
Damar terdiam setelah mendengarkan semua cerita dari Axel.
"Maafkan aku paman, malam itu aku sangat bingung harus bagaimana. Tetapi aku sama sekali tidak melakukan apapun kepada Freya".
"Paman tau! Kamu tidak akan melakukan hal buruk kepada Freya, hanya saja paman kecewa karena kamu tidak memberitahuku" sambung Axel.
Kini Damar tau apa penyebab Axel marah bahkan sampai memukulnya.
"Duduklah" kata Axel.
Damar pun duduk di samping Rangga.
Rangga menepuk pundak Damar pelan, seolah menandakan semuanya akan baik baik saja.
Tiba tiba Damar teringat akan tujuan utamanya datang ke apartemen itu.
"Paman! Apakah Freya sudah pulang?" Tanya Damar.
"Sudah, dia pulang seorang diri dan sekarang berada di kamarnya"jawab Axel.
Syukurlah, Damar bernafas lega.
"Maaf aku tertidur, sampai sampai tidak mengetahui jika Freya pulang sendirian" ucap Damar menyesal.
"Tidak masalah, mungkin kamu tidak perlu menemuinya lagi. Hubungan kalian sampai di sini" kata Axel sontak membuat Damar terkejut dan langsung beranjak dari duduknya.
"Maksud paman apa?" Tanya Damar.
"Di depan kami semua Freya mengatakan jika ia ingin kembali ke Amerika, dan melupakan semua kejadian yang di alaminya. Paman tidak bisa mencegahnya karena itu adalah keinginan Freya dan paman rasa itu yang terbaik" jelas Axel.
"Tidak paman! Freya tidak akan kembali ke Amerika. Dia akan tetap tinggal disini!" Sahut Damar seolah tidak ingin semua itu terjadi.
Namun pada kenyataannya Freya sudah memutuskan untuk kembali.
Gadis itu terlanjur malu, terlebih lagi jika harus kembali ke sekolahnya.
Ia pasti akan mengingat Daniel beserta lukanya.
"Kamu harus bisa menerimanya, Noah... Kamu bisa bawa Damar pergi sekarang" sambung Jeny yang sedari tadi hanya bisa diam.
Noah dan Rangga saling bertatapan, ia tidak tega melihat Damar.
Terlihat jelas jika pria itu sedih dan juga bingung.
Damar masih berdiri mematung dengan pikirannya sendiri.
"Dam kita pergi sekarang" Noah berhasil membuat Damar sadar dari lamunannya.
"Ehh.. tidak Noah, aku harus menemui Freya. Dia tidak boleh pergi karena semuanya akan segera baik baik saja" ucap Damar.
"Lebih baik kita pergi dulu, nanti pikirkan lagi setelah semuanya sedikit membaik" kata Noah pelan.
Tanpa penolakan Damar pun bersedia pergi bersama Noah dan Rangga.
"Noah tunggu" panggil Axel.
"Iya paman?".
__ADS_1
"Ingat pesan paman!" Axel mencoba mengingatkan sesuatu kepada Noah.
"Iya paman, paman jangan khawatir... Sekarang Noah akan pergi" jawab Noah.
***
"Papa..." Elena berlari setelah melihat Noah yang baru saja kembali bersama Rangga.
Elena berhambur memeluk Noah.
"Anak papa kenapa harus berlari nak?" Tanya Noah.
"Papa tidak pulang semalam, Elena rindu" jawab Elena manja.
Maklum saja, semalaman Noah dan Rangga tidak pulang karena harus membantu Damar.
"Sebelum tidur Ele selalu bertanya kapan kamu pulang" ucap Keyla.
Mereka pun masuk ke dalam rumah, ternyata di sana juga ada Nara dan Kenzo.
Mereka berdua bermalam di rumah Keyla.
Rangga yang melihat putranya hanya sibuk dengan mainannya tanpa memperhatikan dirinya langsung menghampiri anak laki laki itu.
Rangga menggendong Kenzo, dan mencium pipinya.
"Kenzo, apa kamu tidak merindukan papa seperti Elena?" Tanya Rangga.
"Tidak... Papa hanya pergi sebentar kan" jawab Kenzo cuek.
