
Keesokan harinya.
Seorang gadis sedang mondar mandir di koridor kampus.
Berkali kali ia melihat jam yang menempel di tangannya.
5 menit lagi gadis itu sudah harus mengikuti mata kuliah, namun ia belum juga masuk ke ruangannya.
"Sampai kapan kamu mau berdiri disini" tanya salah satu teman sekelasnya, namun gadis itu tidak menjawab.
"Lana! Apa kamu benar benar menunggu Rangga?" Tanya gadis itu lagi.
"Kalian bisa diam kan! Pergilah jangan ikut campur" jawab Lana ketus.
"Heh Lana! Harusnya kamu sadar, Rangga sudah menikah. Dan saranku kamu jangan membuat masalah dengan keluarga mereka. Bisa bisa nasib kamu akan sama dengan mahasiswa yang pernah di depak dari kampus ini" jelas gadis itu mengingatkan Lana.
Namun percuma saja, Lana tidak memperdulikan ucapan teman teman yang masih perduli kepadanya.
Sikapnya yang tidak mau bergaul dengan siapapun membuat Lana hanya bisa menyendiri dan sibuk dengan buku buku tebalnya.
"Pergilah!" Usir Lana untuk yang kedua kalinya.
Dengan perasaan kesal mereka pun pergi meninggalkan Lana yang masih setia menunggu Rangga.
Biasanya Rangga akan melewati koridor tersebut saat akan masuk ke kelasnya.
"Itu kak Rangga" ucap Lana saat melihat Rangga jalan sendirian.
"Kak... Kakak" panggil Lana.
"Hmm ada apa Lan?" Tanya Rangga.
"Aku sudah lama menunggu kakak" kata Lana sambil membenarkan kaca mata bulat dan tebal yang menempel di wajahnya.
"Bisa cepat katakan ada apa? Aku sedang buru buru" tanya Rangga.
"Ehh... Ehh iya maaf kak, ini aku membawa biskuit tadi aku membelinya lebih. Dan sekarang untuk kakak satu" kata Lana memberikan sebungkus biskuit itu kepada Rangga.
"Oke thank you" Rangga mengambilnya dan segera berlalu pergi.
"Kakak tunggu!" Panggil Lana, namun Rangga terus saja berlalu tanpa menghiraukan Lana.
Lana sedikit kesal karena Rangga tidak mengatakan apa pun lagi kepadanya.
Akhirnya gadis itu segera berlari memasuki kelasnya karena sudah terlambat.
"Bukankah itu gadis yang kemarin" ucap Nara.
Ternyata Nara tidak sengaja melihat Rangga dan Lana di koridor kampusnya.
"Sepertinya aku pernah melihat gadis itu sebelumnya, tapi dimana? Apa hanya mirip saja" Nara berfikir keras dengan gadis bernama Lana itu.
__ADS_1
Nara sadar jika gadis itu berusaha untuk mendekati suaminya, namun Nara tidak terlalu memikirkan hal itu. Karena ia yakin Rangga tidak akan tergoda dengan gadis tersebut.
***
"Rangga cepat temui aku" satu pesan masuk ke dalam ponsel Rangga, itu adalah pesan dari Noah.
Seperti biasa tanpa menunggu lama Rangga langsung bergegas pergi ke ruangan Noah, karena memang mereka berdua beda kelas.
"Ada apa Noah?" Tanya Rangga saat baru saja sampai.
"Bersiaplah, 10 menit lagi kita akan pergi ke kantor" jawab Noah.
"Kenapa mendadak? Aku masih ada jam kuliah" tanya Rangga lagi.
"Ada meeting mendadak, jadi kita harus segera kesana. Tapi sebelum berangkat aku akan menemui Keyla dan Nara" jelas Noah sambil membereskan buku bukunya.
"Baiklah, aku juga akan bersiap" setelah itu Rangga segera kembali ke kelasnya dan mengemasi barang-barangnya, sedangkan Noah terlebih dahulu pria itu pergi menemui istri dan adiknya yang sedang berada di perpustakaan.
"Baby nanti aku akan menjemputmu setelah urusanku selesai di kantor" kata Noah.
"Iya sayang aku akan menunggumu" jawab Keyla.
