
Setelah beberapa menit yura sudah selesai dengan aktifitasnya di kamar mandi dan berganti pakaian. yura merias wajahnya seperti biasa hanya menggunakan make up tipis.
"Biar aku saja yang mengantarmu" ucap elard.
"Bukannya kamu tadi bilang tidak bisa?" tanya yura yang masih fokus merias wajahnya.
"Itu kan tadi, sekarang aku bisa. sekalian aku ingin menemui ibu" jawab elard.
Mendengar kata ibu membuat yura teringat akan status pernikahan dan perjanjiannya.
"Iya baiklah" jawab yura.
"Kamu tunggu mobil dulu ya" kata elard.
Yura pun keluar lebih dulu dari kamarnya dan menunggu di mobil, sedangkan elard membuka lemarinya dan mangambil amplop berwarna coklat, kemudian memasukkan ke dalam tasnya.
Setelah itu elard segera menyusul yura.
Keduanya sudah berada di mobil, elard melajukan mobilnya sesuai dengan alamat yang di berikan yura.
Sedangkan Axel dan ibunya sudah lebih dulu sampai di cafe itu.
"Kamu duduk di sana dulu ya, biar ibu duduk disini" ucap clara sambil menunjuk bangku yang terletak cukup jauh.
Mereka sengaja duduk terpisah, berjaga jaga agar elard tidak mengetahuinya.
Setelah 15 menit akhirnya yura dan elard sampai, mereka berdua turun dari mobilnya.
"Apa dia sudah datang?" tanya elard.
"Iya. sudah ada di dalam" jawab yura.
"Baiklah kalau begitu kamu masuklah, aku akan pergi ke rumah ibu dulu" ucap elard.
Sebelum meninggalkan yura tidak lupa elard mencium kening istrinya, karena itu sudah menjadi kebiasaan elard beberapa hari ini.
Yura pun masuk ke dalam cafe itu, dan elard melajukan mobilnya meninggalkan cafe tersebut.
Nampak yura sedikit kebingungan mencari clara.
"Hai yura ya..." sapa wanita paruh baya yang baru saja menghampiri yura.
"Iya, apakah anda nyonya clara?" tanya yura.
"Betul sekali, kita duduk disana ya" clara membawa yura untuk duduk di meja yang sudah di pesannya.
Yura dan clara pun bersalaman dan nampak clara memeluk tubuh yura.
Yura merasakan ada sesuatu yang aneh pada dirinya saat wanita itu memeluknya.
"Maaf apa sebelumnya kita pernah bertemu?" tanya yura.
"Ini pertemuan pertama kita, karena selama ini saya tinggal di luar negeri" jawab clara, dan yura hanya mengangguk pelan.
Beberapa saat kemudian seorang pelayan datang menghampiri mereka dan memberikan buku menunya.
"Kamu mau pesan apa?" tanya clara.
"Jahe hangat saja" jawab yura.
Setelah mencatat pesanannya pelayan itupun pergi untuk menyiapkannya terlebih dahulu.
"Nyonya apa bisa kita mulai?" tanya yura kepada clara, karena ia tidak bisa terlalu lama berada disana.
__ADS_1
"Tentu bisa" jawab seorang pria yang berdiri tepat di belakang yura.
Karena terkejut yura langsung membalikkan tubuhnya dan melihat siapa pria tersebut.
"Axel" sahut yura.
"Iya aku" jawab axel kemudian duduk di depan yura.
"Bagaimana kabarmu?" tanya axel.
"Aku baik baik saja, bukankah kamu tidak bisa menemui nyonya clara?" tanya yura yang sedikit kebingungan.
"Sayang perkenalkan saya clara ibu kandung axel" clara mengulurkan tangannya, namun yura masih terdiam dan dengan ragu membalas uluran tangan wanita itu.
"Bukankah anda tadi yang menelpon saya?" tanya yura.
"Yura maafkan aku, beliau memang ibuku. terpaksa aku melakukan ini agar bisa bertemu denganmu" jawab axel.
Yura nampak memperhatikan mereka berdua secara bergiliran, memang terlihat wajahnya yang sedikit mirip.
"Memangnya ada apa sampai kamu berbohong seperti ini?" tanya yura.
Belum sempat menjawab clara beranjak dari duduknya.
"Kalian ngobrol dulu ya, ibu masih ada urusan" ucap clara.
Clara pun pergi meninggalkan mereka berdua dan menunggu di mobil, wanita itu berharap jika putranya bisa membantu yura dalam keadaan seperti ini.
"Katakan ada apa xel?" tanya yura lagi, namun ekspresi yura sedikit kesal karena ia merasa di bohongi.
"Maaf aku melakukan semua ini, karena aku pikir el akan melarangmu bekerja lagi. dan aku belum sempat mengatakan ini kepadamu" jawab axel.
"Iya sekarang katakan" ucap yura.
"Apa yang kamu lakukan xel?" tanya yura.
