
Part ini masih menceritakan kisah tentang Axel dan Jeny ya.. karena Season 2 akan segera rilis🥰🥰
****
Mereka tertidur sampai lupa waktu, saat malam pun mereka belum terbangun. Cuaca semakin dingin membuat sepasang suami istri itu semakin nyenyak tidur dan saling memeluk.
"Yah, anak anak dirumah lagi ngapain ya?" Tanya Clara kepada suaminya.
"Mungkin mereka lagi bikin cucu buat kita" jawab Ayah Axel tertawa.
Orang tua Axel benar benar ingin memiliki cucu, mereka tidak sabar untuk menjadi seorang kakek dan nenek.
"Semoga saja ya yah, semoga Axel luluh kepada Jeny" doa Clara.
Jam sudah menunjukkan pukul 7 malam, Axel bangun lebih dulu dan dilihat Jeny masih tertidur.
"Dia sudah sadar belum" kata Axel.
"Jeny.. Jeny bangun" Axel menepuk nepuk wajah Jeny pelan.
Terlihat Jeny yang mengeliat, sangat malas membuka matanya.
Axel bersyukur ternyata istrinya sudah sadar dan sedari tadi tertidur.
"Jam berapa ini? Kepalaku sangat pusing" ucap Jeny sambil mengusap matanya.
Jeny beralih melihat bajunya yang sudah berganti, Jeny mengingat kejadian sore tadi di kolam.
"Sudah jam 7, kenapa kamu melamun?" Tanya Axel.
"Axel! Apa kamu yang mengganti bajuku?" Tanya Jeny.
Dan Axel mengangguk.
"Kamu pingsan, apa kamu pikir orang pingsan bisa mengganti bajunya sendiri? Aku yang mengganti pakaianmu" jelas Axel kemudian pria itu turun dari atas tempat tidurnya.
Benarkah? Itu berarti Axel sudah melihat tubuh Jeny.
Jeny langsung menutup bagian dadanya dengan cara menyilangkan tangannya.
"Ayo turun kita makan dulu" kata Axel.
"I..iya" jawab Jeny malu.
Wajah Jeny sudah memerah karena malu, ia berjalan menyusul Axel yang sudah jalan lebih dulu.
"Awww" pekik Jeny, ia merasa kepalanya yang terasa pusing.
Axel yang mendengar itu langsung membalikkan badannya dan menghampiri Jeny.
"Kenapa?" Tanya Axel.
"Kepalaku sakit" jawab Jeny sambil memegangi kepalanya.
"Kamu istirahat saja, aku akan membawakan makan malammu kemari" kata Axel. Ia pun membantu Jeny kembali naik ke atas tempat tidur.
Kemudian Axel segera pergi ke dapur menyiapkan makan malamnya.
Namun Axel tidak menemukan apapun di dapur, akhirnya ia memutuskan untuk membuat nasi goreng. Karena hanya itu yang Axel bisa.
Setelah beberapa menit Axel sudah selesai dengan aktifitasnya. Ia mambawa dua piring nasi goreng menuju kamarnya.
__ADS_1
Sesampainya ia memberikan satu piring kepada Jeny yang masih terduduk di atas tempat tidur.
"Makanlah, hanya ada itu dan aku sendiri yang membuatnya. Maaf jika tidak enak" kata Axel.
Jeny mengambil piring yang berisi nasi goreng tersebut.
Bagaimana bisa tidak enak, aromanya saja mampu membuat Jeny menelan air liurnya berkali kali.
"Terima kasih Xel, maaf juga telah merepotkanmu" kata Jeny.
"Hmm" Axel Pun menyantap nasi gorengnya, namun Jeny masih belum memakannya. Kepalanya masih terasa sangat pusing.
"Kanapa tidak dimakan?" Tanya Axel.
"Kepalaku masih sakit" jawab Jeny.
Kemudian Axel meletakkan piringnya sediri di atas meja, dan ia mengambil piring yang sedari tadi di pegang Jeny.
"Sini biar aku saja yang menyuapimu" kata Axel. Bagaimana dengan Jeny? Tentu wanita itu sangat bahagia mendapatkan perhatian dari suaminya.
Kini Axel mulai menyuapi Jeny dengan sangat telaten.
Sampai di suapan terakhir.
"Apa kamu mau tambah?" Tanya Axel.
"Tidak aku sudah kenyang" Jeny menggelengkan kepalanya.
Axel memberikan segelas air putih kepada Jeny. Dan wanita itu meminumnya.
Kini giliran Axel yang melanjutkan makannya, ia duduk di dekat Jeny sambil memakan nasi goreng miliknya.
