
Sedangkan di mobil Devira, Azkia terlihat sangat bahagia. Dari tadi senyumnya tidak pernah luntur dari bibir tipisnya itu, hal itu membuat Devira dan juga Nayla heran.
Tiba - tiba saja Nayla yang berada di kursi belakang langsung saja badannya sedikit maju kedepan, tangannya langsung di tempelkan di jidat Azkia dan jidatnya secara bergantian.
"Apaan sih!" kesal Azkia yang mendapatkan perlakuan tiba - tiba dari Nayla.
"Gak panas kok, obat lo habis ya, Ki?" tanya Nayla polos.
"Enak aja lo kira gue sakit apa?" kesal Azkia sambil mencebikkan bibirnya.
"Lah salah lo sendiri senyum - senyum dari dari." kata Devira.
"Lo gak kena sawan di pantai kan?" tanya Nayla menyelidik.
"Cih, gue sehat walafiat dan gak kena sawan... seenaknya aja kalo ngomong." kata Azkia sambil melipatkan kedua tangannya di depan dada.
"Terus?" tanya Devira dan Nayla bersamaan.
"Soalnya...." ucap Azkia menggantung mambuat mereka semakin penasaran, "nungguin yak hahaa." lanjut Azkia lagi yang membuat sahabatnya kesal.
"Serah dah." ucap Devira kesal sambil fokus kepada jalanan yang mereka lalui.
"Dia balik, Ra!" kata Azkia dengan antusian dan terlihat aura bahagia yang terpancar dari wajah Azkia.
"Serius lo?" tanya Devira kaget.
"Serius lah, lo gak liat gue udah seneng kayak gini?" jawab Azkia, sedangkan Nayla hanya diam saja karena dia tidak paham apa yang sedang mereka biacarakan.
"Wahh dapet oleh - oleh dong gue yeye." kata Devira bahagia, karena mereka sudah dekat sejak dulu sehingga Devira tahu siapa yang di maksut oleh Azkia.
"Kalian bahas siapa?" tanya Nayla yang sedari tadi hanya diam saja.
"Bahas cogan." jawab Azkia dan Devira bersamaan kemudian mereka tertawa kecuali Nayla, yang masih bingung dengan siapa yang sedang mereka bahas.
"Kapan sampainya?" tanya Devira.
"Mungkin besok siang udah sampai... duh gak sabar banget gue nungguin besok." kata Azkia bahagia saat membayangkan hari esok.
Nayla lebih memilih diam, sebenarnya dia pemasaran namun badannya sudah terlalu lelah untuk memikirkan semuanya yang menggangu pikirannya saat ini.
Setelah menempuh perjalanan yang luamyan lama akhirnya mereka sampai di rumah masing - masing. Azkia kini terbaring diatas kasur big sizenya itu setelah selesai membersihkan diri.
"Pengen cepet - cepet pagi." ucap Azkia sambil menatap langit - langit kamarnya. Kemudian dia sudah terlelap dalam tidurnya karena lelah dengan aktifitasnya seharian ini.
__ADS_1
...........
Malam yang hitam pun sudah terganti dengan hangatnya sinar mentari pagi, yang sudah menyapa mereka. Mengharukan mereka untuk segera bangun, namun rasa lelah yang menghampiri mereka seakan enggan pergi.
Sehingga pagi ini hanya Azka yang sudah terbangun dari tidurnya, entahlah bisa di katakan sudah bangun atau belum tidur sama sekali. Karena banyak pikiran yang menggangunya.
Azka sedang berolahraga pagi di pinggiran kolam, suara musik DJ sengaja dia pilih untuk menghilangkan semua pikiran yang mengganggunya.
"Cih." umpat Azka saat mengingat kebahagian Azkia saat menerima panggilan telepon itu.
"Woy ngab, Dj an nya nanti malam aja... ganggu orang tidur!" teriak Devan sambil melemparkan bantal ke arah Azka yang berada di bawah.
"Galau boss?" tanya Attaya yang sudah berdiri di belakang Devan, ya mereka berdua masih berada di lantai dua tepatnya di kamar Azka.
"Turun!" perintah Azka kepada mereka berdua.
"Gak mau masih ngantuk." tolak Attaya yang akan segera kembali ke tempat tidur.
