Wanita Malam Milik CEO

Wanita Malam Milik CEO
Rencana Clara


__ADS_3

Malam harinya masih di kediaman Axel.


Clara memanggil Jeny dan Axel turun untuk makan malam bersama.


"Tumben ibu berteriak?" Tanya Axel kepada Jeny.


Jeny hanya mengangkat kedua bahunya tanda jika ia tidak tau.


Axel dan Jeny pun segera turun menemui orang tuanya yang sudah menunggu di meja makan.


"Kenapa berteriak seperti itu bu?" Tanya Axel.


"Kalian lama sekali, ayah dan ibu sudah lapar" jawab Clara.


Mereka segera duduk dan menikmati makan malam bersama.


"Axel kapan kamu dan istrimu akan memberikan ibu cucu?" Tanya Clara.


Sontak membuat Axel terkejut.


"Ibu kita sedang makan, jangan tanyakan hal aneh seperti itu" ucap Axel.


Sedangkan Jeny hanya terdiam sambil menikmati makannya karena ia tau jika rencana ibu mertuannya sudah di mulai.


"Aneh kamu bilang? Ibu wajar menanyakan hal ini kepada kalian, kalian sudah menikah 2 bulan tapi belum ada tanda tanda Jeny hamil. Ayah dan ibu sudah tua kami ingin segera memiliki cucu" kata Clara semakin membuat suasana makan malam itu menjadi panas.


"Benar Xel, ingat ayah sudah sakit sakitan. Ayah tidak akan memberikan sepeser warisan kepadamu jika kamu belum juga memiliki anak" sambung Ayah Axel.


Sebelumnya Clara sudah bercerita mengenai rencananya kepada sang suami.


Itu sebabnya ayah Axel siap untuk menjadi tim kompor guna mendesak anak satu satunya itu.


"Ayah jangan bicara seperti itu, ayah pasti akan sehat dan berumur panjang" ucap Jeny dengan wajah sedihnya.


"Apa mungkin kamu tidak bisa memiliki anak?" Tanya Clara.


"Ibu! Apa yang ibu katakan" Axel merasa tidak terima jika sang ibu mengatakan hal buruk kepada istrinya.


"Mungkin saja Xel, buktinya selama ini tidak ada tanda dia hamil kan. Dengar Xel ibu sangat ingin memiliki cucu, jika sampai bulan depan Jeny belum juga hamil maka ibu akan menikahkan kamu dengan wanita lain dan Jeny harus bersedia membagi suaminya" jelas Clara panjang lebar.


"Ibu!!" Sahut Axel, ia tidak menyangka ibunya akan berpikir sejauh itu. Setahu Axel ibunya sangat menyukai dan menyayangi Jeny.


Lalu bagaimana bisa ibunya memiliki rencana sejauh itu.


"Ayah setuju dengan keputusan ibu" kata ayah Axel.


Jeny meletakkan sendok dan garpunya, ia segera beranjak dari tempat duduknya.


"Maaf ayah ibu, Jeny permisi" Jeny langsung menuju kamarnya.


**Kenapa dadaku sakit sekali ibu bicara seperti itu, sedangkan aku tau ini hanya pura pura** batin Jeny.


"Ibu keterlaluan" Axel turut pergi meninggalkan orang tuannya dan menghampiri Jeny.


"Ayah semoga kita berhasil" bisik Clara cekikikan kepada suaminya.


"Semoga saja" kata ayah Axel.


"Jeny" Axel melihat istrinya duduk di sofa sambil melipat kedua kakinya.


"Iya Xel" jawab Jeny.


Terlihat Jeny menghapus air matanya.

__ADS_1


Bukan air mata palsu, wanita itu benar benar menangis. Sesungguhnya ia takut jika ibu mertuanya akan menikahkan Axel dengan wanita lain.


"Maafkan ibu dan ayah" ucap Axel.


Pria itu turut duduk di sebelah istrinya.


"Aku tidak menyangka ibu akan mengatakan hal semacam itu" kata Axel.


"Aku tau bagaimana perasaan ibu" ucap Jeny.


Jeny memalingkan wajahnya, ia menatap ke arah jendela sambil melihat bintang bintang di langit.


**Sesungguhnya aku yang bersalah disini, tapi bagaimana aku memulainya. Axel kamu benar benar bukan seorang pria** batin Axel mengumpat dirinya sendiri.


"Xel aku akan mandi dulu, ntah kenapa aku merasa gerah" ucap Jeny dan berlalu memasuki kamar mandi.


"Jam 7 malam dia mandi lagi" gumam Axel heran.


Sejujurnya Jeny bingung apa yang akan di lakukan dan ia katakan bersama suaminya.


Jeny merasa bersalah karena telah membohongi Axel.


