Bad Boy Bucin

Bad Boy Bucin
Syok Berat!


__ADS_3

Beberapa hari ini Azka sangat sibuk sekali dengan pekerjaannya sampai ia tidak ada waktu untuk keluar mencari makan siang, sehingga Azka memeinta sang istri untuk mengantarkan makan siangnya setiap hari ke kantor.


Seperti hari ini Azkia sudah berada diruangan Azka, ia tidak hanya membawa satu kotak melainkan tiga kotak makanan untuk Azka dan juga kedua sahabatnya.


"Jangan lupa dimakan, ya?" kata Azkia meletakkan kotak bekal didepan meja Azka.


"Mau kemana?" tanya Azka saat melihat Azkia melangkah menuju pintu.


"Mau ketemuan sama Nayla, Devira juga di Cafe depan," kata Azkia.


"Tunggu!"


"Kenapa?" tanya Azkia bingung.


"Suapin dulu," kata Azka manja.


"Makan sendiri aja, kan udah gede ini." tolak Azkia.


"Yaudah, gak usah makan aja!" setelag mengatakan itu Azka fokus kembali pada tumpukan berkas yang ada didepannya.


"Sebenarnya ini yang hamil siapa sih, manja banget," batin Azkia.


Azkia mengambil kotak bekal yang tadi ia letakan lalu membukanya terlihat nasi dan lauk yang begitu menggoda. Ayam panggang bersama sambal dan lalapan tidak ketinggalan acar disisi kirinya.


"Ayo buka mulutnya!" perintah Azkia sambil menyuapkan nasi berserta lauknya.


Dengan senang hati Azka menerima setiap suapan yang diberikan oleh Azkia hingga isi kotak makanan itu habis tidak tersisa.


Setelah itu Azkia minta izin untuk ketemu dengan sahabatnya di Cafe depan kantor yang tadi sempat tertunda. Azka mengizinkannya dengan catatan Azkia harus tetap hati-hati mengingat didalam perutnya ada dedek bayi.


Sebelum pergi Azkia mencium punggung tangan Azka terlebih dahulu sedangkan Azka mencium kening Azkia, itu sudah menjadi kebiasaan mereka berdua setelah menikah jika akan pergi kemana pun.


Azkia mengangguk dan tersenyum kepada karyawan yang menyapanya, ya sejak kejadian Lena waktu itu Azka memberikan pengumuman pada semua karyawannya jika Azkia adalah istrinya, sehingga mereka juga harus menghormati Azkia sama seperti mereka menghormati Azka.


Azkia sedang berada dipinggir jalan tepatnya disebuah zebracross samping kantor Azka, ia tidak mau menggunakan mobil karena harus memutari jalan.


Azkia masih setia menunggu hingga lampu itu berbuah warna menjadi hijau untuk pejalan kaki, tanpa Azkia sadari ia sedang diperhatian seseorang dari dalam mobil hitam.


Terlihat jelas amarah dan juga emosinya saat melihat wajah Azkia.


"Lo harusnya tahu sedang berurusan dengan siapa!" ucapnya sambil menceram erat setir mobilnya.


Warna lampu lalu lintas dari arah kiri Azkia sudah bewarna merah berarti para pejalan kaki sudah boleh menyebrang begitu juga dengan Azkia, ia memilih sedikit dibelakang karena tidak mau berdesakan dengan pengguna jalan yang lainnya.


Siapa sangka dari sisi kanannya ada mobil yang tiba-tiba saja melaju dengan kecepatan tinggi seolah sedang mengarah pada Azkia. Azkia yang menoleh langsung syok bahkan kakinya seolah mati rasa dan terasa lemas, tidak bisa digunakan untuk melangkah padahal ia ingin melangkah agar tidak tertabrak.


Banyak orang yang meneriaki Azkia agar segera menyingkir dari sana. Sebenarnya Azkia juga ingin tapi kakinya seolah terkena magnet dan menempel pada aspal.


"Awas mbak!"


"Minggir, cepat minggir!"


"Kak awas ada mobil!"

__ADS_1


"CEPET MINGGIR!"


Begitulah teriakan dari beberapa pegendada dan pejalan kaki, bahkan orang-orang yang berada di Cafe pun ikut keluar karena penasaran dengan keributan yang ada diluar Cafe.


Termasuk Devira dan Nayla yang sudah datang terlebih dahulu tinggal menunggu Azkia.


Mobil itu terlihat semakin dekat pada tubuh Azkia membuat semua orang menutup matanya.


"AZKIA!!" teriak Azka saat ia baru tiba ditempat penyebrangan jalan, Azka menyusul sang istri untuk memberikan ponselnya yang tertinggal. Siapa sangaka Azka akan menyaksikan pemandangan yang membuat jantungnya seolah berhenti.


"AZKIAA!!" teriak Devira dan juga Nayla, mereka langsung lari mendekati kearah Azkia.


Set!


Disaat mobil itu sudah dekat dengan Azkia tangannya ditarik seseorang dengan kasar membuat mereka berdua terjatuh diaspal.


