya.
"Kalian fikirkan baik baik, keputusan ayah dan bunda adalah yang terbaik untuk kalian berdua" kata Yura kemudian ia pergi menyusul suaminya.
Tinggal lah Noah dan Keyla yang masih terduduk di sofa.
"Bagaimana? Aku sudah berusaha namun mereka tidak mau mendengar ucapanku" kata Keyla sambil menundukkan kepalanya lesu.
"Entahlah, aku harap kamu bisa mencari cara yang lain" jawab Noah kemudian ia pergi meninggalkan Keyla.
Keyla masih terduduk dengan sejuta beban di fikirannya.
Kemarin baru saja ia merasakan bahagia menghabiskan waktu bersama pria dingin itu.
Namun sekarang entah mengapa hatinya begitu sakit dengan drama penolakan ini.
Sejujurnya Keyla juga tidak setuju pernikahan secepat ini di usianya yang masih muda, namun gadis itu juga tidak ada keinginan untuk menolaknya karena ia benar benar mulai menyukai Noah.
Keyla memegang dadanya yang terasa sakit, buliran bening menetes dari kelopak matanya.
"Ibu... Aku sangat merindukanmu" kata Keyla.
Ia merasa sangat merindukan ibu Rahma serta adik adiknya yang berada di panti.
***
Keyla sudah berada di kamarnya, jam sudah menunjukkan pukul 10 malam namun gadis itu belum mengantuk.
Keyla mondar mandir kesana dan kemari.
Ia memikirkan cara apa lagi yang harus di lakukannya untuk menolak pernikahan tersebut.
"Sepertinya hanya ini satu satunya cara" kata Keyla.
__ADS_1
Keyla mengambil kopernya kemudian ia mengemasi pakaian serta barang barangnya, ia masukkan semua itu ke dalam koper yang berukuran sedang.
Tidak ada pilihan lain, hanya dengan kembali ke panti mungkin pernikahan ini bisa di hentikan.
Dengan perasaan sedih dan linangan air mata Keyla terus memasukkan barang barangnya.
Tangannya bergetar, masih berat meninggalkan rumah itu.
Meski hanya beberapa bulan saja ia tinggal disana namun perasaannya sudah begitu nyaman.
Setelah membereskan semua barang barangnya, Keyla membuka dompetnya ia mengeluarkan kartu debit yang di berikan Yura.
Keyla meletakkannya di atas meja.
Kemudian tidak lupa Keyla melepas gantungan ponsel yang di belikan Noah, ia pun meletakkannya di atas meja bersebelahan dengan kartu debit tersebut.
Setelah semua beres, Keyla keluar dari kamarnya. Ia berdiri di depan pintu kamar Noah.
Kemudian gadis itu mengirimkan pesan kepada Noah.
"Keluarlah sebentar dari kamarmu" begitulah isi pesan Keyla.
Noah yang memang belum tertidur langsung membaca pesan dari Keyla.
Kemudian Noah beranjak dari atas tempat tidurnya.
Pria itu membuka pintu kamarnya dan ia di kejutkan dengan Keyla yang berdiri di hadapannya.
"Ada apa?" Tanya Noah namun Keyla belum menjawab.
Noah memperhatikan Keyla, dan ia melihat koper yang di pegang gadis itu.
"Kamu mau kemana?" Tanya Noah.
"Aku akan kembali ke panti, mungkin ini satu satunya cara agar pernikahan kita di batalkan" jawab Keyla.
Kembali ke panti? Mendengar kalimat itu Noah sangat terkejut, pria itu tidak percaya Keyla mengambil langkah pergi dari rumahnya.
"Kenapa harus kembali ke panti? Masih banyak cara lain" kata Noah.
"Tidak ada Noah, ini cara satu satunya" ucap Keyla.
Gadis itu mencoba sekuat tenaga agar air matanya tidak terjatuh. Ia tidak ingin terlihat menyedihkan di hadapan pria yang sama sekali tidak menyukainya.
"Baiklah, tapi kenapa harus malam ini. Masih ada besok pagi" kata Noah lagi.
"Tidak Noah, lebih baik malam ini sebelum bibi terbangun. Jika menunggu besok pagi aku tidak sanggup melihat wajah bibi yang sedih" jawab Keyla.
"Baiklah, aku akan mengantarmu" tawar Noah.
"Tidak, aku akan naik taxi" tolak Keyla, kemudian Keyla membalikkan tubuhnya dan dengan langkah yang perlahan ia mulai berjalan menuruni tangga.
"Tunggu, aku akan mengantarmu keluar komplek sampai kamu mendapatkan taxi" ucap Noah, kemudian pria itu meraih koper Keyla dan ia memutuskan untuk membawa koper gadis tersebut.
Kini keduanya sudah keluar dari rumah itu, mereka berjalan menyusuri jalanan yang sudah gelap gulita, sepanjang perjalanan tidak ada obrolan di antara ke duanya.
Noah diam diam menatap gadis itu, terlihat Keyla yang terdiam dengan wajah tenangnya.
"Keyla maafkan aku, jika aku tidak tertidur saat itu mungkin ini semua tidak akan terjadi" kata Noah.
Keyla? Baru saja beruang kutub itu memanggil nama Keyla.
Biasanya ia akan memanggil keong, atau gadis bodoh namun malam ini Noah memanggil namanya dengan sempurna.
"Iya Noah tidak masalah, semua sudah terjadi" jawab Keyla setenang mungkin.
Ya mungkin semua ini sudah jalan dan takdirnya, gadis itu harus kembali ke panti dan menjalani kehidupannya seperti sedia kala.
"Apa kamu yakin dengan keputusanmu kali ini?" tanya Noah saat mereka duduk di pinggir jalan sambil menunggu taxi datang.
"iya, ini yang terbaik untuk ku" jawab Keyla.
_____
__ADS_1
happy readingš„°