
Dua hari kemudian...
Sejak kejadian itu, Damar tidak lagi menemui Freya. Baik di rumahnya maupun di sekolah.
Bukannya tidak mau, tetapi pria itu tengah beristirahat memulihkan kesehatannya.
Pagi ini keadaan Damar sudah mulai membaik, ia pergi ke cafe untuk kembali bekerja.
"Pagi pak" sapa Marfella.
"Pagi" balas Damar pelan.
Wajah itu masih terlihat pucat, langkahnya sedikit lemas karena kepalanya yang masih terasa pusing.
"Jika bapak masih sakit, lebih baik jangan bekerja dulu" kata Marfella lagi.
"Aku sudah membaik, dua hari aku meninggalkan cafe" jelas Damar.
Kemudian pria itu berjalan menuju ruangannya di lantai atas.
Para pegawai cafe itu merasa cemas dengan keadaan Damar.
Pasalnya mereka tidak tau sang boss sebenarnya sakit apa.
Damar duduk di kursi kerjanya, baru saja menyandarkan tubuhnya ponsel Damar berdering.
"Saya sudah sampai pak" ucap seorang pria di balik panggilan tersebut.
"Baguslah, hubungi aku jika terjadi sesuatu" ucap Damar kemudian mengakhiri panggilannya.
Ternyata pria itu tidak meninggalkan Freya sendirian.
Semenjak kejadian buruk yang menimpa gadis pujaan hatinya, kini Damar lebih berhati hati dalam menjaga Freya.
Pria itu meminta salah satu pegawainya untuk menjaga Freya selama ia masih sakit.
Setiap hari Damar akan mendapatkan laporan tentang kondisi Freya.
"Pak saya membawa kopi untuk bapak" Marfella mengetuk pintu ruangan Damar kemudian masuk.
Wanita itu meletakkan secangkir kopi di atas meja Damar.
"Terima kasih"
Damar masih terdiam dengan mata tertutup, masih malas untuk melakukan aktivitas di saat kondisinya belum stabil.
"Tangan bapak kenapa?" Tanya Fella saat ia melihat lengan Damar yang di balut perban.
"Aku baik baik saja, lanjutkan saja pekerjaanmu" jawab Damar.
"Tapi pak..."
"Fella... Aku mohon, lanjutkan saja pekerjaanmu!".
"Baik pak, saya permisi" kemudian Marfella keluar dari ruangan itu dengan perasaan khawatir.
"Semenjak pak Damar mengenal gadis itu, pak Damar mulai banyak berubah" gumam Marfella menuruni tangga.
Di waktu yang sama, Freya sedang berada di sekolah.
Jadwal pagi ini adalah olah raga, selesai mengganti pakaian semua murid di minta untuk berkumpul di lapangan.
"Frey! Kenapa kamu melamun? Apa yang kamu pikirkan?" Tanya Cindy.
Karena selama olah raga berlangsung nampaknya Freya sama sekali tidak fokus, ia menggerakkan tubuhnya dengan malas.
"Ntahlah " jawabnya singkat.
Sebenarnya dua hari ini Freya merasa cemas, Damar yang selalu mengganggu hari harinya sudah tidak terlihat lagi.
Freya cemas karena semenjak Damar membantunya, gadis itu tidak lagi mendapatkan kabar.
"Lila, Cindy aku butuh bantuan" bisik Freya kepada ke dua sahabatnya.
Beberapa menit kemudian.
"Dikit lagi dikit lagi" kata Freya.
__ADS_1
"Buruan Frey... Punggung ku sakit" rengek Lila yang membungkuk, sedangkan Cindy menjadi mata mata apa bila ada yang melihat aksi mereka.
Rupanya Freya ingin meninggalkan sekolahnya, ia meminta bantuan ke dua sahabatnya.
Tidak mungkin Freya melawati gerbang yang sudah di jaga oleh penjaga menyebalkan itu.
Terpaksa Freya memanjat dinding sekolah tersebut.
Sudah pasti Lila yang menjadi korbannya, gadis malang itu harus membungkuk menjadi pijakan Freya memanjat dinding.
Untung saja Freya memakai seragam olah raga, jika ia memakai rok sudah pasti akan robek kemana mana.
BRUKK!!!!
Dan akhirnya berhasil, gadis itu sudah melewati dinding yang lumayan tinggi.
"Frey hati hati, dan lekas kembali" kata Cindy.
Sedangkan Lila mencoba memperbaiki pinggangnya yang terasa seperti ingin patah.
"Lila, Cindy terima kasih ya... Aku akan segera kembali" kata Freya.
"Iya iya pergilah cepat".
Kemudian Freya segera berlari meninggalkan sekolah tersebut.
"Sebenarnya dia mau kemana?" Tanya Cindy.
"Aku juga tidak tau, bukankah dia hanya bilang ada urusan penting. Sudahlah kita kembali ke lapangan" kemudian kedua gadis itu segera kembali menuju lapangan.
Cindy dan Lila berusaha kembali ke barisannya.
"Hei kalian berdua dari mana?" Tanya guru olah raga tersebut.
"Ehh itu pak, kita habis dari toilet" jawab Cindy beralasan.
"Ketoilet kok keringetan? Kenapa tidak ijin?" Tanya guru itu lagi.
