Wanita Malam Milik CEO

Wanita Malam Milik CEO
DF 05


__ADS_3

**Oke ini yang terakhir, semoga besok dan seterusnya aku tidak lagi bertemu dengannya** batin Freya.


Tidak ada pilihan lain, jika Axel dan Jeny yang meminta Damar untuk ikut. Maka Freya akan menyetujui hal itu.


"Kamu naik motor nak?" Tanya Jeny.


"Iya bibi, aku membawa motor" jawab Damar saat mereka sudah berada di area parkir apartemen tersebut.


"Kalau begitu lebih baik Freya berangkat bersama Damar, jadi Damar tidak sendirian" saran Jeny.


"Tidak Mom, aku akan naik mobil bersama Daddy. Jika dia memaksa ikut biarkan saja naik motor sendiri" jawab Freya ketus kemudian masuk ke dalam mobil Axel.


"Damar... Apa yang baru saja di katakan Freya jangan di ambil hati" kata Jeny merasa tidak enak.


"Tidak masalah bibi, aku akan mengikuti dari belakang" jawab Damar tersenyum.


Tidak masalah jika Freya menolak berangkat bersamanya.


Ini baru awal, untuk selanjutnya Damar akan berusaha lebih keras lagi.


Mereka pun mengemudikan kendaraannya masing masing, menuju sebuah rumah makan sederhana bernuansa tradisional.


Terlihat hamparan hijau yang sangat asri, dulu Jeny dan Axel sering menghabiskan waktu berliburnya disana.


Mereka bebas membeli ikan apa pun kemudian membakarnya dengan bumbu yang sudah di sediakan.


Mereka memarkirkan kendaraannya di sebuah lahan kosong tepat di samping rumah makan tersebut.


Ini kali pertama Damar datang ke tempat itu.


Ia tidak menyangka pengusaha sukses seperti Axel masih mau berkunjung ke tempat sederhana seperti itu.


"Paman, apa ini tempatnya?" Tanya Damar kepada Axel.


"Iya, ini tempat makan favorit paman bersama bibi dulu saat masih muda hahaha" jawab Axel sambil terkekeh mengingat masa mudanya.


Freya memperhatikan Daddy dan Damar yang entah mulai kapan nampak begitu akrab.


"Kita mau terus berdiri disini?" Tanya Freya sedikit kesal.


"Iya iya ayo kita masuk, sepertinya Freya sudah sangat lapar" sahut Jeny.


Freya berjalan lebih dulu memasuki rumah makan tersebut.


Mereka mulai memilih ikan apa saja yang akan menjadi santapan bersama.


Beberapa menit kemudian mereka mulai membakar ikan itu.


"Bibi silahkan duduk saja, aku yang akan membakar ikannya" kata Damar, anggap saja pria itu belajar untuk mengurus calon mertuanya.


"Sayang, biarkan Damar dan Freya yang melakukannya" kata Jeny kepada sang suami.


"Apa tujuan kakak sebenarnya?" Tanya Freya pelan sambil mengoles ikan tersebut.


"Membakar ikan ini sampai matang" jawab Damar asal.


"Kak!!"


"Aku serius! Apa tujuanmu datang kerumahku?" Tanya Freya serius.

__ADS_1


Sedangkan Damar masih fokus mengipas ngipas ikan tersebut.


"Aku hanya ingin bertemu orang tuamu, memastikan semuanya baik baik saja" jawab Damar.


"Semua baik baik saja, akan lebih baik jika kakak tidak melakukan ini semua!" Jelas Freya.


"Wahh kamu belum mengoles yang bagian sini, capat ratakan bumbunya" Damar mencari topik yang lain.


"Kakak!!!"


"Stttt.... Masih pagi, kenapa kamu sangat bawel" Damar meletakkan jari telunjuknya di bibir Freya.


Membuat gadis itu seketika terdiam.


Axel diam diam tersenyum melihat pertengkaran Freya dan Damar.


Sudah sangat lama Freya tidak pernah menampakkan ekspresi sekesal itu.


Axel berharap jika Damar mampu membuat putrinya kembali ceria seperti dulu, di saat belum mengenal Noah.


"Apa yang kamu pikirkan?" Tanya Jeny.


"Aku senang, jika putri kita bisa membuka dirinya untuk pria lain. Meskipun tidak berpacaran. Setidaknya dia memiliki teman untuk berbagi suka dukanya" jelas Axel menatap ke arah Freya.


***


"Yang ini belum matang kak! Sini biar aku yang mengipas nya" Freya mengulurkan tangannya, meminta kipas yang di pegang Damar.


