Wanita Malam Milik CEO

Wanita Malam Milik CEO
DF 20


__ADS_3

Tidak terlalu lama Freya langsung melepaskan pelukan tersebut, seketika gadis itu sadar dengan apa yang ia lakukan bersama Damar.


"Maaf kak" ucap Freya gugup.


"Tidak.. tidak.. harusnya aku yang minta maaf kepadamu" jawab Damar sedikit gugup.


"Masuklah, kamu harus makan" kata Damar meminta gadis itu untuk kembali masuk.


Freya masih menatap canggung ke arah Damar, begitupun dengan pria itu.


Damar beberapa kali salah tingkah saat berhadapan dengan gadis itu.


"Aa...aku akan menemui Jojo, habiskan makananmu" kata Damar, kemudian pria itu berlalu keluar dari ruangannya.


Freya kembali masuk dan duduk di atas sofa, ia melihat sepiring nasi lengkap dengan lauknya dan segelas teh hangat.


Selama di pesta Daniel, Freya sama sekali belum makan.


Ia pun merasakan perutnya yang lapar.


Di bawah, Damar duduk bersama Jojo.


Jojo penasaran dengan keadaan Freya, namun melihat bosnya yang hanya diam tanpa bercerita dan raut wajah yang cemas, itu sudah menandakan jika semuanya tidak baik baik saja.


"Pak mau makan apa?" Tawar Jojo.


"Aku sedang tidak ingin makan, Jo! Kamu tidak pulang?" Tanya Damar.


"Tidak pak! Saya akan menemani bapak disini" jawab Jojo.


"Kalau begitu istirahatlah di ruangan Marfella, aku ingin duduk disini sendirian" kata Damar.


"I..iya baik pak" Jojo bergegas menaiki tangga menuju ruangan Marfella, kebetulan pria itu juga sangat mengantuk.


Tersisa lah Damar sendirian di sana.


Pria itu menyandarkan tubuhnya, Damar sedikit mengibas ngibaskan tangan kanannya.


"Kenapa baru terasa" ucapnya, sepertinya tangan Damar sedikit sakit setelah memukul wajah Daniel di Club.


Hari semakin larut, Damar yang sedari tadi menyandarkan kepalanya di meja tanpa terasa ia tertidur.


Beberapa menit kemudian...


Freya sudah menyelesaikan makannya meskipun masih ada yang tersisa di piring tersebut.


"Kenapa kak damar tidak kemari?" Tanya gadis itu sambil bergumam.


Freya memutuskan untuk membawa nampan tersebut.


Freya menuruni tangga, pandangan Freya menyapu ruangan di lantai bawah. Ia mencari Damar.


Langkah Freya terhenti saat ia melihat Damar duduk di sebuah kursi sambil menyandarkan kepalanya di atas meja.


"Apa kak Damar tidur" Freya berjalan mendekati Damar dan meletakkan nampan piring tersebut di meja yang lain.


Gadis itu duduk di sebuah kursi tepat di depan Damar.


Freya memperhatikan wajah hangat Damar saat tidur, sungguh menenangkan.


"Kakak pasti lelah" ucap Freya membelai rambut Damar.


Freya tersenyum sambil terus memperhatikan wajah Damar yang tertidur.


Sampai akhirnya gadis itu teringat akan sesuatu.

__ADS_1


"Kakak sudah terlalu banyak membantuku, sampai tidak memikirkan kondisi kakak sendiri. Aku tidak bisa membuat hidupmu semakin sulit" ucap Freya pelan.


***


Jam sudah menunjukkan pukul lima pagi, di dalam Cafe itu Damar masih tertidur pulas dengan posisi seperti semalam, kemudian pria itu terbangun dan meregangkan ototnya.


"Aghh pinggangku sakit" gerutu Damar.


"Freya!!!" Damar langsung terbelalak, ia menginat sesuatu.


Damar berlari menuju lantai dua dimana ruangan kerjanya berada, Damar membuka pintu tersebut dan melihat seisi ruangan. ia mencari keberadaan Freya.


"Frey.. Freya kamu dimana?" Panggil Damar.


Namun disana sama sekali tidak terlihat adanya Freya.


Damar kembali turun, mungkin saja gadisnya berada di kamar mandi.


Namun hasilnya nihil, Freya tidak lagi ada di cafe tersebut.


"Pergi kemana dia" Damar nampak gusar.


"Apa dia sudah kembali ke apartemennya? Aku harus memastikannya sendiri" kata Damar.


Dengan wajah yang masih mengantuk, Damar menyambar kunci motor kemudian bergegas pergi.


Padahal sebentar lagi Damar akan ada pertemuan dengan salah satu rekan bisnisnya.


Namun saat inI Freya adalah prioritas bagi pria tersebut.


Di sepanjang jalan, Damar fokus memperhatikan jalanan yang masi sepi.


