
Noah dan Keyla pun duduk di bangku yang sudah di sediakan sambil menunggu kedua adiknya tersebut.
Namun hingga cukup lama mereka menunggu rupanya Rangga dan Nara tidak kunjung datang.
"Bisakah kamu membantuku untuk memanggil Rangga? Aku takut mereka belum bangun" tanya Noah kepada salah satu anak buahnya.
"Siap tuan" dengan sigap dan langkah pasti anak buah tersebut hendak pergi memanggil Rangga dan Nara.
Namun langka pria itu terhenti, ia melihat Rangga dan Nara yang berjalan ke arahnya.
"Maaf tuan, tuan Rangga sudah tiba" kata pria itu.
"Oke, kamu boleh pergi" jawab Noah dan pria itu dengan sopan pergi meninggalkan Noah dan Keyla.
"Pagi kakak..." Sapa Nara dengan senyuman termanisnya.
"Pagi juga Nara" jawab Keyla.
"Duduklah" sambung Keyla kemudian Rangga dan Nara segera duduk.
Nara yang tidak mengetahui apa apa terlihat santai, berbeda dengan Rangga.
Pria itu menatap Noah dengan tajam, ia masih mengingat bagaimana kakak iparnya itu membuat istrinya ganas pada malam pertama.
"Kenapa kamu melihatku seperti itu?" Tanya Noah tanpa bersalah.
Keyla menatap Noah dan Rangga secara bergiliran, seperti mencurigai ada sesuatu di antara mereka berdua sebenarnya Keyla sangat penasaran dengan apa yang terjadi semalam yang membuat Noah dan Rangga sempat berdebat.
"Sayang kenapa kamu menatap kakakku seperti itu?" Tanya Nara kepada Rangga.
"Tidak sayang, hanya saja sepertinya pagi ini Noah terlihat tampan" jawab Rangga ngawur.
Seketika jawaban Rangga membuat mereka semua tersedak dan seolah tidak percaya.
"Apa maksudmu? Jangan katakan jika kamu menyukaiku" ucap Noah sambil melotot.
"Tidak!! Mana mungkin seperti itu, aku masih normal dan hanya Nara yang aku sukai" jawab Rangga.
"Baguslah, kamu mengatakan aku tampan itu terdengar sangat geli" balas Noah.
"Apa aku mengatakan kamu tampan?"
"Iya baru saja kamu mengatakannya".
"Astaga hentikan! Sampai kapan kalian akan bertengkar, lebih baik kita sarapan" ucap Nara.
Sebenarnya Noah sangat ingin berbuat usil kepada Rangga dan Nara. Namun ternyata pagi ini dirinyalah yang dibuat kesal oleh ulah Rangga akhirnya Noah mengurungkan niatnya dan mereka berempat pun sarapan. Sambil menikmati suasana di pinggir pantai.
Jam sudah menunjukkan pukul 10 pagi Noah dan Keyla sudah bersiap untuk pergi ke tempat tinggal Dona.
Yang akan pergi kesana hanyalah Noah dan Keyla saja.
"Apa kamu sudah siap?" Tanya Noah.
"Sudah sayang" jawab Keyla sambil merapikan rambutnya di depan cermin.
Mereka segera masuk ke dalam mobil, dan Noah mengemudikan mobilnya sesuai alamat yang di berikan Dona.
Kebetulan Hari ini Dona libur, sehingga Keyla bisa bertemu Dona dan ibu kandungnya.
Di perjalanan Keyla hanya diam saja, beberapa kali Noah memperhatikan istrinya itu.
__ADS_1
"Apa yang kamu fikirkan?" Tanya Noah.
"Aku bingung apa yang harus aku katakan setelah bertemu dengan mama" jawab Keyla.
"Santai saja Baby, semua sudah berlalu. Bersikaplah biasa saja" tutur Noah.
Jujur saja setelah Kejadian beberapa tahun yang lalu, membuat Keyla sedikit canggung jika harus bertemu dengan ibu kandungnya kembali.
Bahkan saat Vivian pergi ke luar negeri wanita itu tidak pernah lagi menghubungi Keyla, itulah sebabnya jarak antara ibu dan anak semakin renggang.
Setelah beberapa menit akhirnya mereka sampai.
Noah menghentikan mobilnya di sebuah pekarangan yang tidak terlalu luas.
Mereka segera turun dari mobil tersebut.
Dengan mata berkaca-kaca Keyla memperhatikan setiap sudut bangunan tersebut, kontrakan yang berukuran tidak terlalu besar itu membuat Keyla merasa sedih bagaimana bisa ibunya yang sedang sakit tinggal di bangunan kumuh seperti itu.
Bukan karena tidak pernah dibersihkan namun pondasi rumah tersebut sudah rapuh sehingga kapan saja bisa roboh.
"Benarkah ini rumahnya?" Tanya Keyla tidak percaya.
"Iya By, sesuai dengan alamat yang di berikan Dona" jawab Noah.