"Yura maafkan aku, tapi aku harus jujur kepadamu. aku menyukaimu yura, aku tau kamu sudah menikah dan tidak mungkin bagiku untuk memilikimu" kata axel.
Yura hanya terdiam, ia tidak menyangka pria yang selama ini baik dan menolongnya telah menyukai dirinya.
"Jangan salah paham yura, aku hanya ingin mengungkapkannya dan aku tidak memerlukan jawabanmu. asal kamu sudah tau bagaimana perasaanku" kata axel lagi.
"Apa sudah selesai? jika tidak ada yang ingin kamu katakan aku permisi" yura segera berdiri dan hendak meninggalkan axel.
"Tunggu" dengan cepat axel memegang tangan yura membuat wanita itu kembali terduduk.
"Ada hal lain yang ingin aku katakan" ucap axel. Mungkin saat ini axel tidak bisa memaksakan wanita itu untuk mengerti bagaimana perasaannya.
"Jika mengenai perasaanmu maaf aku...." kata kata yura terhenti.
"Bukan" sahut axel.
"Yura aku tau kamu sedang dalam ancaman tante hera" sambung axel.
Axel menceritakan jika dirinya tidak sengaja mendengar pembicaraan yura dengan ibu el pada saat dirumah sakit.
Dimana yura harus menandatangani perjanjian itu, yang sama sekali tidak menguntungkan bagi yura.
Mendengar penjelasan axel yura mulai minitihkan air mata, ia tidak sanggup membayangkan jika dirinya harus berpisah dengan anaknya.
Axel memberikan sapu tangannya kepada yura dengan segera yura menghapus air matanya.
"Jangan bersedih yura, kamu masih memiliki kesempatan untuk tetap bisa bersama anakmu" ucap axel.
__ADS_1
"Bagaimana xel?" tanya yura.
Axel nampak menjelaskan sesuatu kepada yura. wanita itu terkejut dengan rencana axel yang menurutnya tidak masuk akal.
"Tidak mungkin aku melakukan itu xel" ucap yura menggelengkan kepalanya.
"Tidak ada cara lain yura, kamu harus merelakan salah satu atau kamu kehilangan keduanya" jelas axel meyakinkan yura.
Yura nampak berpikir dengan rencana axel, haruskah ia melakukan itu.
"Bagaimana yura?" tanya axel.
"Jika memang itu jalan satu satunya aku bersedia xel" jawab yura.
Nampak axel tersenyum lega, setidaknya saat ini ia mengurangi kecemasan pada diri yura.
"Aku berjanji akan terus membantu dan menjaga kalian" ucap axel dengan sangat yakin.
**
Elard sudah berada di rumah ibunya, mereka duduk di ruang tamu dan nampak mengobrol santai. sampai akhirnya elard mengeluarkan amplop coklat dari dalam tasnya.
"Ibu. ada yang ingin aku katakan kepada ibu" ucap elard dengan wajah sedikit serius.
"Ada apa nak?" tanya ibu el.
Elard membuka amplop tersebut dan mengeluarkan kertas yang berada di dalamnya.
Elard memberikan kertas itu kepada ibunya, ibu el pun mengambil dan membacanya.
"Apa maksudnya ini el?" tanya ibu el.
"Itu surat perjanjianku dengan yura pada saat kita akan menikah bu" jawab Elard.
"Ibu aku ingin memghapus perjanjian itu, aku ingin terus hidup bersama yura dan anakku.. nampaknya aku mulai mencintai yura bu. bagaimana menurut ibu?" sambung elard.
Ibu el seolah tidak percaya dengan ucapan putranya, rupanya elard telah mencintai istrinya.
Tangan ibu el bergetar dan sedikit meremas kertas itu.
"Bagaimana bu? sepetinya ibu juga sudah mulai menerima yura" tanya elard.
Ibu el mulai mencoba meredakan emosinya, ia tidak ingin terlihat buruk di hadapan putranya.
Bagaimanapun ibu el harus bisa mendapatkan kepercayaan elard.
"El. memang ibu sudah bisa menerima yura dalam kehidupan kamu. tapi bukan berarti ibu menyukainya.. ibu masih berharap kamu akan membuka hatimu untuk sifanya" kata ibu el.
"Apa yang ibu katakan!" sahut elard.
"Jangan salah paham ibu belum selesai bicara el. berhubung kamu sudah mencintai wanita itu ibu tidak bisa melakukan apa apa lagi" imbuh ibu el.
"Itu artinya ibu menerima pernikahan kami?" tanya elard antusias, dan ibu el mengengguk.
Axel langsung mengambil kertas itu dan merobeknya di hadapan ibunya. elard ingin membuktikan kepada ibunya jika dia benar benar mencintai yura.
Sedangkan ibu el hanya terbelalak, dan ia berfikir keras untuk segera melakukan tindakan.
*****
happy reading.
maaf jika masih ada typo🙏
__ADS_1