Mungkin saja ia bertemu dengan Freya di jalan tersebut.


15 menit akhirnya Damar telah sampai di depan sebuah bangunan Apartemen dimana Freya tinggal.


Di depan sebuah pintu berwarna hitam, Damar mengatur nafasnya dan pria itu mengetuk pintu tersebut pelan.


Jantungnya berdegup, seketika ia bingung apa yang harus di katakan kepada orang tua Freya.


Pintu terbuka.


"Bibi..." Ucap Damar.


Ternyata Jenny lah yang membuka pintu tersebut.


"Bibi, maaf pagi pagi sekali mengganggu sebenarnya..." Belum sempat Damar menjelaskan.


"Masuklah, kami semua menunggumu" kata Jenny.


"Apa!" Damar terkejut.


"Masuklah nak" kata Jenny mempersilahkan Damar untuk masuk namun pria itu masih terdiam karena ia bingung Siapa yang sedang menunggu dirinya.


"Damar".


"Iya bibi".


"Masuklah" pinta Jeny lagi.


"Iya bi" dengan sedikit membungkukkan tubuhnya Damar masuk ke dalam ruangan apartemen tersebut.


Damar terus melangkah menuju ruang tamu.


Lagi lagi Damar di buat terkejut dengan beberapa orang yang berada di sana.

__ADS_1


"Noah, Rangga! Kalian berdua kenapa ada disini?" Tanya Damar.


Damar sama sekali tidak memperhatikan Axel yang sudah menatap tajam kearahnya.


Axel berdiri menghampiri Damar.


"Paman, ada apa ini?" Tanya Damar kepada Axel yang sudah berdiri di hadapannya.


"Aghh!!!" Pekik Damar saat pukulan keras mendarat tepat di wajahnya.


"Apa yang paman lakukan?" Tanya Damar.


Yang memukulnya adalah Axel.


Ingin rasanya Damar berteriak, karena ia benar benar tidak tau apa yang sedang terjadi.


Noah dan Rangga hanya bisa melihat kejadian itu tanpa ingin menolong Damar.


"Kamu bawa kemana putriku semalam?" Tanya Axel.


"Itu... Itu... Begini paman aku tidak bisa menjelaskannya" jawab Damar gelagapan, pria itu menghapus sebercak darah yang keluar dari sudut bibirnya akibat ulah Axel.


"Kamu menganggap aku siapa! Freya adalah putriku aku berhak tau apa yang terjadi padanya. Dan kamu! Kamu sudah aku anggap seperti putraku sendiri... Kenapa kamu menyelesaikan masalah itu sendirian" jelas Axel yang nampak marah.


"Paman apa paman sudah tau semuanya?" Tanya Damar.


"Iya! Semalam Noah dan Rangga datang saat kami semua sudah tidur pulas, paman dan bibi terkejut dengan seorang pria yang datang bersama Noah" Jawab Jenny.


Flasback On.


Malam itu Noah Dan Rangga telah sampai di sebuah club yang masih ramai.


Dua pria berbadan besar menghadang Noah dan Rangga.


"Undangan" ucapnya kasar.


"Kami tidak punya undangan, menyingkir!" Jawab Noah dingin.


"Tidak bisa tuan, di dalam sedang acara. Siapa saja yang ingin masuk harus menunjukkan undangan" jelasnya.


"Kami tidak membawa undangan, tapi kami ingin menangkap seorang menjahat. Jika kalian mencegah maka kalian harus bersiap berhadapan dengan polisi" jelas Rangga santai.


Kedua penjaga itu saling bertatapan, bagaimana jika di dalam benar benar ada penjahat.


Tentu mereka tidak ingin terlibat itu semua.


"Baiklah kalian bisa masuk, tapi jangan membuat keributan" kata penjaga itu.


Mereka berdua masuk dengan gaya detektifnya.


Jika di lihat dari rekaman yang berada di ponsel Daniel, sepertinya kejadian itu berlangsung di sebuah ruangan pribadi.


Hampir setengah jam akhirnya Noah dan Rangga keluar dari club tersebut dengan menyeret seorang pria yang sudah lemas tidak berdaya.


orang orang yang berada disana hanya bisa melihat dengan kebingungannya.


Di masukkan pria itu ke dalam mobil dengan mengikat tangannya.


"Ga kamu bawa mobil Freya, kita pergi menemui paman Axel" kata Noah.


"Kenapa kita tidak langsung ke kantor polisi?" Tanya Rangga.


"Paman Axel harus tau apa yang terjadi kepada putrinya, dan yang berhak memasukkan pria ini kepenjara hanya Freya atau orang tuanya" jelas Noah.


"Iya kamu benar, baiklah aku akan mengikuti mu dari belakang" kata Rangga.

__ADS_1


Flasback Off.


__ADS_2