"Sayang, tapi apa kamu tidak salah? Rumah ini..." Keyla menghentikan ucapannya saat ia melihat Dona keluar dari rumah itu dan memegang kantung sampah di tangannya.
Rupanya benar ini adalah rumah dimana ibunya yang sedang sakit tinggal.
"Dona" ucap Keyla pelan.
Setelah membuang kantong sampah tersebut Dona hendak masuk kembali ke dalam rumahnya, namun langkahnya terhenti saat ia melihat sebuah mobil terparkir cantik di halaman tersebut pandangan Dona langsung tertuju kepada Noah dan Keyla.
"Noah Key" sahut Dona.
"Kamu tinggal disini?" Tanya Keyla.
"I..iya, ini adalah kontrakan ku. Memang tidak terlalu bagus" jawab Dona.
"Dimana mama?" Tanya Keyla.
"Didalam, masuklah" Dona membawa Keyla serta Noah masuk kedalam rumahnya.
Tidak ada ruang tamu di sana, hanya ada ruangan kosong beralaskan tikar.
Serta 1 kamar yang masih tertutup.
"Minumlah, aku hanya punya air putih" kata Dona sambil meletakkan dua gelas air putih di atas tikar tersebut.
"Dona, tunjukkan dimana kamar mama aku ingin menemuinya" kata Keyla, wanita itu tidak sabar untuk segera menemui ibunya. Dona menarik nafasnya panjang.
"Baiklah, ikut aku menemui mama yang sedang istirahat" kata Dona.
Mereka bertiga menuju kamar yang sedari tadi pintunya tertutup.
Dona pun membuka pintu tersebut.
Sekalinya pintu itu terbuka, pandangan Keyla langsung tertuju kepada sosok wanita paruh baya yang terbujur lemas di atas tempat tidur tipisnya itu.
Iya itu adalah Vivian, ibu kandung Keyla.
Wanita yang dulu terlihat cantik berisi kini berubah sangat kurus dan lemas.
__ADS_1
Bahkan untuk menggerakkan tangannya saja ia tidak mampu.
Bibir Keyla bergetar melihat ibunya yang sedang tertidur tidak berdaya.
Tempat tidur dengan spons tipis menjadi alas tubuh wanita paruh baya itu.
Bagaimana bisa ia hidup nyaman tidur di kasur empuk sedangkan ibunya harus merasakan kerasnya tempat tidur itu.
Kehidupan Vivian berputar terbalik dari kehidupannya dulu.
"Mama" panggil Keyla.
Keyla berjalan pelan mendekati ibunya, Keyla memperhatikan wajah Vivian dimana di sekitar matanya terlihat hitam dan wajah pucatnya.
"Mama" panggil Keyla lagi.
Dengan susah payah Vivian mencoba membuka matanya.
Pandangannya kabur, tidak bisa melihat dengan jelas siapa yang ada di sekitarnya.
"Do..dona" panggilnya lirih.
"Iya ma" Dona kemudian mendekati Vivian.
"Apa kamu membawa seseorang kemari?" Tanya Vivian karena ia melihat beberapa orang lagi berada di kamarnya.
"Ma... Seseorang yang duduk di sebelah mama, dia... Dia adalah Keyla" jawab Dona.
"Keyla??"
"Iya ma" Dona membenarkan.
Seketika wanita paruh baya itu meneteskan air matanya saat nama putri kandungnya di sebut.
"Key... Itu kamu nak?" Tanya Vivian.
"Iya mama, ini Key. Aku disini di samping mama" jawab Keyla seraya memegang tangan Vivian dan menciumi tangan tersebut.
"Nak kamu disini? Mama sangat merindukanmu" kata Vivian terbata bata.
"Iya ma, Key disini maafkan aku yang tidak bisa merawat mama. Maafkan aku yang membuat mama tinggal di tempat seperti ini" ucap Keyla tanpa bisa menahan air matanya.
Noah tidak bisa mencegah istrinya itu untuk menumpahkan kesedihannya.
Ia tau bagaimana perasaan Keyla saat ini.
Namun Noah selalu setia menemani Keyla, pria itu hanya bisa mengusap lembut punggung Keyla agar sang istri lebih bersabar.
"Tidak perlu meminta maaf nak, karena mama yang salah. Ini hukuman untuk mama karena selama ini bersikap buruk kepadamu" kata Vivian.
"Mama jangan bicara seperti itu, aku dan Noah akan segera membawa mama kerumah sakit dan mama akan segera sembuh" jawab Keyla.
"Noah cepat bawa mama kerumah sakit" ucap Keyla.
"Iya Baby kamu tenanglah" jawab Noah.
"Tidak nak! Tidak perlu mama tidak akan kemana mana" jawab Vivan menolak.
"Kenapa ma? Biarkan Noah dan Keyla membawa mama berobat, selama ini Dona belum bisa membawa mama kerumah sakit" tanya Dona heran.
Namun Vivian hanya bisa menggelengkan kepalanya, tanda ia benar benar tidak mau di bawa kerumah sakit.
__ADS_1
_____