"Sebenarnya tadi sudah tidak bisa di tahan pak, jadi kami buru buru dan berlari menuju toilet" jelas Lila beralasan.
Namun karena wajah dua bocah itu terlihat panik, maka membuat guru olah raga tersebut curiga dan tidak percaya.
"Tidak pak."
"Sudah jangan berbohong!! Sekarang lari keliling lapangan tiga kali" perintah guru tersebut.
"What!!!" Mereka berdua membulatkan matanya terkejut.
Terutama Lila, belum sembuh pinggangnya kini ia harus berlari keliling lapangan.
"Kenapa aku harus mendapat penderitaan seberat ini" kata Lila memelas.
"Ishh... Berlebihan, lebih baik kita lari sekarang" kata Cindy.
***
Freya sudah berada di dalam Taxi.
Ia hendak menuju cafe dimana Damar bekerja, karena gadis itu tidak tau rumah Damar.
Freya pun sudah sampai, ia turun dari taxi tersebut dan memperhatikan sekitar.
Terlihat mobil Damar terparkir disana.
"Tunggu! Setelah ini apa yang akan aku katakan? Bagaimana jika dia salah paham?"
"Tidak tidak!!! Bagaimana pun juga aku harus melihat kondisinya, ini semua karena kak Damar sudah membantuku".
"Tapi..." Freya berperang dengan perasaannya sendiri, ia ragu ragu untuk masuk ke dalam Cafe itu.
Sampai akhirnya Freya yakin dan ia segera melangkah memasuki Cafe.
Namun jalannya terhadang oleh Marfella.
"Untuk apa kamu kesini?" Tanya Fella.
"Mmmm bukankah ini Cafe, mengapa kakak masih bertanya" jawab Freya.
__ADS_1
"Kalau tujuan kamu kesini untuk bertemu pak Damar lebih baik kamu urungkan saja. Karena pak Damar tidak ingin bertemu denganmu" kata Marfella dengan pandangan sinis tidak suka.
"Kak Damar tidak mau bertemu denganku?" Freya memastikan.
"Iya! Lebih baik kamu pergi!"
"Aku mau bertemu kak Damar, jika memang dia tidak mau bertemu dengan ku. Biarkan kak Damar sendiri yang mengusirku" Freya menolak untuk pergi, ia masih bersikeras untuk menemui Damar.
"Jangan memaksa!! Pergi" usir Marfella lagi.
"Fella!!!" Damar yang sudah berdiri di tangga berteriak.
"Pak D...damar" Marfella melihat ke arah Damar dengan rasa gugup.
Sedangkan Freya hanya melihat Damar dari kejauhan.
Dengan tatapan sayu, Freya memperhatikan Damar dari atas sampai bawah.
Dan pandangannya terhenti di lengan Damar yang terbalut perban.
"Cara bicaramu sangat kasar Fella" kata Damar.
"Maaf pak, tapi..."
"Minggir! Biarkan dia masuk" perintah Damar.
"Pak gadis ini..." Ucapan Fella lagi lagi terhenti.
"Minggir!!" Kata Damar, kemudian pria itu menaiki tangga kembali ke ruangannya.
"Hufhh" Freya menarik nafasnya panjang, kemudian berjalan melewati Marfella.
Perdebatan mereka sempat mencuri perhatian pengunjung yang berada di sana.
Damar sudah berada di ruangannya, pria itu duduk di sebuah sofa dan di ikuti oleh Freya yang baru saja memasuki ruangan itu.
"Duduklah, kamu mau minum apa?" Tanya Damar.
Freya tidak menjawab, gadis itu merasa bersalah melihat kondisi Damar.
"Freya..." Panggil Damar pelan.
"Ehh iya kak".
"Kamu mau minum apa? Atau mau sarapan?" Tawar pria itu, karena jam masih menunjukkan pukul sembilan pagi.
"Tidak kak" Freya menolak.
"Kamu bolos?"
"Pagi ini pelajaran olah raga, aku tidak ingin mengikutinya" jawab Freya bingung.
"Kenapa tidak istirahat di ruang kesehatan, kenapa kamu jauh jauh datang kesini?" Tanya Damar lagi.
"Sebenarnya aku ingin melihat keadaanmu, maksudku tangan itu..." Freya melihat ke arah lengan Damar.
"Ahh ini sudah baik baik saja, kamu tidak perlu khawatir".
"Dua hari aku tidak melihat kakak di sekolah". Freya menundukkan kepalanya.
"Selama dua hari itu aku belajar untuk tidak menemui mu" jawab Damar.
Tentu itu tidak mungkin, pria itu hanya ingin melihat bagaimana reaksi Freya mendengarnya.
"Lalu? Apa sekarang kakak sudah terbiasa tidak menemui ku?".
Damar merubah posisi duduknya, ia mendekati Freya dan menatap wajahnya.
"Gagal... aku tidak bisa melakukannya" jawab Damar.
Jantung gadis itu seperti akan lompat saat wajah mereka sangat dekat.
"Aku tidak bisa jika tidak terus mengganggumu" ucap Damar lagi kemudian tanpa persiapan langsung mencium kening Freya.
"Kakak!!" Freya mendorong tubuh pria itu untuk menjauhinya.
__ADS_1
______