Wanita Malam Milik CEO

Wanita Malam Milik CEO
Elard vs Mike #2


__ADS_3

Dor!!!!


Satu tembakan lolos mengenai lengan Elard.


Mike tidak menepati janjinya, ia berniat menembak tubuh pria itu.


Namun usahanya gagal karena peluru tersebut hanya menggores lengan Elard.


"Aghh sial!" Umpat Elard merasakan panas pada lengannya.


Mengetahui itu Yura langsung mengigit tangan Mike.


"Aaaaa" Mike berteriak dan tanpa sengaja ia mendorong tubuh Yura hingga jatuh ke lantai.


"Yuraa....." Elard berteriak ia berlari dan langsung memberikan tendangan tepat di dada bidang Mike.


"Brengsek! Beraninya kamu menyakiti istriku" Elard tanpa henti memukul wajah Mike dengan tangan yang masih bercucuran darah.


Mike melakukan perlawanan, ia kembali memukul wajah Elard.


Hingga terlihat cairan merah keluar dari sudut bibirnya.


Leo dan anak buah yang lain berhasil masuk ke rumah Mike dan segera membantu Elard mengamankan pria itu.


"Tuan anda baik baik saja?" Tanya Leo.


"Aku akan membunuh pria ini!!" Elard seperti orang yang sedang kesurupan, tanpa henti Elard memberikan pukulan demi pukulan kepada Mike.


"Hentikan Tuan, biar saya yang membereskannya" ucap Leo.


Namun Elard tidak memperdulikan suara Leo.


Sampai akhirnya suara Yura menghentikannya.


"El tolong..." Lirih Yura pelan.


Elard menatap ke arah istrinya yang tersungkur di lantai, serta terlihat darah mengalir membasahi kaki Yura.


"Sayang apa yang terjadi padamu?" Elard panik melihat Yura berdarah di bagian sensitifnya.


"Tuan lebih baik anda membawa nyonya ke rumah sakit, saya akan mengurus pria ini" kata Leo.


Elard mengangguk ia segera membawa Yura masuk ke dalam mobilnya dan menuju ke rumah sakit terdekat.


Sesampainya di rumah sakit dokter segera menangani keadaan Yura.


Tak lupa beberapa suster juga mengobati luka di lengan Elard.


Elard seakan tidak bisa merasakan sakit yang menimpa dirinya.


Ia terus berdoa agar istri dan calon anaknya baik baik saja.


"Selamatkan istri dan calon anakku ya Allah, aku akan berjanji menjadi orang yang lebih baik lagi, aku berjanji akan lebih menyayangi keluargaku" ucap Elard mengharap kesembuhan untuk istrinya.


"Tuan anda bisa beristirahat terlebih dahulu" kata suster setelah mengobati luka El.


"Tidak perlu. Aku ingin pergi menemui istriku sekarang" kata Elard.


Dan ia segera beranjak menuju ruangan Yura.


Namun Yura masih dalam penangan dokter sehingga siapa pun tidak boleh menemuinya.

__ADS_1


Elard duduk disebuah kursi yang berada di luar ruangan Yura.


"Ibu doakan Yura dan calon cucumu selamat" Elard menutup matanya sambil terus berdoa di dalam hati.


Tidak lama dokterpun keluar.


"Bagaimana dengan istri dan anakku?" Tanya Elard.


"Alhamdulillah istri anda sudah membaik, namun ia belum sadarkan diri. Dan untuk calon anak anda..." Dokter menghentikan ucapannya.


Ia ragu untuk memberitahukan kepada pria yang ada di hadapannya itu.


"Ada apa dengan calon anakku? Katakan!" Sahut Elard.


Dokter tersebut nampak menarik nafas kuat kuat.


"Maaf tuan calon anak anda tidak bisa di selamatkan. Nyonya Yura mengalami keguguran" sambung dokter.


"Apa!!" Elard menarik kemeja dokter tersebut, ia seolah tak percaya dengan penjelasan yang baru saja di dengarnya.


Apa ini nyata? Ataukah hanya candaan bagi dirinya.


"Katakan sekali lagi kepadaku!" Perintah Elard.


Dokter itu berkeringat karena melihat kemarahan di wajah Elard.


"Istri anda keguguran tuan" jawab Dokter.


Elard melepas cengkraman nya, ia terduduk dengan lemas.


Bagaimana mungkin ini semua bisa terjadi.


Sebelumnya Elard memang mengetahui jika kandungan Yura sangat lemah dan harus di jaga baik baik.


