
Keesokan harinya..
Pagi ini Damar sedang menyelesaikan pekerjaannya di Cafe, seperti kemarin Damar masih bersikap dingin dan tidak banyak bicara terhadap pegawainya.
Pria itu terus saja fokus bekerja dan bekerja, sampai ia tidak memperdulikan dirinya sudah makan atau belum.
Dan di sisi lain Damar tidak mengetahui jika hari ini gadisnya akan pergi ke Amerika.
Beberapa menit kemudian Marfella masuk ke ruangan Damar.
"Permisi pak" kata Marfella.
"Iya, ada apa?" tanya Damar.
"Di bawah ada teman bapak yang ingin bertemu".
"Siapa?" tanya damar lagi.
"Kalau tidak salah namanya Noah dan Rangga pak" jawab marfella.
Tumben sekali sahabatnya itu datang menemuinya di cafe.
"Kenapa Noah tidak memberitahuku?" ucap Damar sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Bawa mereka berdua kemari" perintah Damar.
"Baik pak" kemudian Marfella kembali menemui Noah dan Rangga.
"Pak Damar ada di ruangannya, silahkan" kata Marfella.
Dengan sekali anggukan mereka berdua pergi menemui Damar di lantai dua, sedangkan Marfella kembali melanjutkan pekerjaannya.
"Pagi Dam" sapa Noah.
"Pagi Noah, Rangga... Masuklah" jawab Damar.
Damar membawa mereka berdua duduk di sofa yang berada di sudut ruangan tersebut.
"Duduklah, apa yang membuat kalian berdua sepagi ini datang ke cafe ku?" tanya Damar.
"Sebelum berangkat ke kantor, kita berdua menyempatkan untuk melihat kondisimu" jawab Noah.
"Iya Dam, bagaimana kabarmu?" sambung Rangga bertanya.
"Hahaha aku baik baik saja, kalian kenapa harus khawatir"jawab Damar.
Noah bisa melihat jelas jika saat ini Damar sedang memikirkan Freya, dia mungkin bisa tertawa tapi matanya tidak bisa berbohong.
"Dam, sebenarnya aku juga ingin mengatakan sesuatu kepadamu" kata Noah memulai obrolan seriusnya.
"Iya Noah, katakan saja".
"Sebelumnya apa kamu sudah tau jika Freya dan keluarganya akan berangkat sekarang ke Amerika?" tanya Noah.
"Apa!!" seketika Damar terkejut dengan pertanyaan itu.
Pria itu sama sekali tidak tau jika Freya akan benar benar pergi ke Amerika.
Baru semalam ia melihat Freya masih ada di kediamannya.
**Pantas saja semalam Freya terlihat berbeda, apa karena ia akan pergi ke Amerika?**
Damar masih terdiam ia sama sekali tidak menanggapi apa yang dikatakan oleh Noah, hatinya masih tidak percaya jika gadis pujaannya akan pergi dari kehidupannya.
__ADS_1
"Dam apa kamu mendengarkan apa yang aku katakan tanya Noah.
"I...iya, lalu kenapa jika dia pergi" jawab Damar.
Seketika perkataan Damar membuat Noah dan Rangga terkejut.
"Kamu tidak ingin menghentikannya?" Kini Rangga yang bertanya.
"Tidak" jawab singkat Damar.
"Bukankah kamu mencintainya? Kenapa kamu diam saja saat dia akan pergi?".
"Aku... Aku sangat mencintainya, tapi apa yang bisa aku lakukan? Jika dengan pergi bisa membuatnya melupakan sakit itu... Maka aku tidak akan mencegahnya" jelas Damar.
Wajahnya tertunduk, apa yang di katakan sangat jauh berbeda dengan hatinya.
Sejak awal Damar tidak ingin Freya pergi, bahkan pria itu menerima Freya apa adanya.
"Jika kamu benar mencintainya, maka harusnya kamu berjuang untuknya, dan...."
"Aku sudah melakukan semua yang terbaik untuknya, tapi dia dan kedua orang tuanya sudah menentukan pilihannya sendiri" Damar memotong pembicaraan Noah.
Noah menarik nafasnya panjang, ia sangat kesal dengan sahabatnya itu.
Dengan mudahnya Damar menyerah.
Noah mengeluarkan sebuah pasport dan meletakkannya di atas meja tepat di depan Damar.
"Untuk apa ini?" Tanya Damar.
"Itu pasport milikmu, paman Axel yang mengurusnya kemarin. Aku dan paman Axel berencana membawamu ke Amerika".