"Kak dimana Rangga?" Tanya Nara karena ia tidak melihat suaminya datang bersama sang kakak.
"Mungkin sebentar lagi sampai" dan ternyata benar, terlihat Rangga memasuki perpustakaan tersebut.
"Hai sayang, apakah Noah sudah mengatakan jika kita akan pergi kekantor?" Tanya Rangga saat baru saja duduk di samping Nara.
"Baiklah kalau begitu jaga dirimu, aku akan segera menjemputmu. Dan ini makanlah" Rangga memberikan sebungkus biskuit kepada Nara.
**Bukankah ini biskuit dari gadis itu** batin Nara.
Nara pura-pura tidak mengetahui mengenai pertemuan antara suaminya dan Lana tadi pagi, begitupun masalah Lana yang memberikan biskuit kepada Rangga.
Nara ingin mengetahui apakah suaminya itu akan berkata jujur kepadanya.
"Dari mana kamu mendapatkannya?" Tanya Nara.
"Tadi pagi aku bertemu Lana, dan dia memberikan ini kepadaku. Kebetulan kamu belum makan siang jadi makanlah" jawab Rangga jujur.
Nampak Nara tersenyum karena Rangga berkata jujur kepadanya.
"Terima kasih sayang" kata Nara mengambil sebungkus biskuit tersebut.
"Kalau begitu aku pergi ya, ingat jangan kemana mana dan tunggu aku menjemputmu" pesan Rangga.
"Iya suamiku sayang"
"Ehemm!!! Kalian ngobrol lama sekali, ayo cepat!" Kata Noah.
Sebelum pergi tidak lupa Noah mencium kening Keyla, karena itu sudah menjadi kebiasaannya selama ini. Tanpa mencium sang istri akan ada yang kurang baginya.
__ADS_1
Saat baru keluar dari perpustakaan Rangga bertemu dengan Lana.
sebenarnya Lana ingin pergi ke perpustakaan untuk meminjam buku.
Dengan terburu buru Lana merapikan penampilannya.
"Hai kak" sapa Lana.
"Hmm iya hai" balas Rangga.
Noah hanya diam memperhatikan gadis cupu yang berdiri di depan Rangga.
"Kak apakah... mmm kamu sudah memakannya?" tanya Lana sedikit membingungkan.
"Hmmm iya" jawab Rangga, padahal pria itu tidak tau apa yang di maksud Lana.
"Ga ayo cepat!" Noah berjalan lebih dulu.
Tanpa berpamitan Rangga segera berjalan meninggalkan Lana.
***
Setelah kepergian Noah dan Rangga, Keyla pun memutuskan untuk kembali ke kelasnya.
Gadis itu tidak lupa membawa sang adik turut bersamanya, saat baru saja beranjak dari duduknya Nara melihat seorang gadis masuk ke dalam perpustakaan tersebut siapa lagi kalau bukan Lana.
Nara terdiam sejenak kemudian ia mengingat sesuatu.
"Kak, kita tidak perlu ke kantin karena Rangga sudah memberiku biskuit ini" kata Nara sengaja menaikkan volume suaranya agar Lana bisa mendengarnya.
Karena mereka berpapasan, sehingga membuat Lana dengan jelas bisa melihat apa yang di pegang Nara.
"Baiklah, ternyata Rangga sangat romantis sampai harus membelikan biskuit itu untuk mu" jawab Keyla yang tidak tau apa apa.
"Benar sekali" jawab Nara tertawa.
"Bukankah itu biskuit yang aku berikan untuk Rangga" gumam Lana.
Lana terdiam sejenak melihat Nara keluar dari perpustakaan tersebut.
"Jadi Rangga memberikannya kepada gadis itu, keterlaluan sekali! dia tidak menghargai ku" gumam Lana lagi.
Lana mengepalkan tangannya, ingin rasanya Lana mengambil biskuit itu dan mengatakan jika itu untuk Rangga bukan untuk Nara.
Namun Lana manahan nya, karena ia tidak ingin Rangga menganggapnya gadis yang kasar.
"Tahan Lana... Bersabarlah" ucapnya lagi.
**Apa dia kesal? Apa aku sudah berhasil membuatnya sadar jika ia sudah salah mendekati Rangga** batin Nara sekilas melihat ke arah Lana.
_____
__ADS_1