"Tuan anda boleh masuk" ucapan dokter berhasil membuat Elard membuyarkan lamunannya.


Elard langsung masuk ke dalam ruangan istrinya dan melihat wajah istrinya yang masih belum sadarkan diri.


Elard duduk didekat Yura dan ia menggenggam tangannya.


"Bagaimana aku mengatakan ini kepadamu Yura, aku tidak tau cara menjelaskan semua kepadamu" gumam Elard.


Buliran bening berhasil lolos dari mata pria berwajah dingin itu.


Ia tidak pernah menduga akan selemah ini menghadapi kenyataan.


Sekali lagi Elard harus merasakan pil pahit kehilangan.


***


Cetar!!!


Sebuah gelas terlepas dari tangan Jeny saat ia hendak minum.


"Ada apa?" Tanya Axel


"Entah Xel, perasaanku tidak enak. Mungkinkah ada sesuatu yang terjadi"


"Jangan di pikirkan, aku akan berangkat ke kantor dulu. Kamu istirahat saja" nasihat Axel.


"Iya Xel hati hati dijalan" Axel pergi kekantor nya.

__ADS_1


Karena saat ini di Amerika Jam masih menunjukkan pukul 8 pagi.


"Aku sudah lama, tidak menghubungi Yura"


"Tolong bersihkan pecahan gelas ini" kata Jeny kepada salah satu pelayan.


Kemudian Jeny berjalan menuju ruang tamu dan menghubungi Yura.


"Kenapa dia tidak menjawab panggilanku" ucapnya.


Jeny semakin khawatir karena sahabatnya itu tidak ada kabar.


"Sedang apa nak?" Tanya Clara yang baru saja menghampiri Jeny.


"Tidak ada bu, aku hanya menghubungi Yura. Tapi sepertinya dia sedang istirahat" jawab Jeny.


Clara duduk disebalah Jeny.


"Ada yang ingin ibu katakan kepadamu"


"Ada apa bu?" Tanya Jeny, terlihat wajah ibu mertuanya yang sangat serius.


"Kapan kamu akan memberikan kami cucu? Ayah Axel sedang sakit, ia sangat ingin menimang cucunya" tanya Clara.


Deg!!!


Jantung Jeny berdetak kencang saat mendengar pertanyaan ibu mertuanya, sebelumnya Clara tidak pernah menanyakan hal itu. Tapi kini pertanyaan yang tidak ingin di dengar Jeny itupun keluar dari mulut ibu mertuanya.


"Ibu maafkan aku..." Kata Jeny


"Katakan kepada ibu apa masalah kalian? Apa mungkin... Axel tidak menjalankan tugasnya sebagai seorang suami?" Tanya Clara lagi.


"Katakan pada ibu yang sebenarnya nak, aku tidak menganggapmu sebagai menantu. Tapi kamu sudah ibu anggap seperti putri ibu sendiri" sambung Clara.


Jeny memeluk ibu mertuanya, ia sadar jika selama ini kedua mertuanya sangat menyayanginya, Jeny sedih karena belum bisa memberikan apa yang kedua mertuanya itu inginkan.


"Sejujurnya kami belum melakukannya bu" kata Jeny pelan.


"Apa??" Clara terkejut mendengar perkataan Jeny.


"Tapi kenapa nak? Kenapa kalian tidak melakukannya??" Tanya Clara.


"Axel tidak mencintaiku bu, aku berusaha untuk mengambil hati dan perhatiannya namun Axel seakan tidak tertarik kepadaku. Maafkan aku bu, aku tidak bisa memaksa Axel untuk melakukan semua itu" jelas Jeny yang sudah mulai menitihkan air matanya.


"Ibu tau nak bagaimana perasaanmu, Axel memang keterlaluan ia membiarkan istri sebaik dan secantik dirimu kesepian" Clara semakin mengeratkan pelukannya.


Menurut Clara air mata Jeny adalah air matanya.


"Ibu punya rencana untuk Axel" ucap Clara.


"Maksud ibu?" Tanya Jeny sambil menghapus air matanya.


Clara membisikkan sesuatu ke telinga Jeny, seketika Jeny menutup mulutnya tak percaya dengan rencana ibu mertuanya itu.


"Ibu yakin?"


"Iya nak, ini jalan satu satunya ibu yakin setelah itu Axel akan melakukan tugasnya sebagai seorang suami" jawab Clara.


Jeny pun setuju dengan rencana ibu mertuanya, mungkin itu yang terbaik pikir Jeny.


_____

__ADS_1


happy reading


__ADS_2