Wanita Malam Milik CEO

Wanita Malam Milik CEO
DF 01


__ADS_3

Kelanjutan cerita ini author buat dengan bahasa yang sedikit ringan di bandingkan Season yang sebelumnya. akan lebih banyak menceritakan kisah Damar dan Freya.


jangan lupa tinggalkan Like, komen dan Vote kalian. 1 Vote sangat berarti untuk author.


terima kasih kepada para readers yang sampai sejauh ini mengikuti cerita ini bersama author💜


HAPPY READING.


__________________


Gadis itu bangun dengan terburu buru, ia melompat masuk ke dalam kamar mandinya setelah melihat jam di dinding menunjukkan pukul 07.00.


Itu semua di sebabkan karena ia tidur sampai larut malam, tentu saja semalam gadis itu menonton drama korea kesukaannya.


Sudah di pastikan ia akan terlambat berangkat ke sekolahnya.


Tidak butuh waktu lama ia sudah menyelesaikan aktivitasnya di kamar mandi.


Gadis itu segera memakai seragam sekolahnya dan duduk di depan cermin yang berukuran besar.


Menyisir rambut seenaknya dan memoleskan lip tint berwarna merah muda di bibirnya.


Tidak butuh make up tebal karena gadis itu sudah sangat cantik dengan wajah blasteran yang mirip dengan sang Daddy.



"Freya kamu harus sarapan dulu nak" kata Axel saat ia melihat Freya memakai sepatu.


"Sudah terlambat Dad, aku harus segera berangkat" jawab Freya.


Tentu ia akan terlambat karena jam hampir menunjukkan pukul delapan.


Sedangkan jam pelajaran di mulai pukul tujuh.


Freya bergegas mencium ke dua orang tuanya dan berpamitan.


"Nak jangan terburu buru, berhati hatilah di jalan" tegur Jeny. Karena ia takut putrinya itu akan mengemudi ugal ugalan.


"Oke mom, Freya berangkat! Bye." Freya segera keluar dari apartemen tersebut dan berlari menuju parkiran.


Freya mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang, karena ia ingat pesan mommy nya.


Namun jalanan sangat ramai dan macet, itu membuat Freya beberapa kali berdecak kesal.


"OMG!!! aku sudah sangat terlambat" racau Freya.


Gadis itu tidak henti hentinya menekan klakson mobilnya, berharap kendaraan yang berada di depannya menyingkir.


"Ehh ehh... Kenapa ini" tiba tiba Freya menghentikan mobilnya di pinggir jalan.


Freya turun dan melihat ban mobilnya bocor.


"Aghhh!!! Kenapa pakai acara bocor."


Berkali kali gadis itu menendang ban mobilnya karena kesal.


Sebuah sepeda motor sport berhenti tepat di samping gadis itu.


Seorang pria yang mengemudikannya melepas helm yang sedari tadi ia kenakan.


"Butuh bantuan?" Tanya pria itu, seketika membuat Freya menatap ke arah pria tersebut.


"Iya, ini..." Freya menghentikan ucapannya saat ia mengenali pria tersebut.


"Kakak dukun" ucap Freya sambil menunjuk Damar. Setelah pertemuannya dengan Damar beberapa bulan yang lalu, membuat Freya tidak begitu saja melupakan wajah pria itu.

__ADS_1



"Yups! Apa mobil kamu mogok?" Tanya Damar.


"Lebih tepatnya bocor" sahut Freya.


Keringat gadis itu bercucuran membasahi wajah cantiknya, karena sinar matahari sudah mulai terasa.


"Oke. Kalau begitu ikutlah bersamaku, mobilmu akan segera di urus oleh montir" ucap Damar.


"Tidak mau! Kakak selalu modus" tolak Freya.


"Lalu? Apa kamu akan berdiri di sini seharian?" Tanya Damar.


Freya melihat jam yang melingkar di tangannya, gadis itu sudah sangat terlambat.


"Jangan terlalu lama berfikir" sahut Damar karena Freya tidak kunjung memberikan jawaban.


"Pergilah! Aku tidak butuh bantuan kakak" usir Freya.


Damar turun dari atas motornya, ia pun segera menggendong tubuh Freya.


"Kakak dukun kamu tidak sopan!!!" Teriak Freya kesal saat sudah berada di atas motor sport tersebut.


Damar turut naik ke atas motornya dan segera menghidupkan mesin motor tersebut.


"Lebih baik kamu pegang pundak ku, karena motor ini akan melaju dengan cepat" kata Damar sambil tersenyum nakal.


"No!" Tolak Freya.


"Aaaaaaa kakak dukuuunnn!!!" Freya terkejut saat motor tersebut tiba tiba melaju dengan kencang.