"Memangnya kamu bisa?"


"Hissh!!! Berikan saja kipas itu kepadaku, aku bisa melakukannya" Freya menantang.


Damar memperhatikan Freya mengipas dengan tenaga ekstra.


Peluhnya mulai bercucuran.


"Uhuk... Uhukk... Uhukk" asap mulai mengepul membuat gadis itu batuk tidak karuan.


"Hahahahaha.... Apa yang kamu lakukan gadis kecil. Bukannya matang, kamu malah membuat asap tebal hahahaha" ejek Damar yang tidak bisa menahan tawa saat melihat Freya menahan sesak akibat ulahnya sendiri.


Freya mengigit bibir bawahnya, wajah gadis itu memerah menahan malu.


"Berikan padaku" Damar meminta kembali kipas yang di pegang Freya.


Namun saat akan mengambilnya, tanpa sengaja Damar menatap wajah Freya yang memerah.


Bibir itu... Bibir itu berhasil membuat Damar terdiam sejenak, kemudian ia sadar dari lamunannya.


"Ehemm!! Duduklah, biar aku yang menyelesaikannya" Ucap Damar dan Freya hanya mengangguk kemudian pergi duduk bersama ke dua orang tuanya.


"Sial!! Kenapa dia bisa seimut itu saat sedang malu" gerutu Damar.


Semuanya sudah siap, setelah penuh perjuangan akhirnya mereka bisa sarapan bersama.


***


Jam menunjukkan pukul 11.00.


Sedangkan di tempat lain.

__ADS_1


Noah tengah menangani pasien di rumah sakit miliknya sendiri.


Semenjak menjadi dokter, jadwal Noah lebih padat di bandingkan ia menjadi seorang CEO di kantor ayahnya.


Di tambah lagi pasien yang terus berdatangan, ada yang benar benar sakit dan ada juga yang sekedar control kesehatannya.


"Pagi Dok" salah seorang pasien yang baru masuk menyapa Noah.


"Pagi, silahkan duduk" jawab Noah tanpa melihat pasien tersebut.


Saat pasien itu mulai duduk, Noah pun menatapnya.


Noah memperhatikan wanita yang berumur sekitar 30 tahunan tentu usia wanita itu lebih tua dari Noah.


"Maaf, bukankah ibu kemarin sudah datang untuk control?" Tanya Noah.


"Ehh iya Dokter, saat bangun tidur saya merasa pusing itu sebabnya saya kembali datang" ucap wanita itu beralasan.


Noah sampai hafal wajah wajah pasien yang sering menemuinya.


Mereka yang sudah di tangani oleh Noah, akan kembali lagi untuk beralasan control kesehatan.


Di sisi lain pasien pasien tersebut hanya ingin bertemu Dokter muda yang sangat tampan.


Noah menarik nafasnya panjang.


"Baik bu, suster Anggi akan memeriksa anda" kata Noah kemudian memanggil Anggi untuk memeriksa pasien tersebut.


"Jangan Dok, saya lebih cocok kalau Dokter langsung yang memeriksanya" ucap pasien itu sambil senyum senyum tidak jelas.



"Sabar Dok" kata Anggi menahan senyum.


Noah pun memeriksa pasien tersebut.


"Ibu sudah sehat, sehingga tidak perlu datang kemari lagi" ucap Noah setelah memeriksa keadaan pasien tersebut.


"Apa tidak salah Dok? Saya sering pusing" tanya wanita itu.


"Jika ibu masih mengalami pusing, saya sarankan ibu untuk pergi berlibur bersama anak dan suami ibu. Mungkin ibu butuh suasana baru" jelas Noah.


"Ehhh" pasien tersebut kehilangan kata kata.


Mungkin ini terakhir kali ia akan bertemu Noah.


"Ba..baik Dok terima kasih" ucap pasien itu kemudian keluar dari ruangan Noah.


"Hufhhh" Noah membuang nafasnya panjang.


"Hahahahaha bagaimana kamu bisa bicara seperti itu Dok" ucap Anggi.


"Entahlah, aku tau mereka sehat tetapi memaksa untuk di periksa" jawab Noah.


"Mungkin karena kamu terlalu tampan, sehingga mereka mencari cara untuk bertemu denganmu" jelas Anggi.


Anggi adalah teman SMA Noah. Mereka bertemu kembali saat Noah menjalani praktek kedokterannya.


"Sudah waktunya makan siang, lebih baik kita pergi ke kantin" kata Anggi dan Noah setuju.

__ADS_1


_____


__ADS_2