
Hari berganti hari setelah kejadian di mall Yura sudah tidak pernah keluar dari rumahnya, ia menghabiskan waktu di dalam rumah. jika menginginkan sesuatu Yura akan memesannya secara Online.
Ia melakukan itu karena takut kejadian yang sama akan terulang kembali.
Sesekali Yura akan melakukan panggilan Vidio dengan Elard, pada saat itulah Yura merasa tenang.
Tak lupa Axel dan Leo terus berusaha menyelidiki siapa yang sudah menceritakan masa lalu Yura, sudah genap satu minggu namun mereka belum juga mendapatkannya.
Di saat yura tengah asik memaikan ponselnya terdengar suara ibunya memanggil dari bawah.
"Ada apa ibu berteriak memanggilku" gumam Yura.
Kemudian wanita itu segera turun menghampiri ibunya.
Yura menuruni tangga secara perlahan karena perutnya yang sudah membesar mambuatnya kesulitan untuk berjalan lebih cepat.
"Ada apa bu?" tanya Yura.
"Kemarilah nak" panggil ibu El yang terlihat sangat panik.
Yura pun duduk di samping ibu mertuannya yang tengah menonton TV.
"Kenapa ibunya sepertinya panik?" tanya Yura lagi.
"Lihatlah pria itu, mengapa dia menyebut namamu dan menunjukkan foto saat dia bersamamu" ucap ibu El sambil menunjuk TV yang ada di depannya.
Yura pun melihat ke arah TV, Yura sedikit mengernyitkan dahinya saat melihat orang yang ia kenal tayang di TV.
"Paman" dengan spontan Yura menyebut pamannya.
"Paman? maksudnya dia pamanmu?" tanya ibu El.
"I..iya ibu dia pamanku, kenapa bisa paman masuk TV" ucap Yura sedikit khawatir.
"Entahlah dari tadi pria itu menyebut namanu" kata ibu El.
Ibu El pun menaikkan volume TV tersebut.
"Selamat pagi semua.... sebenarnya saya ingin mencari keponakan saya yang hilang sekitar 10 bulan yang lalu, dan akhirnya saya menemukannya. namun ternyata keponakan saya tidak ingin menemui saya lagi" ucap paman Yura di depan para wartawan.
__ADS_1
"Bisa anda jelaskan kepada kami pak? dan kami dengar ini semua ada hubungannya dengan pengusaha terkenal dari keluarga Desmon?" tanya salah satu wartawan.
"Tidak!! apa yang paman lakukan" ucap Yura yang sudah mulai panik.
"Iya saya akan menceritakan semuanya. keponakan saya bernama Yura Vradisty, saat orang tuanya meninggal saya dan istri saya merawatnya, sampai ia lulus SMA saya juga yang mengurus kebutuhannya... sampai akhirnya dia bekerja di suatu hiburan malam" Jelas paman Yura.
Dada Yura serasa dihantam sesuatu dengan sangat keras, ia memegang dadanya yang terasa sakit.
"Kamu baik baik saja nak?" tanya ibu El.
"Ibu..." lirih Yura kemudian kembali menatap TV.
"Saya sudah melarangnya untuk tidak bekerja disana, sampai pada akhirnya dia bertemu dengan tuan Elard. menurut info yang saya dapatkan Keponakan saya sengaja menggoda Tuan Elard ia sengaja masuk ke dalam mobilnya, dan selebihnya saya tidak tau apa yang terjadi. saya sempat bertemu dia dan saya lihat dia sudah hamil besar, saya selaku pamannya tidak tau jika mereka sudah menikah. mungkin mereka menikah diam diam karena keponakan saya hamil di duluan. saya sangat sedih itu berarti pernikahannya tidak sah" jelas paman Yura panjang lebar.
"Lalu setelah itu apa yang terjadi pak?" tanya wartawan lagi
Arkam kembali menatap kamera, kini ia memasang wajah sedihnya agar mereka semua percaya dengan cerita yang ia buat.
"Lalu saya ingin membawanya pulang, tapi dia tidak mau. dia mengatakan jika hidupnya kini sudah nyaman. dia sudah menjadi nyonya dari pengusaha terkaya di Indonesia. saya memperingatinya untuk berhenti melakukan kejahatannya lagi dengan memanfaatkan pria pria kaya" sambung Arkam.
Kebohongan demi kebohongan terus ia ucapkan di hadapan wartawan, karena itu merupakan siaran langsung maka jutaan orang banyak menontonnya dan beranggapan bahwa kebohongan itu merupakan suatu kebenaran
"Jelaskan kepada ibu, apa benar yang dia katakan?" tanya ibu El.
"Tidak bu, itu tidak benar" jawab Yura yang sudah mulai terisak.
Yura menjelaskan yang sebenarnya terjadi, ia tidak ingin ibunya ikut terprofokasi oleh ucapan pamannya.
"Ibu masuk kekamar dulu, jangan ceritakan ini kepada El. ibu tidak ingin ia mengetahui ini semua dan membuatnya semakin sedih" ucap ibu El kemudian pergi meninggalkan Yura.
"Ibu tunggu" ucap Yura.
Namun ibu mertuanya tetep saja berlalu meninggalkannya.
Meskipun Yura sudah menjelaskan kebenaran itu, ia sangat tau jika ibu El pasti tetap saja kecewa dan kepikiran dengan ucapan pamannya.
Tak hanya mereka yang terkejut dengan pemberitaan itu.
Axel dan ibunya yang sedari tadi menonton siaran itu pun juga sangat terkejut.
__ADS_1
"Brengsek!!" umpat Axel dan membanting remot TV nya.
"Sayang apa yang dikatakan pria itu benar?" tanya Clara.
"Tentu tidak bu, Yura bukan wanita seperti itu. pamannya lah yang salah dalam hal ini" jawab Axel dengan penuh kemarahan.
"Astaga nak, jika benar maka Yura pasti sangat terpukul. bukankah ia sedang hamil" ucap Clara.
Axel yang mulai panik mengambil ponselnya dan menghubungi Yura.
Namun lebih 3 kali Yura tak kunjung mengangkat panggilannya.
"Dia tidak menjawabnya bu" kata Axel.
"Ibu sangat khawatir nak, kamu hubungi saja asisten itu" saran Clara.
"Ibu benar" sahut Axel.
Axel langsung menghubungi Leo.
Ternyata Leo juga sudah melihat berita tersebut, karena khawatir pada saat itu juga Leo datang melihat kondisi Yura. namun kata Nita, Yura sudah beristirahat dikamarnya.
Setelah mendengar penjelasan Leo, Axel pun mengakhiri panggilannya.
Ia sedikit lega karena setidaknya wanita itu baik baik saja.
"Bagaimana nak?" tanya Clara.
"Yura sudah tidur bu. mungkin besok aku akan menemuinya" jawab Axel.
"Iya nak itu lebih baik, ibu tidak tega melihat dia sampai bersedih" kata Clara.
**Pria brengsek!!! jika terjadi sesuatu dengan Yura aku pastikan sebentar lagi kau akan kehilangan nyawamu** batin Axel.
Pria itu tidak akan tinggal diam jika sesuatu terjadi kepada Yura, baginya Yura tetaplah wanita yang spesial di hatinya.
Sampai detik ini tidak ada yang biaa menggantikan dirinya.
*****
__ADS_1
happy readingš„°