
Jauh di sana axel baru saja sampai, ia melangkahkan kakinya memasuki rumah besar miliknya.
"Sudah pulang sayang" tanya clara yang duduk di ruang tamu dan asik membaca majalah.
Axel berjalan menemui ibunya, kemudian mencium pipi clara.
"Iya bu" jawab axel.
Axel duduk di sebelah ibunya, dan melonggarkan dasi yang melingkar di lehernya.
"Kapan yura akan kemari?" tanya clara seraya meletakkan majalah di atas meja.
"Yura sedang sakit bu, ibu dengarkan aku yura bukan kekasih axel" ucap axel.
Sesungguhnya axel tidak tega mengatakan itu kepada ibunya, clara sengaja menempuh perjalan jauh karena penasaran dengan wanita yang dekat dengan putranya. itu membuat axel merasa bersalah.
"Kenapa? apa kamu masih belum bisa mencintai yura? axel sampai kapan kamu akan menyendiri sayang?" tanya clara.
Axel beranjak dari duduknya, ia enggan untuk menjelaskan lebih jauh kepada ibunya itu.
"Axel istirahat dulu bu" ucap axel dan meninggalkan ibunya.
Axel memasuki kamarnya, melepaskan kemeja yang melekat di tubuhnya.
"Bukan aku yang tidak ingin bu, tapi keadaan yang tidak mengijinkan" gumam axel.
Axel belum pernah mencintai seorang wanita sebelumnya. yura adalah wanita pertama kali yang membuat jantungnya berdebar saat bersama.
Belum sempat melabuhkan hatinya, ia sudah harus menerima kenyataan jika wanita yang akhir akhir ini mengganggu pikirannya ternyata sudah menikah.
Akan sulit bagi axel untuk mencintai wanita lain.
**
Malam ini leo kembali ke rumah sakit dengan membawa beberapa baju ganti milik elard, karena selama beberapa hari elard akan bermalam menemani istrinya di rumah sakit.
"Tuan ini barang barang anda" leo menyerahkan tas berukuran kecil kepada elard.
"bagaimana ibuku le?" tanya elard.
"Saya sudah menjelaskan tuan, dan nyonya bermaksud akan datang kemari besok pagi" jawab leo.
Elard kembali masuk ke dalam ruangan istrinya dan meletakkan tas miliknya di atas sofa.
"Apa kamu aka bermalam disini?" tanya yura kepada elard.
"Iya, tidak mungkin aku meninggalkanmu sendirian" jawab elard, tentu itu membuat yura bahagia.
Kini semenjak kehamilannya elard sudah sedikit berubah.
Meski tak ada kata cinta yang di ucapkan elard, namun perhatian elard sudah cukup menyenangkan hati yura.
"Apa kamu ingin makan sesuatu?" tanya elard.
"Iya, aku ingin makan sate yang kemarin kita beli" jawab yura, ia berharap suaminya bersedia untuk membelikannya.
__ADS_1
"Baiklah aku akan meminta leo...." kata kata elard terhenti.
"Aku ingin kamu yang membelikannya" ucap yura dengan ragu ragu.
"Apa dia yang menginginkannya?" tanya elard kemudian memegang perut yura, yura mengangguk pelan.
Dengan semangat elard mengambil jaket dan segera memakainya.
"Aku pergi dulu" ucap elard, kemudian keluar dari ruangan yura.
Yura menatap kepergian elard, ia bahagia jika suaminya itu perhatian padanya. meskipun itu mengatas namakan kandungan yura.
"Hufhh.... sangat sulit membuatnya mencintaiku" gumam yura.
"Benarkah??" tanya seorang pria yang baru saja masuk ke dalam kamar yura.
Yura menatap pria yang berdiri di dekat pintu kamarnya.
"Axel" sahut yura, ternyata yang datang adalah axel. terlihat pria itu membawa sebuah bingkisan di tangannya.
Axel berjalan mendekati yura, dan meletakkan bingkisan itu di atas meja.
"Jangan repot repot xel" ucap yura.
"Sama sekali tidak repot yura, dimana el?" tanya axel.
Ia mengedarkan pandangannya dan tidak menemukan sosok elard disana.
"Sedang keluar sebentar" jawab yura.
Sebenarnya yura sangat canggung berada berdua bersama axel saat ini.