"Cukup seperti ini aku sangat bahagia" ucap Jeny, ia tidak sadar mengucapkan kata kata itu.
"Apa?" Tanya Axel.
"Aahh tidak apa apa Xel" ucap Jeny gugup.
Padahal Axel sudah mendengarnya, Axel pun nampak bahagia dalam hatinya. Ia merasa mulai membuka hatinya untuk Jeny.
Setelah selesai Axel mangambil obat untuk Jeny agar pusingnya segera sembuh.
"Istirahatlah lagi, agar pusingmu segera sembuh" ucap Axel.
"Terima kasih, tapi aku akan mandi lebih dulu" kata Jeny .
Jeny turun dari tempat tidurnya hendak pergi menuju kamar mandi.
"Jangan!!" Ucap Axel seketika membuat Jeny menghentikan langkahnya.
Axel memegang lengan Jeny.
"Kenapa?" Tanya Jeny.
"Bukankah kamu sakit, lebih baik kamu jangan mandi istirahat saja" Axel menarik lengan Jeny untuk kembali ke tempat tidurnya.
Jeny melepaskan tangan Axel.
"Jika aku tidak mandi aku akan merasa semakin pusing, dan lagi pula badanku sudah lengket. Kamu istirahat saja aku akan tetap mandi" Jeny langsung berjalan memasuki kamar mandi dan menutup pintunya.
"Jeny keluar!! Kamu jangan mandi ini sudah malam, tidak akan baik untuk kesehatanmu" Axel terus berteriak dari balik pintu sedangkan Jeny tidak memperdulikannya.
__ADS_1
"Gawat" kata Axel.
Axel khawatir jika Jeny akan mengetahui ia telah memberikan kissmark di dadanya.
Tidak ingin semakin malu Axel pun keluar dari kamarnya. Lebih baik ia menunggu di bawah batin Axel.
"Axel aneh sekali, biasanya ia akan menyuruhku mandi karena seharian aku tidak mandi" gumam Jeny.
Jeny mulai membuka bajunya.
"Aaaaaaaaa" Jeny berteriak saat ia sudah membuka bajunya, teriakan itu mampu di dengar oleh Axel.
"Axelllll........." teriak Jeny dari dalam kamar mandi.
"Apa ini?? dia memberi kissmark sebanyak ini.. Axel memanfaatkan keadaanku di saat aku pingsan, jangan jangan dia sudah melakukannya" ucap Jeny kesal.
Jeny segera mangambil handuknya dan melilitkan di tubuhnya, Jeny keluar dari kamar mandi dan ia tidak melihat Axel ada disana.
"Kabur kemana dia" ucap Jeny.
Jeny langsung keluar dari kamarnya, sangking kesalnya Jeny lupa menggunakan piama, ia hanya memakai handuk yang melingkar di tubuhnya.
Jeny menuruni tangga dengan terburu buru, dan ia melihat suaminya duduk di sofa sambil menonton TV.
"Axel!" Jeny memukul pundak Axel, namun Axel tidak memperdulikannya ia pun tidak menoleh ke arah Jeny.
"Axel apa yang kamu lakukan kepadaku saat aku pingsan hah??" tanya Jeny.
"Aku tidak melakukan apapun" jawab Axel santai.
"Ihh kamu bohong! Lihat ini kamu memberikan kissmark begitu banyak didadaku" kata Jeny.
Wanita itu memaksa suaminya untuk melihat dirinya.
Axel pun melihat ke arah Jeny.
Gleg..
Axel menelan salivanya saat melihat tubuh Jeny hanya tertutup handuk yang tidak begitu besar.
"Kenapa diam, lihat ini" Jeny menunjuk lehernya serta dadanya yang terdapat kissmark.
"Kamu kan yang melakukannya!!" Ucap Jeny.
"Ti..tidak " jawab Axel gugup.
"Axel jangan berbohong, kamu pengecut ya, mengambil kesempatan dalam kesempitan. Kamu melakukannya di saat aku pingsan, Axel kamu sangat menyebalkan" Jeny memukul dada bidang Axel.
Axel meraih tangan Jeny.
"Aku belum melakukannya, aku hanya menciummu" kata Axel jujur.
Sebenarnya ia sangat malu mengatakan hal itu.
"Bohong!! Kamu pasti sudah melakukannya, Axel kenapa kamu pengecut seperti itu" Jeny berusaha melepaskan tangannya namun tidak berhasil.
"Pengecut kamu bilang??" Tanya Axel.
"Iya kamu pengecut!! Apa namanya jika kamu mengambil kesempatan dalam kesempitan saat aku pingsan kalau bukan pengecut!!" Sahut Jeny menaikkan nada suaranya.
_____
__ADS_1