"Sshhtt!" rintik orang itu saat sikunya bergesek dengan aspal yang mengakibatkan keluar darah segar.


Dengan sigap Azka langsung berlari kearah Azkia, ia tidak memperdulikan lagi lampu lalu lintas yang masih berwarna hijau. Azka banyak menerima umpatan dari pengendara lain, tapi ia tidak perduli yang ada di pikirannya saat ini hanya Azkia.


"Kamu gak apa-apa, Ki?" tanya Devira.


"Mana yang sakit perluh ke rumah sakit?" tanya Nayla.


"AZKIAA, AZK—" teriakan Azka terhenti saat ia menemukan Azkia yang sedang berusaha duduk dikepung beberapa orang, Azka bahkan tidak memperdulikan siapa yang ada disebelah Azkia saat ini.


Greb!


"Kasian sakit tuh!" kata Nayla.


Azka melonggarkan pelukannya dan memeriksa badan Azka dari ujung kaki hingga kepala.


"Bilang sama aku, mana yang sakit!" Azka menangkup pipi Azkia yang masih terlihat syok.


"Nyun?" panggil Azka.


Azkia menggeleng yang artinya tidak ada yang sakit lalu Azkia menoleh kesampingnya dimana seseorang yang telah menyelamatkan nyawanya. Azka, Devira, Nayla dan yang lainnya mengikuti ekor mata Azkia.


"Lo!" kata Azka tidak percaya.


"Kak Ray—" ucapan Azkia terpotong oleh Devira dan Nayla.


"Kak Rayhan!" kata mereka berdua seolah tidak percaya jika yang menyelamatkan Azkia adalah Rayhan.


"Kok bisa lo yang selamatin Azkia, jangan-jangan ini semua rencana lo?" Azka tidak bisa menahan emosinya terlebih ia melihat saingan cintanya.


"By, Hubby!" panggil Azkia akan Azka menoleh ke arahnya.


"Jangan belain dia!" tegas Azka.


"Dia yang udah nolongin aku, by! Jangan marah sama dia harusnya kamy berterima kasih, by." ucap Azkia lembut, sebenarnya ia masih syok tapi harus menenangkan Azka.


"Kak Rayhan gak apa-apa?" tanya Devira.

__ADS_1


"Ada yang luka gak, kak? Ayo kita semua masuk kedalam Cafe dulu jangan dipinggir jalan gini nanti ganggu pejalan kaki yang mau lewat!" jelas Nayla sambil membantu Rayhan.


Sedangkan Azka tentu saja membantu Azkia berdiri dan memapahnya hingga masuk kedalam Cafe. Semua orang sudah bubar dari tempat itu, untung saja tidak ada korban hanya mengalami syok berat.


Tapi sebelum Azka masuk kedalam Cafe ada seseorang yang menghentikan langkahnya.


"Pak Azka, tunggu sebentar!"


Azka dan Azkia berhenti dan menoleh ternyata ada salah satu karyawannya yang memanggil.


"Kenapa masih disini, bukan kah jam istirahat sudah habis sejak tadi?" tanya Azka.


"Maaf pak, kebetulan tadi dompet saya tertinggal diruangan, sehingga saya balik lagi kesini untuk membayar makanan saya tadi." jelasnya.


"Hmm, lalu ada apa?" tanya Azka yang sudah tidak sabar.


"Mu-mungkin ini berguna untuk bapak, tadi pas saya pap foto untuk laporan pada istri saya—" katanya.


"Saya tidak perduli dengan istrimu!" potong Azka.


"Kebiasaan," cebik Azkia.


"Maksud saya bukan itu pak!" ucapnya malu.


"Lalu?" tanya Azka.


"Didalam foto itu ada mobil pelaku percobaan tabrak lari istri bapak," katanya sedikit takut.


"Apa, kenapa gak bilang dari tadi! Sekarang mana fotonya?" tanya Azka.


"Aku juga mau bilang langsung pak, tapi bapak selalu memotong perkataan saya," batin karyawan itu.


Kemudian karyawan itu mengrimkan fotonya pada Azka setelah itu pamit untuk kembali ke kantor.


"Kamu naik gaji, nanti biar Devan yang urus!" kata Azka.


"Gak perluh pak, saya cuma membantu karena saya juga seorang suami," tolak karyawan itu dengan halus agar tidak menyinggus Azka.


"Tetap saja saya mau menaikkan gajimu, karena sudah menolong saya!" kata Azka.


"Oh iya satu hal lagi," kata Azka menggantung.


"Iya, pak?"


"Terimakasih!" kata Azka lalu masuk kedalam Cafe membiarkan karyawannya cengoh sendirian.


Karena baru kali ini ia mendengar Azka mengucapkan terimakasih kepadanya.


"Mimpi apa aku semalam?" gumamnya.


...----------------...


Jujur author sayang banget kalau mau tamatin BadBoy Bucin ini, tapi bagaimana lagi eps sudah 250an.. author hanya takut kalian bosan.

__ADS_1


__ADS_2