Mereka terdiam cukup lama, kemudian axel mencoba membicarakan masalah pekerjaannya untuk mengurangi kecanggungan di antara mereka.
Setelah beberapa menit elard sudah kembali ia berjalan memasuki rumah sakit dengan membawa pesanan istrinya.
Kini elard sudah sampai di depan kamar rawat yura, ia membuka pintunya secara perlahan.
Setelah masuk elard dikejutkan dengan sosok pria yang duduk di dekat istrinya.
"Ada tamu rupanya" ucap elard, membuat mereka berdua terkejut.
Axel langsung beranjak dari duduknya dan hendak bersalaman dengan elard. namun elard mengacuhkannya.
"Kamu ingin makan sendiri atau aku suapi?" tanya elard dan meletakkan beberapa sate di atas piring.
"Aku makan sendiri" kata yura.
"Baiklah kalau begitu aku suapi saja" sahut elard.
"Bukankah aku bilang, aku akan makan sendiri" lanjut yura.
"Lihatlah tanganmu di infus, aku akan menyuapimu" ucap elard.
Sedangkan axel beralih duduk di sofa, ia tersenyum menatap elard yang terlihat sedikit lebay menurutnya.
__ADS_1
Elard mulai menyuapi yura, sesekali elard akan menatap pria yang tengah terduduk di sofa.
"Lebih baik kamu pulang saja" ucap elard kepada axel.
Axel yang sedari tadi memainkan ponselnya beralih menatap elard.
"Iya aku akan pulang sebentar lagi el" ucap axel.
Yura memperhatikan tatapan keduanya yang nampak dingin.
**apa mereka baik baik saja?** batin yura bertanya tanya.
Yura sudah menghabiskan makan malamnya, dan axel juga sudah bersiap untuk pulang.
Axel berjalan mendekati tempat tidur yura.
"Aku pulang ya, lekas sembuh" ucap axel.
Saat hendak akan menjawab tiba tiba elard memotongnya lebih dulu.
"Mulai saat ini yura berhenti bekerja di tempatmu" sahut elard.
"Apa!!!" Yura dan axel terkejut secara bersamaan.
"Tapi kenapa?" tanya yura, ia heran bukankah suaminya sudah mengijinkan dirinya untuk bekerja sampai kontrak berakhir.
"Apa kamu tidak lihat kondisimu sekarang, kamu tidak boleh kelelahan" jawab elard.
"Aku tidak pernah membebankan pekerjaan yang berat kepada yura" kata axel.
"Lalu ini apa buktinya? yura sampai harus di rawat di rumah sakit" jelas elard.
"Ini karena aku lupa tidak sarapan el, lagi pula aku masih memiliki kontrak kerja yang harus aku jalankan" kata yura, ia mencoba menolak keputusan suaminya.
Yura sudah cukup nyaman bekerja di tempat axel, selama ini axel juga sudah banyak membantunya.
Namun elard tetap pada keputusannya, ia tidak ingin yura bekerja lagi.
"Fokuslah menjaga dirimu, aku tidak ingin terjadi sesuatu kepada calon anakku karena sikap keras kepalamu" jelas elard, kini nada elard cukup tegas. itu tandanya ia tidak ingin di bantah lagi.
"Setidaknya ijinkan dia menyelasaikan kontraknya 2 bulan lagi" kata axel.
Elard dan axel saling bertatapan, dua teman yang awalnya saling mendukung kini berdiri layaknya seorang lawan.
"Aku tetap tidak mengijinkannya, aku suaminya itu tandanya aku memiliki hak atas keputusan apa pun" jawab elard.
Axel menghembuskan nafasnya kasar, untuk saat ini axel akan mengalah, karena tidak ada gunanya berdebat dengan elard dalam kondisi emosi seperti ini.
"Yura aku pergi dulu" kata axel dan yura mengangguk, axel pun keluar dari kamar rawat yura.
tinggal lah yura dan elard disana.
Yura sama sekali tidak bergeming, ia sangat kesal dengan keputusan suaminya.
Berbeda halnya dengan yura, elard nampak tersenyum puas karena tidak ada seorang pun yang membantah ucapannya. termasuk axel yang sudah berteman lama dengan dirinya.
__ADS_1
*****
happy readingš„°