Wanita Malam Milik CEO

Wanita Malam Milik CEO
DF 11


__ADS_3

Damar tersenyum melihat wajah gadis pujaannya memerah menahan malu.


Damar tidak ingin membuat suasana bersama Freya terasa canggung, ia pun mengalihkan pembicaraan.


"Bagaimana caramu meninggalkan sekolah?" Tanya Damar.


"Itu... Sebenarnya"


"Jangan jangan kamu memanjat dinding" Damar menduga duga, dan Freya mengangguk.


"Astaga... Apa yang kamu lakukan? Bagaimana jika kamu jatuh" Damar merasa khawatir.


"Tapi kenyataannya aku baik baik saja kak, sebenarnya aku ingin memastikan kamu baik baik saja" jelas Gadis itu.


Damar melihat gadisnya nampak khawatir, dan secara tiba tiba pria itu memiliki ide cemerlang untuk memanfaatkan situasi ini.


"Lengan ku sudah membaik kamu tidak perlu khawatir... Aghhh" tiba tiba Damar mengeluh sakit pada lengannya.


"Kakak kenapa? Mana yang sakit?" Tanya Freya dengan wajah khawatirnya.


"Ini ini... Lenganku sakit, sepertinya perbannya harus di ganti" jawab Damar.


"Dimana kotak perbannya?".


"Di dalam tas kerjaku".


Freya segera berlari menyambar tas berwarna hitam tersebut.


Di ambilnya kotak p3k berukuran kecil, kemudian ia mengambil perban yang baru.


"Memangnya kamu bisa?" Tanya Damar.


"Jika hanya mengganti perban, itu bukan pekerjaan yang sulit" jawab gadis itu.


Dengan pelan pelan Freya melepas perban yang lama, dan menggantinya dengan yang baru.


Freya tidak menyadari jika sedari tadi Damar memperhatikannya.


Dua hari tidak melihat wajah cantik gadisnya, itu tentu membuat damar sangat rindu.


Perhatian kecil itu membuat Damar menyunggingkan senyumnya.


Andai waktu berhenti, dia tidak ingin momen bersama Freya segera berakhir.


"Selesai" ucap Freya, membuat Damar membuyarkan pandangannya.


"Terima kasih" ucap Damar.


"Sama sama kak, sekarang aku harus kembali ke sekolah" gadis itu merapikan kotak obat tersebut.


Kemudian ia bersiap untuk kembali ke sekolahnya.


"Mobilmu dimana?" Tanya Damar.


"Di sekolah kak, tadi aku naik taxi" jawab Freya.


"Kalau begitu aku akan mengantarmu"


"Jangan kak!!! Tangan kakak belum sembuh, lebih baik aku akan kembali naik taxi" tolak Freya.

__ADS_1


"Lenganku hanya terluka, tapi tidak lumpuh. Ayo cepat!" Damar memegang tangan Freya kemudian membawanya keluar dari ruangan tersebut.


"Boss mau kemana?" Tanya pemuda yang merupakan pegawai Damar.


"Nganter istri ke sekolah" jawab Damar.


Astaga pria itu menjawab seenak tenggorokannya, tidak tau jika gadisnya sudah melotot, pipi merona menahan malu.


Di depan para pegawainya Damar menyebut dirinya istri.


"Naik motor saja boss, biar makin asoyy" goda pemuda itu tak lain adalah Johan. Namun biasanya Damar memanggilnya Jojo.


"Boleh juga, mana kunci motor" Damar meminta kunci motor kepada Jojo.


Sudah biasa Damar meminjam motor sport milik Jojo.


Jojo pun menyerahkan kunci motornya, kemudian mereka berdua berjalan menuju parkiran.


Di motor tersebut sudah ada dua helm yang bertengger di atas spion.


"Pakai helm dulu ya" Damar berniat memakaikan helm tersebut kepada Freya.


"Aku tidak suka pakai helm kak".


"Nanti kalau tidak pakai helm, di apelin polisi mau??".


"Hmmm di tilang maksudnya?" Tanya Freya.


"Iya, makannya pakai helm lagi pula sudah mulai panas" jelas Damar dan akhirnya Freya pun setuju untuk memakai Helm tersebut.