"Tapi rupanya kamu sama sekali tidak mau berjuang untuk cintamu sendiri. Jika kamu tidak bisa menghentikan Freya! Kenapa kamu tidak berusaha untuk ikut bersamanya?" Kini Noah menjelaskannya dengan kesal.
"Iya! Paman Axel memang melarang mu untuk menemui Freya, karena dia ingin melihat perjuanganmu... Jika kamu datang dan menghentikan Freya sekali lagi, maka paman Axel berniat untuk membawamu ke Amerika... Meskipun tidak tinggal disana, tapi setidaknya kamu menemani Freya untuk melupakan semua kejadian yang menimpa dirinya" jelas Noah panjang lebar.
"Tapi sepertinya usaha kami sia sia, ayo Rangga kita pergi" Noah dan Rangga beranjak dari duduknya.
Namun kemudian Damar menghentikan mereka.
"Tunggu!!! Dimana Freya sekarang?" Tanya Damar.
"5 menit yang lalu mereka berangkat ke bandara" jawab Rangga.
"Apa!!! Kenapa kalian tidak mengatakan dari awal!!! Aku akan menemuinya" ucap Damar panik.
Noah dan Rangga tersenyum, meskipun sedikit terlambat namun ternyata Damar setuju untuk ikut bersama Freya.
"Kalau begitu apa yang kamu tunggu? Cepatlah bersiap" seru Noah.
"Yeahh oke!!" Damar mengambil sebuah tas di dalam lemari kerjanya, karena ia tidak sempat pulang. Maka Damar hanya akan membawa beberapa baju yang ada di tempat kerjanya.
"Lihatlah, dia sangat bersemangat mengemasi pakaiannya" bisik Noah kepada Rangga.
"Benar, raut wajahnya juga berubah... Mungkin dia sudah tidak sabar untuk menemui pujaan hatinya" jawab Rangga.
Beberapa menit kemudian...
"Hei Dam!!! Kenapa kamu lama sekali? Kamu akan ketinggalan pesawat" ucap Noah.
"Aku harus sedikit bersiap Noah!" jawab Damar.
Damar memakai pakaian dan topi serba hitam.
__ADS_1
"Untuk apa kamu memakai pakaian seperti itu?" tanya Noah, tetapi Damar tidak menjawab.
"Sempurna" ucap Damar.
"Noah aku akan pergi, bisakah kamu membantuku?" Tanya Damar.
"Katakan saja Dam".
"Mungkin aku pergi untuk waktu yang cukup lama, bisakah kalian membantuku untuk memantau perkembangan cafe ini? Memang ada Marfella disini tapi dia tidak bisa bekerja sendirian tanpa ada yang membantunya".
"Dan aku pergi secara mendadak, tanpa mengatakan apapun kepada mereka" sambung Damar.
Rangga memegang bahu Damar.
"Jangan khawatir, bukankah masih ada Nara? Dia mengerti tentang bisnis. Aku akan memintanya untuk menggantikan mu sementara" kata Rangga.
"Astaga... Aku hampir melupakannya, iya kamu benar kalau begitu aku pergi".
"Noah, Rangga terima kasih atas bantuan kalian berdua".
"Tidak masalah, sekarang pergilah" ucap Noah dan Rangga.
Kemudian Damar bergegas pergi menuju bandara.
Apapun yang terjadi disana, Noah dan Rangga berharap Damar akan mendapatkan jalan terbaik bersama dengan Freya.
***
Di bandara, Freya dan kedua orang tuanya baru saja sampai.
selama perjalanan mereka terkena macet itu sebabnya mereka bertiga sedikit terlambat.
"Dad apa pesawatnya sudah lepas landas?" tanya Freya.
"Sepertinya belum nak" jawab Axel.
mereka masih memiliki waktu 10 menit.
Beberapa menit kemudian...
"Freya, ayo nak kita harus segera masuk" kata Jenny.
"I..iya mom" Freya membalikkan tubuhnya, ia memperhatikan sekitar bandara tersebut.
**Dari semalam aku merasa kak Damar ada di dekatku, apa ini hanya perasaanku saja?** batin Freya.
Gadis itu masih menatap sekitar, dari sorot matanya ia seperti mengharapkan seseorang akan datang.
"Nak" panggil Jenny lagi.
"Iya mom" Freya pun berjalan lebih dulu.
"Sayang, apa kamu yakin Damar akan datang?" Tanya Jenny kepada Axel.
"Aku kurang yakin, tapi Noah mengatakan dia akan memastikan jika Damar akan datang" jawab Axel.
"Pesawatnya sudah akan berangkat, tetapi aku belum juga melihat keberadaan Damar" sambung Jenny.
Sudah tidak ada waktu lagi.
Mereka pun segera meninggalkan tempat itu.
__ADS_1