"Turun! Jangan buat gue mengulangi kata - kata gue lagi." ucap Azka dengan sangat dingin.
"Oke - oke kita turun." jawab Devan, entah kenapa jika Azka sudah bersikap lebih dingin dari biasanya bisa membuat mereka semua takut.
Setelah beberapa saat Attaya dan Devan sudah berada di depan Azka, tepatnya saat ini mereka berdua sedang melihat Azka yang sedang lari di treadmill.
"Masa iya kita disuruh liatin lo olahraga?" tanya Attaya sambil meminum orange jus yang sudah di sediakan bibi.
"Hmmm." jawab Azka asal, setelah dia menyelesaikan olahraganya Azka ikut gabung duduk bersama Attaya dan juga Devan.
"Jangan lupa yang gue suruh kemaren, Van!" Azka mengingatkan Devan akan tugas yang di berikan kemaren.
"Tugas apa?" tanya Attaya bingung.
"Bos lo lagi galau wkwk." kata Devan dengan tawa renyahnya namun seketi diam saat mendapatkan tetapan tajam dari Azka.
"Kenapa?" tanya Attaya. Kemudian Devan menjelaskan masalahnya kepada Attaya persis dengan apa yang Azka bilang kemaren.
"Kia selingkuh?" ucap Attaya spontan dan langsung saja membuat Azka memegang erat kerah baju Attaya dan hampir saja Azka memukulnya.
"Ampun bos, gue cuma asal bicara aja... habis denger cerita Devan." kata Attaya sambil meminta ampun kepada Azka.
"Cih!" kesal Azka sambil menghempaskan Attaya ke kolam renang.
Byuurrr
__ADS_1
"Dingin woy!" teriak Attaya, Devan yang melihat itu hanya tertawa meledek Attaya yang sudah basah kuyup saat tercebur kedalam kolam renang.
"Biar sekalian mandi." ucap Azka biasa saja seolah tidak terjadi apapun.
"Rasain emang enak." kata Devan sambil tertawa.
"Kalian mah temen gak ada akhlak!" teriak Attaya namun hanya terdengar tawa dari Azka maupun Devan. Begitulah mereka tidak ada pertengkaran yang serius diantara mereka bertiga.
Dari arah dalam muncullah Bobo dan Ciko yang terusik tidurnya karena teriakan Attaya, kemudian mereka ikut bergabung di pinggiran kolam sambil menikmati sarapan pagi.
"Kita mau kemana lagi hari ini?" tanya Bobo disela - sela makannya.
"Di rumah tidur, capek gue." saut Devan, iya karena selama perjalanan kemaren Devan lah yang selalu mengemudikan mobilnya.
"Salah lo sendiri di suruh gantian gak mau." saut Attaya sinis.
"Kemana, Ka?" tanya Bobo kepada Azka.
"Entah." jawab Azka singkat.
"Cih, salah nanya gue kalo sama lo." kesal Bobo.
"Yaudah dirumah aja, nikmatin waktu liburan buat istirahat." kata Ciko tiba - tiba di tengah perdebatan mereka.
"Iya ustad." jawab mereka kompak termasuk Azka, namun Attaya lah yang paling keras suaranya.
"Cih, mau gue lempar lagi ke dalam kolam?" ancam Ciko kepada Attaya.
"Kenapa gue mulu yang kena, padahal yang lainnya juga bilang gitu." kata Attaya tidak terima.
"Soalnya suara lo yang paling keras." jawab Ciko sambil melemparkan buah apel kepada Attaya dan mengenai jidat Attaya.
"Awwhh sakit ngab!" kesal Attaya.
"Rasaiin!" jawab Ciko, entahlah Ciko yang biasanya hanya diam menjadi kutu buku bisa jail dan terkadang gokil seperti yang lainnya, namun sifat itu hanya Ciko tunjukkan kepada orang - orang di depannya yang sudah mulai dekat dengannya.
Pagi itu mereka lewatkan dengan penuh perdebatan dan tawa, setelah itu mereka menghabiskan waktu berenang dan bermain ps.
......................
..."Menjadi Cuek dan masa bodo terkadang lebih berguna dari pada sok care."...
...-E H-...
__ADS_1