Tanpa di sadari Freya melingkarkan tangannya di pinggang Damar.


Seketika jantung Damar berdetak cukup kencang.


**Apa ini! Kenapa dadaku tiba tiba berdebar seperti ini. Dia hanya gadis SMA tapi kenapa aku sampai salah tingkah** batin Damar.


"Kakak dukun pelan kan motormu" seru Freya.


"Ehh... Oke oke" Damar mengurangi kecepatannya, membuat Freya membenarkan posisi duduknya dan melepaskan pelukan tersebut.


Beberapa menit kemudian mereka sudah sampai, Freya segera turun dari motor tersebut dan berlari hendak masuk ke dalam sekolahnya.


Sedangkan Damar masih terdiam memastikan Freya benar benar masuk.


"Stop!!" Penjaga gerbang tersebut tidak mengijinkan Freya masuk.


"Ijinkan saya masuk" kata Freya.


"Tidak bisa, kamu sudah terlambat satu jam lebih. Kamu tidak di ijinkan mengikuti pelajaran" kata penjaga tersebut.


"Lalu jika saya tidak boleh mengikuti pelajaran, apa bapak mau menanggung absen saya" sahut Freya.


Gadis itu memaksa masuk, namun penjaga gerbang tidak mengijinkannya.


"Bukankah itu Freya" ucap Lila sahabat Freya di sekolah.


"Iya, itu Freya! Kita temui dia" jawab Cindy yang juga sahabat Freya.


Kebetulan Cindy dan Lila baru saja dari toilet, saat akan kembali ke kelasnya ia melihat Freya yang tengah berdebat dengan penjaga sekolah.


"Frey kamu kenapa tidak masuk?" Tanya Cindy.


"Aku terlambat, penjaga ini tidak mengijinkan aku masuk" jawab Freya kesal sambil menatap tidak suka pada penjaga tersebut.

__ADS_1


"Pak ijinin dia masuk ya, kasian dia" kata Lila.


"Peraturan tetap peraturan! Kecuali jika sekolah ini miliknya dia bisa bertingkah semaunya" ucap penjaga tersebut sangat tidak enak di dengar.


"Lila Cindy, tolong serahkan tugasku nanti" Freya mengeluarkan buku tugas dari dalam tasnya.


Setidaknya nilai tugasnya tidak ada yang kosong.


"Oke Frey, kami akan mengumpulkan tugasmu" lalu Cindy mengambil buku tersebut. Namun pandangan Lila dan Cindy berganti menatap ke arah Damar yang berada di belakang Freya.


"Frey itu siapa?" Tanya Cindy.


"Mmm itu kakakku" jawab Freya asal.


Lila dan Cindy saling bertatapan, sejak kapan Freya punya kakak. Bukankah dia anak tunggal.


"Kalau begitu aku pergi ya" pamit Freya.


"Oke Frey, hati hati ya" jawab mereka berdua.


Kemudian Freya menatap penjaga itu.


"Jika sampai Daddy ku membeli sekolah ini, orang pertama yang akan aku pecat adalah bapak!" Kata Freya tanpa rasa takut.


Bukan bermaksud tidak sopan.


Tetapi penjaga sekolah yang ber umur sekitar 40 tahunan tersebut memang sangat menjengkelkan, ia sering membuat Freya kesal dengan sikapnya.


Kemudian Freya pergi, namun langkahnya terhenti saat melihat Damar.


"Tidak jadi sekolah?" Tanya Damar.


"Aku tidak di perbolehkan masuk" jawab Freya tidak semangat.


"Lalu kamu mau kemana?" Tanya Damar lagi.


"Tidak tau, mobilku juga sedang di perbaiki"


"Apakah kamu mau ikut bersamaku?"


"Kemana?"


"Cafe milik ku, aku harus bekerja" jawab Damar.


Sekilas Freya nampak berfikir, sangat membosankan jika harus pulang ke rumahnya.


Akhirnya Freya bersedia ikut bersama Damar.


"Oke, tapi apakah aku tidak mengganggu waktu kerjamu?" Tanya Freya memastikan.


"Tentu tidak, aku hanya perlu memastikan beberapa laporan saja" jawab Damar.


Kemudian Freya pun naik ke atas motor tersebut.


Damar segera mengemudikan motornya menuju Cafe miliknya.


Sedangkan Cindy dan Lila melihat kepergian mereka.


"Gila!!! Kakak Freya ganteng banget"


"Beruntung sekali Freya punya kakak setampan itu" ucap Lila.


Mereka langsung terpesona saat melihat Damar, mungkin Damar adalah salah satu pria tampan yang mereka jumpai.


_____

__ADS_1


__ADS_2