Sedangkan Axel segera membuka ponselnya.


Ia mengetikkan sesuatu mencari informasi seputar berhubungan suami istri.


"Apa ini? Aku harus mencium keningnya dulu, kemudian pipi dan bibirnya" kata Axel setelah membaca penelurusan yang ia cari di aplikasi goog**


"Membuka bajunya secara perlahan, dan sedikit memberikan sentuhan pada tubuhnya agar sang wanita ..." Axel menghentikan kalimatnya.


"Aghh gila !! Petunjuk apa itu sangat menjijikkan" Axel mematikan ponselnya.


Ia mengacak acak rambutnya dengan kasar.


"Apakah aku seorang pria? Bagaimana aku tidak tau cara berhubungan dengan istriku sendiri" Axel mulai gelisah.


Axel memang sudah mulai terbiasa dengan keberadaan istrinya, rasa gengsi membuat Axel menjaga jarak dengan Jeny.


"Kamu kenapa?" Tanya Jeny saat melihat Suaminya gelisah.


"Tidak ada apa apa, aku ingin mandi juga" Axel langsung menerobos masuk kedalam kamar mandi.


"Kenapa dia" kata Jeny.


Jeny sudah lengkap dengan baju tidurnya, ia segera merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.


"Kenapa Axel lama sekali? Apa dia akan tidur dikamar mandi" gumamnya karena hampir 30 menit Axel belum juga keluar.


30 menit lebih Axel keluar dari kamar mandi di lihat Jeny sudah tertidur di balik selimut tebalnya.


"Untung saja dia sudah tidur" Axel merasa lega, setidaknya ia memiliki waktu untuk mencari cara lain untuk memulai hubungannya.


Akhirnya mereka berdua pun tertidur.


***


Jam sudah menunjukkan pukul 07.00 waktu Indonesia.


Semalaman Elard menemani istrinya di rumah sakit.


"Selamat pagi tuan" sapa Leo yang baru saja tiba.


"Pagi Le" jawab Elard.

__ADS_1


"Bagaimana keadaan nyonya?" Tanya Leo.


"Calon anakku tidak bisa di selamatkan Le" jawab Elard.


Leo memperhatikan wajah Elard yang mulai sedikit pucat dan lusuh.


Kesedihan nampak jelas di wajahnya.


"Saya turut berduka tuan" kata Leo.


"Terima kasih Le, bagaimana dengan pria gila itu?"


"Anda tidak perlu khawatir tuan, saya sudah menyekapnya di markas" jawab Leo.


"Baguslah. Aku akan segera membuat perhitungan dengannya" ucap Elard.


Tak lama Yura mulai membuka matanya secara perlahan.


"Sayang..." Kata Elard ia bahagia akhirnya istrinya sudah mulai sadar.


"El.. kamu baik baik saja?" Tanya Yura.


Bukan menanyakan kondisinya, Yura justru menghawatirkan keadaan Elard.


"Aku.. aku baik baik saja" jawab Elard gugup.


"Lenganmu terluka El, apa ini sakit?" Tanya Yura lagi saat melihat perban yang melingkar di lengan Elard.


Elard menggelengkan kepalanya.


"Syukurlah" Yura tersenyum lega.


Namun senyuman itu tidak membuat hati Elard bahagia, ia masih bingung mengatakan yang sebenarnya kepada sang istri.


"Kenapa El? Apa kamu tidak senang melihat aku sudah sadar?"


"Bukan begitu sayang".


"Lalu kenapa?" Tanya Yura lagi


"Maafkan aku tidak bisa menjagamu, dan membuat kita harus kehilangan calon anak kita" jawab Elard.


"Maksudmu apa El?"


"Kamu keguguran sayang, calon anak kita telah tiada" jelas Elard yang sudah tidak mampu menahan kesedihannya.


Leo yang masih disana juga merasa tidak tega melihat kondisi tuannya.


Yura tidak mengatakan apapun, ia mengusap perutnya.


Ia terpukul mengetahui kebenaran itu, namun wanita itu yakin saat ini yang lebih terpukul adalah Elard.


Suaminya sangat ingin memiliki anak lagi.


"Jangan bersedih El, ikhlaskan dia Allah lebih menyayanginya" ucapan lembut itu mampu membuat Elard kembali terenyuh.


"Bagaimana bisa kamu setenang ini sayang?" Tanya Elard.


"Aku sedih El, namun ini kehendak Allah kita harus mengikhlaskannya" jawab Yura.


Elard bersyukur akhirnya Yura bisa menerima semuanya.


Elard pun akan berusaha mengikhlaskan kepergian calon anaknya.

__ADS_1


_____


happy reading 🥰


__ADS_2