Damar pun mengemudikan motor itu dan meninggalkan cafenya.


"Cuacanya panas ya buk, makin panas kalau liyat yang uwuh uwuh" celetuk Jojo kepada Marfella yang ternyata dari tadi berdiri sambil memperhatikan Damar dan Freya.


"Lahh yang bilang ibuk panas siapa? Kan saya bilang cuacanya". Jojo tau kalau Marfella menyukai Damar.


"Nyebelin! Sana lanjut kerja" kemudian Marfella meninggalkan Jojo dengan raut wajah marah.


***


Di perjalanan mereka berdua sama sama diam tidak ada pembicaraan sedikitpun.


Freya khawatir jika lengan Damar akan semakin sakit jika di paksakan untuk mengemudi.


"Kak" panggil Freya.


"Hmmm"


"Kenapa kakak tadi bilang istri?" Tanya Freya.


"Kapaann?" Tanya Damar sedikit berteriak, karena hembusan angin membuat suara Freya terdengar samar samar.


"Waktu di cafe tadi".


"Memangnya aku tadi bilang apa?" Damar pura pura tidak tau.


Freya mendengus kesal, kakak dukun nya yang Sekarang benar benar menyebalkan.


Jika Freya menjelaskan dia pasti akan merasa malu.

__ADS_1


"Sudah lah, lupakan saja" ucap Freya dan kemudian diam seribu bahasa.


**Suatu hari nanti, kamu akan menjadi istriku** batin Damar tertawa renyah.


Hampir setengah jam akhirnya mereka sudah sampai.


Freya bergegas turun dari motor tersebut dan menghubungi ke dua sahabatnya untuk kembali membantunya masuk ke dalam sekolah.


"Lepas dulu helmnya" kata Damar karena Freya lupa melepas helm tersebut.


"Ahahaha aku lupa" dengan tergesa gesa Freya melepas helmnya.


"Kenapa mereka tidak menjawab panggilanku" gumam Freya sambil mondar mandir panik.


"Bagaimana?"


"Mereka seperti tidak memegang ponsel kak, bagaimana ini" Freya mulai panik.


Di lihatnya penjaga berdiri di gerbang sekolah tersebut.


"Bagaimana jika aku mengalihkan penjaga itu, dan saat dia lengah kamu langsung masuk" kata Damar memberikan solusi.


"Aku tidak yakin kak, penjaga itu sangat menyebalkan. Matanya berkeliaran".


"Kalau begitu kita lakukan hal yang sama seperti saat kamu keluar".


"Ma...maksud kakak?"


"Aku akan membantumu memanjat dinding" jelas Damar.


"Aahh tidak tidak kak, aku akan menunggu teman temanku" tolak Freya.


"Tidak ada waktu!" Damar menarik gadis itu pelan.


Damar memegang pinggang Freya bermaksud membantu gadis itu agar lebih mudah memanjat.


"Kakak mau ngapain?" Tanya Freya.


"Membantumu" jawab Damar.


"Ta...tapi k...kenapa harus memegang pinggangku?" Baru kali ini Freya benar benar merasa malu malu kucing saat Damar memegang pinggangnya.


"Lalu apa yang harus aku pegang?" Sial sekali, Damar malah memberikan pertanyaan yang membuat Freya merasa seperti gadis bodoh.


"Hisshh" terpaksa Freya membuang rasa malunya, ia membiarkan Damar membantunya.


Damar kembali memegang pinggang Freya dengan kedua tangannya dan mengangkat tubuh gadis itu.



Sangking bersemangatnya Damar sampai lupa jika lengannya masih terluka, beban tubuh Freya membuat lengan Damar nyeri namun pria itu masih menahannya.


Dengan susah payah akhirnya Freya berhasil melewati dinding tersebut.


"Kakak terima kasih" ucap Freya kemudian berlari meninggalkan Damar.


Belum sempat menjawab, Freya sudah meninggalkannya.


Damar merasa lega, akhirnya ia bisa mengantar pujaan hatinya sampai ke sekolah dengan selamat.

__ADS_1


Pria itupun akan segera kembali bekerja.


_____


__ADS_2