"Kak, sepertinya anak kita tertukar... Lebih cocok jika Kenzo menjadi anaknya kak Noah" celetuk Nara.
"Iya, mereka berdua sangat mirip" balas Keyla.
"Aku ingin membersihkan tubuhku, setelah ini aku ingin kita berkumpul membicarakan sesuatu hal yang penting" kata Noah.
"Iya sayang, pergilah mandi aku akan menyiapkan sarapanmu" kata Keyla.
Nara pun juga meminta kepada Rangga untuk mandi, sedangkan Elena dan Kenzo kembali bermain bersama.
Kedua anak itu menuju teras didepan rumah.
Jika Kenzo berjalan santai membawa mainannya, berbeda dengan Elena yang berlari sambil memegang boneka yang ukurannya lebih besar dari dirinya.
BRUK!!!
Elena terjatuh karena ia tidak bisa melihat jalan di depannya.
"Aaaa" teriak Elena.
Dengan cepat Kenzo meletakkan mainannya dan menghampiri Elena.
"Sssttt jangan menangis, sini aku lihat" kata Kenzo.
Kenzo melihat kaki Elena yang memerah karena terbentur lantai.
Kenzo berlari masuk kedalam rumahnya.
__ADS_1
Tidak lama ia kembali dengan membawa kotak kecil yang ia dapatkan dari pelayan rumah tersebut.
"Kenzo! Kakiku tidak berdarah, kenapa harus di plester?" Tanya Elena.
"Sebelum berdarah, harus di plester dulu" jawab Kenzo.
"Bangun" Kenzo mengulurkan tangannya dan membantu Elena untuk berdiri.
"Masih sakit?".
"Hmmmm" Elena mengangguk.
"Kamu duduk disini, aku yang akan mengambilkan semua mainan mu" ucap Kenzo.
Setelah membantu Elena, Kenzo pun bergegas membawakan semua mainan Elena.
Sengaja Kenzo melakukan itu agar Elena dengan mudah memilih mainannya tanpa harus berjalan.
"Terima kasih" ucap Elena, dan Kenzo mengangguk.
Jam sudah menunjukkan pukul 09.00 mereka semua baru saja menyelesaikan sarapan, kini mereka pun duduk di ruang keluarga Karena Noah yang memintanya.
"Kak ada apa?" Tanya Nara.
"Iya sayang, sebenarnya ada apa? Dan kenapa semalam kalian tidak pulang?" Tanya Keyla yang juga penasaran.
"Sebenarnya ini ada hubungannya dengan Freya dan Damar" jawab Noah.
Nara dan Keyla masih bingung, ada apa dengan mereka berdua.
Akhirnya Noah pun menceritakan semuanya tanpa ada yang ia sembunyikan.
Raut wajah Keyla dan Nara tiba tiba berubah setelah mendengar semua cerita dari Noah.
Mereka berdua tidak menyangka jika hal seburuk itu bisa terjadi kepada Freya.
"Lalu bagaimana dengan Freya?" Tanya Keyla.
"Aku rasa dia mengalami trauma, karena saat Freya kembali ia hanya diam saja. Beberapa kali paman Axel bertanya dia hanya diam, dan kemudian meminta untuk kembali ke Amerika" jelas Noah.
"Aku paham bagaimana berada di posisi Freya, dia pasti sakit dan malu" ungkap Keyla lagi.
"Lalu bagaimana dengan Damar kak?" Tanya Nara.
"Dia baik baik saja, tapi paman Axel melarang Damar untuk menemui Freya" sambung Noah.
"Apa!" Keyla dan Nara terkejut.
Mereka sangat tau jika Axel sudah mulai bisa menerima keberadaan Damar di sana.
"Kalian jangan terkejut, ini semua untuk kebaikan Damar dan Freya" ucap Rangga.
"Kebaikan apa? Damar sangat menyukai Freya, dan aku rasa Freya juga sudah mulai nyaman dengan keberadaan Damar" tanya Keyla.
"Semua tidak ada yang mudah By, paman Axel memiliki jalan sendiri untuk menyatukan mereka" jelas Noah.
Semakin di jelaskan Nara dan Keyla semakin bingung.
__ADS_1