Wanita Malam Milik CEO

Wanita Malam Milik CEO
DF 07


__ADS_3

Malam harinya Damar sedang bersiap, ia tampil begitu tampan.


Malam ini Damar akan kembali menemui Freya di kediamannya.


Bisa di katakan Damar sudah mulai gila karena gadis kecil itu.


"Kamu selalu memaksaku menjauh, tetapi kamu juga tidak mau menatap mataku saat mengatakan itu semua" kata Damar di depan cermin.


Selama masih banyak kesempatan, Damar akan terus berusaha meluluhkan hati Freya.


Kini Damar sudah siap, ia bergegas keluar dari kamarnya.


"Aghhh!!!" Pekik Damar sambil memegang dadanya.


"****!!! Lagi lagi dadaku sakit" kata Damar.


Damar terdiam sejenak sampai rasa sakit itu menghilang.


Setelah tidak terasa sakit lagi Damar segera menuju pekarangan rumahnya.


Mobil berwarna maroon itu akan menemaninya menuju rumah Freya.


Di dalam mobil Damar memutar musik, ia menggeleng gelengkan kepalanya menikmati musik tersebut, tanpa terasa kini Damar sudah sampai di depan gedung apartemen Freya.


Damar keluar dari mobilnya, ia mendongok ke atas melihat letak kamar Freya.


"Aku rasa dia akan mengusirku lagi" Damar menertawakan dirinya sendiri.


Kemudian Damar berjalan memasuki gedung itu.


Sesampainya ia menekan bell dan Axel membuka pintu tersebut.


"Damar!"


"Selamat malam paman" sapa Damar.


"Malam, silahkan masuk Dam" kata Axel dan membiarkan pria itu masuk dan duduk di sebuah sofa yang berada di ruang tamu, kebetulan juga ada Jeny di sana.


"Freya sedang belajar, biarkan bibi memanggilnya" kata Jeny hendak beranjak dari duduknya.



"Tidak perlu bi, biarkan saja dia belajar. Aku akan menunggu di sini sebelum dia mengusirku" kata Damar.


Jeny dan Axel saling bertatapan, mereka terkejut dengan ucapan Damar.


"Kalau begitu bibi akan membuatkan minuman hangat untukmu" kata Jeny.


Karena cuaca malam ini sangat dingin, mungkin sebentar lagi hujan akan segera turun.


Damar mengobrol santai bersama Axel dan Jeny.


Pria itu menceritakan kehidupannya selama di Amerika.


Bahkan tidak sungkan Damar akan membahas mengenai kebaikan Noah kepada dirinya.


Dikamar, Freya sedang fokus belajar namun ia merasa terganggu karena suara bising di ruang tamu.

__ADS_1


Terdengar Daddy dan Mommy nya sedang tertawa.


"Kenapa berisik sekali, apa yang Daddy dan Mommy bicarakan" Freya meletakkan bukunya.


Kemudian ia berjalan hendak keluar dari kamarnya, gadis itu penasaran dengan apa yang sudah terjadi di luar sana.


"Kakak" ucap Freya terkejut.


"Hai Frey" Damar menyapa Freya.


"Ahh sepertinya aku akan segera di usir" gumam Damar pelan.


Freya berjalan ke arah Damar, melihat di meja sudah ada segelas teh dan beberapa camilan.


Itu artinya Damar sudah cukup lama berada di rumahnya.


"Kakak kenapa datang kesini? Bukankah sudah aku katakan untuk tidak datang menemui ku" Freya berbicara tanpa henti membuat Damar menutup telinganya.


"Aku datang kemari bukan untuk menemui mu, tapi bertemu paman dan bibi" jawab Damar beralasan.


"Kakak!!!"


"Ahahaha... oke oke aku akan segera pergi"


"Paman, sepertinya saya harus segera pergi" Damar berbisik kepada Axel.


Kemudian ia berpamitan kepada Axel dan Jeny.


