
Dua hari kemudian...
Kini hari itu telah tiba, di mana Yura akan kembali ke kota XY, begitupun dengan Axel dan Jeny mereka juga akan menemani Yura untuk kembali ke kota tersebut.
Yura sudah mengemasi barang-barangnya dia berniat akan tinggal beberapa minggu saja di kota itu.
" Bunda apa kita akan tinggal disana selamanya?" tanya Noah.
" Tidak nak, setelah Pekerjaan ibu selesai kita akan kembali lagi ke sini" jawab Yura.
" Siap Bunda" sahut Noah.
Kemudian mereka berdua segera keluar meninggalkan apartemennya dan masuk ke dalam mobil bersama Axel dan Jeny.
" Sudah siap semua?" tanya Axel
" Sudah Xel" jawab Yura.
Mereka pun sudah masuk ke dalam mobil dan Axel melajukan mobilnya menuju ke kota XY.
**
"Apa kamu tidak bisa mengurus Nara dengan benar?" teriak Elard, ia sangat marah kepada istrinya itu.
" Apa yang kamu katakan El? aku sangat menyayangi dan menjaga Nara layaknya putriku sendiri" jawab Sifa yang sudah mulai menangis.
Nara tengah dirawat di rumah sakit, ia jatuh dari tangga seusai bermain dengan Sifa.
Sedangkan Elard berada di kantor.
Kejadian itu benar benar membuat Elard sangat marah.
" Lalu kenapa bisa ia terjatuh sampai seperti ini!" bentak Elard yang berada di rumah sakit.
" Maaf tuan, kecilkan suara anda karena kita sedang berada di rumah sakit" tegur Leo.
" Kamu benar benar tidak becus" kemudian Elard mendorong tubuh Sifa.
Membuat wanita itu tersengkur di lantai.
"Aww" pekik Sifa.
Sifa sangat menyesal karena ia merasa lalai menjaga Nara sehingga anak itu sampai jatuh dan membuatnya terluka hingga masuk ke dalam rumah sakit.
Namun Sifa juga tidak suka jika suaminya menuduh dirinya tidak merawat Nara dengan baik.
" Aku sudah menganggap Nara seperti putri ku sendiri El" ucap Sifa dengan suara lirihnya.
" Tutup mulutmu!" bentak Elard kemudian pria itu masuk ke dalam ruangan putrinya, meninggalkan Sifa yang masih terduduk di lantai.
__ADS_1
Elard melihat putrinya yang masih tidak sadarkan diri, dokter sudah memberikan pertolongan kepada Nara namun anak itu masih belum juga sadarkan diri.
Elard duduk di kursi yang berada di samping putrinya kemudian ia membelai lembut rambut Nara.
tiba-tiba Elard melihat sosok Yura ada di wajah putrinya.
" Maafkan aku Yura yang tidak bisa menjaga Putri kita. Aku harap kamu segera kembali Yura, lekaslah sembuh nak Ayah sangat menyayangimu" ucap Elard kemudian ia mencium pucuk kening Nara.
Tak terasa 4 jam Yura menempuh perjalanan menuju kota XY. kini Yura sudah berada di apartemen barunya yang sudah di siapkan oleh Axel.
Merekapun turun dari mobil itu.
"Yura apa kamu baik baik saja?" tanya Axel karena selama perjalanan ia memperhatikan wanita itu.
Nampak Yura yang hanya terdiam dan melamun selama perjalanan.
" Aku baik baik saja Xel, entah kenapa perasaanku tidak tenang" jawab Yura.
" Mungkin kamu merasa tidak nyaman kembali lagi ke kota ini" kata Axel.
" Ya mungkin saja Xel" ucap Yura.
" Jeny untuk sementara kamu tinggal di apartemen Yura, kamu bisa pembantu Yura untuk menjaga Noah Disini" ucap Axel kepada Jeny.
" Baiklah aku akan tinggal di sini bersama Yura" jawab Jeny.
Mereka bertiga kini sudah masuk ke dalam apartemen itu.
Hanya ada 2 kamar disana.
" Jen kamu tidur di kamar yang ini ya, aku akan tidur bersama Noah di kamar sebelah" ucap Yura.
"Baiklah, aku masuk dulu ya ra mau membereskan barang barangku dulu" ucap Jeny, dan hanya di balas anggukan oleh Yura.
Jeny pun masuk kedalam kamarnya dan menutup pintu tersebut, Jeny terduduk di tempat tidurnya.
" Sampai kapan aku akan seperti ini? setiap hari aku harus menahan rasa sakit di hatiku saat melihat Axel yang selalu perhatian terhadap Yura, apa benar-benar tidak ada cinta untukku?" gumam Jeny di dalam kamarnya.
Ingin sekali Jeny marah kepada Axel karena tidak pernah memperhatikannya bahkan bersikap layaknya pasangan,padahal mereka sudah bertunangan.
yang membuat Jeny bertahan dengan hubungannya bersama Axel yaitu karena Yura yang selalu menasehatinya dan memberinya dukungan, Serta kasih sayang Clara kepadanya yang sangat besar.
Memang benar Jenny sudah mengetahui jika Axel pernah mencintai Yura namun Jeny tidak pernah sedikitpun marah bakan kesal kepada Yura, karena ia tau di hati Yura hanya ada Elard dan Jeny juga percaya kepada Yura yang tidak mungkin menghianatinya.
Dikamar yang lain Yura tengah menata barang barangnya.
" Bunda nanti malam kita jalan jalan ya" ucap Noah kepada Yura.
" Boleh sayang, tapi kamu jalan jalan bareng aunty Jeny ya, karena bunda masih harus mengurus pekerjaan sayang" jawab Yura yang masih fokus menata baju bajunya di dalam lemari.
__ADS_1
"Oke bunda, Noah mandi dulu ya bunda" sahut Noah kemudian ia segera pergi ke dalam kamar mandi.
"Anak itu, mirip sekali dengan Elard" ucap Yura yang tersenyum melihat tingkah putranya.
Setelah selesai menata barang barangnya, Yura segera pergi ke dapur untuk memasak.
Ia membuka kulkas ternyata sudah banyak bahan bahan yang tertata di sana.
Sengaja Axel menyiapkan semuanya agar Yura tidak perlu lagi keluar untuk berbelanja.
" Kamu masak kenapa tidak memanggilku ra?" tanya Jeny yang keluar dari kamarnya.
" Aku pikir kamu sedang istirahat Jen, lagi pula cuman masak nasi goreng kok" jawab Yura.
" Ya udah aku bantu ya" tawar Jeny.
" Tidak perlu Jen, lebih baik kamu mandi sekarang karena Noah ingin jalan jalan bersamamu" ucap Yura.
" Iya sudah aku mandi dulu" Jeny pun meninggalkan Yura yang masih sibuk memasak.
***
Kini Nara sudah sadar, keadaannya sudah mulai membaik.
Dengan setia Elard menjaganya begitupun juga dengan Sifa.
" Sayang makan dulu ya" ucap Sifa hendak menyuapi Nara.
" Tidak mommy, Nala masih belum lapal" ucap Nara.
" Nara harus makan biar cepet sembuh, apa Nara mau berlama lama disini?" tanya Elard dan Nara menggelengkan kepalanya.
" Kalau begitu Nara harus makan ya" ucap Elard lagi.
"Iya ayah tapi Nala bosan, setelah makan Nala ingin jalan jalan di lual" ucap Nara dengan suara khas cadelnya.
Akhirnya Elard menyetujui keinginan putrinya agar ia mau makan, namun sebelumnya Elard menanyakan dulu kepada dokter Bolehkah ia membawa putrinya untuk berjalan-jalan di sekitar halaman rumah sakit, dan dokter pun menyetujuinya.
" Nanti biar aku yang menemani Nara" kata Sifa.
" Tidak perlu! kamu tunggu di sini saja aku tidak ingin Nara terluka lagi karena kecerobohan mu" ucap Elard yang masih fokus menyuapi putrinya.
Sifa menghembuskan nafasnya dengan kesal, namun bagaimanapun juga Sifa tidak bisa melawan perkataan Elard.
Untuk saat ini Sifa tidak ingin berdebat dengan pria itu.
*****
happy readingš„°
__ADS_1