"Gadis kecil! Semangat belajarnya" ucap Damar untuk yang terakhir kalinya, kemudian pria itu bergegas pergi.


"Nak, Damar itu..."


"Freya mohon, jangan biarkan kak Damar datang kesini lagi" kata Freya kemudian gadis itu masuk ke dalam kamarnya.


"Sayang, kenapa dia menjadi seperti itu?" Tanya Jeny kepada Axel.


"Mungkin hatinya masih sakit, dan dia belum bisa melupakannya" jawab Axel.


***


Damar berjalan pelan menuruni tangga, dan keluar dari gedung apartemen Freya.


Terdengar suara gemuruh guntur di langit, menandakan sebentar lagi hujan akan turun.


Damar berbalik dan menatap ke arah gedung yang menjulang tinggi.



"Aku benar benar menyukaimu, aku mencintaimu Freya" ucap pria itu lirih.


Gerimis mulai turun, pria itu merasakan setitik air membasahi wajahnya.


Pria itu mengulurkan tangannya, dan merasakan setiap tetes membasahinya.


Perasaannya sudah dalam untuk gadis itu.


Ia sudah melangkah cukup jauh, Damar tidak akan berhenti disini. Ia akan tetap merebut hati gadis pujaannya.

__ADS_1


"Siapa dia, siapa pria yang sudah membuat hatimu sedingin ini" kata Damar lagi.


Hujan mulai turun dengan deras, Damar tidak segera masuk ke dalam mobilnya.


Ia tetap berdiri merasakan tubuhnya di basahi air hujan.


"Nara... Dulu aku menyukainya, namun aku harus menguburnya saat ia memutuskan untuk kembali ke Indonesia. Dan menikah dengan Rangga".


"Dan sekarang, aku tidak ingin melepas Freya. Aku benar benar mencintainya" gumam Damar lagi.


Freya berdiri di dekat jendela kamarnya, menatap ke arah pria yang masih berdiri di bawah sana.


"Keras kepala" ucap Freya singkat menatap Damar.


Freya keluar dari kamarnya dan menemui Axel.


"Daddy, katakan kepada kak Damar untuk segera pulang. Jika ia terus bermain hujan maka... Maka dia akan sakit" kata Freya.


"A..apa?" Axel yang tiba tiba terkejut seperti tidak paham dengan ucapan Freya.


"Kak Damar ada di bawah, dia kehujanan" jelas Freya kemudian gadis itu berlalu masuk ke dalam kamarnya.


"Sayang, apa mungkin Freya memintaku untuk menemui Damar?" Tanya Axel kepada Jeny.


"Sepertinya begitu" jawab Jeny.


"Kenapa mereka berdua sangat merepotkan" ucap Axel.


"Namanya juga masa muda sayang" Jeny mengusap lembut punggung Axel.


Kemudian Axel segera menemui Damar.


Langkah Axel terhenti saat melihat Damar menundukkan kepalanya di bawah derasnya hujan.


Iya, Axel sangat yakin jika pria itu mencintai putrinya.


Axel berjalan memegang payung dan menghampiri Damar.


"Sudah puas main hujannya?" tanya Axel.


"Paman! kenapa paman kemari?" tanya Damar.


"Masuklah ke mobilmu dan segera pulang, jangan sampai kamu sakit. atau putriku akan bersedih" kata Axel.


"Maksud paman?" Damar masih tidak memahami apa yang di katakan Axel.


"Freya memintaku untuk menemui mu, ia takut jika kamu sakit. maka dari itu cepatlah pulang" jelas Axel.


Damar tersenyum, ternyata gadis itu mengkhawatirkannya.


"Iya paman, katakan kepadanya jika aku pasti akan baik baik saja dan kembali menemuinya" ucap Damar.


Damar pun pergi.


Axel merasa bahagia, karena akan ada pria yang benar benar memperjuangkan putrinya.


_____

__ADS_1


__ADS_2